I’m An Artist :D

Judulnya saru! hahaha. Aku, sedari dulu memiliki semacam kegilaan terhadap dunia broadcast/media. Menjadi terkenal dan berkarya secara kreatip. An Art-ist. Pelaku dunia seni. Dan berhubung aku gapunya talenta berlebih dalam dunia akting, maka cita cita menjadi artis sinetron kuhapus jauh dari daftar mimpi.
Tadi siang ngebongkar dus dus tua di kamar. Menemukan empat buah komik H2-nya Adachi Mitsuru dan dua buah naskah drama. Naskah Drama. Ada apa antara aku dan naskah drama?? (jeng jeng)
Tepat, SMA ku dulu memiliki semacam ketentuan untuk mengadakan ujian praktek kesenian. Dan kami memutuskan untuk bermain drama. Keputusan yang salah, anak muda. Terutama jika kalian meminta seorang kutu buku yang punya obsesi berlebih terhadap abad pertengahan untuk menulis naskahnya.
Kelompok kami, memintaku untuk menulis naskah drama tersebut. Durasi minimal 30 menit. Setelah berkutat dengan sederet proses kreatif, aku akhirnya menemukan sebuah plot drama yang sungguh spektakuler. Berdasarkan sebuah sage di pulau Jawa.
Dan berjuduuullll:

NYI RORO KIDUL!!!!
(apanya yang spektakuler coba -_-)
Dan sepanjang plot, aku mencoba menuangkannya dalam bahasa jaman dulu. Atau lebih tepatnya, bahasa orang yang mabok drama kolosal Anteve. Satu naskah penuh dengan nama Adinda-Kakanda, Kang Mas Prabu dan lain sebagainya.

Nilai Moral dari cerita di atas : Anak SMA berkacamata yang kebanyakan nonton sinetron itu dapat dipastikan gila.
However. Setidaknya dengan menulis naskah drama, aku berhasil meluluskan diriku sendiri dalam ujian praktek kesenian. Hanya dengan menulis.
See. Betapa mudahnya hidup bagi seorang Art-ist 😀
PostNote : Juga menemukan satu poto pas kelas 2 SMA. Silahkan tertawa, aku udah guling guling dari tadi.

(eyeliner ketebalan, liptik bleber, empat tindikan di telinga. Tebak apa tema foto ini. Tepat : Preman Gagal Pergi Kondangan)
Advertisements

Pilem Ini Kerennya Gila Gilaan

Aku suka nonton pilem dua taun belakangan. Sejak HBO hadir di layar televisi 21 inci ruang tengah yang harus ditendang kala warnanya goyang.
Sekarang kegilaan itu bertambah sejak tipi di rumah udah bisa nangkep starmovie.
FYI. Seumur hidup aku ga pernah ke bioskop (silahkan ketawa).
Pertama kali nonton kedua film ini sekitar pertengahan tahun lalu. Telat memang, mengingat masing masing release taun 2005 dan 2008.
Here they are ;

untuk alasannya,, aku bukan orang yang jago ngereview. Jadi jangan harap ada potongan potongan kalimat berisikan nama produser, sutradara plus deretan panjang artis yang memenanginya.
Aku suka Pride and Prejudice lantaran udah keburu tau kalo ini based on Jane Austen novel. Dan yak, aku setengah mati suka BANGET sama Jane Austen. Buku pertama tante Jane (beh, berasa akrab abis) yang kubaca adalah Mansfield Park

Dan di taun 1999, novel ini juga diangkat jadi pilem. Sayangnya aku rada kecewa dengan pilemnya. Inilah resiko nonton pilem yang nopelnya udah dibaca duluan. Imajinasiku luluh lantak, kawan.
Nah, bedanya dengan Pride and Prejudice versi pilem, mungkin gara gara aku suka Kiara Knightly kali ya. Cantik, british, brunette. Ah perpek!
Kemudian dari segi cerita ga banyak berubah. Sama persis dengan yang kucoba imajikan dari novelnya.
Scene yang paling kusuka ya pas Mr. Darcy ngejar Elizbeth pas ujan ujan, di gereja, and when they’re kissed. Saya meleleh :”)
Penggambaran yang romantis, sukses buat sutradaranya deh, si om Joe Wright. Dan baru beberapa bulan yang lalu, aku nonton versi bollywoodnya. Yep! versi India! mereka beneran pake nama Mr. Darcy pula. Honestly, keberadaan Pride and Prejudice versi India ini rada ngerusak imajinasi pecinta film klasik. Judulnya diplesetin jadi Bride and Prejudice pula. Huh! (nani jahat ya allah)

