Semantik Perspektif dan Perkara Sudut Pandang

Dari mana sebuah simpulan didapat? Bagaimana sebuah perspektif terbentuk? Apakah ia benar benar berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir atau yang sering disebut sebagai self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? Vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, norma, dogma, doktrin dan sejumlah kausal lain yang mampu membentuk — bahkan mempengaruhi — sebuah sudut pandang dan simpulan?

Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Netralitas adalah ilusi (hal ini akan saya tulis khusus kemudian). Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Entry blog kali ini mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan di Indonesia. Negara ini masih saja berkutat pada radikalisme dan kelompok penjual agama. Terakhir kabar, Kementrian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs situs propagandis berbau radikalisme.

Sejak awal penciptaannya hingga di era Paleotikum manusia percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju dan manusia percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa yang bersemayam pada gunung berapi. Dewa dewa dalam ujud menyerupai manusia dan binatang yang disucikan bermunculan, menumbangkan tuhan tuhan lama yang perlahan bisa dijelaskan, diwajarkan, dirasionalkan. Keyakinan seperti ini melebar sejak abad 1 hingga 9 dan akhirnya tuhan dikirim ke alam luar, ke dimensi entah di mana, dalam wujud berupa ada. Hal ini tertuang dalam kanon kanon agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam dan segenap turunannya). Semenjak diletakkan dalam wujud yang mustahil dibuktikan secara empiris, tuhan aman di kedalaman hati masing masing manusia.

Kemudian tibalah kita di era pra modern. Gejolak sains, penemuan penemuan ilmiah dan revolusi di bidang industri pada awal 16 menjadi titik di mana ilmu pengetahuan mengalami puncak kejayaannya. Porosnya di negara Eropa meskipun di tanah Arab mengalami perkembangan serupa (tapi revolusinya berhenti sejak ada Sultan Turki di masa Ottoman iseng mengharamkan mesin cetak)

Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama Semitik yang mulai kuat saat itu mendapat guncangan cukup berat hingga menimbulkan friksi antara cendekiawan dan gereja. Tidak terhitung berapa kali Galileo Galilei disidang gereja karena membawa premis mengenai bentuk alam semesta. Tidak terhitung berapa banyak ilmuan yang dipenjara karena berhasil membuat pembuktian empiris atas dongeng dongeng kanon. Selebrasi sains tidak bisa dibendung dan meluas hingga akhirnya perspektif barat berkembang ke arah baru; Ateisme, Sekularisme, Liberalisme. Perjalanannya panjang dan mengorbankan banyak nyawa. Bagi saya manusia dan bagaimana mereka memperjuangkan ideologinya selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati.

Membebaskan tuhan dari lingkup kanon dan berita berita usang adalah perspektif saya terhadap pandangan ini. Orang orang membebaskan tuhan dari pepatan definisi dan mematahkan ilusi tentang bagaimana sesuatu terjadi dan diciptakan. Ada juga yang membebaskan tuhan dari ritus pemujaan, ada yang membebaskannya dari ujud  dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Tiada. Alpa. Nihil.

Ini disebabkan sejak era pra modern bangsa Eropa – Amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan hingga perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.

Meski kemudian, teori relativitas yang saya gunakan mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan bahwa tentu masih ada sikap radikalisme dan antisekularis di negara dengan sejarah peradaban belasan tahun itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentu saja.

Waktu, ternyata juga bisa menjadi variabel yang membentuk sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasi fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad jika dihitung sejak masa prakolonial. Indonesia sebagai sebuah negara tentu mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah berdamai dengan ledakan ilmu sains dan filsafat serta bagaimana kedua hal itu mempengaruhi konsep ketuhanan, Indonesia baru memulai fase tuhan adalah dewa yang mewujud dalam benda benda duniawi-nya. Lalu agama Semitik masuk melalui pedagang Arab-Gujarat (Islam) dan kolonisasi Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospelnya (Kristen)

Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai fase ledakan ilmu sains dan filsafat di era milenium, ratusan tahun tertinggal dari negara barat. 

Kenapa saya menjadikan tahun 2000 sebagai benchmark perkembangan ilmu sains dan (utamanya) filsafat? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal pro-kontra buku Atheis-nya Achdiat K Miharja, PKI dan tudingan anti-islamnya, hingga konsep manunggaling kawula gusti di era Syech Siti Djenar di era Wali Songo? Bukankah gejolak pencarian tuhan di ranah pribadi telah terjadi sejak dulu kala? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa Indonesia nyaris merdeka hingga Orde Baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsep ketuhanan. Hal inilah era post-modernnya kita.

Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era milenium, sekarang sekarang ini. Sejak munculnya tokok Gus Dur sebagai bapak Pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari pra-modern ke modern di negara ini. Tren melawan arus, gelombah mahasiswa yang melawan rezim Suharto, hingga meluasnya teori Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme di ruang publik. Kita lebih bebas dalam memilih ujud tuhan dan memutuskan untuk percaya atau tidak dengan paparan konsep dan ilmu pengetahuan yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam di negara barat.

Pasca tumbangnya Orba, saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk. Sungguh berbeda dari 40 tahun silam di mana seseorang bisa dengan mudah kehilangan nyawa hanya karena ideologi yang dimilikinya.

