Selamat Jalan, Mama

Saya memerlukan waktu 3 tahun lima bulan hingga akhirnya memiliki kelapangan hati untuk menuliskan soal kepergian mama. Sebelumnya kakak adalah satu satunya sosok yang saya bagi soal betapa terganggunya saya dengan kenyataan bahwa mama meninggal sebelum saya menjadi saya yang sekarang ini. Perasaan terganggu itu kemudian berkembang menjadi penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat hingga sering kali saya menemukan diri saya menangis sejadinya tanpa sebab. Atau terjaga bermalam malam memikirkan apa yang bisa saja terjadi jika kami tidak semelarat itu saat mama sakit.

Saya lahir di keluarga miskin. Abah adalah penjual minyak tanah keliling dengan penghasilan yang cukup untuk membeli indomie tiga bungkus dimakan berlima setiap hari. Saya terbiasa menumpang kawan untuk berangkat sekolah hingga SMA, tidak mampu membeli parabola hingga hanya mengonsumsi TVRI dan Metro TV berbelas tahun lamanya melalui satu satunya televisi tabung 14 inci tanpa remote di ruang tamu merangkap ruang tengah merangkap ruang makan merangkap kamar adik.

Paska kerusuhan etnis 2001, usaha minyak tanah abah tamat riwayatnya. Rumah yang tidak seberapa luas itu dijual dan kami pindah ke sebuah rumah kontrakan berkamar satu. Tiga ramadhan kami habiskan di rumah sempit dari papan yang bersebelahan dengan kandang ayam itu (yang membuat teman sekelas enggan berkawan selama satu semester di kelas satu SMP lantaran rambut saya senantiasa berkutu). Tiga ramadhan yang sahur-berbukanya makan indomie dan sarden melulu. Tiga Idul Fitri di mana saya tidak dikunjungi kawan manapun sebab saya selalu berbohong kami pulang kampung.

Saya tidak menghabiskan masa kecil dengan menonton kartun. Yang saya ingat hanyalah kenangan bermain egrang, barbie kertas dan patok lele di rumah tetangga. Juga ingatan atas seorang paman yang tengah menonton video porno di ruang tengah dan menawari saya untuk memegang kemaluannya. Tawaran yang kemuadian datang secara terus menerus hingga saya kelas 1 SMA. Yang membuat saya ketakutan setengah mati jika ditinggal sendirian di rumah, yang membuat saya mandi dengan pakaian lengkap setiap hari, yang membuat saya jijik setengah mati jika melihat figur wanita dan laki laki telanjang di televisi.

Sumber penghiburan saya adalah Perpustakaan Daerah. Selain untuk menghindari orang yang saat itu paling saya benci sedunia, Perpusda memiliki koleksi buku buku fiksi yang bisa dibaca dan dipinjam secara gratis. Penghiburan lain selain buku buku, adalah masakan mama.

Meski frekuwensi makan Indomie dan sarden nyaris setiap hari, namun Indomie dan sarden yang mama masak adalah yang paling enak sedunia. Atau ketika abah memiliki uang berlebih, abah akan pergi ke rumah tukang sate dan membeli tulang tulang ayam yang telah dikerat dagingnya untuk sate, kadang kadang ditambah kulit dan usus. Tulang tulang dengan daging tak seberapa itu lalu dimasak dengan saos plastikan, dapat dipastikan kami semua makan lahap hari itu.

Di tengah kemiskinan yang meraung raung sepanjang masa kecil saya itu, mama adalah yang paling sabar mendengarkan keluhan saya setiap pulang sekolah. Waktu itu saya menganggap mama sangatlah kejam karena tidak membiarkan saya melanjutkan sekolah ke SMP PGRI yang jam belajarnya santai sekali itu. Saya dipaksa masuk ke SMP favorit kedua dan kemudian SMA favorit pertama dengan alasan yang bagi saya waktu itu terdengar sangat picisan : “Agar hidup saya tidak susah seperti hidup beliau”

Mama dengan sabarnya membujuk adik saya yang terlambat bicara (dan menurut guru gurunya autis) untuk terus bersekolah meski sudah tiga kali tinggal di kelas dua SD. Adik saya sekarang berumur 20 tahun dan masih di kelas 2 SMA, namun berkat kesabaran mama dulu, adik saya mungkin adalah anak berumur 20 tahun yang paling keren yang pernah saya kenal. Ia punya mental yang kuat (bagaimana tidak, dari umur 6 tahun lingkungan telah menolaknya sedemikian rupa hanya karena tidak bisa bicara) dan kebijaksanaan dalam bertindak yang tidak pernah saya miliki saat seusianya.

Mama yang menghabiskan seumur hidupnya menunggu dinikahi agar terbebas dari beban menafkahi 6 adik adiknya, yang tidak mengenal dunia luar kecuali rumah dan jalan jalan kampung tempatnya berjualan jajanan pasar. Yang tidak lancar berhitung maupun membaca karena hanya mampu bersekolah hingga kelas 5 SD. Yang tidak mengenal Dawkins, Tan Malaka, Pramoedya ataupun Marx namun tetap menjadi orang paling cerdas sekaligus bijaksana yang pernah saya kenal. Yang di sisa hidupnya harus menanggung sakit karena telah bekerja sedemikian beratnya dalam tubuh kanak kanak.

Kemiskinan itu berkurang rongrongannya ketika kakak sudah mulai bekerja. Akhirnya kami memiliki belasan saluran televisi meskipun perangkatnya tidak berganti. Mama gemar sekali menonton Natgeo channel saat larut malam, terutama tayangan yang berkaitan dengan luar angkasa. Tiga tahun setelahnya, saya menyusul bekerja. Akhirnya bisa mencicil perangkat komputer dan sofa meski hanya sebatas DP karena cicilannya dilanjutkan oleh mama.

