Bruynzeel, Bentuk Kejayaan Masa Lampau (2)

Adnan, Mekanik Handal ‘Lulusan’ Brengsel

Terampil tangan keriputnya melilit kabel dinamo ke kumparan mesin. Layaknya mekanik profesional, mobil yang semula ngadat mengerang perlahan. Gumpalan asap hitam keluar dari knalpot belakang. Berhasil, mobil yang semula anfal hidup kembali di tangan Adnan, pemilik bengkel spesialis mesin yang tak pernah mengenyam pendidikan formal permesinan.

RUSNANI ANWAR, Sampit

Ditemui pada Sabtu (27/2) sore di kediamannya, Koran Ini disambut ramah oleh Adnan. Bertempat tinggal di jalan Gatot Subroto sejak lahir, membuat Adnan paham betul tentang masa lampau kota Sampit. Usianya menjelang 80, kelahiran tahun 1933. Beliau adalah salah satu dari 2000 lebih pekerja NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven (BDH) dulu. Kilang penggergajian milik Belanda yang dinoktahkan sebagai wadah pengolahan kayu tercanggih se Indonesia itu berdiri di tahun 1948.

Pada tahun 1957, Adnan menjadi bagian dari kilang tersebut sebagai buruh mesin. Mesin-mesin bubut yang jumlahnya puluhan itu menderu nyaring setiap waktu. Secara konstan melahap kayu-kayu siap olah. Adnan tidak hanya bertugas mengoperasikan mesin-mesin tersebut, ia juga bertanggungjawab pada kerusakan-kerusakan di tiap unit mesin.

Alah bisa karena biasa, mungkin pepatah inilah yang tepat untuk Adnan. Ditempa brengsel selama belasan tahun membuatnya paham betul tentang seluk beluk mesin, tanpa harus mengenyam pendidikan resmi. “Dahulu itu sempat disekolahkan oleh pimpinan Bruynzeel, hitungan bulan ja,” ujar Adnan. Ia bahkan tak bisa baca tulis, namun fasih mulutnya meluncurkan kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang didapatnya semasa bekerja di kilang penggergajian.

Putih rambut dan keriput kulit Adnan di usia 77 tahun rupanya tidak mengurangi kemampuannya dalam mengingat keadaan Sampit puluhan tahun silam. Dulu, menurut Adnan, ratusan rumah bermodel sama membentang dari Taman Kota hingga Pesawahan ujung. Berderet rata, rumah itu dihuni oleh kaum Belanda yang semuanya merupakan pekerja Bruynzeel.

*Adnan*

Sebagai fasiltas pelengkap, lapangan bola, lapangan tenis, area bola sodok (bilyard), hingga kompleks hiburan didirikan berdekatan dengan area kilang penggergajian kayu. Taman Kota dulunya adalah lapangan sepakbola, masih lekat di ingatan Adnan deretan kursi penonton yang berbahan dasar kayu, mengilap warnanya berlapis vernis ditimpa sinar matahari.

Tahun 1950-an, jejeran penjual helm di kawasan kontainer pelabuhan Sampit merupakan gudang garam. Ribuan ton garam ditampung dalam gudang tersebut. Kilang penggergajian itu bagai jantung tempat dimana seluruh aktivitas kehidupan warga Sampit berdenyut. Di samping lapangan sepakbola. Berdiri megah sebuah kompleks hiburan, isinya beragam, rumah-rumah makan, bar-bar tempat para Belanda menghabiskan waktu liburnya, hingga area permainan khas negri kincir angin.

Musik-musik barat kerap dimainkan band-band di area hiburan tersebut. Alunan jazz, ballad dan blues mengalun bergantian setiap malam. Perlahan setelah berpindahnya tampuk kepemimpinan Belanda atas kilang penggergajian membuat kejayaan bangsa Holland itu atas bumi Habaring Hurung memudar.