Screen Shot 2019-07-11 at 17.20.57
Pendekatan mendarik soal Consciousness via Kurzgesagt

Maka sekarang lihatlah, Indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Armstrong, Stephen Hawking, Carl Sagan hingga Madilog-nya Tan Malaka dan menjadi bacaan setiap orang bahkan menjadi sumber studi. Bicara soal Orba, jangankan buku buku yang mempertanyakan ideologi sosial-budaya seperti Madilog, sebuah fiksi cinta cintaan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru saja dibredel. Ki Panjdi Kusmin yang cuma menulis cerpen Langit Makin Mendung saja harus dipenjara, Seno Gumira Ajidharma harus kehilangan penertbitan dan pekerjaannya di majalah Djakarta, Djakarta! hingga Widji Thukul yang harus hidup dalam pelarian seumur hidupnya hanya karena menulis puisi.

Kini, tiap individu telah bebas untuk membebaskan tuhan dari koloni kanon. Dalam perjalanannya tentu akan ada friksi dan perlawanan sebagai deviasi dari era pra-modern. Indonesia tengah mengalami prosesnya sendiri untuk melawan radikalisme dan menentang upaya memundurkan peradaban melalui jualan khilafah dan mengembalikan Islam ke khittahnya.

Mungkin, ini hanya kemungkinan dan romantisme saya terhadap negara ini, setelah satu-dua abad gejolak ini mengeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif progresif, negara ini akan menemukan “kemerdekaan”nya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga berupa waktu menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan akan lepas sepenuhnya di masa mendatang.

Apa yang kita lihat saat ini adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah negara ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad hingga pembantaian atas nama agama (ibid: Cikeusik, 2011) dan segenap upaya perlawanan keji dari yang tidak menginginkan  ledakan ilmu sains dan filsafat ini terjadi. Perlawanan tanpa basis dari kelompok yang tidak mau Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Yahudi – Amerika.

Namun, jika perubahan serupa udara, bisakah kita menghentikannya?

Saya menempatkan diri dalam perspektif serupa belasan tahun silam. Saat satu satunya ilmu pengetahuan yang saya dapat adalah doktrin agama dari Ayah dan sekolah. Saat majalah yang tersedia di rumah nenek hanya Sabili dan Hidayah serta buku buku radikalis berkedok pencerahan islam. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca hal tersebut dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, belasan tahun berselang, saya menganggap memang sudah saatnya hal ini terjadi. Sesedih apapun saya atas collateral damage yang disebabkan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.

Apakah ini inkonsistensi? Tidak tetapnya pendirian? Peragu?

Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari luar. Yang berproses dan diterima sebagai ideologi baru. Karenanya ini tidak bisa disebut sebagai self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.

Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Sampit, 11 Juli 2019

Advertisements

Cognitive Bias dan Pemaknaan Mimpi Buruk

Saya jarang sekali bermimpi buruk belakangan ini. Dulu ketika masih usia belasan mimpi buruk menjadi perkara harian, kebanyakan mimpi diperkosa/dikurung dalam sumur. Biasanya jika terbangun dengan keringat mengucur atau airmata mengalir, saya akan merangsek ke kamar Kakak dan melanjutkan tidur di sana karena somehow saya merasa ‘aman’. Sesekali di usia 20an ini saya masih terbangun dengan pola yang sama namun biasanya akan segera tertidur kembali karena saya mengerti dari mana datangnya mimpi buruk itu.

Bahkan hal itu tidak lagi saya maknai sebagai mimpi yang buruk karena tau diri ini menggemari Junji Ito, suka game violence, ngefans sama film film Zombie dan mengikuti serial Happy Tree Friends dan Salad Fingers di YouTube. Jika mimpi yang saya alami adalah tembak tembakan/dikejar zombie/masuk ke realm aneh saya akan terbangun dengan ngos ngosan senang lalu menggumam “THAT DREAM WAS AWESOME!” lalu tidur kembali in no time.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, saya menemukan mimpi buruk dengan keinginan merangsek ke kamar Kakak setelah terbangun. Karena sadar sudah 6 tahun terakhir saya hidup sendiri, maka hal pertama yang saya lakukan adalah menangis sejadinya dan menelpon kawan baik di Bengkulu yang kebetulan masih terjaga. Kami membahas soal surviving mode tubuh dan pikiran yang bahkan saat dalam mimpi sekalipun, masih alert dan saya ingat betul dalam mimpi saya bergumam “Nani this is not real, wake up, Nani wake up” hingga akhirnya tiba tiba terjaga.

Tertidur kembali setelah menolak menenggak obat tidur dan memilih minum susu hangat, pagi ini saya bangun lalu browsing singkat dan membaca beberapa lembar Psychology Book-nya DK seusai menyeduh kopi dan merokok seperti biasa. Saya kira saya sudah selesai untuk menyingkirkan kepatah-hatian yang saya alami. Saya sudah menghapus setiap jejaknya hingga tidak bersisa barang secuilpun. Wajahnyapun sudah samar di ingatan saya, suara dan hal hal yang pernah ia katakan pelan pelan saya pindah dari long memory term ke short memory term dengan coping mechanism yang saya pelajari melalui buku buku dan artikel psikologi.

