Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas.

Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu- yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberangan dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut.. tut..

“Halo,” aku bersuara kala nada ‘trek’ terdengar di ujung sana.

Masih diam, kuulang mengucap sapa.

“Hey, kamu rupanya, lama betul tak menyapa” suaranya masih sama, selalu sama, menyejukkan dan semilir.

“Saya kangen” ujarku.

Aku sudah nyaris lupa kapan terakhir aku menghubunginya. Rasa rasanya sejak aku berhenti meminum kopi. Atau sejak aku melupakan aroma teh melati. Entahlah, suaranya kini mengetuk kepalaku.

“Ah kamu, kalau kangen kenapa tak pernah menelpon?”

Aku kini terkekeh mendengar jawabannya, dia benar, bagiku kata kangen sudah seperti rutinitas semata. Setiap hari aku mengatakan kangen nyaris kepada semua hal. Lama lama rasa kangenku menjadi blur, antara kangen sungguhan atau kangen basa basi.

“Saya sedang sibuk, dunia sedang seru akhir akhir ini,” sahutku. Aku lantas mereka-reka kejadian terakhir dalam hidupku. Kantor, rumah, buku buku, kantor, rumah, buku buku. Ya ya, seru sekali rupanya, aku melengus sendiri.

Suara di seberang sana kini memintaku diam dan mendengarkannya. Aku terlalu sayang pada pemilik suara hingga jangankan membantah, bernafaspun rasanya tidak kulakukan saat menikmati suaranya.

“Aku mengerti, kamu terlalu sibuk memikirkan sesama manusia dan kompleksitas mereka, bukan?”

Suaranya berjeda, ada nada tanya. Entah retorik entah sungguhan menanti jawab.

Aku diam, bisa kudengar nafasnya di gagang telepon. Ah bahkan mendengar nafasnya saja, aku sudah mabuk kepayang, diam dalam diam. Kini aku dan dia sama sama diam. Aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan. Aneh, meski kami berbicara lewat telepon, dia bisa tau bahwa aku tengah menggeleng. Dia memang selalu memukauku dengan keanehan yang disebabkannya.

“Lalu kamu sedang berfikir tentang apa?” ia bertanya kembali setelah melihatku menggeleng

“Saya memikirkan kapan saya naik pangkat, kapan saya bisa membangun rumah yang lebih besar dan kapan buku buku itu habis saya baca” jawabku. Aku tidak pernah mampu berbohong padanya.

Kini nafasku yang terdengar di gagang telepon. Tunggu, dari mana aku tau bahwa ini adalah nafasku bukan nafasnya? Apa yang membuat nafas kami begitu berbeda padahal keduanya hanyalah soal menghirup dan menghela semata?

Telepon bergeresak, kutendang kabel biru yang melalar keluar jendela. Kini geresaknya hilang, berganti suara.

“Kamu membuatku bersedih…” ucapnya yang kemudian disusul kebekuan suara, nafasnyapun tak terdengar.

Aku panik, tak pernah kubayangkan lebih-lebih kuniatkan untuk membuatnya sedih. Jemariku kini melilit lilit kabel ulir yang menautkan gagang telepon dan papan plastik berisi belasan tombol. Kini kudengar nafasku sendiri, berderu deru nyaring memburu. Sekarang aku mengerti apa yang membedakan nafasku dan nafasnya. Nafasnya selalu sama, lembut teratur menentramkan jiwa. Nafasku bermelodi, kadang tinggi kadang lambat kadang tak ada sama sekali. Rupanya nafas bukan hanya soal menghirup dan menghela semata. Ada nyanyian di sana.

Teleponku masih bungkam. Aku mulai menangis, jemariku kini mengusut lelehan airmata yang mengaliri ceruk pipi, leher hingga nyaris ke dada. Isakku rupanya tertangkap gagang telepon dan sampai ke ruang dengarnya.

“Terlalu banyak kata ‘saya’ dalam jawabmu, aku sedih, rupanya jangankan aku, orang orang di sekitarmupun tak mendapat porsi dalam pikiranmu” suaranya merdu, paling merdu,

Airmataku kering, ingin kulontarkan maaf untuknya. Tapi urung kulakukan. Saat ini tak bisa kubedakan apakah maaf yang kurasakan adalah maaf sungguhan atau sekedar maaf basa basi. Jutaan maaf kuucapkan kepada jutaan hal setiap hari. Hingga batasan maaf sungguhan dan maaf basa basi menjadi kabur, baur.

“Aku tau kamu menyesal, oh aku terlalu menyayangimu hingga tak bisa sesaatpun menguntai benci padamu” suara paling merdu itu kembali menguar.

Heran, dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Saya tidak suka mereka, mereka penuh benci dan prasangka” gumamku, meraih remote televisi, menghidupkannya, mencari cari kanal berita. Suara televisi kutiadakan. Aku tidak perlu suara lain jika dia yang bersuara di ujung telepon sudah mampu memenuhi segala kebutuhanku akan suara.

“Kamu tidak suka pada mereka yang penuh benci? Hahaha” dia tertawa dengan tawa paling indah yang pernah kudengar. Heran, suara tawanya saja mampu membuatku turut senang.

“Saya tau, saya tak berbeda dengan mereka yang membenci jika saya masih memiliki rasa tidak suka”

Aku berpura pura menggerutu, ingin menarik perhatiannya.

Sejurus kemudian aku sadar, tak perlu aku berpura pura, dia selalu memberiku perhatian. Ah, rasa sayangnya padaku memang keterlaluan!

Lagi lagi dia seperti membaca pikiranku, kini bertanya.

“Kamu sayang padaku?” ucapnya, tanpa nada klise sama sekali.

Aku, entah, rasa rasanya sudah bermilyar kali mendapat pertanyaan seperti itu dari bermilyar hal dalam hidupku. Hingga remang bagiku batasan atas pertanyaan klise dan pertanyaan basa basi dari tiga kata itu. Kamu-sayang-padaku?

Aku biasanya tak menjawab, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk tidak menjawab segala hal yang masih (atau sudah) tak jelas batasannya bagiku. Tapi kali ini berbeda, pertanyaannya sama sekali tidak terdengar klise. Begitu tulus, paling tulus.

“Tentu, saya sayang padamu.” Kubiarkan suaraku terdengar menggantung, mengharap respon. Percuma, sebenarnya, dia selalu memberi respon atas semua pertanyaan dan pernyataanku. Hanya aku yang dibuai sibuk oleh keakuanku hingga lupa dan hilang perhatian atas responnya. Kali ini kucermati suaranya. Dia tertawa.

“Aku senang, kamu rupanya masih sayang pada dirimu sendiri. Susah ya, untuk berhenti tidak menyukai?” tanyanya lagi, kabel ulir menyentuh mulut gelas, nyaris menyentuh genang kopi (atau sesuatu yang kuanggap kopi) di atas meja. Kusentak perlahan, riak permukaannya kini tenang, tidak pula terlihat kepul asap berbau wangi dari dalam gelas. Sepertinya sudah dingin.

“Televisi sedang menjualmu” kupaparkan padanya tentang iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Ada hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

“Saya kesal kamu dijual begitu” lanjutku

Dia tertawa lagi. Dia selalu menemukan cara untuk menertawakan apa yang kubenci dan mengundang marahku. Dia humoris, paling humoris.

“Biarkan saja, yang menjual saya justru bisa membuat saya semakin terkenal. Kalau saya sudah terkenal, saya akan muncul di spanduk-spanduk dekat kantormu, papan iklan di depan rumahmu, bahkan saya akan dipasang di setiap sampul buku yang kau baca,” ujarnya, terdengar riang.

Dia melanjutkan dengan nada semakin riang

“Jadi, kamu akan menemukanku di kantor, rumah dan buku. Di setiap pikiranmu. Kamu akan selalu kangen padaku. Duh, senangnya”

Aku tersipu, dia masih ingat hal hal kecil tentangku.

“Ah kamu! Saya jadi geer nih. Beberapa dari mereka selalu mencoba mengklaim bahwa kamu hanya milik mereka. Yang tidak setuju dimusuhi. Kadang, yang dimusuhi membalas mengklaim kamu. Mereka berebut kamu. Saya sebal sekali” gerutuku tak berbendung.

