Hobi Murahan Itu..

Mengenai hobi, konon blog merupakan tempat untuk menuliskan jurnal pribadi. Berhubung aku adalah pribadi yang sungguh narsis, maka kali ini sesuatu yang super ga penting bakal kutulis (silahkan klik close bar, aku sendiri nyaris muntah pas ngetik ini)
Sejak SD, aku suka membaca, hobi murahan, kata kawan kawan. Yep, murahan karena membaca tidak memerlukan banyak modal. Tidak seperti hobi yang lain, golf, scubadiving, bungeejumping (buset, ada gitu anak SD hobinya nyelam??)
Hobi membaca bersublimentasi menjadi hobi menulis. Hobi yang sudah murahan itu bertransformasi menjadi sesuatu yang sepuluh tingkat lebih murahan. Cukup bermodal kertas dan pena, hobi itu bisa tersalurkan. Oh dear, its me, Nani si Murahan. (loh?!)
Well, selama aku merasa senang, kenapa tidak. Maka mimpi mimpi besarpun bertumbuhan dari hobi itu. Sejak empat tahun lalu, aku bertekad untuk bisa menghasilkan duit dari hobiku itu. Menulis sesuatu yang kusuka, dan dapat duit. Mimpi orang miskin,,
Tuhan memang maha baik, mimpiku untuk menjadi penulis di dengar dan diwujudkan pada Desember 2009. Sejak itu aku tercatat sebagai wartawan di SKHU kotaku. Bangga? jelas. Aku semacam super excited dengan segala keterwujudan itu. Aku bisa menulis sebanyak yang aku mau, dan dibayar untuk itu.
Hanya saja, kata Mario Teguh, kalau bermimpi jangan kelamaan. Aku terlalu lama dibuai mimpi, hingga menjadi makhluk yang gemar bermuluk muluk. Gemar mengeluhkan ketidakselarasan ingin dan kenyataan. Akhirnya, menulis di SKHU itu tidak lagi menjadi hobi.
Aku tidak lagi menulis karena aku suka menulis.
Aku menulis karena menulis itu merupakan kewajiban, suatu keharusan.
Dengan semua target dan tenggat itu.
Ya, aku merasa terbebani. Seorang kawan bilang “Sesuatu yang sudah menjadi beban ga bagus untuk dilanjutkan”.
Maka aku berhenti, untuk ‘menyelamatkan’ hobiku.
Sebulan sudah lewat, banyak yang terjadi selama tujuh bulan bekerja di sana.
At least, aku sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat, dan dibayari. Dan berkesempatan menjadi wartawan di umur 17 tahun. As PR PT. Axia TBK said : “The youngest journalist”. hohohoho
Sekarang, aku kembali seperti dulu. Seorang anak perempuan 18 tahun yang gemar mengeluh dan menulis dengan bahasa sok nyastra. ^^ apa boleh buat, sudah hobi..
Aku benci kemiskinan yang dieksploitasi di negeri ini
Mereka tertuang dalam tivi-reality.
Orang orang miskin berurai airmata, mengiba akan nasibnya
Aku benci derita bertubi yang dihiperbolisasi
Semata demi rating dan ketenaran si televisi
Aku muak dengan televisi
Ah, tidak, aku muak dengan budak televisi
Apa boleh buat, pantatku terpaku oleh gemerlap silau kemiskinan yang diksploitasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s