Meski jarang sekali berkasih-kasihan, he’s my second boyfriend for the entire 27 years of my life, saya cukup mahfum soal bagaimana jatuh cinta dan patah hati bekerja. Melalui curhatan teman teman dan buku/video/artikel yang saya cerna. Namun rupanya ada sedikit perbedaan antara memahami dan mengalami. Ada beberapa tahun di mana saya sangat terobsesi dengan bagaimana otak bekerja hingga saya tiba di titik segala hal dapat dijelaskan secara rasional tanpa melibatkan perkara gaib sedikitpun. Titik terakhir jika sesuatu terjadi dan saya mentok tidak bisa memahami, saya kembali pada premis:

“Terima saja, kamu hanya belum mengerti apa yang terjadi”

Dan biasanya setelah sekian waktu dan diskusi saya lalui, ia akan bisa diterima dengan baik. Dirasionalkan dengan baik karena saya tau, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan saya masih sangat bodoh dan perlu banyak belajar. Mengambil jarak dan melihatnya melalui eagle eye atau sekadar menerima bahwa saya sedang terjebak dalam ilusi Panoptikon, adalah metode paling ampuh untuk melalui ‘cobaan’ hidup.

Dalam cognitive bias ada ruang bernama Not Enough Meaning dengan premis bernama We Imagine Things and People We’re Familiar With of Fond of as Better dan We Simplify Probabilities and Numbers to Make Them Easier to Think About. Dan saya harus mengakui saya memandang kepatah-hatian ini dengan bias yang terlampau banyak. Saya mengira saya sudah cukup mengenalnya dan membangun tebak tebak buah manggis soal perasaannya pada saya. Saya menyusun symptom yang berujung simpulan kurang valid/tidak masuk akal karena menggunakan pendekatan Appetite, seperti yang dijelaskan Plato dalam The Tripartite Theory of the Soul:

Appetite : this is the part of the soul where very basic cravings and desires come from. For Example, things like thirst and hunger can be found in this part of the soul. However, the appetite also features unnecessary and unlawful urges, like overeating or sexual excess.

WhatsApp Image 2019-06-07 at 10.45.31.jpeg

Bias seperti ini jika dibiarkan akan menjadi prejudis dan asumsi yang tidak main main gemanya. Saya ingat betul bagaimana seorang Nani saat berusia 15 tahun dan patah hati untuk pertama kalinya. Saya membangun imagi yang sedemikian kokoh positifnya dan vivid bahwa lelaki ini tidak meninggalkan saya namun hanya sedang sibuk saja, saya harus menunggunya. Hingga akhirnya 9 tahun berlalu dan saya mendapat jawaban bahwa ia tidak sekalipun ingin menjadi pacar saya, yang terjadi hanya perkenalan biasa.

Sembilan tahun saya menunda hidup karena ketidaktahuan dan demi apapun saya menolak menghabiskan sembilan tahun lagi untuk sekadar patah hati. Sejak 31 Mei saya mendapat distraksi menarik, karena kekaguman saya kepada orang ini tidak main main besarnya, sebuah afirmasi darinya menjadi pengalihan isu yang sangat baik. Terlalu baik malah. Setelah 31 Mei saya tidak memikirkan sedikitpun soal patah hati yang baru saja terjadi, dunia seolah berwarna jingga keemasan dengan saya sebagai Alina dan ia Sukabnya. Indah, terlalu indah seolah olah tidak ada hal lain yang lebih indah.

Sayangnya, seperti halnya distraksi apapun, ia ephemeral. Temporal. Ketika keriaan itu usai dan dopamine level di otak menurun, saya harus kembali membuka karpet dan membereskan sampah di bawahnya. Tapi kali ini tanpa bantuan alkohol, obat penenang atau curhat berlebihan. Saya harus menghadapi ini sendirian dengan ‘bekal’ pengetahuan yang rasanya cukup untuk bersepakat dengan diri sendiri bahwa:

“Ia hanyalah fluke in the system. Kesialan yang terjadi. Shit happens sometimes. Kamu dibrengsekin, disakiti dan tidak apa apa. Toh yang indah indah juga pernah terjadi, seimbang. Terima dan lepaskan”

Perasaan dua orang yang bersepakat untuk berkongsi tidak akan pernah bisa linear. Hal ini disebabkan dua individu dibesarkan, terpapar dan memiliki belief system yang berbeda. Jika dalam hal ini garis saya perkara cinta-mencintai lebih panjang sementara ia telah berhenti sejak lama, ya tidak apa apa. Namanya juga dua garis yang tidak akan pernah linear. Rasional saja tidak cukup, saya juga harus belajar untuk menerima dan merelakan.

Tes MMPI telah dibahas sedikit pada pertemuan ke-4 kemarin. Dokter bilang kurva reasoningku tinggi. Kemampuanku untuk merasionalkan setiap kejadian di masa lalu sangat baik. Diam diam aku bangga dengan itu, rasanya seperti validasi atas upaya memahami diri sendiri melalui buku buku dan diskusi selama ini. Kurva yang mengkhawatirkan hanya bad thoughts dan inipun kuamini sebab ia telah menjadi belief systemku pasca bersikap dan berpikiran positif membuatku berakhir pada pelecehan seksual, penipuan uang, dan menunggu seseorang hingga 9 tahun lamanya. Sehingga seperti yang diajarkan seorang kawan, sebelum ia melakukan operasi bedah, ia akan memikirkan kemungkinan terburuk agar siap secara mental dan menganggap keberhasilan operasinya adalah ‘reward’ dari upaya maksimalnya.