Cover depannya aja udah ngerusak. Pride and Prejudice itu novel romantis woooyyy! a classic story di pertengahan ’70an. Dan India merusaknya menjadi semacam kisah Cinderella sombong yang dapet suami bule trus kawin dan joget joget sepanjang cerita. (dan apa pula maksudnya When Bollywood meet Hollywood?)
Oke, cukup.
Pilem kedua yang paling kusuka adalah The Other Boleyn Girl. rilis taun 2008 dan aku baru bisa nonton setaun setelahnya. Damn you HBO -we-just-gave-you-a-year-forehead-movie- policy. tapi gapapa, toh sebelum nonton juga aku ga tau trailernya 😀
Tentang kakak adik yang punya karakter langit-bumi. Kakak yang ambisius dan adik yang baik hari. Latarnya pas jaman jaman pemerintahan King Henry (bokapnya Queen Elizabeth I). Yang main Scarlett Johanson, Natalie Portman dan Eric Bana. Scarlett sebelumnya kukenal lewat the Prestige (pilem om om tukang sulap) dan the Island (pilem berbiaya besar yang akhirnya gagal nembus blockbuster).
Dan Natalie Portman adalah aktris pilem Star Wars dan V for Vendetta. Dan yang terakhir itu adalah satu pilem hebat yang kunobatkan sebagai pilem keren sepanjang masa 😀

ah.. liat ni pilem tiba tiba kangen dengan lagu Cat Power, I Found the Reason.
Yang menarik dari film V for Vendetta bagiku adalah trailernya. Beneran bikin ngiler. I Love V!! noh tonton di atas.
Woh, kok ngelantur ke V for Vendetta ya?
Balik lagi ke The Other Boleyn Girl. Ng.. ga tau kenapa aku ini tipikal orang yang paling suka sama pilem pilem abad pertengahan.
When the girl have to hold their breath just to lookin nice on tihgtly dress.
An the man was look so gentle at there 😀 marital statue become something that really important.
Semacam pemandangan langka untukr pilem pilem jaman sekarang. Hohoho. Nani the Old-fashion speaking.
yah.. begitulah kiranya review saya terhadap dua (tiga) pilem super keren di atas.
Lain kali ngebahas pilempilem garapan Judd Apatow ahh,,.

Creative Time!

Beberapa hari yang lalu menemukan baju tua milik emak.
Warna ijo, full bordir plus payet. Konon katanya itu baju emak waktu beliau masih abege.

FYI, emak dulunya kembang kampung. Can’t figure 😀

  • Caranya, potong potong bordiran yang menarik hati, pisahkan mereka dari habitat aslinya.
  • Karantina


  • Terus.. cari baju polos yang udah lama ga dipake. (this is why we called is as ‘modifikasi’.

Here’s my flat bored black dress ;

(membosankan, huh?)

  • Langkah selanjutnya : Belilah Lem Lilin

  • Yak, this is a creative time. Tempelkan sesuka hati si potongan bordir tadi.


Hasilnya :

Super Yay!
Tips : Kalau bajunya sering dipake (otomatis sering dicuci), lebih baik sedikit ribet dengan mengganti lem lilin dengan jarum jahit. Lem lilin rada musuhan sama detergen dan air ^^
BTW, I also made something for my flat shoes.
Before :

After ;

Sekarang, sepatu obralan itupun bertransformasi menjadi sepatu kondangan. I Am Genius!!
hihihi, bongkar bongkar baju lama lagi ahh ^^

Metal, Harga Mati!

Di tengah gempuran band beraliran pop-melayu, band beraliran metal seolah tersisihkan dan terancam mati. Di antara yang sedikit itu masih ada yang bersikap idealis dengan mempertahankan aliran metal sebagai perlambang diri.