Saya kira semuanya telah membaik saat itu. Adik akhirnya lulus SD dan bisa membaca, kakak naik jabatan dari pramuniaga menjadi kasir swalayan, saya menjejak bulan keenam sebagai wartawan dengan kerja sambilan penyiar radio dan EO. Yang saya lupa adalah, saya seharusnya sadar bahwa mama tengah sakit dan butuh pertolongan.

***

Saya memiliki beberapa penyesalan dalam hidup. Seperti kenapa dulu saya tidak pernah berani mengadukan perbuatan paman saya kepada orang dewasa, kenapa saya tidak mencoba lebih keras untuk kuliah sastra, kenapa saya tidak menekuni pekerjaan film lebih giat lagi dan seterusnya. Namun dari semua penyesalan itu ada satu yang membangunkan saya di tengah malam dan membuat saya kehilangan fokus untuk kemudian menangis sejadinya di toilet hingga sekarang.

Penyesalan karena saya tidak bisa membayar 2,5 juta untuk sewa ambulans dan merujuk mama ke rumah sakit Provinsi. Bagi saya dan keluarga di tahun 2014 nominal itu sungguhlah besar, nyaris 2 bulan gaji saya sebagai Creative Program di salah satu TV lokal saat itu. Namun bagi saya harusnya sangatlah mudah untuk mencari pinjaman mengingat luasnya pergaulan saya sebagai jurnalis dan penyiar radio. Saat itu saya tau betul saya bisa mendapatkan uang itu tapi dengan bangsatnya saya hanya diam dalam rapat keluarga soal : merujuk mama ke RS Provinsi atau menandatangani surat pulang atas permintaan sendiri yang isinya memilukan itu.

Malam itu penyakit ginjal mama tengah parah parahnya, ia meraung kesakitan di bangsal kelas 3 RS Murjani Sampit hingga menjelang subuh. Keputusan kami bulat, mama akan dibawa pulang (yang kami ketahui bersama bahwa tanpa dialisis mama akan meninggal dalam hitungan minggu). Saat kakak merapikan barang barang mama, beliau berkata di sela rintih dan tangisnya bahwa beliau tidak pulang dan masih ingin hidup untuk menyaksikan cucu pertamanya tumbuh besar. Mama pingsan subuh itu, saat matahari terbit abah datang berboncengan dengan adik yang menyeret gerobak minyak tanah beliau di sepeda motornya. Gerobak dilapis kasus Palembang dan mama dibawa pulang hari itu.

Mama meninggal seminggu kemudian.

***

Saya membaca dan mendengar cerita orang orang mengenai coping mechanism. Namun yang saya lakoni pada saat penyakit mama memburuk kalaulah disebut coping mechanism maka yang saya pilih adalah metode paling buruk sedunia. Saya begitu dingin menghadapi sakitnya mama, saya terus bergumam soal mama tidak mungkin meninggal di usia semuda itu, mama telah mengalami hal serupa tahun lalu dan baik baik saja, mama masih sehat kok dan seterusnya. Malam malam berjaga di rumah sakit saya lakoni setengah hati, hingga akhirnya mama tidak lagi mengingat saya dalam perbincangannya dengan kakak. Bahkan pada bada’ Dzuhur mama meninggal, saya menolak mendampingi beliau saat menghela nafas terakhir. Saya ada di ruang tengah, nonton TV sambil makan martabak. Saya baru menangis saat mama dikafankan sore harinya. Malam hari selepas pemakaman, saya pergi ke sebuah cafe bersama dua orang kawan yang bingung kenapa saya malah tertawa tawa dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa.

Butuh waktu 3 tahun lima bulan untuk akhirnya saya bisa menceritakan detil ini kepada kakak. Yang kemudian menyebut saya tidak bertanggung jawab atas kematian mama. Bahwa saya tidak semestinya menyalahkan diri sendiri atas kejadian tersebut. Semakin saya katakanlah sukses semakin saya ingin mendamprat Nani tiga tahun silam, gadis 22 tahun itu sedemikian egois hingga lupa untuk sayang kepada ibunya sendiri.

Sekarang selepas bercerita dan akhirnya menulis ini, saya seperti terbangun dari ruang vakum dalam kepala yang memutar mutar saya pada penyesalan itu. Sekarang saya ingin lebih pandai menerima kematian mama sebagai bagian dari proses kehidupan, bahwa yang hidup bakal mati, kapanpun bagaimanapun. Saya ingin bersikap lebih lunak pada diri sendiri agar tidak mengutuk kemudahan yang saya punya sekarang sebagai pengingat betapa tidak berdayanya saya tiga tahun silam.

Saya ingin menjadi orang yang tidak memiliki keluhan apapun terhadap dirinya. Yang dengan lapang dada menerima segala kejadian dan tidak berputar putar menyesali perkara yang sudah terjadi. Saat ini saya akhirnya bisa meyakini bahwa mama tidaklah marah pada saya, bahwa beliau telah memaafkan saya jauh sebelum kematiannya. Untuk terus membahagiakan sisa anggota keluarga yang saya punya dan hidup melalui mimpi beliau untuk melihat dunia seluas luasnya, segegap gempitanya.

Labuan Bajo and Additional Kitten Band Player

Lima hari untuk Labuan Bajo meninggalkan keling yang belang belang dan sekurangnya seribu foto untuk dipamerkan melalui hashtag #latepost. Total tiga hari dua malam diombang ambing laut yang kadang tenang kadang bikin makan siang terlunta lunta di lambung dengan akomodasi kamar sederhana untuk berempat, saya belum pernah merasa seakrab ini dengan orang hahaha.