“Ciee.. kamu cemburu?” dia menjawab, dengan pertanyaan baru.

Wajahku terasa panas, kupingku apalagi, seperti ada yang mengigit gigit. Berkali kali kutepis anak rambut yang sebenarnya tak jatuh ke wajah. Dia selalu tau cara membuatku salah tingkah. Jawaban terjujur kini tercetak di wajahku, aku bersyukur menghubunginya melalui telepon sehingga ia (kupikir) takkan bisa melihat wajahku. Aku berdehem, mencoba mengalihkan pertanyaannya.

“Kamu sedang sibuk?” tanyaku, mengambil sepotong koran dari bawah meja. Koran pagi tadi, kulipat kecil dan kukipas kipaskan pada wajahku yang merah padam.

“Aku tidak pernah sibuk, tidak seperti kamu yang sibuk terus sampai lupa buat kangen padaku,”

“Ah. Iya deh saya minta maaf,” aku kembali memasang nada merajuk padanya.

Dia kembali tertawa, “Eh, jadi kamu ga cemburu nih sama mereka yang sibuk memperebutkanku?”

Aku bergumam gumam.

Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi terfokus pada genangan kopi dalam gelas. Aku menatap televisi, ada ratusan orang tengah berteriak teriak sambil memukuli pria bercelana sarung. Pria itu tersungkur, wajahnya tunarupa. Bilur biru di sekujur tubuh. Aku melihat balok kayu dan laras besi menghujani tubuh laki laki itu. Sumpah serapah mengalun disela teriakan teriakan. Aneh, padahal televisi sudah kutiadakan suaranya, namun masih saja jeritan si pria bercelana sarung saat meregang nyawa hinggap di kupingku. Mungkin juga hinggap di gagang telepon, tersampaikan padanya.

“Mereka meneriakkan namamu saat membunuh pria itu,” bisikku pelan. Begitu pelan hingga aku ragu ia bisa mendengar kata kata yang bahkan tak sampai ke kuping kiriku itu.

“Siapa bilang itu namaku?” ia menjawab dengan tenang.

“Tapi televisi bilang itu kamu, namamu” aku lantas terdiam. Kata kata itu meluncur mendahului otakku untuk memikirkan maksudnya apa.

Dia masih di sana, menjawab dan terus merespon setiap nafasku.

“Jadi sekarang kamu lebih sayang televisi nih dibanding aku?”

“Huh! Nanti lama lama kamu bisa berhenti kangen padaku. Soalnya kamu fikir aku sudah ada di televisi,”

Aku tau dia hanya bercanda, tak pernah merajuk. Tidak sepertiku yang begitu mudah ngambek dan mogok menelponnya kala dia kuanggap tidak meresponku.

“Kalau suatu saat, mereka tau bahwa saya selalu menelepon kamu, lantas telepon ini diambil karena saya dianggap merebut kamu dari mereka, gimana?” lega, apa yang mengganggu pikiranku sejak melihat televisi tadi kini sudah kutanyakan.

Tut… tut… tut…

Telepon terputus tiba tiba.

Kutarik tarik kabel biru yang menjalar lewat jendela. Kutekan tombol redial. Setengah putus asa kuguncang guncang papan plastik berisi belasan nomor. Tak sengaja tersenggol gelas kopi, pranggg!! Pecah di lantai ubin.

Aku kini menangis sejadinya, genangan pekat kopi bercampur lelehan airmata. Teleponku padanya tak pernah terputus tiba tiba. Genangan kopi yang tak sempat terminum itu merembes ke karpet, perlahan mengalir hingga menyentuh steker listrik untuk televisi. Aku melihat percikan bunga api, perlahan membesar lantas terdengar letupan.

Televisi hitam, korslet.

Telepon berdering. Aneh, kabel biru yang menjalar di jendela telah kucabut. Bergegas kutempelkan gagangnya ke kuping kanan.

Aku mendengar suaranya lagi. Suara terindah, paling indah.

“Dasar cengeng,” suaranya terdengar lembut, aku merengut sambil menyeka airmata.

“Jangan lakukan lagi, saya kira kamu meninggalkan saya” suaraku tertahan tahan, mengisak isak.

“Habisnya, kamu selalu berbicara tentang televisi. Aku kan jadi cemburu,”

Aku menatap layar televisi yang hitam. Tidak lagi kulihat iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Yang berwarna hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

Tidak juga kulihat pria bercelana sarung yang dipukuli sampai mati oleh ratusan orang yang meneriakkan namanya di sela hujan sumpah serapah. Ruang tengah rumahku kini begitu tenang. Aku kini mengerti, bahwa dia hanya cemburu. Bahwa dia ternyata tak ingin aku membenci orang lain karena televisi.

Aku tersenyum, kuucapkan selamat malam padanya. Aku menuju tidur.

“Baiklah, kamu harus tidur, aku akan sangat kangen padamu. Hm.. sebelum kamu tidur, aku boleh ucapkan sesuatu?” aku menghela nafas, kusiapkan diri untuk menerima ucapannya.

“Apa itu?”

Suaranya nyaris samar. Antara udara malam dan aku yang kian mengantuk.

“Kamu tidak perlu melaporkan semua kebencian yang menguar di televisi padaku. Percayalah, aku sudah tahu bahkan sebelum pria bercelana sarung itu mati dipukuli orang orang yang meneriakkan –kata televisimu–namaku. Aku sudah tahu bahkan sebelum iklan tentangku dimuat di situ. Kamu tidak membenciku karena ini, kan? Aku tahu bahwa kamu takkan menganggapku telah membiarkan mereka saling membunuh karena memperebutkanku. Aku tahu, dan aku akan bekerja dengan caraku,”

Senyumku semakin lebar saat dia mengucapkan selamat tidur untukku. Kututup telepon dan mengulangi kata katanya.

Bahwa

Dia ada, Paling Ada. Dia tau, Paling Tau.

Advertisements

Sepotong Surat Untuk Nani 10 Tahun Lalu

10 Years Challenge has brought me here.

Dear 17 years old Nani,

I’m not here to say that your life is now perfect and problem-free, I’m here to thank you.

Terima kasih karena sudah berani untuk berkata tidak dan kabur ke rumah tetangga pada ajakan masuk kelambu, di suatu pagi hari Minggu saat rumah kosong dan pamanmu datang berkunjung. Kalimat “Nanti paman jilat vaginamu biar enak” mungkin masih terngiang hingga 10 tahun kemudian, tapi kamu akan menemukan kata kata itu tidak lagi bisa menyakitimu. Dan berkat keberanianmu untuk mengadu kepada Ibu, itu adalah hari terakhir ia menjadi teror dalam hidupmu.

Semua rasa marah yang kamu lampiaskan pada Ibu, pada pintu kamar, pada 7 tindikan di telinga, pada setiap pulang larut malam, pada setiap bolos dan asap rokok, akan perlahan kamu mengerti. Bahwa yang telah terjadi sama sekali bukan salah siapa siapa, bukan salah Ibu, bukan salah kamu karena menjadi perempuan, bukan salah Ayah karena tidak menjagamu, it happens because it happens.

It might take years, but you’ll find yourself forgiving him and moved on.

Kamu baru saja mengalami patah hati untuk pertama kalinya, ya? Saya baru saja menemukan surat cinta dan curhatanmu hari Sabtu kemarin. Soal kamu yang jatuh cinta karena akhirnya ada seseorang yang mengerti kamu. Yang berdiri di sisi kendaraan datang saat menyebrang jalan, yang memperhatikan kakimu saat meniti jembatan turun di pelabuhan. Kamu menemukan seseorang yang memperlakukanmu dengan baik setelah semua hal jahat yang terjadi dalam hidupmu. Mencintainya sama sekali bukan kesalahan meski bertahun kemudian kamu mengutuk perasaan itu dengan penyesalan penyesalan.

It might take years, but you’ll find yourself forgiving that moment and moved on.