HINGAR bingar musik keras menghentak di sebuah rumah di dalam gang sempit, inilah rumah Upi. Sepintas mereka terlihat seperti kumpulan anak biasa yang kerap nongkrong tengah malam. Namun, ada yang membedakan mereka dengan komunitas nongkrong lainnya. Mereka adala anak nongkrong dengan selera musik metal.

Diawali dari hobi bermusik yang sama, mereka lantas membuat grup band. “Dulu kita sempat ngeband juga, spesialisasi kita adalah lagu Dream Theater dan Power Metal,” ungkap Ari sang bassis. “Tapi sekarang kita udah bubar, kadang-kadang juga main walau hanya sekedar jamming atau membedah lagu baru,” lanjutnya.

“Di Sampit sendiri penggemar musik seperti ini belum terlalu banyak. Selera pasar masih pop melayu, sekadar keras pun, paling cuma Avanged Sevenfold,” ungkap Upi diamini Ari.

Ketika ditanya alasan mereka menyukai musik keras, mereka punya jawaban unik. Mereka mengataknya satu-satunya jenis musik yang mampu mewakili perasaan mereka hanya musik metal. “Musik metal adalah wadah mengasah kemampuan karena musik ini memerlukan skill dan teknik yang tinggi untuk dimainkan,” kata Ari menambahkan.

Uniknya, kelompok ini hanya terlihat ketika menjelang tengah malam, tepat ketika kota ini mulai terlelap. “Biar matching aja, metal kan biasanya suka yang gelap-gelap,” seloroh Adul, salah seorang “founder” kelompok ini. “Kalo siang kita ‘kan kerja, biarpun rebel tapi kita tetap realistis kok,” ujar Ari menengahi.

Koran ini tergelitik untuk bertanya mengenai tanggapan orang lain atas kebisingan mereka di tengah malam, mengingat lokasi nongkrong mereka berdekatan dengan rumah penduduk. ”Kita berkawan dengan preman kampung, jadi gak mungkin ada yang protes,” ucap Adul.

“Tujuan kita jelas, kita pengen biar anak Sampit ga terpaku pada pola musik yang sama, bosen kalau ada parade band lagunya itu-itu mulu,” Ari menanggapi lebih jauh. Kalau begitu bukankah lebih baik jika dibentuk komunitas agar lebih dikenal dan dapat merekrut anggota baru? ”Kalau bicara long term-nya, kita memang punya rencana membentuk komunitas, tapi nanti menunggu musik metal lebih dikenal di sampit. Untuk sekarang, kita jalan dengan anggota segini aja dulu, yang penting solid,” terang Upi.

“Males banget bikin komunitas tapi enggak longlasting, kita ga mau latah kaya komunitas-komunitas lain yang banyak muncul sekarang ini, tapi unjung-ujungnya bubar,” tambah Ari.

Ditanya lebih jauh tentang musik yang mereka sukai, jawaban dari mereka pun beragam. “Aku pribadi lebih ke genre Deathcore dan Metalcore, seperti Trivium, BMTH, Suicide Silence, dan Bullet For My Valentine, Ari sama Adul sukanya genre Heavy Metal dan Thrash Metal, seperti Metallica, Megadeth, Power Metal, Sepultura dan Anthrax, kalau teman kita yang cewe, senengnya genre Technical Deathmetal sampai Brutal Deathmetal, yang growlnya inhale, parah dia mah, senengnya Necrophagist sama Pyrexia,” ujar Upi panjang lebar menjelaskan kegemaran masing-masing temannya.

Mereka sangat mengandalkan internet untuk memenuhi kebutuhan mereka akan materi lagu. “Di Sampit belum ada toko kaset yang mumpuni untuk kaset metal, radio pun sama, tiap kita request jawabannya pasti belum ada,” ujar Adul. “Kalo ga ada internet, ga tau deh, mungkin kita juga bakal jadi alay penggemar Kangen Band hahaha,” kata Ari seraya tertawa.

Koneksi dan jaringan pertemanan yang baguspun punya andil dalam hobi mereka ini. “Temen-temen di luar Sampit juga cukup membantu, kita sering dikirimin data cd dari Bandung, Banjarbaru dan Pontianak,” lanjutnya. “Harapan kami ke depan sederhana semoga musik metal mendapat tempat di hati masyarakat, semoga kasus bank Century cepet kelar, semoga saya cepat kawin, amin!,” canda Ari mengenai harapan mereka ke depannya.

