Edge of Twenty Seven

November menjejak langkah ke-duapuluhempat. Tahun 2019 tinggal hitungan minggu, satu lagi tahun yang lewat tanpa pencapaian berarti. Semakin lama, semakin tua, hidup nampaknya memang akan terasa seperti begini begini saja

Untuk aku pribadi, tahun ini tidak seburuk itu. Setidaknya aku tidak mengalami kemalangan yang terlalu, atau penderitaan bertalu. Beberapa highlights terjadi terutama dalam tataran perubahan fisik. Seperti bulan November di tahun-tahun sebelumnya, aku gemar menuliskan semacam kaleidoskop, untuk melihat kembali bahwa hidup dengan pacenya sendiri –sepelan apapun– adalah progresi. Aku juga gemar menilik kembali tulisan-tulisan ini di tahun selanjutnya (yang pada saat itu entah sudah kuhapus atau belum) dan tersenyum sebab dengan membaca ulang, aku bisa ingat betul bagaimana rasanya melalui hal tertentu, di waktu tertentu.

Januari

Di bulan ini beberapa hal baru terjadi, ditembak dan jadian setelah punya crush padanya selama 2 tahun. Menjejak usia 27 dengan sederet perayaan dan hadiah menyenangkan dari kawan-kawan, kembali aktif bermain twitter dan sempat ‘agak populer’ berkat entry-entry self love. Bulan ini juga penanda pindahnya Amel (my childhood friend) ke Pangkalanbun untuk menekuni hidup sebagai istri orang di sana. Tahun 2019 jika berdasar kejadian-kejadian di bulan ini, adalah penanda yang sangat baik sebab rasanya tidak ada seharipun aku sempat merasa sedih. Punya pacar yang sangat sayang padaku, hampir setiap weekend berkegiatan di luar kerjaan kantor dan tidak ada hari yang terlewat tanpa keriaan bersama teman-teman. January was F-U-N.

Februari

Bulan ini keriaan memiliki pacar baru masih berlanjut. Aku begitu sayang padanya hingga bagiku tidak ada yang lebih merdu dari suaranya, yang lebih penting dari mengangkat telponnya. Terbatasnya jarak bukan masalah sebab demi apa yang terasa seperti cinta itu, aku rela berkompromi terhadap nyaris apapun. Tanpa keluh. Awal bulan pergi ke Jakarta untuk teater Nyanyi Sunyi Revolusi (kisah hidup Amir Hamzah) dan di teater ini melihat bagaimana Lukman Sardji menyajikan akting yang begitu hidup jauh sebelum ia dipuji-puji dalam film 24 Steps of May.

Februari juga penanda puncak weight loss terbanyak dalam rentang 27 tahun hidupku. Total aku turun 24 kilogram dan menjejak angka 78 kilo, terkurus sejak terakhir seberat ini adalah saat era wartawan, 10 tahun lalu. Ini tentu sebuah pencapaian meski setiap hari aku tidak sarapan, makan siang dua lembar roti minim isian dan Iced Americano lalu kadang makan malam kadang tidak tergantung pacar menelpon jam berapa (sebucin itu, memang) ditambah berenang minimal 1 jam sehari, setiap hari.

Di bulan ini, Instagram menjadi saksi, aku bisa menggunakan baju lungsuran dari seorang teman yang berukuran M. Demi apapun di muka bumi rasanya bahagia sekali.

Hampir lupa, aku mendaftar kursus Bahasa Jepang dengan total 10 kali pertemuan. Karena bosan aku berhenti dan hingga saat ini Bahasa Jepang yang tersisa tinggal Senpuki dan Itadakimasu.

Maret

Seperti tahun yang sudah sudah, kebiasaan meal prep rupanya sudah menjadi memori motorik. Melihat kembali Instagram berlabel tanggal bulan ini, ada banyak sekali varian makanan yang aku olah sebagai bekal. Rajinnya membuat bekal (dan memakannya tentu saja) membuat progres penurunan berat badan tidak seberapa signifikan. Namun karena pacar menyebut jangan saat kubilang aku ingin sekurus Luna Maya, bucin ini mengangguk setuju dan memperbaiki pola makannya dengan makanan yang lebih bervariasi dan berwarna tinimbang dua lembar roti dan kopi hitam melulu.

Bulan ini, hubungan LDRku yang lebih manis dari biang gula itu mulai goyah. Frekuensi komunikasi yang semula begitu rapat menjadi kadang-kadang. Chatting soal hal-hal kegemaran atau sekadar bercerita sedang apa terasa bukan prioritas lagi. Ruangan Telegram hanya berisi dua-tiga pesan sekadarnya atau ajakan singkat untuk masturbasi. Mungkin aku yang lebay terhadap sebuah perubahan. Tidak tangguh saat kondisi kehidupan kekasih sedang rumit. Namun hal ini tak pelak mengundang tanya:

Jika benar ini adalah cinta, mengapa aku diperlakukan seadanya?