Namun saya mengerti, berpikiran positif dan berpikiran negatif memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada alur dengan kemungkinan mengguncang ketetapan dan kestabilan pikiran namun itu adalah resiko yang harus diambil. Hidup adalah soal memilih dan memperjuangkan pilihan itu hingga dihadapkan dengan pilihan pilihan baru dan pola yang sama kembali diulang. Sekarang saya ingin belajar bersikap netral, seperti yang kerap saya ulang ulang sebagai mantra di pagi hari:

Daripada suudzon atau husnudzon, lebih baik tidak berprasangka sama sekali.

Untuk bersikap senantiasa netral dan dalam perjalanannya, hidup mempertemukan saya dengan banyak sekali hal hal menarik yang ‘mengejutkan’ karena saya berangkat tanpa prasangka. Jika saja dulu saya berprasangka baik/buruk tentang bagaimana hubungan ini akan menuju, tidak akan saya dikejutkan dengan perasaan sangat sangat bahagia karena dicintai seseorang yang saya cintai 2 tahun lamanya. That was wonderful, menemukan diri berbahagia itu menyenangkan. Mengetahui ada seseorang yang khawatir dan memikirkan eksistensi saya rasanya membahagiakan. Itu adalah reward dari sikap menolak berprasangka.

Walaupun kejutan di akhirnya adalah patah hati, ya tidak apa apa. Hidup tetap harus berjalan dan saya harus lebih belajar lagi soal menerima dan merelakan.

 

Sampit,  07 Juni 2019

 

 

lelaki yang memulai pagi dengan sunyi

Lelaki itu memulai pagi dengan sunyi.

Disekanya peluh saat mentari meninggi dan menelusup di celah jendela, seketika menerpa wajahnya. Dalam menit menit kemudian ia duduk di tepi ranjangnya, meraih sebatang rokok dan menimangnya dengan ingatan soal entah sudah berapa pagi ia menginginkan untuk berhenti mengisap benda sialan itu.

Asap mulai meliuk saat ia bangkit dan menuju dapur kecil kontrakannya. Menyalakan kompor lalu menunggu secangkir air mendidih dan dituang ke dalam gelas yang telah berisi kopi bubuk tanpa gula. Entah kesadaran semacam apa yang membuat lelaki itu terus mengulang kebiasaan yang telah disumpahnya untuk tidak lagi dilakukan, enam tahun silam.

Asap rokok berbaur dengan kepulan dari gelas kopinya. Ia buka pintu kontrakan, berkalung handuk dan secarik celana kolor berwarna kelabu ia duduk di depan pintu. Melihat yang lewat dan sesekali menghirup kopi, perlahan hingga kopi itu dingin lalu tandas. Rokok telah memasuki batang ketujuh saat ia memutuskan untuk mandi tepat pada saat anak anak Sekolah Dasar membanjiri pintu gerbang, menuju pulang.

Kamar mandi umum senantiasa sunyi pada jam jam begini. Ia bisa mengambil waktu sebanyak mungkin untuk buang tai, menyikat gigi bahkan onani. Pagi itu ia putuskan untuk melakukan ketiganya dengan urutan nyaris bersamaan. Seringai di wajahnya tak bisa ia kendalikan saat penis yang sedemikian tegak itu mengeluarkan sejumput cairan putih kental yang mungkin berisi calon presiden beserta kabinetnya.

Siang menjelang dan belum sepatah katapun ia lontarkan. Kesunyian yang diulangnya setiap hari itu hanya ia sendiri yang mengerti mengapa meski kini usia 34 tahun membayang di jidatnya. Sepatah kata akan diucapkannya saat membeli makan siang, berupa “Nasi campurnya satu” dan “Terimakasih” lalu kembali ke kontrakan 3 kali 5 dengan dapur kecil dan kamar mandi bersama.

Ia nyalakan televisi dan makan dalam sunyi.

Lalu menyalakan rokok dan mengisapnya dalam sepi.

Sore itu kontrakannya ramai, tetangga dan sejumlah anak anak sepulang bermain bola menemukan darah yang merembes dari pintu, diserap alas kaki dan mengubah warna kuningnya menjadi merah. Darah yang menetes dan menggumpal diserap tanah berpasir dan menguarkan bau amis.

Lelaki itu kemudian ditemukan mati.

Dalam sunyi.

Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas.

Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu- yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberangan dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut.. tut..

“Halo,” aku bersuara kala nada ‘trek’ terdengar di ujung sana.

Masih diam, kuulang mengucap sapa.

“Hey, kamu rupanya, lama betul tak menyapa” suaranya masih sama, selalu sama, menyejukkan dan semilir.

“Saya kangen” ujarku.

Aku sudah nyaris lupa kapan terakhir aku menghubunginya. Rasa rasanya sejak aku berhenti meminum kopi. Atau sejak aku melupakan aroma teh melati. Entahlah, suaranya kini mengetuk kepalaku.