Ketika ditanya mengenai pesan-pesan mereka untuk anak muda kota Sampit, serentak mereka menjawab, ”Lontong Tahu Telornya tiga, ga pake cabe!”.

Langit Mengelam di Pasar Malam

Tidak ada satupun yang mengenalinya, ia hanya duduk nyaris tersungkur di jalanan aspal. Menyeruak di tengah keramaian pasar malam. Bersimbah lelah, raut wajahnya mengiba sebisanya. Ya, dengan mengiba rupiahpun datang ke tangan kumuhnya. Dua anak kecil diboyong serta. Cacat? Ya. Sebuah tongkat besi menemani langkahnya. Apa saya iba? Ya. Saya menangis sebisanya.

Permasalahan orang miskin memang lekat dengan kehidupan kita. Tatanan hirarki kependudukan laksana timpang tanpa kotak-kotak miskin-kaya, makmur-menderita. Saya tidak tahu siapa namanya, enggan bertanya, sebenarnya. Saya enggan berkawan terlalu lama dengan bau tengik dari baju kumalnya yang entah pernah mengenal deterjen atau tidak selama kurun waktu se-dekade lalu.

Sudah penat rasanya melihat para miskin menyempil dalam lensa kacamata minus empatratus saya. Mereka menggelantar di sudut pasar, tempat pembuangan sampah, bergelut sebisanya mencari nafkah. Setidaknya limapuluh sajak dan puisi saya tulis berlatar kehidupan para miskin. Terkubur dalam file-file berdebu nyonya Bleki (sebutan untuk PC tua saya).

Setiap kali saya melihat mereka, percakapan dengan kepala dinas sosial kota saya sekali waktu dulu kembali berputar di dalam kepala. “Kata siapa mereka itu beneran miskin? Ada semacam “pengepul” pengemis di kota ini, mereka itu ada yang mengelolanya!,” terngiang pernyataan berapi-api itu di kepala saya. Saya juga lumayan terhenyak mendengar bahwa sebenarnya adalah salah jika masyarakat memberi mereka bantuan. Bahkan ada peraturan daerah yang mengaturnya. Nomor tiga tahun 2008 kalau tidak salah.

Saya memang seorang tolol, saya simpulkan bahwa pemerintah tidak selaras dengan kami, para miskin negara ini. Para birokrat benci keberadaan kami, karenannya kami dikebiri, diberantas, dientaskan. But yeah, silly me, jika mereka turut memberi “keleluasaan” bagi para pengemis itu, maka mereka sudah melanggar amanah perundang-undangan untuk memberantas kemiskinan. Caranya? –apa boleh buat- memang seperti itulah adanya. Para gelandangan memang harus digusur, para pengemis memang harus dijaring razia, para terlantar memang harus diusir pergi dari kota ini.

Maka kali ini saya tidak mempermasalahkan siapa yang salah atas masalah ini. Pengemis itu berusia setengah baya, mungkin lebih muda, raut wajahnya mengiba (tentu saja, itu modal utama jika anda ingin menjadi peminta minta). Ada anak kecil turut serta, tertidur di atas kain sarung berwarna hijau yang saama kumuhnya dengan baju Ayahnya.

Ah, saya punya sebuah cerita, tentang orang miskin yang suka malu mengakui ketidakberdayaannya. “Susah mendata orang miskin di Sampit, mereka malu kalau dibilang miskin,” ck ck. Mental kota kita ini mental orang kaya. Saya masih ingat waktu SMA dulu pernah marah pada Ayah gara-gara beliau kerap mengisi minyak tanah di dekat sekolah. Ya, saya sempat malu mengatakan pada kawan-kawan (yang bapaknya orang Pemda semua) bahwa saya anak tukang minyak keliling. Anak miskin yang bisa bertahan di sekolah pongah itu berdasar beasiswa miskin.