Rute yang diambil adalah Pulau Kelor – Pulau Rinca Konservasi Komodo – Pulau Padar – Pink Beach – Manta Point – Gili Lawa – Pulau Kanawa lengkap dengan sunrise saat sandar di Pulau Kambing dan sunset

di Pulau Kalong. Dari semua pulau tersebut di atas hanya Pulau Kanawa yang berpenghuni, sebuah resort kelolaan lokal yang kemudian diakuisisi oleh pengusaha Australia (sedih ya neyk) karena tergolong dekat dengan Labuan Bajo (30 menit via speedboat)

Dua kali trekking, masing masing di Pulau Kelor dan Pulau Padar dengan menaiki bukit yang tidak seberapa tinggi namun cukup bikin ngos ngosan untuk melihat – mungkin akan terdengar berlebihan untuk traveller yang udah ke mana mana- pemandangan paling indah dalam sejarah 25 tahun kehidupan saya.

DCIM100GOPROG0390506.JPG
Aktivitas Sehari Hari Selama di LB

Snorkeling sepuasnya adalah penawaran yang tidak bisa saya indahkan saat diajak liburan kali ini. Semenjak menjadi pemilik Tusa Black Series dan semakin jago berenang, saya suka heboh sendiri saat menyangkut snorkeling-snorklingan.

Sekaligus rupanya saya tanpa sadar telah mencentang dua resolusi di tahun ini. Menonton kembali AriReda dan menambah satu provinsi baru (Nusa Tenggara Timur) dalam daftar provinsi di Indonesia yang telah dikunjungi. Seperempat abad hidup yang nampaknya tidak terlampau buruk untuk terus dijalani.

DCIM100GOPROGOPR0891.JPG
Pose HQQ
DCIM100GOPROGOPR0854.JPG
Padar Island

Adalah langit, laut dan matahari yang menjadi kawan selama lima hari di Labuan Bajo. Menyenangkan sekali ❤ ❤

IMG20170326063855[1]
Pink Beachnya Keliatan!

Namun sebelumnya saya menyempatkan untuk mampir ke Jakarta dan menyaksikan konser peluncuran album baru AriReda, Suara Dari Jauh. Pagelaran kali ini mengambil tempat di Gedung Kesenian Jakarta (terakhir ke sini saat pertunjukan Teater Bunga Penutup Abad) dengan lini penampil Adrian Cholil dari Efek Rumah Kaca, Gunawan Muhammad dan tentu saja, AriReda!

VENR7980[1].jpg
Amazing Night with an Amazing Voices
Satu kabar terbaru, setelah yakin bahwa Bambang telah cukup besar (dan tidak lagi rewel soal makan-minum-pup) untuk memiliki kawan bermain, saya mengiyakan keinginan seorang kawan menitipkan kucingnya di rumah. Persian purebred yang kalau dijual bisa buat DP KPR dengan tingkat kemandirian luar biasa. Sejarah si kucing (yang kemudian saya kasih nama Mahmud) ini kesianan sekali. Kawan saya ingin menikah dan ibu mertuanya bilang jika ingin cepat punya anak jangan miara kucing. Maka diungsikanlah dua kucing persianya yang amit amit mahal itu ke penitipan kucing terdekat. Tahun berlalu, si kawan rutin membayar hingga akhirnya terlupa di beberapa bulan terakhir saking lamanya kucing kucing itu dititip.

Long story short, saat kembali ke penitipan kucing dua kucing itu sudah dijual pemilik penitipan lantaran ga bisa menanggung biaya hidup mereka. Teman saya protes dan akhirnya sebagey kompensasi dia dikasih Mahmud. Si teman menyebut oke namun kembali menitipkan Mahmud ke penitipan itu tanpa curiga bahwa Mahmud bisa berakhir dijual juga.

Eniwei, pas Bambang divaksin untuk kedua kalinya di tempat penitipan yang merangkap mantri kucing itu, kawan saya ikut untuk menengok Mahmud. Kesianan, Mahmud dekil karena tau sendiri Persia hidungnya ga nyampe sesenti jadi gampang dekil, bau karena mungkin ga pernah mandi seumur hidupnya walopun habitual kucing emang ga mandi but still, ditambah tempat penitipan yang sumpek dan ga hewani karena Mahmud senantiasa dikandangin. Karena nampaknya Bambang akan baik baik aja dikasih adik adopsian, Mahmudpun saya vaksin dan bawa pulang.

IMG20170406185100[1]
Lalu Mereka Kejar Kejaran, Gigit Gigitan, Guling Gulingan Tepat Pada Saat Saya Siap Tidur

07 April 2017

Maybe I’m ended up being a cat lady

A travel addict cat lady

hahaha.

Let’s Jump! or Climb, or Swim, as Long as You’re Happy

Menginjak bulan ketiga dan saya telah menamatkan empat sesi liburan dalam kurun waktu dua bulan. Tidak terlalu buruk mengingat saya jarang jarang merasa gemar bepergian. Pada 18 – 20 Februari silam saya memanfaatkan kembali sistem liburan tanpa cuti dengan ide untuk bepergian yang muncul pada malam hari sebelum keberangkatan. Benar adanya, saya adalah satu dari sejuta umat yang jika merencanakan sesuatu kelewat matang, cenderungnya malah ga jadi hahaha.

Kali ini dengan penerbangan pagi kami ke Surabaya di hari Sabtu. Berencana untuk ke Batu – Malang dan menyusun itinerary  objek wisata berupa Musium Angkut – Batu Night Spectacular – Eco Green Park – Jatim Park 2 seperti turis turis pada umumnya. Saya sekaligus mengemban tugas memperkenalkan tempat tempat di atas pada rekan travel yang tidak pernah ke Batu sebelumnya.