Terima kasih karena tidak sekalipun kamu berhenti menulis. Dan tau gak, Nan? Tulisan tulisan itu mengantarkanmu bertemu dengan banyak sekali orang orang hebat. Dalam beberapa bulan setelah kelulusan SMA-mu, kamu akan menjadi wartawan di Radar Sampit, anak group Jawa Pos dan meraih gelar the most productive journalist 2009 karena lebih dari 500 beritamu terbit dalam setahun pada event pertemuan seluruh wartawan cetak regional Kalteng dan Kaltim.

Setahun setelahnya tepat saat ulang tahunmu ke-18, kamu akan bertemu dengan Dr. Herry Yogaswara, Antropolog LIPI. Beliau akan mengirimkan pesan panjang lebar via e-mail tentang ketertarikannya pada tulisan soal kerusuhan etnis 2001 di blogmu. Ia akan banyak membantumu untuk melihat soal pentingnya terus belajar, untuk terus menulis. Oh Senja Merah? Beliau yang kini adalah Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI melakukan review dan membawa 135 lembar novel fotokopian itu sebagai kenang kenangan. Kamu juga akan bertemu dan berhubungan baik dengan Kimung, Dewi Umaya Rachman, Noe Letto, Cak Nun, Richard Oh dan sederet nama lain yang percayalah, hingga usiamu kini 27, kamu masih sering tersenyum mengingat bagaimana mereka menyebut hal hal baik tentangmu.

Terima kasih karena sudah keras kepala menolak untuk menjadi yet another pramuniaga  toko di dalam rentang sejarah kemiskinan di pohon keluarga kita, terima kasih karena tidak menyerah untuk belajar soal berorganisasi dan berkomunikasi di Radio, tidak menyerah untuk belajar mengetik dan menguasai komputer selama di Radar Sampit, tidak menyerah menonton film dan lagu lagu bahasa Inggris tanpa subtittle untuk menabung soft skill hingga akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan impian dua tahun setelahnya. Menjadi Publicist di Jakarta.

Meski akhirnya kamu harus pulang dan bekerja sebagai kreatif televisi lokal, terima kasih karena kamu sudah menjadi orang pertama di keluarga yang menjejak tanah Jakarta dan bertahan hidup di sana.

Nani sayang, terima kasih karena tidak menyerah dengan keadaan. Kamu yang kuat untuk mematahkan anggapan, sindiran dan keraguan orang orang yang menyepelekanmu, karena kamu bukan anak siapa siapa dan tidak mengecap pendidikan apa apa, namun nekat melamar pekerjaan di perusahaan internasional yang terkenal luar biasa picky terhadap aplikatornya. Dalam setahun kamu akan tersenyum saat Direktur Utama memberikan piagam Executive of the Year padamu di annual gathering seluruh regional.

Kamu akan menghidupi mimpi mimpi sepele namun diam diam kamu panjatkan sebagai doa. Sebelum usiamu menjejak 25, kamu akan pergi ke Jepang, oh, ingatkah kamu pada komik komik sewaan yang menyita seluruh uang jajan itu? Ingat saat detektif Conan berjalan di bawah Tokyo Tower? saat kamu memimpikan soal berjalan kaki di Tokyo? Kamu menggenapinya, Nani. Kamu memeriahkan nyaris semua harapan Ayah soal hidup yang lebih baik. Kamu bahkan bisa memboyong semua orang liburan ke Jakarta untuk kemudian diam diam tersenyum saat mengetahui Ayah membanggakanmu pada setiap tamu yang hadir di rumah.

“Nani mengajakku makan di tempat yang isinya bule semua” adalah hal manis yang akan kamu kenang di hari hari mendung saat masalah di kantor membuatmu sedih.

Di usia selanjutnya kamu akan belajar bahwa semua pencapaian itu hanyalah rentetan kejadian yang tidak seharusnya membuatmu sombong. Kamu akan bertemu dengan lebih banyak orang dengan cerita hidup yang jauh lebih hebat dan akan membuatmu belajar soal hidup bukan hanya soal mencari uang.

Saya paham betul, sayang, kematian Ibu membuatmu bersumpah untuk tidak ingin menjadi orang miskin. Nantinya kamu akan belajar bahwa merasa cukup adalah kunci penting untuk kehidupanmu. Kamu akan berhenti melakukan pembuktian pembuktian soal materi, kamu akan belajar soal apa yang benar benar kamu inginkan dalam hidup:

Berdamai dengan diri sendiri.

Saya bisa melihat dan merasakan bagaimana sudut pandangmu perlahan berubah, kamu yang sudah menerima kematian Ibu sebagai sebuah peristiwa alam, bukan pertanda atau hukuman karena kamu begitu lalai dan tidak menujukkan kasih sayang padanya. Meski kadang masih suka kesel ya kamu yaa hahaha. Kamu yang sudah berdamai dengan paman dan kesulitan di masa kecil karena Ayah tidak pernah hadir dalam tataran emosi.

Kamu merelakan setiap laki laki yang kamu kira akan menyelamatkanmu dari kesepian, namun ternyata menyakiti hingga hatimu terasa terbelah delapan. Kamu akan mengerti bahwa kamu layak, kuat dan cukup, dan tidak seorangpun bisa menyelamatkanmu dari apapun kecuali dirimu sendiri.

Nani sayang, saya tidak bisa menjamin kehidupan akan terus seperti ini di masa depan. Tapi dengan apa yang telah kamu lakukan untuk membuat dirimu sendiri bahagia, saya tidak merasa khawatir soal bagaimana jika. Kita akan belajar untuk mengendalikan –bukan dikendalikan– oleh ideologi, kita akan belajar soal bagaimana menjadi baik, tanpa harus merasa menjadi yang terbaik.

Kita di hari ini telah melakoni hidup sebaik baiknya dengan apa kita punya. Soal apakah kita akan membekas dalam ingatan seseorang, apakah kita akan dikenang atas kebaikan kebaikan, kita tidak tau soal itu. Dan ga papa. It’s okay to know nothing about the future.

Saya hanya punya keyakinan, bahwa kita akan terus belajar dan beradaptasi.

Sampit, 22 Januari 2019

Peluk dan sayang, Nani di masa sekarang.

Be Right Back and How Grieving Works

Menarik bagaimana kemajuan teknologi bergeser dari fungsinya sebagai perangkat untuk mempermudah aktivitas fisik manusia menjadi tools on emotional level. Pada era revolusi industri misalnya, teknologi digunakan untuk bagaimana memperbanyak hasil panen, menerangi seluruh kota, membangun mesin ini dan mesin itu hingga akhirnya mungkin saat semuanya settled manusia menemukan ide soal:

Bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan eksistensial melalui kemajuan teknologi di bidang komunikasi.

Saya baru ngeuh soal ini saat pertama kali nonton Her, circa 2014. Film ini kemudian saya tonton berulang ulang dalam interval sebulan-dua bulan setelahnya, one of my favorite movie sebab gosh suara mbak Scarlett di film ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya turned on bahkan tanpa kehadiran fisik sempurna mbaknya. Lebih dari itu, plot dan bagaimana The Moon Song selaku score film membuat saya memahami bagaimana rasanya kesepian khas kaum urban. When there’s nothing wrong and everything is fine on the surface, but you just felt.. empty.

Lonely.

Film dengan ambient serupa kemudian saya temukan di Love for Sale, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Brooklyn dan seterusnya. Namun mari bergeser ke series yang baru saja saya tonton tadi malam agar tetap relevan dengan premis awal tulisan ini : Black Mirror season 2, Be Right Back dan bagaimana perkembangan teknologi menjadi perangkat untuk memahami perasaan manusia.

Image result for black mirror be right back posterBercerita soal Ash dan Martha, pasangan baru menikah dan sedang lucu lucunya. Di suatu hari, Ash meninggal dunia karena kecelakaan. Long story short, pada durasi setengah jam kemudian saya mendapati Martha yang grieving dan dwelling atas kematian Ash dalam keadaan hamil. Latar waktu film pendek ini (FYI Black Mirror ini seperti omnibus, kumpulan film pendek tapi ga pendek pendek amat apasih Nan) adalah masa depan yang jauh sekali hingga cup kopi ada lampunya dan laptop bisa dioperasikan pakai hand gesture. 