April

I’m HOOKED into Cognitive Bias dan 112 turunannya di bulan ini. Dalam hidup akan selalu ada fase beginian kan, hati tengah gundah gulana namun alih-alih menyelesaikan masalah di depan mata tapi malah mencari distraksi dengan keriaan lain. Dibantu beberapa buku filsafat dan psikologi yang telah dimiliki, “belajar” hal ini menjadi rutin setiap hari. Aku ingat saat makan siang sendirian, menyesap es kopi sambil menulis ulang/membuat contoh kasus/menyusun inti dan korelasi satu bias ke bias lain sambil dalam hati bergumam sesekali “Kenapa hingga siang ini dia belum membalas pesan selamat pagiku?”

Bulan ini melepas Nintendo Switch yang sudah berdebu, nyobain metode meluruskan rambut bernama keratin smoothing (yang lurusnya hanya bertahan 3 hari), kembali memelihara poni, menjadi satu dari milyaran umat manusia di muka bumi yang menjadi saksi dari foto real blackhole untuk pertama kalinya, get into baking dan Pemilihan Presiden.

Puncaknya pada 27 April pergi ke Surabaya untuk menonton film 27 Steps of May. Film yang hingga sekarang masih membuatku merinding jika mengingat sensasi bagaimana aku menyaksikan film itu sendirian sambil menangis dan bagaimana aku mengarungi lautan manusia (ini tidak bercanda, coba saja melewati Tunjungan Plaza di malam Minggu) tapi seperti tidak mendengar dan melihat apa-apa. Semuanya lewat begitu saja sampai akhirnya aku burst out di pojokan smoking area Sushi Tei. Kesedihan itu kian menjadi karena aku tidak bisa menghubungi pacar, orang yang ingin kujadikan sandaran dan tempat berbagi saat hal-hal buruk terjadi.

WhatsApp Image 2019-11-18 at 15.05.33

Mei

Kelas Jepang masih berlanjut tapi aku sudah ogah-ogahan. Rasanya nyaris tidak ada kegiatan di luar kerjaan yang membuatku bersemangat di bulan ini. Rutinku semata bangun pagi-ke kantor-pulang dan tidak sabar menunggu kantuk sebab berada dalam kondisi sadar di bulan ini rasanya sulit sekali.

Mungkin psikologikal, mungkin diagnosa psikiater benar adanya. Namun aku menolak sekeras mungkin untuk kalah dalam kondisi ini dan menyebutnya sebagai perubahan mood semata. Namun percaya soal ini; your doctor goes to medical school and spent millions not for nothing. It’s getting worse dan membangkitkan semua ketakutan yang entah nyata entah rekaan. Aku, lagi-lagi berusaha untuk kuat dan menyebut diri sendiri lebay. Dua orang yang mengaku saling jatuh cinta tentu bisa kehilangan cinta itu kapan saja. Dua orang yang begitu lekat seperti ketan tentu bisa saja perlahan menjauh. Itu natural, itu terjadi pada hampir setiap orang.

Tapi gemanya, gosh, gemanya itu yang masih sesekali membangunkanku di tengah malam untuk kemudian menangis sejadinya hingga sekarang.

Pada tanggal 28, ketakutanku menjadi nyata. Ia memutuskan hubungan kami dengan alasan yang menambah hantaman: aku membenaninya dengan kewajiban untuk wajib lapor. Percayalah untuk seorang perempuan yang selalu mengklaim (dan berusaha setengah mati untuk menjadi) kuat-mandiri-tegar-tangguh-tidak membutuhkan validasi lelaki, diposisikan sebagai perempuan clingy yang seolah membutuhkan perhatian 24 jam membuatku terluka lebih dari yang kusadari hingga aku menyebut kata setuju untuk mengakhiri hubungan ini dalam rentang tidak sampai 5 detik.

Juni

Berjanji untuk bertemu dengan (mantan) pacar di Bali bulan ini namun keburu putus membuat semua rencana liburan buyar. Tiket telah terbeli cuti telah terdeduksi. Atas asas serba-sayang akhirnya nekat berangkat ke Bali untuk menghabiskan 9 hari tanpa rencana pasti. Menjalani hari demi hari dalam kepatah-hatian dan upaya penghiburan seadanya hingga akhirnya berangkat dan menghabiskan 9 hari tersebut dengan gempita.