Namun dalam perjalanan dari Surabaya – Batu sebuah ide brilian muncul. Bahwa mumpung di Batu, kenapa ga ke Bromo aja sekalian! Meski Bromo telah menjadi tempat wisata dan tidak membutuhkan persiapan selayaknya mendaki gunung beneran namun tetap saja merencakan pergi ke Bromo tidak dapat disamakan dengan pergi ke warung depan. Pada akhirnya tentu saja impulsivitas yang menang!

img_0182
Touchdown Batu jam 2 siang. Langsung rafting!
img_0240
Jumping from the 3 mtrs high water dam
img_0190
Musium Angkut & BNS di malam hari
img_0223
Terakhir ke sini 2015 akhir, isinya masih sama sama aja
img_0332
Nunggu sunset kek ayam mati dalam freezer. DINGIN.
img_0383
Sunset di atas gunung, check.
img_0361
On our way back to Batu
img_0387
Kawah bromo yang bau belerang
img_0394
Ke sininya kudu nanjak 250 biji anak tangga. Copot dengkul Habibie.
img_0399
Menujunya sih naik Jeep sama kuda…
whatsapp-image-2017-02-24-at-4-47-53-pm
And I still got enough time to finish in through the weekend yay!

Sebagai informasi bagi warga negara yang ingin menunaikan liburan tanpa cuti a la kami, maka pengaturan waktu dan badan yang sehat adalah segalanya. Beruntung kami cukup sehat untuk memepatkan hal hal seru lengkap dengan drama dari kantor yang mengharuskan saya mengerjakan revisi peta dan Farida harus mengurus bagasi bos yang ga kebawa ke Malaysia! Selama kurang dari 48 jam di Surabaya – Batu, kami sempat melakukan:

  1. Rafting (tiba dari Surabaya jam 2 siang, langsung ke Kaliwatu)
  2. Musium Angkut (selesai rafting jam 5 sore, ganti baju dan langsung pergi)
  3. Batu Spectacular Night (Musium Angkut hanya buka sampai 8 malam, jadi banyak waktu di sini)
  4. Bromo (berangkat jam 12 malam setelah tidur 2 jam sepulang dari BNS)
  5. Penanjakan 1 – Pasir Berbisik – Kawah Bromo (trekkingnya lumayan jauh, tangganya landai sekali~~)
  6. Ngemall, OFC (setelah 4 jam dihajar jalanan Batu – Surabaya, akhirnya tiba di Ciputra)
  7. Safe and sound di Bandara sebelum pukul 8 malam.

Cape? BUANGET. Tapi ya itu, konsekuensi hahaha. Tapi sungguhlah ini menyenangkan sekali.

Saat ngantor kembali di hari Senin, saya mendapat telepon dari redaksional surat kabar internal group kami di Malaysia. Rupanya berita tentang orangutan yang dibantai dan dimakan oleh oknum di perusahaan sawit di Kapuas telah menarik perhatian internasional. Sebagai prevensi, diutuslah saya untuk mengunjungi area konservasi orangutan di Lamandau – Pangkalan Bun di mana perusahaan kami telah melepasliarkan 4 orangutan tahun silam. Maka berangkatlah saya dengan pantat yang belum sepenuhnya lurus untuk berkendara darat 4 jam dan sungai 2 jam. Fyuuhh.

dsc01226
Nenek moyang nih.
dsc01265
Feeding time.
dscn4814
Hutan selepas hujan. Tebak isinya apa? NYAMUK DI MANA MANA.

Ini minggu yang menyenangkan. Akhir pekan akan dihabiskan untuk mengembalikan tulang belulang dan segenap otot ke fitrahnya. Cape sekali jendral!

Sampit, 24 Februari 2017

I might have nothing in my pocket but I have tons of memories I won’t trade it with anything 🙂

How Far 2017 Would Go

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/38/74/86/3874865264ee88852c1061f9b27023e9.jpg
I can’t make money I’m not Bank Indonesia

Saya ingat betul, pada Juni 2010 dalam perjalanan ke sebuah bukit di Cikarang – Jawa Barat untuk pemotretan poster film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya saya mengatakan ini pada Jeanny, wardrobe yang kami hire hari itu:

“Aku ga suka travelling, ide untuk capek capek terbang lama dan segala keriweuhannya bikin males aja” just like an asshole saat Jeanny bertanya apakah saya suka jalan jalan. Saya ingat betul kalimat ini karena memang seumur 19 tahun hidup saya kala itu, Jakarta adalah satu satunya destinasi travelling paling jauh yang pernah saya jejak. Sembilan belas tahun hidup tanpa pernah sekalipun berlibur saya terus menumpuk ide bahwa liburan is a waste of money and energy.

Butuh rentang enam tahun untuk bekerja dan bekerja demi ‘menabung’ CV yang bagus hingga akhirnya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang bersisa untuk liburan di penghujung bulan. Jika saya menghabiskan bertahun tahun untuk membaca dan membuka dunia dari tulisan semata, maka dimulai sejak usia 23 saya ingin keluar dan melihat dunia sebenar benarnya.

Destinasi travelling saya di 2016 sudah saya bagikan di sini dan membaca kembali entry tersebut mampu membangkitkan senyum. Bahwa meski lemari baju saya tidak penuh terisi barang barang mahal bermerk ataupun tidak makan di restoran mewah setiap hari, hati saya penuh dengan kenangan kenangan baik tentang tempat dan orang orang baru #tsaahhh.

Ada jutaan deskripsi soal mengapa travelling dapat mengubah seseorang, dan satu hal yang saya pahami adalah hal itu benar adanya. Perspektif yang akan bertambah luas dengan pertemanan yang kian banyak adalah satu dari sekian juta mengapa saya begitu menggemari bepergian. Saya mengenal dan mendengar langsung kisah hidup orang orang yang menakjubkan.

Pemandangan yang menakjubkan, pengalaman yang mencerahkan pikiran, they’re really are, things that money can’t buy.

Jurnal travelling 2017 akan saya cicil perlahan dalam entry entry mendatang untuk dikompilasi pada akhir tahun. Dan hitung mundur dimulai sejak Tahun Baru!