Di masa depan yang jauh sekali itu, ada artificial intelligence yang bisa mengumpulkan data dari media sosial dan video yang diunggah untuk dipelajari pattern-nya dan ‘menghidupkan’ kembali seseorang yang sudah meninggal melalui media chatting, video-call bahkan Android. Di film ini eskalasinya dirunut dengan baik, saat Martha merasa text saja tidak cukup, AI menawarkan video call hingga puncaknya, chipset ditanamkan dalam robot Android dan diwujudkan dalam tubuh seorang Ash. Literally membangkitkan orang mati tanpa konsep mistis sama sekali hahaha.

***SPOILER ALERT***

Hingga film berakhir dengan Martha yang jadi delusional dan menerima Android Ash sebagai bagian dari hidupnya, film ini memberi tahu how grieving works dengan berbicara soal kematian yang tidak direlakan akan tinggal selamanya. Dan kata ‘tinggal selamanya’ dimaknai literal dengan Android Ash yang benar benar tinggal selamanya di loteng rumah Martha. Ada fase tarik-ulur soal merelakan-tidak merelakan ini sebenarnya, saat Martha sadar bahwa Android Ash kehilangan personal trait yang tak peduli sebanyak apapun sumber informasi yang disedot AI, ia tidak akan bisa seunik Ash sebagai manusia. Saat Martha menyuruh Android Ash untuk terjun dari tebing di hometown Ash misalnya, atau saat mbaknya tiba tiba pundung karena reaksi Android Ash tidak seperti what real Ash would do.

Saya rasa soal menerima kematian, semua orang punya caranya sendiri. Shah Jahan yang membangun Taj Mahal untuk istrinya, beberapa berita soal istri/suami/pacar yang dijadikan mummy dan diletakkan di ruang tamu, regular visit to psychologist, termasuk cara ibu Ash saat adik dan ayahnya meninggal dunia : memindahkan semua foto dan memorabilia mendiang ke attic and shut the door. Detil yang hanya disebut dalam 2 kalimat di menit awal ini muncul kembali di akhir film dengan adanya Android Ash yang dikunci di sana selama periode Martha hamil-melahirkan-hingga anaknya toddler. 

Banyak detil menarik di Be Right Back ini yang semula hanya muncul satu-dua kalimat dalam percakapan yang sepertinya biasa saja. Soal attic, jumping cliff dan pola komunikasi Ash yang lebih menyukai media sosial ketimbang berbicara soal rasa-rasa pada Martha. Dari segi teknis, sinematiknya bagus sekali, warnanya mengingatkan pada Her (well, warna warna pastel kayaknya sudah didampuk menjadi khas film alternatif sih ya) dan sinematografinya sepintas mirip Blue Jasmine. Scoringnya juga uwuwuwuw sehingga cocok buat saya yang sedang ingin rehat dari non-stop action di serial Ozárk.

Meski peradaban belum sampai pada konsep menghidupkan orang mati seperti di Be Right Back, kita sebenarnya sudah melesat jauh dari titik awal perkembangan teknologi di bidang komunikasi. Let’s assume ground break-nya saat telepon ditemukan. Kemudian milestone selanjutnya adalah saat internet diciptakan, konsep komunikasi sederhana berupa the imparting or exchanging of information or news, bergeser menjadi tempat penitipan eksistensi, wadah propaganda, bahkan pencarian pasangan seperti yang aplikasi perjodohan lakukan.

Dari yang semula sebagai “Halo, gini nih mau ngabarin aja kalau Rabu depan pasukan Jepang mau ke Pearl Harbour so be prepared ya xixixi” menjadi “Hey, walaupun kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi aku mencintaimu melebihi apapun di muka bumi ini” perubahan ini in a way indah sebenarnya. Namun ketika perkembangan teknologi membuat kita terlalu mudah untuk overcome grieving seperti di Be Right Back, rasanya kok ada yang salah aja.

Saya tidak menyebut bahwa ketika seseorang meninggal kita harus weeping and dwelling and being sad all the time, namun proses grieving ada ‘pakem’nya. Saya juga tidak bisa menaksir soal kewarasan Martha yang akhirnya menerima Android Ash karena filmnya berhenti tanpa menjelaskan soal perubahan psychological state mbaknya (walaupun sebenarnya di Bicentennial Man soal percintaan antara dua entitas berbeda ini sudah dipaparkan dan bagi saya ya indah indah saja mas Andrew dan mbak Amanda akhirnya bersama) namun ketika kematian di-tresspass dengan ‘semudah’ itu, kesedihan itu tidak akan benar benar pergi, di Be Right Back soal ‘kesedihan yang tidak benar benar pergi’ dituang dalam scene mbak Martha yang menerawang ke arah jendela meski sudah having a mind blowing sex with Android Ash.

Dan jika tujuan awal teknologi adalah mempermudah urusan kehidupan, sejauh mana ia akan turut andil untuk mempengaruhi manusia dalam berperasa?

 

Sampit, 14 Januari 2019

My favorite line from the film:

“How Deep Is Your Love Cheesy”

“Come on”

Resolusi 27

Sepanjang ingatan, 27 adalah usia terjauh yang pernah saya khayalkan semasa remaja dulu. Saya pernah membayangkan bagaimana hidup seharusnya saat usia 17; satu bulan setelah lulus SMA. Khayalan saya purna: menikah dan beranak pinak sebelum usia 25. Agak menggelikan rasanya jika mengingat betapa yakinnya saya atas hal tersebut. Delusional, indeed.

random thoughts – for the benefit of mr kite (1)
Tulisan dari entry tahun 2009

Akhir tahun hingga menjelang pergantian umur adalah waktu favorit saya untuk membaca ulang blog yang sudah menjadi media curhat 10 tahun belakangan ini. Melihat perspektif saya terhadap berbagai hal dan bagaimana ia perlahan berubah ke arah yang menurut saya lebih baik. Pandangan atas politik, atas dogma, atas nilai nilai dalam hidup. Saya juga merasakan kembali semua resah, gundah, kebimbangan dan ketidaktahuan sebelum akhirnya saya menjadi saya yang sekarang.

random thoughts – for the benefit of mr kite
Pada sebuah entry di tahun 2011 saya menemukan tulisan ini.

Di tahun itu saya berusia 19, baru saja selesai merayakan keriuhan Jakarta setelah 1 tahun lamanya berproses dengan orang orang hebat dalam pekerjaan paling keren yang pernah saya punya. That 19 years old Nani still shares the same perspective about marriage. Bahkan saat menjejak usia 27 sekarang, saya masih membayangkan diri saya travelling sendirian di kota dan negara asing instead of membacakan The Little Prince sebelum anak saya tidur.

Mungkin saya terlalu berlebihan dalam memandang masa depan, terlalu spesifik dan dramatis dalam memaknai sebuah khayalan. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin setahun belakangan saat sedang banyak berproses di dalam karena satu-dua (atau tepatnya – beberapa belas) kejadian tidak mengenakkan di tahun tahun sebelumnya, saya berhenti berkhayal soal masa depan. Saya juga merelakan impian impian masa kecil – remaja – awal 20an yang tidak kesampaian. Jika sampai detik ini saya tidak berhasil menjadi penulis, ya sudah tidak apa apa.

Sejak Desember sesekali saya mulai membayangkan resolusi apa yang akan saya tulis untuk 2019. Perkara resolusi resolusian ini telah menjadi ritual tahunan selama satu dekade. Sepanjang rentang 10 tahun kemarin saya melihat sendiri bagaimana resolusi dan bucket list itu menjadi kenyataan. Setiap entry berjudul Resolusi 17, 18, 19 … dst akan menjadi review terhadap resolusi tahun sebelumnya, untuk kemudian saya tuliskan kembali harapan harapan baru yang taelah saya sampe merinding gini melihat bagaimana mereka bisa kejadian meski beberapa di antaranya terdengar tidak masuk akal. 