Anak kecil itu kembali bergerak, berganti posisi setelah sebelumnya sang Ayah mengipasinya pelan, ada gumaman kecil yang sang pengemis bisikkan ke telinga anaknya. “Sabar nak, kita pulang sebentar lagi,” itu kaliat yang saya coba terka. Namun salah ternyata, pukul setengah sebelas malam saya beranjak pulang dari pasar malam, peminta-minta itu kukuh tetap di sana, tetap menengadahkan tangan dengan wajah tertunduk –entah tersipu atau malu- mengais lembar-lembar rezeki yang nampaknya berserak di arena tersebut.

Pasar malam sempat mengecewakan saya, Seno Gumira tidak saya temukan disana. Biarlah, besok saya bakal sisir lagi stan buku itu. Dari kejauhan saya melihat sang Ayah kembali berbisik pada anaknya. Oh, saya mengerti sekarang. “Sabar nak, laparmu akan hilang jika kantuk sudah datang, bapak ninabobokan padamu sebuah kehidupan. Jadilah berhasil, Ayah ciptakan dunia imajiner kegemaranmu mengenai istana putih dan meja makan penuh penganan. Sabarlah, Ayah dongengkan padamu tentang mimpi ibumu yang meninggal saat melahirkanmu ke dunia, mimpi tentang kamu berjubah hijau dan menjadi sarjana. Sabar,”.

Dan lantunan doa mengalir dari bibir kering peminta-minta itu.

Dzikrullah, Nak, Nisaya selamat dunia akhirat.