Lombok – Gili Trawangan (26 Desember 2016 – 02 Januari 2017)

Sejak pertengahan Desember saya dan Farida sudah kasak kusuk merencanakan ingin berlibur ke mana. Ide bermunculan mulai dari Phi Phi Island, Vietnam (lagi) sampai Maldives! serba muluk memang. Saya sudah berniat untuk ke Bali dalam rangka tahun baru akhirnya setuju untuk melanjutkan perjalanan ke Lombok.

Snorkling adalah kegiatan baru yang saya gemari. Ada kesenangan tersendiri dalam berenang-berlama lama mengambang di lautan dan mengamati laut dari dalam air. Kalau mau roromantisan dan sok sok filosofis, saya menyenangi kesunyian yang absolut saat berenang dan seperti Capricorn kebanyakan (Murakami misalnya hahaha) saya cuma betah melakukan olahraga egois yang tidak melibatkan tim. Saya baru bisa berenang di akhir 2016 setelah 4 bulanan rutin belajar setiap minggu. Di Belitong saya belum berani berenang di laut tanpa life jacket barulah di Gili saya berani berenang di laut sebebas bebasnya!

Kejeniusan bermula dengan dibelinya tiket ke Lombok hingga 2 kali transit padahal ada penerbangan langsung Surabaya – Lombok tanpa harus transit ke Bali terlebih dahulu. Alhasil kami cuma punya kurang dari 24 jam untuk snorkeling di tiga spot di Gili karena keburu abis buat dua kali transit dan nginep di Bali.

Genius.

 

img_8096
Lombok Barat
img_8105
Snorkling Addict @Gili Trawangan
img_8140
Ada Gunanya Belajar Berenang! @Gili Meno
img_8148
Seaside’s Gelato
img_8158
Pelabuhan Gili Air
img_8229
Ngambang di Laut!

Semarang (27 – 29 Januari 2017)

Ini adalah sederet upaya trial kami kaum serikat buruh untuk memanfaatkan hari libur yang hanya 2 hari. Berbekal nekat bolos sebelum jam pulang di hari Jumat untuk mengejar penerbangan ke Semarang, berempat kami berhasil menggeber beberapa situs wisata di Semarang biar kaya turis kebanyakan :)))

img_9204
Gedong Songo
img_9242
Naik Kudaaaaa
img_9275
Lawang Sewu dengan Formasi Paling Turis Sedunia

Candidasa – Bali (04 – 08 Februari 2017)

Dalam rangka disuruh ikutan training lalu melipir ke Bali ngoahahhaa. Cuti yang tidak melimpah membuat jadual bepergian harus diatur sebaik baiknya. Kepingin mengulang pengalaman snorkling, saya bergegas ke Candidasa, sebuah desa keciiiil sekali di Kabupaten Karang Asem, dua jam perjalanan dari Bali. Mendapat review sebagai destinasi gateway yang baik lantaran jauh sehingga ga terlalu ramai, saya mendapat kesempatan untuk melihat Bali dengan wajahnya yang lain. Yang ramah, murah dan menyenangkan :*

img_9712
Blue Lagoon – 2nd Spot of Snorkeling
img_9592
Pantai Lebih, Klungkung
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-13-59-pm
Virgin Beach – 3rd Spot of Snorkeling
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-17-38-pm
In the Name of Wide Blue Sky and Deep Blue Sea ❤
whatsapp-image-2017-02-09-at-5-22-40-pm
Candidasa – 1st Spot of Snorkeling
WhatsApp Image 2017-02-09 at 5.24.39 PM.jpeg
Gosong tapi BAHAGIA!

Dulu, ketika saya membaca jurnal travelling mereka yang menyebut bahwa Indonesia cantik, kaya dan sayang untuk dilewatkan hanyalah basa basi traveller yang ga punya duit buat ke Maldives (yea, I was that naive) namun ketika melihat sendiri tempat yang dimaksud membuat saya sadar betapa beruntungnya kita orang Indonesia. Segenap keindahan alam dapat diakses dengan mudahnya meski well harus diakui beberapa tempat memang menguras kekayaan untuk disambangi. Namun jika dibanding dengan bule bule yang harus menempuh belasan jam penerbangan, melewati imigrasi dan berpotensi lost in translation maka sungguh, kita orang Indonesia beruntung adanya.

There was a time when I woke up in the middle of he night and feel that my life is such a mess. That I’m a lonely worthless human being. It happens in so many time it starts to affect my sleeping routine. Today when I saw Nani back in two years ago, I really want to thank her for being such a braveheart by taking a chance and conquering the worries of traveling alone in a perfectly strange place.

Eh sekarang malah kecanduan traveling sendirian hahaha.

Beberapa kawan berturut turut menjadi 25 di tahun ini. Saya senang membaca entry blog dan posting media sosial mereka. Usia 25 adalah spesial, konon katanya. Seperempat abad dengan persoalan Quarter Life Crisisnya. Saya justru -semoga tidak ada jinx di kalimat ini- menggenapi usia 25 dengan perspektif bahwa saya sudah mengalahkan krisis usia 25 itu. Betapa di usia ini tidak lagi saya temukan kegalauan kegalauan soal ke mana saya harus berkiblat dan mau jadi apa. Krisis atas penetapan formulasi pertanyaan filosofis paling klasik soal Who am I?

Bikin entry soal Millenials ah.

2017 masih panjang, kegemaran snorkeling semoga senantiasa dipertemukan dengan laut yang cantik dengan biota bawah laut yang masih asik. Semoga senantiasa punya cukup uang untuk bepergian sebab bucket list sedemikian panjang. Semoga di usia 25 bisa punya diving licence biar makin asik main di bawah air.

Sampit, 09 Februari 2017

Labuan Bajo, Maret teteh datang!!:)))

 

Awaited

Untitled.jpg
Don’t be that guy.

Wah, dua puluh lima.