“Ah kamu, kalau kangen kenapa tak pernah menelpon?”

Aku kini terkekeh mendengar jawabannya, dia benar, bagiku kata kangen sudah seperti rutinitas semata. Setiap hari aku mengatakan kangen nyaris kepada semua hal. Lama lama rasa kangenku menjadi blur, antara kangen sungguhan atau kangen basa basi.

“Saya sedang sibuk, dunia sedang seru akhir akhir ini,” sahutku. Aku lantas mereka-reka kejadian terakhir dalam hidupku. Kantor, rumah, buku buku, kantor, rumah, buku buku. Ya ya, seru sekali rupanya, aku melengus sendiri.

Suara di seberang sana kini memintaku diam dan mendengarkannya. Aku terlalu sayang pada pemilik suara hingga jangankan membantah, bernafaspun rasanya tidak kulakukan saat menikmati suaranya.

“Aku mengerti, kamu terlalu sibuk memikirkan sesama manusia dan kompleksitas mereka, bukan?”

Suaranya berjeda, ada nada tanya. Entah retorik entah sungguhan menanti jawab.

Aku diam, bisa kudengar nafasnya di gagang telepon. Ah bahkan mendengar nafasnya saja, aku sudah mabuk kepayang, diam dalam diam. Kini aku dan dia sama sama diam. Aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan. Aneh, meski kami berbicara lewat telepon, dia bisa tau bahwa aku tengah menggeleng. Dia memang selalu memukauku dengan keanehan yang disebabkannya.

“Lalu kamu sedang berfikir tentang apa?” ia bertanya kembali setelah melihatku menggeleng

“Saya memikirkan kapan saya naik pangkat, kapan saya bisa membangun rumah yang lebih besar dan kapan buku buku itu habis saya baca” jawabku. Aku tidak pernah mampu berbohong padanya.

Kini nafasku yang terdengar di gagang telepon. Tunggu, dari mana aku tau bahwa ini adalah nafasku bukan nafasnya? Apa yang membuat nafas kami begitu berbeda padahal keduanya hanyalah soal menghirup dan menghela semata?

Telepon bergeresak, kutendang kabel biru yang melalar keluar jendela. Kini geresaknya hilang, berganti suara.

“Kamu membuatku bersedih…” ucapnya yang kemudian disusul kebekuan suara, nafasnyapun tak terdengar.

Aku panik, tak pernah kubayangkan lebih-lebih kuniatkan untuk membuatnya sedih. Jemariku kini melilit lilit kabel ulir yang menautkan gagang telepon dan papan plastik berisi belasan tombol. Kini kudengar nafasku sendiri, berderu deru nyaring memburu. Sekarang aku mengerti apa yang membedakan nafasku dan nafasnya. Nafasnya selalu sama, lembut teratur menentramkan jiwa. Nafasku bermelodi, kadang tinggi kadang lambat kadang tak ada sama sekali. Rupanya nafas bukan hanya soal menghirup dan menghela semata. Ada nyanyian di sana.

Teleponku masih bungkam. Aku mulai menangis, jemariku kini mengusut lelehan airmata yang mengaliri ceruk pipi, leher hingga nyaris ke dada. Isakku rupanya tertangkap gagang telepon dan sampai ke ruang dengarnya.

“Terlalu banyak kata ‘saya’ dalam jawabmu, aku sedih, rupanya jangankan aku, orang orang di sekitarmupun tak mendapat porsi dalam pikiranmu” suaranya merdu, paling merdu,

Airmataku kering, ingin kulontarkan maaf untuknya. Tapi urung kulakukan. Saat ini tak bisa kubedakan apakah maaf yang kurasakan adalah maaf sungguhan atau sekedar maaf basa basi. Jutaan maaf kuucapkan kepada jutaan hal setiap hari. Hingga batasan maaf sungguhan dan maaf basa basi menjadi kabur, baur.

“Aku tau kamu menyesal, oh aku terlalu menyayangimu hingga tak bisa sesaatpun menguntai benci padamu” suara paling merdu itu kembali menguar.

Heran, dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Saya tidak suka mereka, mereka penuh benci dan prasangka” gumamku, meraih remote televisi, menghidupkannya, mencari cari kanal berita. Suara televisi kutiadakan. Aku tidak perlu suara lain jika dia yang bersuara di ujung telepon sudah mampu memenuhi segala kebutuhanku akan suara.

“Kamu tidak suka pada mereka yang penuh benci? Hahaha” dia tertawa dengan tawa paling indah yang pernah kudengar. Heran, suara tawanya saja mampu membuatku turut senang.

“Saya tau, saya tak berbeda dengan mereka yang membenci jika saya masih memiliki rasa tidak suka”

Aku berpura pura menggerutu, ingin menarik perhatiannya.

Sejurus kemudian aku sadar, tak perlu aku berpura pura, dia selalu memberiku perhatian. Ah, rasa sayangnya padaku memang keterlaluan!

Lagi lagi dia seperti membaca pikiranku, kini bertanya.

“Kamu sayang padaku?” ucapnya, tanpa nada klise sama sekali.