Hidup ini menarik sekali kalau diingat ingat. Bagaimana aku merasa duniaku luruh saat hubungan yang aku impikan sejak 2 tahun belakangan itu bubar begitu saja lalu seseorang datang tiga hari kemudian dan membayar kontan rasa sedih itu dengan ‘harga’ yang tidak main main. Sepanjang bulan Mei aku berbunga bunga kembali lantaran mengetahui seseorang yang telah kukagumi selama 10 tahun memiliki ketertarikan padaku.

Liburan di Bali menjadi menyenangkan karena disusulin ehe~

Juli

Agak sulit bagiku untuk mencerna konsep karma dan tulah namun entah sudah berapa kali aku dihantamkan dengan kejadian yang jika dirunut maka tulah adalah kata yang bersinar paling terang. Di bulan Mei pasca putus aku memilih untuk tidak berhubungan dengan siapa-siapa namun nyatanya toh aku dibuat jatuh cinta.

Pada 5 Juli saat masih liburan di Bali, aku ke Ubud untuk membuat tattoo. Aku memutuskan untuk membuat tattoo pertamaku dengan orang ini atas rekomendasi seorang kawan yang telah lama tinggal di Bali. Enso nama simbol ini, sebagai pertanda gerbang dimulainya hal yang baru. Long story short, aku jatuh cinta dan jadian dengan tattoist-ku. Sebuah keputusan yang sepertinya tidak rasional dan tidak profesional tapi mau gimana lagi aku anaknya gampang sayang~

Dua hari pertemuan singkat itu berakhir dengan pulangnya aku ke Sampit dan dimulainya hubungan LDR yang baru. Sepanjang bulan ini aku kembali melakoni juklak bucin. Suaranya adalah suara paling merdu, telpon/video call darinya adalah yang paling prior, dicintainya adalah seberuntung beruntungnya perasaan yang pernah ada. Aku jatuh cinta pada pilihan berani atas hidup yang dilakoninya, nilai ideal yang ia usung tentang seperti apa hidup yang ia inginkan dan sebagai seorang seniman, ia adalah seniman yang tidak hanya berbakat namun juga tekun.

Tanpa banyak menunda waktu pada 26 Juli aku kembali ke Bali dan menghabiskan 4 hari di sana. Tidak banyak waktu yang bisa kuhabiskan mengingat terbatasnya cuti yang dimiliki but man… this love feels like summer with all of those unicorns and butterflies in my head.

Agustus

Bulan ini aku dua kali bolak-balik Bali atas nama cinta :)) pertama untuk trip singkat 2-4 di awal bulan dan trip panjang 9 hari pada 16-25 di akhir bulan. Hubungan ini indah sekali dan layak dirayakan dengan meriah. Bulan ini aku punya keriaan baru; turut memanajemenisasi usaha pacar. Membantunya soal pencatatan keuangan secara remote. Menyenangkan rasanya terlibat dalam sesuatu yang berpotensi menjadi besar seperti ini.

September

70113011_2739454472744857_8900031810591784960_o
I feel semriwing~

Usaha pacar kian berkembang, klien berdatangan dan pembangunan dilakukan. Menguras energi namun rasanya senang sekali. Di bulan ini aku memutuskan untuk mencukur habis rambutku mengingat kerusakannya sudah di ambang batas toleransi. Mustahil bagiku mengembalikan rambut ke semula sehingga lebih baik di-reset dengan cara dibotakin. It doesn’t feel ‘much’ seperti pertama kali botak 2015 silam. I feel fine mungkin karena alasannya tidak bias karena perasaan apapun. I just want to be bald and that’s it.

Kami melewatkan malam demi malam bercerita tentang bagaimana hari ini berlalu dan apa yang kami inginkan di masa depan. Restoran kecil untukku di mana aku bisa memasak apapun yang aku mau lalu disuguhkan kepada teman dan klien yang datang. Hubungan ini begitu manis I could died from diabetes.

Oktober

Memasuki bulan kedua tanpa pertemuan. Cutiku habis dan bulan ini lewat begitu saja tanpa kejadian berarti. Mungkin lantaran kesempatan untuk bertemu disia-siakan begitu saja, aku akhirnya mengambil jarak untuk bisa melihat hubungan ini secara keseluruhan.

Hubungan ini, sayangnya, sama sekali bukan fairy tale.

November

Things get worse hingga akhirnya aku memutuskan untuk walk out pada 9 November. Aku sudah cukup berjuang untuk hubungan ini dan chapter itu aku cukupkan. Another broken heart but it okay, this too shall pass kan.