Dulu sekali saat saya masih belasan dan mulai rajin menulis blog, yang paling sering saya jadikan entry adalah soal betapa inginnya saya pergi dan tinggal di New York. Tenang, hingga pada detik tulisan ini direkam maya, saya masih kalem kalem aja di Sampit dan belum ada pergerakan menuju negara dengan tingkat kriminalitas dan polusi tinggi itu.

Secara sederhana, kala itu saya kelewat ngebet untuk menjadi keren dan New York menempati hirarki tertinggi. Kepinginan yang luar biasa mengada ada untuk seorang perempuan 16 tahun baru lulus SMA dengan orang tuanya yang bukan siapa siapa. Perempuan yang jangankan ke luar negeri, ke luar kotapun ia tak pernah.

Perempuan 16 tahun yang kemudian menggenapi usia 17nya dengan tuntutan harus bekerja. Yang asing dengan komputer, internet lebih lebih gadget canggih. Harta berharganya hanya beberapa belas buku yang dibaca berulang ulang dan sepeda motor kreditan yang kemudian membawanya hingga berkilometer setiap harinya untuk mencari berita.

Sepanjang usia 17, saya harus membagi gaji yang tak seberapa dengan cicilan komputer dan sepeda motor. Menyisakan tidak lebih dari 200 ribu untuk jajan. Setiap ‘uang rokok’ yang diberikan narasumber segera saya bawa pulang untuk diberikan kepada ibu dengan perasaan bangga luar biasa, kami biasanya makan enak keesokan harinya. Di usia itu, saya banyak begadang untuk belajar mengoperasikan komputer dan mengetik dengan baik. Sambil terus membaca kamus di waktu luang.

Delapan tahun silam, saya tidak pernah tau akan seperti apa saya di usia 25. Yang saya tau, saya tidak akan menikah di usia ini :))) namun pada setiap langkah pulang seusai lembur, pada kesunyian jelang subuh saat begadang saya selalu yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nani kelak akan baik baik saja.

Saya tengah memandang sertifikat Executive of the Year di ruangan saya saat menulis kalimat ini. Siapa sangka bahwa perempuan yang hanya lulusan SMA ini tidak hanya mendapat tempat di kerumunan namun juga menonjol dengan caranya sendiri. Saya tidak ingin disebut beruntung sebab saya tau, ada kamus lusuh dan jemari yang pegal delapan tahun silam. Ada sumpah untuk tidak mau lagi jadi orang miskin setelah kematian ibu. Kemiskinan yang tidak hanya membuat beliau pergi demikian cepatnya tanpa perawatan berarti namun juga kemiskinan yang membuat ibu tidak mengecap kebahagiaan hingga hari kematiannya.

Kemiskinan yang memberi kami ratusan kali makan malam berupa sebungkus mie instan berkuah banyak untuk dimakan berdua. Yang membuat ibu harus berjalan kaki dan mengantri raskin di kelurahan setiap bulan. Yang membuat kami sekeluarga hanya bisa makan daging sekali dalam setahun saat Idul Adha. Yang membuat masa SMP-SMA saya terasa seperti neraka.

Kemiskinan yang, sekali lagi, mengambil ibu sedemikian cepatnya.

Namun sungguh, keahlian utama manusia adalah bertahan hidup dan menemukan silver lining di setiap duka. Jika bukan karena kematian ibu, tidak akan saya melanggar janji untuk senantiasa melawan kapitalisme, tidak akan saya bekerja untuk perkebunan sawit dan menjadi bagian dari permasalahan deforesasi di muka bumi. Betapa tidak, persimpangan karir sebulan setelah ibu meninggal adalah menjadi guide untuk OFI Pangkalanbun atau berhenti bermain main dan mencari uang.

Kemiskinan sekali lagi menang.

Dua tahun berselang sejak kematian ibu, dua tahun sudah saya berturut turut menjadi Best Executive of the Year dan dua kali pula naik jabatan. Melepaskan diri dari rumah dan segenap perkara kemiskinan yang berputar putar di keluarga mendiang ibu. Memastikan abah dan adik berkehidupan layak sambil terus berupaya untuk membuat kehidupan saya sendiri lebih baik.

Maka untuk persoalan sepelik ini, saya menolak disebut beruntung.

Apa masalah paling pelik perempuan yang menginjak usia 25 tahun? Seluruh orang Indonesia akan mengamini pernyataan ini: Menikah. Kapan nikah, sudah ada calon apa belum, kok masih betah aja jomblo, nanti susah hamil kalau nikahnya ketuaan, jangan pilih pilih kalau sudah jadi perawan tua bakal nyesal dan seterusnya dan seterusnya. Oh trust me, saya mendapat pertanyaan ini dari orang orang asing pada setiap kesempatan.

Saya menginjak usia 20an dengan memandang punggung kakak yang kala itu secara perlahan menjadi tulang punggung keluarga. Sejak usia 19, setamat SMA ia sudah menjadi pramuniaga toko dan menghabiskan enam tahun hidupnya di tempat itu hingga akhirnya berhenti saat menikah di usia 25. Pernikahan yang memberinya gelar janda sepuluh bulan kemudian. Sepuluh bulan yang serupa neraka, jika saya boleh mengutip ungkapan kakak menyusul nasihat untuk betul betul mempertimbangkan keinginan menikah. Menikah dengan orang yang salah adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan dalam hidup.

Memiliki Kakak seperti itu, ditambah Abah yang tidak sekalipun riwil soal kapan saya menikah (sebab nampaknya di mata Abah saya adalah anak kecil selamanya) cukup untuk menutup ruang pertimbangan untuk menikah demi menyenangkan hati keluarga.

Apa yang akan saya lakukan di usia 25 dan seterusnya?

I don’t know.

I don’t know where I’d go.

But deep down I know that I’ll go far.