Di resolusi 21 misalnya saat saya menulis ingin menjadi anchor televisi, FYI saya gendut dan tidak cantik jangankan di kamera TV yang resolusinya 4K, di kamera tustel saja saya ga enak dilihat. Namun kemudian di usia 22 out of the blue saya melamar sebagai creative program di TV lokal dan menjadi host untuk beberapa talkshow bahkan talent iklan (warga Sampit yang traumatize dengan saya yang muncul setiap malam dan Jumat sore, maaf :’)) Dan beberapa perkara random yang saya nobatkan sebagai resolusi dan kejadian dengan cara yang menurut saya pada saat itu: mejik. 

Karena sudah dilakoni sepuluh tahun, diam diam persepsi ini menjadi paradigma yang baru saya sadari keberadaannya setahun belakangan. Turning pointnya adalah buku Neil DeGrasse Tyson – Astrophysics for People in a Hurry. Saya mulai merenung soal kalimat quotable beliau bahwa we’re made from stardust atau we’re not special because our existence consist with the same ingredients with other 7 billions human being. Kontemplasi yang kemudian berujung dengan “Damn, I must’ve been an annoying bitch for the past 10 years”

Terbiasa dengan pemikiran bahwa saya spesial membuat saya merasa entitled pada banyak hal. Saya berpikir bahwa mejik demi mejik yang terjadi dalam hidup adalah buah dari kespesialan itu. Saya merasa lebih baik, lebih pintar, lebih free-thinking, lebih liberal, lebih enlighted, lebih berpengalaman dibanding orang lain karena masa kecil dan latar keluarga saya begitu sulit dan melarat.

Dalam perjalanannya saya mulai mencari afirmasi dan pujian. And become obsessed with being smarty pants snob holier – than – thou. Dalam banyak momen saya mendapatkan pujian yang saya mau. Disebut prodigy, old soul, bijaksana, pintar, dan sematan serupa dari orang orang yang saya pandang hebat dan keren.

But here’s the dark side of feeding your ego : Ga akan pernah cukup.

Perasaan selalu merasa kurang ini berimbas pada banyak sekali self-harm bodoh cenderung pointless. Saya jadi paranoia terhadap penolakan di social circle, pekerjaan, orang yang disuka dan seterusnya. Gemanya akan membesar saat saya mengalami penolakan untuk alasan yang bahkan (mungkin) tidak ada hubungannya dengan apa yang saya rasa kurang. Merasa kurang kurus membuat saya beberapa kali pingsan karena diet ketat yang salah. Merasa kurang pintar membuat saya melahap belasan buku soal sains dan fisika dalam hitungan minggu. Merasa kurang sexually appealing membuat saya bertualang ke banyak kota dan negara hanya untuk memenuhi pernyataan bahwa saya desirable.

Semuanya hanya demi penerimaan. Acceptance.

Buku Mark Manson juga banyak memandu saya untuk membenahi perspektif ini. Beliau melalui bukunya menjelaskan banyak soal merasa spesial dan menjadi entitled karenanya. I’m not an unique snowflakes and it’s okay. 

Perubahannya baru benar benar terasa saat kemarin saya kembali bertemu dengan orang pernah saya cari afirmasinya beberapa tahun lalu. Dulu saat saya tertarik dengannya, saya membuat mental note soal apa saja yang ia suka dan bermalam malam melakukan riset atas hal tersebut. Buku buku kesukaannya, lagu yang ia dengarkan, makanan yang ia sukai semua saya cari dan pahami agar saat berbicara dengannya saya tidak terlihat bodoh. Tujuannya sederhana, agar keberadaan saya diakui, agar saya menjadi signifikan karena telah menonjol melalui kesejajaran dalam berdiskusi.

FAKLAH NO WONDER JOMBLO MULU PERKARA NAKSIR AJA DIBIKIN SERUMIT INI

Afirmasi itu tidak pernah saya dapatkan dan menjadi satu dari beberapa hal yang masuk dalam black hole shouganai pasca momentum Neil DeGrasse Tyson tadi. Kemudian setelah Desember kemarin kembali bertemu, ternyata ada perubahan yang terjadi. Saya mengatakan/melakukan apapun tanpa membawa misi ingin diakui. Tidak ada overthinking, tidak ada kontemplasi mendadak, tidak ada lagi tendensi ingin disebut pintar disebut cantik disebut menarik. Saya bisa dengan santainya mengatakan “Ga tau, apa itu?” atas konsep/istilah/judul/penulis/penyanyi yang memang tidak saya tau tanpa khawatir dikira bodoh :’))

Mungkin baginya saya tidak banyak berubah dan masih sama seperti bertahun silam, but it doesn’t matter for me anymore. Karena saya telah berhenti berasumsi atas hal yang tidak saya tau dan hanya fokus kepada yang saya pahami. Saya berhenti menduga duga perasaan atau pendapat orang terhadap saya dan hanya memikirkan bagaimana perasaan saya terhadap diri sendiri. Senang – tidak senang, nyaman – tidak nyaman, bahagia – tidak bahagia.

49663016_2307083499315292_1452483417529647104_n
Kaget juga melihat tulisan remeh begini sampe diretweet 1,500 kali di Twitter

Menjejak usia 27, saya meneruskan ritual hari ulang tahun ini dengan menuliskan paradigma ketimbang resolusi.

Kelak dalam perjalanannya apapun bentuk pencapaian, milestones, mejik, pengalaman dan orang orang baru yang saya alami/temui, mereka akan menjadi hal menyenangkan untuk dinikmati tanpa harus ditargetkan dan dijadikan harapan. Saya cukup dengan diri sendiri dan apapun yang terjadi di luar itu adalah physical matter yang tidak akan mengurangi maupun menambah nilai eksistensi saya sebagai a speck of stardust in this vast universe.

Seperti tujuh milyar warga bumi lainnya, saya tidak spesial. Saya tidak lebih dan juga tidak kurang dari orang lain. Saya tidak berhutang penjelasan apapun kepada siapapun sebab ya itu tadi, pada akhirnya saya hanya punya diri sendiri.

Ini akan terdengar seperti guidance yang suram jika dilihat dari perspektif : saya terkesan menolak untuk berkongsi dengan orang lain dalam menjalani kehidupan. Namun paradigma ini membantu banyak sebagai coping mechanism saat saya teringat betapa menyakitkannya emotional damage yang saya alami saat menggantungkan eksistensialisme pada afirmasi manusia lain. Pada nervous breakdown setiap kali saya merasakan penolakan. Pada kenangan buruk dan hal hal yang seharusnya bisa saya perbaiki di masa lalu. All of those what if, should’ve, could’ve, must’ve.

Jadi, mari menjalani usia 27 dengan sikap shouganai dan lebih menyayangi diri sendiri!

 

 

 

Sampit, 10 Januari 2019

Hidup tidak semestinya dimaknai dengan kejam

Liebster Award Nomination

Menemukan challenge berantai seperti ini seketika melemparkan saya ke 10 tahun silam, saat menulis blog adalah hobi semua orang dan tempat ini lebih ramai dari pasar malam. Sekarang tentu saja ia telah beralih platform menjadi Facebook, Instagram dan Twitter. Namun hingga saat ini blog masih menjadi favorit saya untuk menuangkan isi kepala. Dan karena ia sudah tidak seramai dulu, saya jauh lebih nyaman untuk berbicara tanpa keinginan untuk menggugah, menginspirasi lebih lebih mencitrakan diri di sini.

Mbak Maya menyertakan saya di antara 11 blogger lain untuk mengikuti Liebster Award Nomination ini (lebih lengkap ada dalam entry beliau yang ini) dan saya tertarik untuk ikut meramaikan karena itu tadi, atas nama nostalgia hahaha.