Desember tinggal hitungan hari dan 2019 serta usia 27 akan berlalu sebentar lagi. Suprisingly, after all of these things that happened in this year, aku masih hopeless romantic loh. Aku masih senang mengawang tentang bagaimana rasanya disayangi sepenuh hati. Aku masih gemar melakukan ziarah kenangan dan mengingat bagaimana rasanya disayang. Aku pernah disayang dengan baik dan itu sudah cukup, semua orang memiliki batasan waktu sehingga cepat atau lambat ia akan berakhir, ini hanya soal durasi.

Pada 13 November aku memutuskan untuk memasang behel. Sejarah perbaikan gigiku ini panjang dan melelahkan. Dalam lima tahun terakhir tidak terhitung berapa kali kunjungan ke dokter gigi untuk penambalan belasan caries, perawatan akar untuk geraham yang masih bisa ditolong, pencabutan tiga geraham yang tidak tertolong, hingga akhirnya gigiku benar benar siap untuk perawatan yang bersifat aesthetic. Ini komitmen tidak main-main karena tahunan tapi sudahlah, wayahe.

Secara keseluruhan, 2019 adalah tahun yang baik. Di tahun ini juga aku menyaksikan sendiri perubahan drastis yang terjadi di depan cermin dibanding aku setahun lalu. Nani telah menjadi perempuan berbehel dengan rambut keriting dan berhasil menghilangkan 20kg+ dari bobot tubuhnya. I’m happy that I still manage to love myself in any situation.

Desember berencana tidak ke mana-mana (tapi yha, aku juga menulis begini November silam namun ended up ke Bali selama 9 hari wkwk) karena segenap perubahan ini membuatku merasa perlu untuk mengambil nafas dulu untuk benar-benar mencerna soal apa yang aku inginkan dan apakah ia baik untukku jika dimiliki/dilakoni. Sebab mudah untuk berlaku impulsif tapi ia juga membutuhkan energi besar untuk beres beres setelahnya.

Looking forward for a better 2020!

Hantu di Musim Penghujan

“Aku bermimpi tentang hantu”

Segelas air putih yang kuminum belum terteguk sepenuhnya saat Fuga mengusik perhatianku soal mimpinya tentang hantu, sepagi ini.

Ruang tengah sedang sepi. Belum tandas hausku yang harus menempuh puluhan kilometer untuk menemukan jawaban mengapa perempuan ini menghubungiku sambil menangis.

“Aku… melihat matanya yang kelabu dan mencium aroma busuk dari tubuhnya” Fuga kembali bersuara.

Tunggu, bukankah mimpi tidak berbau? Aku pernah beberapa kali bermimpi tentang makanan yang sepertinya beraroma wangi namun aku tidak pernah ingat bagaimana baunya. Tidak, sebuah mimpi tidak semestinya meninggalkan ingatan tentang bau. Aku beringsut dari dudukku, mendekati tubuhnya yang gemetar. Perempuan ini benar-benar ketakutan, dapat kulihat tatapan matanya yang menerawang jatuh dengan pupil membesar, seolah tengah menghadapi mimpi buruknya di dunia nyata. Urung kupeluk sebab terlalu lancang jika kulakukan. Tidak saat ini, tidak di tempat ini.

Fuga kini terisak pelan

“Jika bukan karena ini malam ketiga aku bermimpi hal yang sama, tentang hantu yang menatapku seolah inilah saatnya aku mati, tidak akan aku mengganggumu sepagi ini”

Bicara soal pagi, aku teringat sebuah pagi beberapa tahun silam, saat pertama kali aku mengenal Fuga. Namanyalah yang paling menarik perhatianku. Fuga Agatha. Fuga. Tidak pernah dalam hidupku aku mendengar dan bertemu orang dengan nama Fuga. Aku pernah mengenal seseorang bernama Proletariyati, Xeon hingga Berhala. Yang terakhir adalah teman karibku hingga sekarang, kedua orang tuanya adalah pekerja seni paling progresif di zamannya dan menganggap rasa sayang kepada anak tidak ubahnya sebuah pemujaan terhadap berhala. Temanku mengalami bullying sepanjang sekolah karena nama ini.

Namun Fuga, belum pernah aku bertemu dan mendengar sebelumnya. Dentumnya yang keras mengingatkanku bahwa kelahirannya pastilah membawa makna untuk menjadi lantang dan berbekas di ingatan setiap orang. Tidak seperti Berhala, betapa Fuga adalah doa. Fuga memang membawa dentuman dengan irama paling merdu sejak aku mengenalnya.

Perempuan yang pandai memainkan irama melalui kerling mata dan senyumnya yang indah. Irama yang membuat detak jantungku bertambah kencang setiap ia menelusuri pelan alur wajahku. Bermain dengan anak rambut dan membelaiku hingga tertidur. Ah, Fuga.