Semarang, 19 Januari 2017

A late birthday wish

Semoga saya dan seluruh makhluk bumi selalu bahagia 🙂

2017’s Wishlist

Ritual akhir tahun kesukaan saya selain merencanakan liburan adalah terbukanya ruang kewajaran untuk menepi dari kehidupan yang serba normal serba waras dengan banyak banyak menuliskan resolusi untuk tahun berikutnya. Ini adalah kegiatan klise yang paling saya suka. Menuliskan keinginan keinginan di tahun mendatang untuk kemudian berupaya (atau tidak) mewujudkannya satu per satu.

Setiap tahun saya menuliskan harapan harapan baru, dan setiap tahun saya selalu menemukan hal hal tersebut mewujud sehingga rasanya menyenangkan untuk senantiasa menuliskan semacam wishlist ini berulang ulang.

Salah satu keinginan saya di tahun 2016 ini adalah menamatkan sekurangnya 100 buku sebagai balas dendam atas tahun tahun di mana saya tidak mampu dan tidak sempat membeli ataupun membaca buku. Hasilnya hingga 08 Desember hari ini, saya telah membaca sekurangnya 80an buku. Meski tidak tercapai 100, namun jumlah ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya di mana saya hanya membaca tak sampai lima buku dalam setahun.

Resolusi garismiring wishlist garismiring motivasi 2017  saya adalah sebagai berikut:

  • Membaca 50 buku
  • Menyelesaikan renovasi rumah pribadi
  • Pergi ke luar negeri setidaknya satu kali
  • Nonton AriReda lagi
  • Makin jago renang dan yoga
  • Tinggal di Bali
  • Dan tentu saja, masih New York!

Saya cukup lama bergeming di depan laptop untuk mengulang ulang kepinginan apa yang begitu saya inginkan untuk diri saya di tahun mendatang. Saya ingat di tahun tahun silam ada puluhan bahkan mungkin ratusan perkara yang saya inginkan untuk kejadian. Kini untuk mencetuskan enam poin di atas saja rasanya lamaaa sekali. Kecuali New York, my ultimate life goal.

Mungkin karena saya semakin tua, 25 tahun di bulan Januari kelak. Mungkin lantaran perjalanan hidup telah mempertemukan saya dengan banyak sekali orang, tempat dan pemahaman baru. Mungkin karena rajin yoga dan meditasi (?) namun saya jarang sekali menemukan diri saya jatuh dengan hebatnya seperti tahun kemarin. Istilah there will be quiet after the storm nampaknya benar adanya.

Eniwei, satu yang mencolok dari 2017’s wishlist saya adalah Tinggal di Bali. Hal ini tercetus lantaran dalam beberapa bulan terakhir saya kembali teringat soal betapa sulit untuk berkehidupan dengan layak di Sampit. I was paid well at work, have a good career and so on and so on. Tapi hidup bukan melulu soal menjadi yang terbaik di tempat kerja. Saya memiliki sisa 16 jam dalam hidup yang tidak tersentuh kegiatan sosial yang berarti. Melulu soal tidur cukup, bangun tidur dan bekerja lalu tidur lagi sambil liburan sekali-dua kali dalam setahun.

Jenuh, men.

Bali adalah tempat paling ideal saat ini sebab saya telah merasakan tinggal di Jakarta dan kota kota besar lainnya di Pulau Jawa sama sekali tidak menarik minat saya. You can be anything you want in Bali and people would considerate it as normal. As long it doesn’t bring any harm to another creatures.

Saya nyaris menggenapi seperempat abad dan tidak sekalipun saya menemukan orang di Sampit yang ngeuh siapa itu Eka Kurniawan. Belumlah lagi jika saya menyebut AriReda, Haruki Murakami atau bahkan Umberto Eco. Bukan bermaksud menegasikan intelektualitas orang orang di kota saya, mungkin hanya sayanya yang belum bertemu tapi seperempat abad rasanya sudah lebih dari cukup untuk menunggu dan mencari.

Sementara di Bali, dalam satu kali nongkrong saya bisa mendapatkan empat jam lebih percakapan panjang lebar tentang absurditas tema buku buku Murakami, Gabriel Marquez dan Kafka-esque. Bagaimana tidak menjadi sebuah triumph jika dalam perjalanan pulang ke hotel saya tak henti tersenyum lantaran merasa berada di tempat yang tepat.

Betapa ini akan terdengar seperti sebuah kesombongan namun demikianlah adanya. Saya mungkin satu di antara (saya yakin) banyak orang yang lelah dengan keadaan tidak dimengerti, yang nilai nilainya dianggap sebagai sekedar sebuah fase yang akan segera menemukan jalan lurus kembali, yang terus menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar bangun pagi, bekerja untuk kemudian pulang dan tidur lalu besok bekerja dalam pekerjaan yang dilakoni setengah hati.

Saya pernah sampaikan keinginan ini kepada beberapa orang dan reaksinya berbeda beda. Beberapa menyebut saya kurang bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang. Dengan mudahnya saya bisa melancong ke luar negeri dan makan-menginap di tempat mewah tanpa perlu kuatir akan kehabisan uang. Atau betapa gampangnya saya pergi dari cafe ke cafe menghabiskan ratusan ribu untuk sekadar duduk dan membaca buku, menulis untuk blog melalui MacBook mahal tanpa kuatir soal cicilan dan nota nota. Ia menyebut hidup saya telah menjadi standar rasa iri bagi kebanyakan orang seusia saya, ditambah dengan saya hanya lulusan SMA namun menjadi kesayangan bagi Direktur perusahaan asing di tempat saya bekerja.