Aku, entah, rasa rasanya sudah bermilyar kali mendapat pertanyaan seperti itu dari bermilyar hal dalam hidupku. Hingga remang bagiku batasan atas pertanyaan klise dan pertanyaan basa basi dari tiga kata itu. Kamu-sayang-padaku?

Aku biasanya tak menjawab, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk tidak menjawab segala hal yang masih (atau sudah) tak jelas batasannya bagiku. Tapi kali ini berbeda, pertanyaannya sama sekali tidak terdengar klise. Begitu tulus, paling tulus.

“Tentu, saya sayang padamu.” Kubiarkan suaraku terdengar menggantung, mengharap respon. Percuma, sebenarnya, dia selalu memberi respon atas semua pertanyaan dan pernyataanku. Hanya aku yang dibuai sibuk oleh keakuanku hingga lupa dan hilang perhatian atas responnya. Kali ini kucermati suaranya. Dia tertawa.

“Aku senang, kamu rupanya masih sayang pada dirimu sendiri. Susah ya, untuk berhenti tidak menyukai?” tanyanya lagi, kabel ulir menyentuh mulut gelas, nyaris menyentuh genang kopi (atau sesuatu yang kuanggap kopi) di atas meja. Kusentak perlahan, riak permukaannya kini tenang, tidak pula terlihat kepul asap berbau wangi dari dalam gelas. Sepertinya sudah dingin.

“Televisi sedang menjualmu” kupaparkan padanya tentang iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Ada hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

“Saya kesal kamu dijual begitu” lanjutku

Dia tertawa lagi. Dia selalu menemukan cara untuk menertawakan apa yang kubenci dan mengundang marahku. Dia humoris, paling humoris.

“Biarkan saja, yang menjual saya justru bisa membuat saya semakin terkenal. Kalau saya sudah terkenal, saya akan muncul di spanduk-spanduk dekat kantormu, papan iklan di depan rumahmu, bahkan saya akan dipasang di setiap sampul buku yang kau baca,” ujarnya, terdengar riang.

Dia melanjutkan dengan nada semakin riang

“Jadi, kamu akan menemukanku di kantor, rumah dan buku. Di setiap pikiranmu. Kamu akan selalu kangen padaku. Duh, senangnya”

Aku tersipu, dia masih ingat hal hal kecil tentangku.

“Ah kamu! Saya jadi geer nih. Beberapa dari mereka selalu mencoba mengklaim bahwa kamu hanya milik mereka. Yang tidak setuju dimusuhi. Kadang, yang dimusuhi membalas mengklaim kamu. Mereka berebut kamu. Saya sebal sekali” gerutuku tak berbendung.

“Ciee.. kamu cemburu?” dia menjawab, dengan pertanyaan baru.

Wajahku terasa panas, kupingku apalagi, seperti ada yang mengigit gigit. Berkali kali kutepis anak rambut yang sebenarnya tak jatuh ke wajah. Dia selalu tau cara membuatku salah tingkah. Jawaban terjujur kini tercetak di wajahku, aku bersyukur menghubunginya melalui telepon sehingga ia (kupikir) takkan bisa melihat wajahku. Aku berdehem, mencoba mengalihkan pertanyaannya.

“Kamu sedang sibuk?” tanyaku, mengambil sepotong koran dari bawah meja. Koran pagi tadi, kulipat kecil dan kukipas kipaskan pada wajahku yang merah padam.

“Aku tidak pernah sibuk, tidak seperti kamu yang sibuk terus sampai lupa buat kangen padaku,”

“Ah. Iya deh saya minta maaf,” aku kembali memasang nada merajuk padanya.

Dia kembali tertawa, “Eh, jadi kamu ga cemburu nih sama mereka yang sibuk memperebutkanku?”

Aku bergumam gumam.

Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi terfokus pada genangan kopi dalam gelas. Aku menatap televisi, ada ratusan orang tengah berteriak teriak sambil memukuli pria bercelana sarung. Pria itu tersungkur, wajahnya tunarupa. Bilur biru di sekujur tubuh. Aku melihat balok kayu dan laras besi menghujani tubuh laki laki itu. Sumpah serapah mengalun disela teriakan teriakan. Aneh, padahal televisi sudah kutiadakan suaranya, namun masih saja jeritan si pria bercelana sarung saat meregang nyawa hinggap di kupingku. Mungkin juga hinggap di gagang telepon, tersampaikan padanya.

“Mereka meneriakkan namamu saat membunuh pria itu,” bisikku pelan. Begitu pelan hingga aku ragu ia bisa mendengar kata kata yang bahkan tak sampai ke kuping kiriku itu.

“Siapa bilang itu namaku?” ia menjawab dengan tenang.

“Tapi televisi bilang itu kamu, namamu” aku lantas terdiam. Kata kata itu meluncur mendahului otakku untuk memikirkan maksudnya apa.

Dia masih di sana, menjawab dan terus merespon setiap nafasku.

“Jadi sekarang kamu lebih sayang televisi nih dibanding aku?”

“Huh! Nanti lama lama kamu bisa berhenti kangen padaku. Soalnya kamu fikir aku sudah ada di televisi,”

Aku tau dia hanya bercanda, tak pernah merajuk. Tidak sepertiku yang begitu mudah ngambek dan mogok menelponnya kala dia kuanggap tidak meresponku.