Lamunanku buyar. Matari masih belum sepenuhnya terbit, cahayanya yang bias berkejaran di sela jendela ruang tamu. Sudah lama aku tidakk bertemu pagi sesyahdu ini. Mungkin lantaran Fuga, yang sedari tadi beringsut merapatkan tubuhnya kepadaku dengan gemetar yang tak kunjung reda.

“Aku bisa merasakannya, sungguh. Jemarinya yang dingin mencengkram lenganku sangat erat hingga aku kesakitan dan matanya! Matanya demikian kelabu dan aku merasa takut teramat sangat” Suaranya merendah.

Tapi sebentar, konon saat bermimpi manusia tidak bisa menggunakan indera sensoriknya. Serupa aroma, Fuga tidak semestinya merasakan sensasi indera lain. Tidak mungkin bagi seseorang yang tengah bermimpi dapat merasakan dingin, bau, lebih-lebih rasa sakit.

Lantas mengapa ia meninggalkan bekas kebiruan di lengan perempuan yang kini meringkuk dengan mata sendu ini?

“Tolong aku, buat ia berhenti menyakitiku”

Kurengkuh Fuga pada akhirnya, mendekapnya seerat mungkin untuk setidaknya mengurangi rasa takut perempuan yang masih saja gemetar itu. Kupejamkan mataku serapat mungkin. Bias cahaya matahari dari jendela menyentuh wajahku saat waktu berkejaran mendatangkan siang untuk mengganti pagi. Kuhirup aroma Fuga, rambutnya mengingatkanku pada aroma hutan, entah lantaran shampoo yang digunakannya atau sekadar sugesti sebab memeluk Fuga seketika melemparkan ingatanku pada hutan tempatku sering bermain di masa kanak-kanak. Teduh dan tenang.

Dekapan kulekatkan hingga kudengar suara Fuga terbatuk perlahan. Kian lekat, kian erat.

Fuga sempat meronta beberapa saat. Dapat kurasakan kedua lengannya berupaya melepas kuncian tanganku. Namun sejurus kemudian tubuhnya adalah kesunyian yang bernas. Tidak kutemui cahaya mata penuh rasa cemas yang sedari tadi kutatap. Tidak juga kutemukan gemetar tubuhnya seperti saat ia bercerita tentang hantu dalam mimpi beberapa belas menit lalu.

Tidak kutemui apa-apa lagi di tubuh Fuga yang kini tanpa suara meregang nyawa di pelukanku. Kukecup keningnya pelan:

“Tenang, tidak ada lagi hantu yang akan memangsamu”

Sampit, 11 November 2019

Musim penghujan telah tiba.

Mari Sudahi

Dua orang saling menemukan, menjadi lekat dan menyembuhkan. Atas duka atas luka atas segala derita yang pernah tercipta. Keduanya merasa inilah sesempurnanya sebuah jumpa. Begitu magis dan serba tidak biasa.

Hari berganti bulan demi bulan bergulir. Keduanya masih saling mencintai walau jarak kini terukir. Meski bertemu hanya sesekali namun keduanya sama sekali tidak khawatir. Hubungan ini begitu manis dan mustahil untuk menjadi getir.

Bertemu dua minggu sekali, sebulan sekali kemudian tidak sama sekali. Keduanya yakin jarak dan kondisi tidak akan mengalahkan mereka selama masih bisa berkomunikasi. Semula menyapa satu jam sekali, menjadi sehari sekali, lalu berhari hari.

“Keadaan masih bisa membaik, berikan ia satu hari lagi untuk mengerti hal ini”

Adalah rapal kesekian ratus yang kuucap pada malam sebelum tidur setelah berbagi 2-3 pesan singkat seharian. Untuk kemudian menangisi bantal sebab perasaan kesepian begitu menggema ketika seseorang telah menawarkan kebersamaan namun ingkar terhadap perjanjian.

Kini puncaknya, aku diminta menunggu sambil sabar dan memaklumi. Tanpa tenggat waktu kecuali kata ‘nanti’. Maka jika sesuatu yang seolah-olah seperti cinta ini hanya mencekikku dalam sunyi,

Mari sudahi.

92577b1ec408290639f91ca5660a782a.jpg

Sampit, 09 November 2019

Another heartbroken, another sleepless night.