Tidak sekalipun saya mengecilkan hal tersebut, sungguh jika keberuntungan adalah perkara kocokan dadu yang dimainkan Einstein bersama Tuhan di atas sana, maka saya adalah beruntung adanya. Namun hidup bukan sekadar melancong ke luar negeri atau nongkrong di cafe cafe mahal. Saya merindukan rekan untuk perjalanan yang tidak sebentar, saya menginginkan lingkaran yang menganggap apa yang ditulis oleh Gunawan Muhammad adalah sesuatu yang penting dan ucapan Seno Gumira Ajidarma dalam bedah bukunya layak dibahas dalam sekurangnya tiga perspektif berbeda.

Saya ingin berdebar debar menantikan AriReda, Pure Saturday, Efek Rumah Kaca tampil di atas panggung. Saya ingin berdebar debar menantikan sanggahan argumen tentang penyataan Richard Dawkins dalam buku The Selfish Gene-nya. Saya ingin mengetahui dan belajar lebih banyak hal lagi, mengalami lebih banyak peristiwa lagi untuk kemudian mati dengan perasaan “Saya sudah hidup dengan sebaik baiknya”

Ledakan keinginan untuk pergi dari kota ini ditunjang oleh sudah dua tahun terakhir saya tinggal terpisah dari keluarga. Memenuhi semua kebutuhan sendiri dan semakin jago mengolah emosi. Saya siap, dan itu yang terpenting dari segalanya. We only had one shot to live in this world, and I don’t want to stay in a wrong place whilst I can move.

2017, here we go.

 

 

 

11 Desember 2016

Masa muda jangan dihabiskan untuk hanya diam

Liturgi Melankolia dan Semiotika Rajatega

Begitu mendapati buku Setelah Boombox Usai Menyalak dalam kiriman buku bulanan dua bulan silam, saya segera menjadikan buku bersampul cokelat ini sebagai next playlist dalam anggaran baca buku bulanan saya. Begitu menyelesaikan 1Q84 yang naudzubilah tebalnya itu, saya justru terlupa dengan keberadaan buku yang belinya pakai acara ngotot dulu sama mas Ilham lantaran dicetak terbatas dan PO dulu duluan ini. Hingga tiga buku kemudian barulah saya ngeuh kalau saya masih berhutang janji untuk menamatkan buku ini.

Untitled.jpg
Tiap berhasil menamatkan buku di kantor, saya merasa seolah melakukan sebuah pemberontakan melalui metode makan gaji buta :))

 

Herry Sutresna yang kemudian lebih dikenal sebagai Ucok Homicide adalah salah satu pembesar skena hiphop underground di Bandung. Eranya bangkit beriringan dengan nafas musik metal yang berembus dari wilayah rural Ujung Berung. Meski bukan penggemar hip hop secara partikular, kesukaan saya pada musik underground di era 2007-2011 sedikit banyak mengantarkan saya pada karya karya Pak Ucok, utamanya melalui Homicide.

Beberapa lagunya kerap saya jadikan anthem bagi kondisi sosial terkini. Saat FPI tengah mendesak Jaringan Islam Liberal dan kerap melakukan sweeping pada diskusi diskusi kiri, misalnya, saya akan bergumam lagu Puritan dan mengutip sepenggal-dua penggal liriknya untuk di-tweet. Atau saat agak berlebihan membaca buku buku sufistik, maka Siti Djenar Cypher Drive akan menemani kepala saya seharian. Juga pada setiap peringatan hari diculiknya Wiji Thukul, saya akan memutar Sajak Suara yang merupakan musikalisasi dari puisi beliau.

Semiotika Rajatega, Panoptikanubis, Membaca Gejala dari Gejala, Boombox Monger dan beberapa nomor lainnya telah saya hapal di luar kepala tanpa motivasi apapun kecuali memang ingin dengan mudah mengutip liriknya sewaktu waktu.

Lirik. Adalah satu satunya alasan mengapa saya mendengarkan Homicide.

Ketika Pak Ucok menggagas zine Lyssa Belum Tidur, saya adalah yang paling semangat membongkar paket kiriman kengkawan dari skena indie Bandung. Aneh, sekian tahun berlalu sejak saya demikian akrab dengan Bandung namun tidak sekalipun pernah menjejakkan kaki di kota itu meski sekian belas kota dan sekian negara lain telah dikunjungi. Lalu kebiasaan itu berkurang hingga lenyap sepenuhnya di beberapa tahun belakangan.

Maka rasanya tidak berlebihan jika kemudian buku ini menjadi ajang nostalgia yang agak melankolis untuk saya. Seolah diingatkan pada masa di mana ideologi dan kemampuan dialektika adalah hal penting, paling penting dan tiada lain yang lebih penting. Masa di mana saya lebih menggemari berdiskusi perkara langitan hingga menjelang pagi tinimbang menghabiskan malam minggu dengan berkencan. Jatuh cinta adalah perkara asing sejak dialektika menjadi komoditas penting.

Sebagian besar isi buku telah diterbitkan untuk berbagai majalah dan zine musik, nasional maupun lokal. Sebagian besar isi buku juga telah saya baca dalam blog, website dan zine yang ditulis Pak Ucok. Bercerita tentang sejarah pembentukan Homicide yang berawal dari Godzkilla hingga Morgue Vanguard sampai pada titik di mana ia menjadi orang paling dicari untuk urusan skena hiphop Bandung.

Perseteruannya dengan Tufail al Ghifari adalah satu dari sekian hal yang mengingatkan saya pada kekuatan lirik yang digunakan Pak Ucok. Hal ini tentu saja didasari oleh asupan bacaannya yang tidak main main. Sederet nama filsuf Yunani hingga sosialis abad 17 menjadi pembuka buku setebal 225 halaman ini.

Buku ini akan dan telah menjadi satu dari beberapa buku skena lokal Bandung yang saya suka (dan putuskan sebagai harta berharga). Pak Ucok telah sekali lagi memberikan kausal mengapa saya sangat suka beliau sebagai penulis..

Kedua setelah Pak Kimung, tentu saja! hihihi.

Fasis yang baik adalah fasis yang mati! – Homicide, Puritan.