Di tahun 1961 ke atas, lepas berpindahnya kepemimpinan NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven ke tangan PN. Perhutani, kedudukan penguasa dagang tertinggi Sampit bergeser. “Kalau tahun 40-50-an itu Belanda yang menguasai perdagangan, tahun 60-an ke atas itu jadi tahunnya orang China,” ujar Adnan. Meskipun Soeharto telah terpilih sebagai presiden pada tahun 1966 -kita semua tahu bagaimana bentuk perlakuan pemerintah terhadap kaum China pada saat itu-, hal tersebut tidak lantas menyurutkan semangat kaum China untuk berkuasa atas sistem dagang warga pribumi. Warga Belanda yang sudah habis masa kontraknya pulang kembali ke tempat asalnya.

Pada era itu, mayoritas penduduk Sampit adalah warga Banjar dan Madura. Tarian Ronggeng khas Madura ternyata sudah menjadi bagian dari hiburan warga Sampit sejak dulu. Setiap Rabu dan Sabtu malam, pasar malam di kompleks hiburan (kawasan eks gedung Mentaya Theater sekarang) akan diramaikan dengan tabuhan musik khas Madura dan geolan penari Ronggeng.

Jumlah warga China pada saat itu tidaklah seberapa, di bawah tekanan rezim Soeharto mereka banyak mengubah nama menjadi lebih berbau lokal. Budaya ini rupanya terbawa hingga sekarang. Jangan heran jika pada tahun delapan puluhan ada kaum bermata sipit yang mengaku bernama Muhammad. “Mereka punya dua nama, nama Indonesia dan nama China,” ujar Arman, seorang warga asli Sampit yang sejak 74 tahun lalu lahir di kota ini.

Meskipun kuantitasnya kecil, mereka berkuasa atas perdagangan saat itu. Tercatat setidaknya tiga kilang penggergajian kayu besar milik etnis China yang tersebar di Kalimantan sejak tahun 1950. Ketiga kilang penggergajian itu bernama Firma Gani milik Lie Sioe Wing di Tenggarong, milik Ban Hong di Long Iram, dan milik Tan Tjong Tju di Samarinda. Kelak, di tahun 1972 ketika NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven berubah menjadi PT. Inhutani III dan pamornya memudar, kilang-kilang penggergajian kayu milik kaum China inilah yang merajai pasar.

Tauke-tauke itu tidak hanya menguasai pasar kayu, namun juga aspek perdagangan lain. “Pokoknya orang China itu semuanya pedagang di Sampit,” papar Arman. Mereka terkenal sebagai pedagang ulung. Sengit menentukan harga dan pintar mengendalikan pembeli. Di tahun 1963, ada dua bioskop milik China yang terkenal di kota Sampit. Masing-masing mengusung nama Sentosa dan Shanghai.

Bioskop Sentosa terletak di jalan Sutoyo S, tepat di Kusuka Swalayan saat ini. Sedangkan bioskop Shanghai berada di jalan Jendral A. Yani, bekas gedung pajak yang terbakar. Meski sama-sama dimiliki etnis China, kedua bioskop ini memiliki perbedaan pada film yang diputar. Bioskop Sentosa khusus menayangkan film-film Jakarta, bioskop Shanghai merupakan spesialis film Malaysia.

Baru pada tahun 1980-an, Theater Mentaya dibangun, perlahan keberadaan dua bioskop kecil itu tergantikan dengan rol-rol film yang lebih canggih dan kapasitas gedung yang lebih besar. Mengenang masa lalu dan kemakmuran hidup di waktu itu memang tidak akan ada habisnya. Simpulan kepemimpinan Soeharto yang berbunyi “sejahtera tapi ngutang” sepertinya benar adanya. Meski dijajah secara moril, para orang-orang tua yang hidup di era orde baru tetap mengakui bahwa zaman dulu jauh lebih enak dibanding sekarang.

Adnan menyatakan meski rekan-rekan bekerjanya sudah habis dimakan usia, meskipun tidak ada sejarah tentang Bruynzeel yang tersisa, ia tetap meyakini sejarah yang terbagi melalui lisan tidak akan habis termakan zaman. Ia dan kemahirannya merakit mesin misalnya, merupakan sebuah warisan tidak berwujud yang diserap dengan sendirinya selama bekerja di kilang penggergajian NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven. (***)

*sebuah rumah bubungan tinggi di kawasan Baamang Hulu, Sampit*

*Terbit pada Surat Kabar Harian Radar Sampit, April 2010*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s