Kita Tidak Sedang Menderita

Dua puluh tahun lalu, saat aku berusia 7 tahun, seseorang melecehkanku secara seksual. Hampir setiap hari ia memperlihatkan penisnya padaku, memintaku untuk memegang, mengulum, menjilat kemaluannya dan mengintipku saat mandi.  Aku tidak pernah mandi tanpa mengenakan baju dan memilih pergi ke rumah tetangga jika ditinggal sendirian di rumah. Hingga akhirnya di usiaku yang ke-15 ia menikah dan pelecehan itu berhenti begitu saja.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Ketika usaha ayah bangkrut dan kami yang sudah miskin harus semakin miskin dengan dijualnya rumah dan pindah ke kontrakan berkamar satu, aku harus tidur berhimpitan dengan kakak di kasur tipis depan televisi 14 inci di ruang tamu/ruang tengah/ruang makan sebab kontrakan itu hanya punya 2 ruangan. Setiap hari ibu memasak satu bungkus mie instan rebus berkuah banyak dengan tambahan garam untuk dibagi bertiga; aku, kakak dan adik. Di hari yang baik kami akan makan sarden berkuah encer atau  telur dadar dengan sambal kacang.

Kami lalu menambahkan lauk seadanya itu dengan nasi hasil jatah raskin yang lebih banyak batu daripada berasnya dan mengeluh dalam diam sebab segan pada ibu yang harus mengantri di Kantor Kelurahan dan menjunjung 10 kilogram beras di kepalanya, berjalan kaki, setiap akhir pekan. Sepanjang kelas 4 SD rambutku berkutu karena kontrakan berdinding kayu itu bersebelahan dengan kandang ayam dan bebek pemiliknya. Jika musim hujan, air akan menggenang setinggi mata kaki dan ayah akan membuat panggung darurat di dalam rumah agar kami bisa tidur tanpa kebasahan.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Tujuh tahun lalu, di bulan Juli, saat membeli tiga bungkus mie instant dan uangku kurang seribu tujuh ratus rupiah, seorang kasir membentakku karena harus membatalkan pembelian satu bungkus mie instan dan ia terpaksa memanggil managernya. Antrian di belakangku panjang, dan masing-masing menggerutu karena untuk membayar seribu tujuh ratus rupiah saja aku tidak bisa. Dua bungkus mie instant, aku bagi untuk makan satu minggu kemudian di kos kumuh Cipete Dalam seharga 350 ribu per bulan.

Di bulan September aku terjatuh dari tangga dan harus menahan sakit berjalan kaki sepanjang Cipete Raya sebab sepeser uangpun tidak ada untuk ongkos karena habis membayar tukang urut. Hingga sekarang tungkai kaki kananku tidak bisa diluruskan karena kejadian tersebut.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

2014 Ibu kolaps karena komplikasi hipertensi yang merembet ke ginjal. Keratinin ibu mencapai angka 5,5 dan harus segera di-dialisis. RSUD Kabupaten tidak memiliki mesin itu dan ibu harus dirujuk ke RS Provinsi. Biaya sudah aman berkat Jamkesmas namun kami harus menyewa ambulans dan membayar jasa perawat yang mengawal rujukan sebesar 2,5 juta. Aku terlampau miskin kala itu berkat bersikeras untuk bekerja sesuai ideologi dan menolak ‘bekerja di bawah kapitalis’ sehingga jangankan 2,5 juta untuk membayar cicilan sepeda motor saja sudah setengah mati.

As diagnosed, my mom wouldn’t survived without dialysis and she died a week later on her bed. Tanpa sempat dirujuk dan diupayakan untuk tetap hidup. Her last word that I remember the most

“Aku masih ingin hidup, tolong.”

Saat itu, rasanya aku ingin mati saja sebab apa gunanya hidup jika ia hanya menawarkan penderitaan.

***

Lima tahun terakhir hidup mulai membaik, di usia 27 sekarang aku bisa bangun pagi di kasur empuk dengan kamar ber-AC, membuka kulkas berisi dengan makanan berkualitas premium, berangkat bekerja mengendarai mobil, bekerja di perusahaan  (kapitalis) bonafit dengan pangkat yang lumayan untuk kemudian pulang ke rumah sendiri yang penuh buku-buku impor, membacanya di depan televisi besar dengan ratusan channel luar negeri dan perkara lain yang 20 tahun lalu adalah tersier bahkan mustahil untuk aku miliki.

Namun kemudian aku akan berbaring di ranjang, menerawang jauh hingga larut malam dan mulai menangis. Aku akan betanya tentang tujuan hidup, aku akan menangisi kesepian yang kurasakan, aku akan meratap soal mengapa begitu sulit bagiku untuk berdamai pada diri sendiri dan berbahagia seperti orang-orang kebanyakan.

Saat itu, aku merasa aku adalah orang paling menderita di dunia.