Berikut jawaban saya untuk 11 pertanyaan dari Mbak Maya:

Question for my fellow bloggers:

  1. your blog in 3 words, are? Media curhat, review buku dan jalan jalan
  2. your favorite author? Saat ini masih ditempati Haruki Murakami
  3. how many times did you re-read your writing? in a good day, 2-3 kali.
  4. when you write, do you lock yourself in a room? I don’t need to, I’m living alone
  5. your favorite books? Cantik Itu Luka, Sputnik Sweetheart, The Redeemer, One Hundred Years of Solitude (by far)
  6. what is your favorite stationary items? my lovely meal plan journal
  7. any other hobbies else than writing? Memasak dan menghitung kalori (by far)
  8. what kind of things that must be there or accompanying you when you write? my imaginary friend
  9. what is a writer’s block to you? rasa nyaman
  10. most anticipated guest to be at your house right now? basically anyone. Why? I’m still in this house warming euforia, baru pindahan~
  11. where would you want to be, the beach or the mountain? beach for sure. Di bawah sinar rembulan. Sambil berpegangan tangan :’)

Random 11 fact about me:

  1. I had this weird allergy toward perekat. Lakban, plester luka, koyo akan menimbulkan ruam dan gatal gatal yang berujung dengan bekas luka. I can’t recall when the last time I had kulit mulus tanpa bekas luka.
  2. I read comic books in a speed of light
  3. Lebih suka nonton teater/monolog/designated seating music show dibanding konser karena suka mendadak panik kalau berada di tengah orang banyak yang teriak teriak
  4. Meski sudah 10 tahun bekerja di bidang komunikasi (jurnalis, penyiar radio, penyiar TV, publicist dan sekarang humas – CSR) lidahku suka mendadak kelu kalau kenalan sama orang baru~
  5. Punya teman diskusi imajiner
  6. Sering dikira melucu padahal murni bodoh. Pernah mengira sapioseksual adalah sebutan untuk orang dengan fetish terhadap sapi.
  7. Pernah masuk UGD karena makan Momogi rasa keju 4 kotak isi 20
  8. Kalau latah nyebutnya ayam aku merasa seperti komedian program TV pagi hari yang tidak lucu 😦
  9. Agus Kuncoro adalah segalanya
  10. Hopeless romantic
  11. Lebih takut film sedih daripada film horor

Saya seharusnya mendampuk 11 blogger lain untuk menuliskan hal serupa di atas tapi saya ga bisa menemukan 11 laman blog milik kawan yang cukup dekat untuk meneruskan pesan ini. Jadi ya, biarlah berhenti di saya hehe.

***

Oh, kemarin saat menuliskan kaleidoskop 2018 di pertengahan bulan Desember, saya sama sekali tidak memiliki rencana akan ke mana pada saat tahun baru. Saya sudah menyusun janji mabar dengan rekan rekan sepermainan PUBG dan membeli banyak sekali cemilan sebagai kawan nonton Netflix untuk melewati tahun baru dan libur panjang di dalamnya.

Ndilalah, saya berangkat ke Bali pada 28 Desember dengan keputusan diambil tepat dua hari sebelumnya sebab apalah artinya usia muda jika impulsif tidak menjadi sifat utama. Menghabiskan seminggu dengan makanan enak, obrolan dan diskusi tidak berkesudahan. Untuk sekedar berpendapat dan mengungkapkan hal hal yang tidak pernah berani saya katakan di lingkaran sosial di Sampit atas nama decency dan memaklumi. Begitulah, tahun baru 2019 saya lewati dengan tipsy berkat 3 gelas wine dan riuhnya hitung mundur di antara kembang api pantai Canggu.

Sampit, 4 Januari 2019

2018, Wrapped

Tahun lalu saat menuliskan ini saya sedang berada dalam fase gemar jalan jalan. Lebih dari belasan kali saya bepergian untuk liburan. Yang mana sebagai mbak mbak kantoran biasa tanpa pressure untuk engagement dan mengelola konten media sosial (hal ini satu satunya alasan yang terlintas di kepala saya soal kenapa seseorang sering jalan jalan selain karena kaya raya tentu saja) jumlah belasan itu terasa banyak. Beruntung pekerjaan kali ini jam kerja dan hak cutinya cukup jelas sehingga saya bisa mengatur jadwal jalan jalan dengan baik.

Karena perkara bepergian ini sekadar fase, lama lama ia pudar dengan sendirinya. Di tahun ini saya tidak terlalu bersemangat ketika mendapat ajakan berlibur. Sejak awal tahun saya sudah menolak ajakan ke Derawan, Banda Neira dan terakhir ke Korea dan Hong Kong karena somehow saya tidak berselera. Di benak saya hanya terbayang keribetan packing, rusuh di Bandara dan mencari nanny untuk Bambang selama ditinggal. Tapi mungkin 80 persen alasannya lebih kepada karena saya mizkin saja hahaha.

Januari memiliki highlight berupa pergi ke Kuala Lumpur selama lima hari untuk menghadiahi diri sendiri nonton konser Fleet Foxes di KLCC. Bulan ini juga menjadi penanda dimulainya hobi baru berupa meal prep. 26071306_2016191691952402_1526895778927214592_n (1)Pertengahan Februari saya mengambil paket tour ke Sumba, Nusa Tenggara Timur selama 6 hari. Bulan ini juga lagi booming film Marlina, Pembunuh dalam Empat Babak dan Susah Sinyal yang mengambil lokasi syuting di Sumba. Penasaran dengan sekeren apa Pantai Walakiri dan Weekuri sayapun berangkat bersama 4 kawan lain dalam private tour. Ternyata memang bagus banget, review lengkapnya di sini.

DSC00100

Maret.. di akhir bulan saya pergi ke Banjarmasin untuk pertama kalinya. Selama tiga hari di sana yang saya lakukan hanya tidur – makan – shopping kaya orang kebanyakan duit karena memang tidak banyak yang bisa dilakukan di Banjarmasin dalam waktu tiga hari kecuali wisata kuliner. Saya juga ingat betul Maret adalah bulan di mana saya agak terobsesi dengan channel YouTube Kurzgesagt – In a Nutshell. Kesembilanpuluh (terhitung hingga hari ini 17/12) video mereka saya tonton berulang ulang setiap malam sebelum tidur. Penjelasannya runut dan grafiknya menarik. Saya juga menyukai bagaimana mereka membuat hal se-njelimet String Theory menjadi sesederhana 1+1=2.

Di bulan April ada beberapa minggu di dalamnya yang penuh perenungan. Pertama karena Farida resign dan saya kehilangan rekan kerja yang sama gilanya di kantor. Kedua, berhentinya Rida dari kantor membuat saya merasa tidak enak untuk ‘numpang’ kontrakan yang telah kami tinggali selama setahun belakangan, ditambah kontrak tahunannya habis di bulan ini. Ketiga, sejak Februari saya mendapat surat peringatan dari KPR-BTN untuk menempati bangunan perumahan yang saya kredit sejak 4 tahun silam. Intinya jika lebih dari 5 tahun bangunan tidak ditempati akan dikenakan sanksi berupa perubahan skema pembayaran dari subsidi menjadi non-subsidi. Saya kira ini hanya bluffing ternyata tetangga depan rumah betulan harus membayar dari cicilan 950 ribu sebulan menjadi 1,4 juta sebulan.

Akhirnya di bulan Mei, bertepatan dengan minggu kedua bulan puasa saya akhirnya pindah. Perpindahan kali ini lebih terasa seperti eksodus karena lokasinya cukup jauh dari kota. Kurang lebih 7 kilometer. Delapan jika dihitung hingga depan rumah. Lokasi perumahan yang jauh ini sedikit banyak membawa perubahan dalam kebiasaan sehari hari saya. Perubahan yang (untungnya) lebih sehat dan hemat. Saya tidak bisa lagi pesan makanan menggunakan ojek online karena satu trip pengantaran ongkosnya 60-75 ribu, padahal dulu waktu rumah masih di tengah kota sehari bisa 3 kali menggunakan ojek online ini. Apapun yang saya mau makan, tinggal pesan dan satu jam kemudian sampai.

36113480_851551645039588_7494619598243758080_n.jpg

Juni, saya memulai hobi baru (lagi). Kali ini karena terdesak keadaan, saya mulai rajin memasak dan membawa bekal. Ditambah setelah kurang lebih satu bulan merasakan capeknya naik motor sejauh 8 kilometer sekali jalan dan berpapasan dengan truk setiap hari, saya memutuskan untuk mulai mengumpulkan uang untuk uang muka mobil. Setiap hari setidaknya seratus ribu bisa saya hemat karena meal prep ini.