“Kalau suatu saat, mereka tau bahwa saya selalu menelepon kamu, lantas telepon ini diambil karena saya dianggap merebut kamu dari mereka, gimana?” lega, apa yang mengganggu pikiranku sejak melihat televisi tadi kini sudah kutanyakan.

Tut… tut… tut…

Telepon terputus tiba tiba.

Kutarik tarik kabel biru yang menjalar lewat jendela. Kutekan tombol redial. Setengah putus asa kuguncang guncang papan plastik berisi belasan nomor. Tak sengaja tersenggol gelas kopi, pranggg!! Pecah di lantai ubin.

Aku kini menangis sejadinya, genangan pekat kopi bercampur lelehan airmata. Teleponku padanya tak pernah terputus tiba tiba. Genangan kopi yang tak sempat terminum itu merembes ke karpet, perlahan mengalir hingga menyentuh steker listrik untuk televisi. Aku melihat percikan bunga api, perlahan membesar lantas terdengar letupan.

Televisi hitam, korslet.

Telepon berdering. Aneh, kabel biru yang menjalar di jendela telah kucabut. Bergegas kutempelkan gagangnya ke kuping kanan.

Aku mendengar suaranya lagi. Suara terindah, paling indah.

“Dasar cengeng,” suaranya terdengar lembut, aku merengut sambil menyeka airmata.

“Jangan lakukan lagi, saya kira kamu meninggalkan saya” suaraku tertahan tahan, mengisak isak.

“Habisnya, kamu selalu berbicara tentang televisi. Aku kan jadi cemburu,”

Aku menatap layar televisi yang hitam. Tidak lagi kulihat iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Yang berwarna hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

Tidak juga kulihat pria bercelana sarung yang dipukuli sampai mati oleh ratusan orang yang meneriakkan namanya di sela hujan sumpah serapah. Ruang tengah rumahku kini begitu tenang. Aku kini mengerti, bahwa dia hanya cemburu. Bahwa dia ternyata tak ingin aku membenci orang lain karena televisi.

Aku tersenyum, kuucapkan selamat malam padanya. Aku menuju tidur.

“Baiklah, kamu harus tidur, aku akan sangat kangen padamu. Hm.. sebelum kamu tidur, aku boleh ucapkan sesuatu?” aku menghela nafas, kusiapkan diri untuk menerima ucapannya.

“Apa itu?”

Suaranya nyaris samar. Antara udara malam dan aku yang kian mengantuk.

“Kamu tidak perlu melaporkan semua kebencian yang menguar di televisi padaku. Percayalah, aku sudah tahu bahkan sebelum pria bercelana sarung itu mati dipukuli orang orang yang meneriakkan –kata televisimu–namaku. Aku sudah tahu bahkan sebelum iklan tentangku dimuat di situ. Kamu tidak membenciku karena ini, kan? Aku tahu bahwa kamu takkan menganggapku telah membiarkan mereka saling membunuh karena memperebutkanku. Aku tahu, dan aku akan bekerja dengan caraku,”

Senyumku semakin lebar saat dia mengucapkan selamat tidur untukku. Kututup telepon dan mengulangi kata katanya.

Bahwa

Dia ada, Paling Ada. Dia tau, Paling Tau.

Be Right Back and How Grieving Works

Menarik bagaimana kemajuan teknologi bergeser dari fungsinya sebagai perangkat untuk mempermudah aktivitas fisik manusia menjadi tools on emotional level. Pada era revolusi industri misalnya, teknologi digunakan untuk bagaimana memperbanyak hasil panen, menerangi seluruh kota, membangun mesin ini dan mesin itu hingga akhirnya mungkin saat semuanya settled manusia menemukan ide soal:

Bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan eksistensial melalui kemajuan teknologi di bidang komunikasi.

Saya baru ngeuh soal ini saat pertama kali nonton Her, circa 2014. Film ini kemudian saya tonton berulang ulang dalam interval sebulan-dua bulan setelahnya, one of my favorite movie sebab gosh suara mbak Scarlett di film ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya turned on bahkan tanpa kehadiran fisik sempurna mbaknya. Lebih dari itu, plot dan bagaimana The Moon Song selaku score film membuat saya memahami bagaimana rasanya kesepian khas kaum urban. When there’s nothing wrong and everything is fine on the surface, but you just felt.. empty.

Lonely.

Film dengan ambient serupa kemudian saya temukan di Love for Sale, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Brooklyn dan seterusnya. Namun mari bergeser ke series yang baru saja saya tonton tadi malam agar tetap relevan dengan premis awal tulisan ini : Black Mirror season 2, Be Right Back dan bagaimana perkembangan teknologi menjadi perangkat untuk memahami perasaan manusia.

Image result for black mirror be right back posterBercerita soal Ash dan Martha, pasangan baru menikah dan sedang lucu lucunya. Di suatu hari, Ash meninggal dunia karena kecelakaan. Long story short, pada durasi setengah jam kemudian saya mendapati Martha yang grieving dan dwelling atas kematian Ash dalam keadaan hamil. Latar waktu film pendek ini (FYI Black Mirror ini seperti omnibus, kumpulan film pendek tapi ga pendek pendek amat apasih Nan) adalah masa depan yang jauh sekali hingga cup kopi ada lampunya dan laptop bisa dioperasikan pakai hand gesture. 