Hidup mempertemukanku dengan banyak orang dan kisah-kisah tentang hidup. Tentang satu derita dan derita lainnya. Meski aku dan egoku ingin agar penderitaanku berada di bawah lampu sorot dan seluruh dunia menaruh kasihan kepadaku, keinginanku untuk menganggap apapun kejadian sulit yang telah dan akan terjadi padaku tidak sebanding dengan derita orang lain masih lebih besar. Sebab seperti yang almarhum ibuku selalu bilang

“Kita ini miskin, tapi kita masih punya harga diri. Dan itu yang harus kamu jaga”

Karenanya meski harus menderita, aku menolak untuk mengiba. Meski harus menyeret kaki berbebat perban sepanjang satu kilometer di panas terik, aku pantang mengeluh dan memaksa orang menjadi bagian dari penderitaanku. Pada akhirnya aku diomeli tentu saja :)) karena merahasiakan hal itu dan tidak membaginya pada seseorang yang sangat peduli padaku saat itu.

IMG_20191020_234236
A mantra from a man who lived long enough to laugh about my whining of suffering.

Aku tidak tau apakah kekeraskepalaan ini merupakan berkah atau kutukan sebab ia selalu menjadi dasar dengan batasan baik/buruk yang rancu. Aku tidak tau apakah jalan yang kupilih sekarang benar adanya dan akan membawaku pada kebahagiaan atau ia justru menjadi jembatan untuk satu lagi penderitaan.

Yang aku tau, setiap hari di mana aku masih hidup dan berkesempatan untuk bersinggungan dengan makhluk bumi lainnya, aku menolak untuk merasa menderita. Aku menolak untuk melakukan pemujaan terhadap kondisi sulit. Aku tidak ingin menjadikan penderitaan dan kesedihanku sebagai alasan untuk meminta pengertian orang lain lebih lebih pembenaran atas tingkah laku tercela.

Dalam menghadapi kejadian dalam hidup, jika ia adalah sebuah kesusahan, aku akan berupaya semampuku untuk keluar dari kondisi itu dan sepayah payahnya kemampuanku untuk berjuang, aku akan berharap agar aku cukup kuat untuk menjadi tabah.

Sebab aku bukan lagi orang paling menderita di dunia.

 

Sampit, 20 Oktober 2019

27 adalah usia paling ajaib sejauh ini.

Tentang Jarak

Aku rasa tuhan mencatat setiap kata rindu yang aku sebut untukmu dan mengubahnya menjadi pendar cahaya. Karenanya malam ini langit seolah menyala sebab aku sedang rindu rindunya.

Aku kira aku cukup veteran soal hubungan jarak jauh. Aku kira aku telah cukup hapal pada rutin, pola dan konsekuensi atas penghambaan pada minimnya frekuensi bertemu dan komunikasi. Yang tabah akan menang, yang gegabah akan kalah.

Namun jika ini soal menang dan kalah, aku ingin menaruh semua jatah keberuntungan yang aku punya agar aku tidak kalah terhadap situasi ini. Sebab ia perlahan membuatku kembali pada kenyataan soal:

Ini cuma soal menunggu siapa yang lebih dulu kalah pada jarak.

Hampir seribu kilometer menujumu, dan aku mulai kesal karena untuk sekadar bertemu ia harus menjadi perkara paling mewah di hubungan ini. Lalu diam-diam menaruh iri pada yang bisa menuntaskan rindu semudah menyalakan sepeda motor dan berkendara pelan selama sepuluh menit. Iri pada setiap resah yang ditenangkan dengan genggaman, pada setiap tangis yang redam dalam pelukan. Perkara sesederhana ini mengapa harus menjadi mewah sekali?

Lalu entah mengapa segalanya terasa sendu. Kebersamaan beberapa hari akan berganti pada sehari, dua hari, seminggu, berminggu minggu tanpa temu. Kembali bertemu untuk kemudian berpisah kembali dalam rentang waktu tidak tentu. Begitu seterusnya sampai… kapan? Dengan naifnya aku memandang hal ini melalui perspektif ini cukup kok, yang penting kan saling sayang namun ia perlahan terasa menjemukan, dan sedih sekali untuk menyadari bahwa hal itu saja tidak cukup, aku ingin lebih.

Aku ingin bertemu.

haruki-murakami-quote-lbu8l6b.jpg

Sampit, 30 September 2019

Sekarang beritahu aku, sampai kapan jarak ini mampu mengingkari waktu? 

Midsommar dan Perkara yang Sering kita Abaikan

Tahun 2019 sudah menjejak September dan baru ini saya ‘tergerak’ untuk menulis review film. Selain karena frekuensi nonton film berkurang (biasanya setiap minggu menjadi 1-2 kali sebulan) dan memang belum menemukan film yang cukup menggelitik untuk dituliskan.