Hingga minggu pertama bulan Juli saya gundah gulana karena kebelet ingin punya mobil. I might sounds like a whiny bitch because there’s a lot of people drive their motorbike for a solid hour or even more in order to go to work. Tapi karena bayangan mati tersambar truk saat naik motor menghantui pikiran saya setiap hari, keputusan untuk mencicil mobil akhirnya bulat juga. Setelah berlapang dada merelakan tabungan untuk ke Murmanks, Rusia di akhir tahun terpakai, ditambah bonus lebaran dan hasil berhemat via meal prep saya akhirnya mengambil Mobilio hitam dengan cicilan empat setengah tahun ke depan. Untungnya dengan uang muka yang cukup besar, cicilan bulanannya tidak sebegitu menyakitkan. Yha setidaknya saya masih bisa makan dengan baik dan nonton bioskop walaupun perkara liburan menjadi hal yang mustahil untuk sementara waktu. Sediy~~

Agustus Amel menikah! Untuk pertama kalinya saya pergi ke luar kota setelah kurang dari sebulan ‘bisa’ nyetir karena resepsi Amel di Pangkalanbun. Ini mungkin pertama kali sekaligus terakhir (setidaknya untuk tahun ini) karena ternyata nyetir jauh itu capek sodara sodara. Bulan ini saya kembali dapat tugas untuk berkeliling kebun di Region lain. Kali ini dalam rangka pembuatan video profile KLK Region Kalimantan Timur. Selama 10 hari terhitung sejak tanggal 11 hingga 23 Agustus saya hopping dari satu kebun ke kebun lain tanpa sinyal internet dan telepon sama sekali. Dua hari di ujung visit saya pergi ke kebun terjauh kami –6 jam perjalanan darat– dan menyempatkan untuk singgah ke Labuan Cermin.

Di bulan September saya addicted memainkan PUBG. Sampai sekarang saya masih bermain sesekali tapi tidak segila di bulan September. Saya mulai bermain di akhir season 2 – awal season 3 yang di kedua seasonnya saya push rank tiap hari dan berhasil naik menjadi Ace. Selain PUBG, saya juga memulai kebiasaan baru : Herbalife. Tepatnya sejak 11 September silam saya rutin mengganti sarapan dengan produk ini. Dengan tujuan ingin kurus tentu saja. Ini kali kedua saya ikut program herbalife sebenarnya, hanya saja kali ini saya jauh lebih mengerti soal how my body works dan apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Hingga akhir September, saya berhasil menurunkan 5 kilogram dari berat awal.

44924586_2139487512781083_3048575720124472621_n.jpgYang saya ingat tentang bulan Oktober hanya satu : DIET. Bulan ini adalah bulan euforia karena saya ”akhirnya” sukses menurunkan berat badan dengan cepat dan tidak menyakitkan. Saya apply membership Health Club dan ngegym/berenang nyaris setiap hari dengan durasi 30-60 menit.

Gaya hidup yang jelek sepanjang 2016 – 2017 berimbas kepada tidak hanya berat badan yang bertambah hingga lebih 10 kilo, tapi juga menurunnya ketahanan tubuh. Saya gampang flu, cepat lelah dan sedikit2 merasa sedih.

Di bulan ini saya mulai merasakan perubahan yang lumayan. Dari yang dulu baru jalan dikit saja sudah ngos-ngosan, kini sudah bisa lari dengan konsisten hingga 5-6 menit. Dari yang 5 lap berenang sudah mau habis nafas jadi tahan 20-30 lap.

Yang paling menyenangkan, tentu saja karena reward dari konsistensi ini terasa. Baju mulai longgar dan beberapa kaos kesukaan akhirnya muat lagi. Di akhir Oktober, saya turun 10 kilo dalam waktu 1,5 bulan.

Di bulan Nopember saya masih diet tapi dengan ritme yang lebih pelan. Mungkin karena bosan kali ya, cheating day saya jadi lebih banyak dan olahraga mulai jarang. Saya tetap on track tapi pace-nya tidak secepat dua bulan sebelumnya. Karena tujuannya adalah membiasakan diri untuk makan maksimal 1,300 kalori sehari. Saya bisa dan sanggup defisit hingga 1,000 kalori sehari (yang kalau dilakoni konsisten selama 7 hari menjadi jaminan turun berat badan hingga 2 kilogram) dengan hanya makan shake herbalife untuk sarapan, satu potong tahu kukus untuk makan siang dan Promag untuk makan malam. Tapi hell no, saya ga mau begitu terus terusan. Oh di bulan ini saya juga menggagas beberapa gig sastra dan budaya bersama anak anak Cangkir Tua. Menyenangkan rasanya kembali ‘membangkitkan’ roh anak indie yang sudah terpendam bertahun tahun lamanya.

Desember baru menjejak hari kedelapanbelas. Di bulan ini highlightnya adalah ingin ke Korea tapi gagal (ternyata keburu full seat) dan operasi gigi geraham bungsu sebelah kanan. Sisanya hanya kegundahan kegundahan sepele soal ingin tahun baruan ke mana yang saya curiga akan berakhir dengan main game hingga subuh, just like another weekend hahaha.

Saya rasa 2018 saya cukup shallow. Tidak ada kejadian menggemparkan, tidak ada roller coaster perasaan. Awal tahun saya sempat dekat dengan F yang saya kenal saat di Jakarta. namun setelah dua bulan intens ngobrol, video call dan chatting kami memutuskan there’s no possible way this relationship would work. Dia harus balik ke Ankara – Turki sehingga waktu ngobrol kami either delay di saya atau dia selama 5 jam. Lagipula tidak ada yang menyenangkan dari LDR, I’ve learn it in a hard way.

Tapi jujur, saya menyukai ritme hidup yang seperti ini. Meski beberapa kali saat dandan di pagi hari saya membayangkan diri saya seperti Walter Mitty di the Secret Life of Walter Mitty yang monoton – rutin – mundane –  biasa aja. Mungkin karena beberapa tahun di awal usia 20an saya separo mampus jungkir balik berurusan dengan urusan pekerjaan, keluarga dan romansa kali ya. Kalau usia 20-24 tahun saya kemarin dibikin kaleidoscope seperti ini, panjangnya mungkin bakal lebih dari 100 halaman. Setiap bulan, hell, setiap minggu di tahun tahun itu saya mengalami krisis. Adaaaaa aja masalah yang kayaknya ga akan tuntas tuntas.

Saya rasa agak congkak jika menyebutkan saya sudah settle sekarang karena siapa yang tau apa yang akan terjadi besok. Saya bisa saja di-PHK, atau cacat, atau sakit, atau basically anything could happen dan mengubah state settle saya menjadi jungkir balik kembali. Kurang dari sebulan saya akan menjejak usia baru, 27. When people says time flies I used to -Pffft-ing them because they had no idea how hard it is for me to get by even just for a day. Now I kind of get it, it feels like I just graduated high school yesterday yet it’s already 10 years behind. I still felt the same pain on my heart like the day my mother died although she’s already passed for almost 4 years. Some memories are so vivid, linger and had all painful details. 

Dan terasa seperti baru saja terjadi kemarin.

 

Sampit, 18 Desember 2018

The Subtle Art of Not Giving A Fuck

Mark Manson adalah orang favorit terbaru saya. Dalam skenario tea party imajiner yang saya gelar pada sore sore yang senggang beliau saya tempatkan tepat di samping Neil DeGrasse Tyson, bersisian dengan Christoper Nolan dan Murakami. Dalam skenario tersebut kami ngobrol soal alam semesta sambil minum teh dan ngemil profiteroles. Tidak, ini tidak berakhir dengan orgy what the fuck is wrong with you.

Di sela kesibukan push rank di PUBG (sudah Crown II yay), marathon How To Get Away With Murder di Netflix dan baru baru ini setengah mati bimbang haruskah menekuni Fortnite di Nintendo Switch karena faklah saya tertarik tapi gengsi hahaha, saya menemukan buku Pak Manson tengah diskon 20 persen di Periplus Juanda Surabaya. Dalam perjalanan pulang buku ini nyaris habis dan resmi tamat dua hari kemudian.