Di masa depan yang jauh sekali itu, ada artificial intelligence yang bisa mengumpulkan data dari media sosial dan video yang diunggah untuk dipelajari pattern-nya dan ‘menghidupkan’ kembali seseorang yang sudah meninggal melalui media chatting, video-call bahkan Android. Di film ini eskalasinya dirunut dengan baik, saat Martha merasa text saja tidak cukup, AI menawarkan video call hingga puncaknya, chipset ditanamkan dalam robot Android dan diwujudkan dalam tubuh seorang Ash. Literally membangkitkan orang mati tanpa konsep mistis sama sekali hahaha.

***SPOILER ALERT***

Hingga film berakhir dengan Martha yang jadi delusional dan menerima Android Ash sebagai bagian dari hidupnya, film ini memberi tahu how grieving works dengan berbicara soal kematian yang tidak direlakan akan tinggal selamanya. Dan kata ‘tinggal selamanya’ dimaknai literal dengan Android Ash yang benar benar tinggal selamanya di loteng rumah Martha. Ada fase tarik-ulur soal merelakan-tidak merelakan ini sebenarnya, saat Martha sadar bahwa Android Ash kehilangan personal trait yang tak peduli sebanyak apapun sumber informasi yang disedot AI, ia tidak akan bisa seunik Ash sebagai manusia. Saat Martha menyuruh Android Ash untuk terjun dari tebing di hometown Ash misalnya, atau saat mbaknya tiba tiba pundung karena reaksi Android Ash tidak seperti what real Ash would do.

Saya rasa soal menerima kematian, semua orang punya caranya sendiri. Shah Jahan yang membangun Taj Mahal untuk istrinya, beberapa berita soal istri/suami/pacar yang dijadikan mummy dan diletakkan di ruang tamu, regular visit to psychologist, termasuk cara ibu Ash saat adik dan ayahnya meninggal dunia : memindahkan semua foto dan memorabilia mendiang ke attic and shut the door. Detil yang hanya disebut dalam 2 kalimat di menit awal ini muncul kembali di akhir film dengan adanya Android Ash yang dikunci di sana selama periode Martha hamil-melahirkan-hingga anaknya toddler. 

Banyak detil menarik di Be Right Back ini yang semula hanya muncul satu-dua kalimat dalam percakapan yang sepertinya biasa saja. Soal attic, jumping cliff dan pola komunikasi Ash yang lebih menyukai media sosial ketimbang berbicara soal rasa-rasa pada Martha. Dari segi teknis, sinematiknya bagus sekali, warnanya mengingatkan pada Her (well, warna warna pastel kayaknya sudah didampuk menjadi khas film alternatif sih ya) dan sinematografinya sepintas mirip Blue Jasmine. Scoringnya juga uwuwuwuw sehingga cocok buat saya yang sedang ingin rehat dari non-stop action di serial Ozárk.

Meski peradaban belum sampai pada konsep menghidupkan orang mati seperti di Be Right Back, kita sebenarnya sudah melesat jauh dari titik awal perkembangan teknologi di bidang komunikasi. Let’s assume ground break-nya saat telepon ditemukan. Kemudian milestone selanjutnya adalah saat internet diciptakan, konsep komunikasi sederhana berupa the imparting or exchanging of information or news, bergeser menjadi tempat penitipan eksistensi, wadah propaganda, bahkan pencarian pasangan seperti yang aplikasi perjodohan lakukan.

Dari yang semula sebagai “Halo, gini nih mau ngabarin aja kalau Rabu depan pasukan Jepang mau ke Pearl Harbour so be prepared ya xixixi” menjadi “Hey, walaupun kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi aku mencintaimu melebihi apapun di muka bumi ini” perubahan ini in a way indah sebenarnya. Namun ketika perkembangan teknologi membuat kita terlalu mudah untuk overcome grieving seperti di Be Right Back, rasanya kok ada yang salah aja.

Saya tidak menyebut bahwa ketika seseorang meninggal kita harus weeping and dwelling and being sad all the time, namun proses grieving ada ‘pakem’nya. Saya juga tidak bisa menaksir soal kewarasan Martha yang akhirnya menerima Android Ash karena filmnya berhenti tanpa menjelaskan soal perubahan psychological state mbaknya (walaupun sebenarnya di Bicentennial Man soal percintaan antara dua entitas berbeda ini sudah dipaparkan dan bagi saya ya indah indah saja mas Andrew dan mbak Amanda akhirnya bersama) namun ketika kematian di-tresspass dengan ‘semudah’ itu, kesedihan itu tidak akan benar benar pergi, di Be Right Back soal ‘kesedihan yang tidak benar benar pergi’ dituang dalam scene mbak Martha yang menerawang ke arah jendela meski sudah having a mind blowing sex with Android Ash.

Dan jika tujuan awal teknologi adalah mempermudah urusan kehidupan, sejauh mana ia akan turut andil untuk mempengaruhi manusia dalam berperasa?

 

Sampit, 14 Januari 2019

My favorite line from the film:

“How Deep Is Your Love Cheesy”

“Come on”