Formula film menarik untuk saya sederhana saja, jika 24 jam setelah menontonnya saya masih kepikiran berarti film itu cukup mengganggu, dan saya perlu untuk merekamnya ke dalam media tulisan agar tidak terlupakan. Sayang, soalnya.

images

Midsommar pertama saya kenali dari klip teaser singkat di Twitter, pergi ke YouTube beberapa hari setelahnya untuk trailer dan I’m sold karena iming iming disutradarai Ari Aster, yang juga menyutradarai Hereditary. Mengingat saya suka tiba tiba kepikiran kepala adik tokoh utama yang putus ketabrak tiang lampu hingga berhari hari setelah menontonnya, berangkatlah saya ke Cinemaxx Citimall Sampit untuk Midsommar.

Dan rasa penasaran itu terbayar, lunas, genap seketika. Film ini berdurasi 2 jam 27 menit namun tidak satu menitpun terasa membosankan dan tidak satu adeganpun yang sia-sia. Sebagus itu, sungguh. Saya dihibur dengan turbulence emosi Dani (Florence Pugh) yang harus kehilangan keluarganya begitu saja dan perjuangannya untuk tegar di tengah kehilangan yang terasa uwuwu sekali

*** SPOILER ALERT***

Secara plot, Midsommar sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Film serupa soal sekumpulan orang di tempat terpencil melakukan ritus aneh dan bunuh bunuhan sudah ada sejak era Stephen King meledak melalui novel (dan kemudian film) Children of the Corn. Next to next adegan juga mudah ditebak, sejak awal Pelle (Vilhelm Blomgren) mengaku berasal dari Swedia dan ikut cult runut cerita sudah bisa disimpulkan berupa:

Seseorang dari closed cult dikirim ke dunia luar untuk mencari tumbal.

Premis yang semakin kuat saat para turis (total 6 orang) yang berlibur ke Harga, desa terpencil di Swedia untuk mengikuti festival musim panas bernama Midsommar ini dipaparkan begitu saja dengan hal asing berupa dua orang yang bunuh diri secara sukarela. Mengingat kedua orang yang sudah terpapar dunia luar tidak mencegah keenam turis ini, ending cerita sudah bisa ditebak; mereka semua mati atau tidak akan bisa meninggalkan tempat itu.

Midsommar-Dani-May-Queen
mbnya cakep cakep kok mrengut aja~

Selanjutnya Midsommar adalah sembilan hari festival 90 tahunan yang dipenuhi magic mushroom, ramuan ramuan delusi, ritus aneh dan tempat tempat keramat. Pada titik tertentu, film ini mengingatkan saya pada Get Out. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana karakter Dani berkembang dari awal hingga akhir film.

Ari Aster memainkan formula Dani sebagai perempuan yang masuk ke dalam rekrutmen untuk Midsommar secara tidak sengaja. Ia menjadi yang ganjil dalam 5 tumbal yang slotnya telah dipenuhi rekan rekan Pelle. Di sisi lain, Dani justru menjadi Ratu Kesuburan berkat memenangi lomba joget di tiang panjat pinang. Dan bagaimana film ini menggambarkan Dani yang “terbuang” dari dunia luar lalu secara sadar dan ikhlas menjadi bagian dari Horga.

Dani yatim piatu secara tiba-tiba karena adiknya yang bipolar membunuh kedua orang tua dan dirinya sendiri dengan mengisap karbondioksida. Dani kemudian tidak memiliki siapa siapa lain selain pacarnya, Christian. Di penghujung film kegamangan Dani soal dia siapa jika harus hidup tanpa Christian dikukuhkan melalui adegan ritus seksual lelaki itu dengan Mya, salah seorang penduduk Horga. Lelaki yang menjadi last resortnya berkhianat dan dipilih Dani untuk dibakar hidup-hidup pada punya festival Midsommar. Cute.

Selain perkembangan karakter yang apik, saya jatuh cinta pada teknis pengambilan gambar di film ini. Setiap shotnya artsy, setiap kostumnya mengingatkan pada baju-baju di toko Muji, setiap anglenya layak dijadikan wallpaper hape. Bahkan mayat yang punggungnya dikuliti dan digantung di kandang ayam aja artsy faklah hahaha. Sebagai film, ia berhasil mengganggu pikiran saya hingga hari ini (nontonnya kemarin sore) dan masih menjadi bahasan antara saya dan rekanan satu geng.

Disturbingly haunting. Me likey.

 

Sampit, 12 September 2019

Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

 

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia sambil membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth di atas.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja,

Ia menjadi kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.