Isinya jauh dari buku buku self-help seperti yang sering saya temukan di akun Instagram Junita Liesar. Juga jauh dari tema motivasional seperti yang sering diposting orang orang sehat di media sosial. Secara sederhana The Subtle Art of Not Giving a Fuck (yang untuk kepentingan jemari akan disingkat sebagai TSANGF) ini bertutur soal: life sucks, yaudah jalani aja.

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.13

Tidak saya temukan soal “There will be a silver lining on every pain” atau “Embrace your hard time because it lead to something beautiful” atau “Jangan khawatir miskin kalau nikah dan punya anak sebelum mapan, rezeki Allah yang jamin” di buku ini. Buku ini cocok untuk seorang unique snowflake yang merasa berhak atas kemudahan kemudahan hidup karena kespesialan itu tadi. Yang merasa jalan hidupnya berat dan society telah berlaku sangat tidak adil. Bahwa sistem yang sudah berjalan ratusan tahun ini salah dan tidak fleksibel for my own needs. Bahwa tidak ada satupun ideologi yang bisa merangkul pemikiran seorang introvert ini dan nobody gets me.

No, we are not special.

Satu satunya yang membuat kita spesial kalau kata Pak Neil DeGrasse Tyson adalah kita terbuat dari unsur yang sama dengan bintang bintang di angkasa; karbon, nitrogen dan oksigen. Sisanya, seluruh peradaban dari tahun 0 hingga sekarang beserta segenap kebudayaan dan teknologi yang ada di dalamnya hanyalah a speck of dust on this universe. Pak Tyson juga bilang bahwa satu satunya alasan kita dan peradaban ini masih eksis adalah karena belas kasihan alam semesta. Coba bayangkan jika saat ini di galaksi tetangga tengah ada rangkaian ledakan bintang yang akan bersinggungan dengan galaksi kita dan membuat seluruh bumi beserta isinya meledak tanpa sisa dalam yet another big bang dan kita tidak bisa menebaknya karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita punya sekarang belum mampu melakukan observasi sejauh itu.

We’ll be erased. We will be forgotten.

Dengan premis A Counterintuitive Approach to Living a Good life Pak Manson terasa sangat berhati hati untuk berjalan tidak memberikan pesan yang salah soal “Ayo anak anak kita jadi nihilis saja karena susah payah mengejar kebahagiaan buat apa karena kita semua akan mati juga pada akhirnya~” untung Pak Doni tidak menulis buku motivasi hahaha. Hal ini ditulis secara gamblang di halaman preface soal Not Giving a Fuck tidak sama dengan being indifferent. Hanya saja kita lebih selektif dalam memilih ‘konflik’ hidup, disebutkan skala prioritas penting untuk menentukan sebanyak apa porsi emosi yang dikeluarkan untuk siapa atas hal apa.

Ini menarik sebab seusai membaca buku ini saya menjadi reflektif soal diri sendiri dan observatif terhadap orang lain. Pengelolaan emosi yang terlalu represif akan membuat seseorang triggered dengan hal hal sepele. Seperti Pak Manson, saya juga pernah mendapati orang marah marah dengan kasir Alfamart hanya karena label harga tidak sesuai. Atau meng-anjing-babi-kan orang yang mengambil spot parkir yang dikehendaki (padahal bukan reserved parking eniwei) diambil orang. Kalau kata Pak Manson, kondisi ini melelahkan karena kita stress dan beremosi berlebihan kepada hal hal yang tidak perlu.

Di Jepang ada istilah shikata ga nai (仕方がない) atau yang sering disingkat shouganai untuk merujuk soal “It can’t be helped”, yaudahlahya. Saya sering sekali menggumam kata yaudahlahya ini beberapa tahun belakangan sampai berubah menjadi shouganai sejak mengetahui hal ini saat kemarin pergi ke Jepang. Saya melihat sendiri soal betapa ‘shouganai’nya orang Jepang saat antrian toiletnya diselak turis Cina, atau saat saya jalan sambil main handphone hingga sering nyaris nabrak nabrak, mereka akan minta maaf (padahal yang salah saya) dan terus berjalan tanpa menunjukkan emosi. Kalau mau melihatnya dari perspektif berbeda ya orang orang Jepang (utamanya di kota besar seperti Tokyo dan Osaka) memang seperti zombie. Dan shouganai-nya mereka mungkin lebih ke arah “Aku sibuk sekali dan ga punya waktu untuk berurusan dengan hal hal sepele seperti memarahi turis yang kalau jalan sambil main hape”

But hey, it works either way.

Chapter chapter awal buku ini memaparkan soal permasalahan kita yang terlalu banyak giving a fuck. Pak Manson juga melakukan dekonstruksi soal kenapa kita sering merasa kita adalah an unique snowflake dan entitled to things. Di saat selebtwit dan selebgram menggempur kita soal kampanye you’re special so the world should pay attention and respect to you, Pak Manson malah mati matian meruntuhkan tower ego itu agar kita tidak merasa bahwa dunia dan masyarakat berhutang sesuatu kepada kita. Entitlement itu anak tirinya ego. Dan menjadi orang egois hanya boleh dilakukan kalau kamu anaknya Jack Ma. Kalau udah mizkin, merasa spesial dan minta diperlakukan istimewa yha udha mz u mati ajha~

WhatsApp Image 2018-10-01 at 08.29.17

Di buku ini juga dijelaskan soal kecenderungan kita untuk romanticizing pain. Di media sosial bertebaran orang orang yang tiap hari galau but never try to get help. Saya juga bertemu dengan yang berada dalam hubungan tidak sehat dan terus curhat soal itu tapi tidak pernah mengiyakan (dan melakukan) saat disuruh putus dan keluar dari hubungan itu. Kita memuja rasa sakit seolah itu memang bagian dari diri kita –lebih buruk lagi, merasa itu adalah takdir– seolah ia bagian dari tubuh yang kalau dilepas setara dengan harus kehilangan kaki kanan, ga ikhlas dan ga mampu.

Padahal rasa sakit baik psycological atau physical adalah reaksi tubuh atas reseptor neuron yang mengatakan “Hey, there’s something wrong here” dan tugas kita adalah to fix it. Seperti saat tangan keiris pisau, kita merasakan sakit lalu mencari cara untuk menyembuhkannya. Kasih obat merah, minum Paramex, lilit perban, apapun agar rasa sakitnya hilang. Begitu juga dengan rasa sakit yang muncul akibat cinta yang tidak berbalas, habis nonton drama Korea atau saat Poussey mati kegencet Sipir di Orange is the New Black (this part made me cried for 2 whole days) dan perasaan perasaan sedih sejenis. When we get sad, try to get out and be happy, get help and let yourself be helped. Terdengar sederhana tapi kita lebih suka menimpa kesedihan dengan kelaraan lain. Kesedihan, somehow, membuat kita merasa spesial. Dan kespesialan itu membuat kita merasa entitled.

The Feedback Loop from Hell-nya Pak Manson juga menarik sebab ia menyentil soal kebiasaan kita untuk overthinking dan overanalyze terhadap perkara yang sebenarnya sederhana saja. Bukan bermaksud mengecilkan nilai depresi, anxiety dan penyakit mental lainnya hanya saja kadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesedihan kita sebagai depresi. Ditambah sulit untuk memilah mana kesedihan yang murni dan kesedihan demi konten di era sekarang ini. Tapi ya shouganai, berempati saja tanpa harus mencari motif.

Eniwei, karena entry ini sudah terasa panjang sekali, setelah seminggu membaca buku ini hingga tamat dan mengulang kembali dari kemarin, saya menemui simpulan soal hidup yang singkat ini laluilah dengan biasa saja. Prioritaskan keluarga dan teman yang baik, cut toxic people from your life (mereka beneran ada, bukan hanya mitos), tolong diri sendiri saat merasa sedih dan terjebak dalam anxiety. And life can’t be beautiful if we don’t want to see it that way.

 

Sampit, 01 Oktober 2018