*foto taken from google 😀 (lupak linknya, kakaakkk)*

Kerusuhan Sampit, 2001

Saya paham sepenuhnya, judul di atas merupakan isu sensitif yang pamali dibahas hingga sekarang. Di postingan kali ini saya hanya sekadar ingin berbagi mengenai apa yang saya alami ketika konflik tersebut terjadi. Bahkan dalam penyebutannyapun, semacam di’atur’ oleh entah siapa.
Saya sempat bekerja di media dan menemukan media massa dilarang menyebut peristiwa 18 Februari 2001 dengan istilah kerusuhan, perang etnis maupun pertikaian adat. Kami (saya dan redaktur sempat berdiskusi alot mengenai hal ini) kemudian memutuskan untuk mempublishnya dengan sebutan Konflik Etnis.
Berikut tulisan saya untuk media mengenai konflik etnik 2001
(Tulisan ini ketika masih mentah dan belum masuk meja redaksi, saya sendiri bahnyak menggunakan istilah Kerusuhan di dalamnya. Well, bagi saya apa yang terjadi layak disebut kerusuhan, even worse)
Napak Tilas Konflik Etnik 2001
Sembilan tahun sudah kerusuhan berlalu. Waktu yang lebih dari cukup untuk merefleksi dan menyadari fungsi sebenarnya keberadaan seseorang di bumi Habaring Hurung. Dua tahun pasca kerusuhan hingga saat ini, secara alamiah warga Madura kembali ke tanah Habaring Hurung. Kali ini mereka membawa salam damai, keinginan tulus untuk menyatu dan menjunjung tinggi falsafah Belum Bahadat yang senantiasa digaungkan oleh petinggi adat di Kalimantan Tengah.
Rusnani Anwar, Sampit
Sempat menjabat sebagai kepala Satuan Polisi Pamong Praja pada tahun 2001 membuatnya harus terlibat langsung dalam kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura kala itu. “Tahun 2001 adalah puncak kerusuhan, sebenarnya kerusuhan itu dimulai sejak tahun 1999,” ujar Mantil saat ditemui di kantornya Sabtu (13/2) lalu.
Konflik awal terjadi pada tahun 1999, tepatnya 23 September malam, sebuah perkelahian ditempat karaoke yang berlokasi di perbatasan Tumbang Samba menewaskan Iba Tue, seorang Dayak Manyan yang dibantai oleh sekelompok suku Madura. Warga Dayak yang kesal karena Iba Tue tidak bersalah meninggal kemudian melakukan pembalasan dengan membakar rumah dan ternak suku Madura di Tumbang Samba.
Diawali kejadian sepele tersebut, pembakaran melebar hingga nyaris ke seluruh desa. “Saat itu upaya pemerintah adalah dengan mengevakuasi warga madura,” ujar Mantil. Sebanyak 37 warga Madura diungsikan keluar dari wilayah konflik (Tumbang Samba) untuk mencegah kemungkinan munculnya korban yang lebih besar. Lepas diungsikannya warga, keadaan di Tumbang Samba meredam.
Keadaan kembali memanas ketika setahun sesudahnya, 6 Oktober 2000, terjadi pengeroyokan oleh sekelompok orang Madura terhadap seorang warga dayak bernama Sendung di sebuah lokalisasi kilometer 19 Katingan. Sendung tewas dengan kondisi mengenaskan. Merasa marah, suku Dayak akhirnya melakukan sweeping terhadap suku Madura, kali ini kuantitas korban jauh lebih besar daripada tahun 1999. Korban jiwa berjatuhan, bus bus trans milik warga Madura dibakar, sementara para penumpang (suku Madura) disekap lantas dibantai. Upaya pemerintah saat itu adalah mediasi melalui upacara adat Dayak agar konflik tidak berkelanjutan.
Keadaan pun mulai mereda. Namun siapa sangka hanya berselang empat bulan, tepatnya pada 18 Februari 2001, kerusuhan dengan skala besar terjadi. “Keadaan memang sudah labil, tapi tetap saja kita terkejut,” ungkap Mantil. Pada Minggu subuh (18 Februari) etnis Madura mengepung rumah Sehan dan Dahur, keduanya merupakan suku dayak Manyan. Sehan adalah purnawirawan TNI pada saat itu. Pengepungan itu berakhir dengan dibakarnya rumah Sehan dan Dahur, keduanya (beserta keluarga) tewas terbakar. Total sepuluh tewas pada pagi itu.
Kerusuhanpun pecah, pembakaran, pembantaian terjadi sepanjang hari itu. Polres dan TNI bekerjasama mengungsikan warga Sampit ke Palangkaraya. Di tengah perang yang mulai berkecamuk, pada Senin malam, tepatnya pada pukul 10.25, serangan balik dari suku Dayak dilancarkan. Seminggu penuh aksi balas itu berlangsung, tidak terhitung berapa rumah terbakar dan leher terpenggal selama perang itu terjadi. “Hingga seminggu setelah tanggal 18 itu, kita 18 kali mengungsikan warga madura ke Surabaya,” ujar Mantil. Jumlah total warga yang mengungsi mencapai angka 57.000 jiwa.
Para pengungsi di angkut menggunakan kapal milik TNI dan perusahaan pelayaran swasta. Mereka di angkut menuju pulau Madura. Hingga kini masih terekam dalam kepala warga Sampit mengenai sungai Mentaya yang dipadati mayat tanpa kepala. Dan tentu saja, bau anyir darah yang menguar hingga sebulan lepas kerusuhan. Tidak ada kalkulasi pasti mengenai jumlah spesifik korban kerusuhan.
Saat kerusuhan terjadi, markas Madura terkonsentrasi di Jalan Sarigading dan Hotel Rama. Wajar jika kemudian temuan mayat terbanyak ada di kedua tempat tersebut. Suasana mencekam berlangsung hingga sebulan pasca kerusuhan, Sampit berubah menjadi kota mati, bau amis menyengat di setiap sudut kota. Tubuh tubuh tanpa kepala bergelimpang di tepi jalan. Mayat-mayat korban kerusuhan akhirnya dikuburkan secara massal di kilometer 13,8 Jl. Jendral Sudirman. “Saya dan asisten I Kotim saat itu, pak Duwel Rawing (bupati Katingan sekarang) sempat bingung kemana mayat-mayat itu harus dikuburkan, akhirnya, kita sepakat untuk dimakamkan ke Km 13,” ujar Mantil.
Tidak main-main, jumlah mayat yang menggunung dan sebagian besar sudah hancur itu harus dimakamkan secepatnya. Tidak memungkinkan untuk menyolati mayat satu persatu. “Saya sampai trauma makan seusai pemakaman itu,” tutup Mantil.(***)
Kala itu, saya diminta untuk membuat sebuah liputan khusus (tipenya indepth news). Saya kemudin mengisi satu halaman penuh edisi lipsus dengan tema konflik etnik. Tulisan di atas sengaja disuguhkan dengan gaya penulisan boks (ringan). Rasanya agak sulit menerjemahkannya ke dalam straight news. Lagipula, saya merasa memiliki sedikit kelebihan dalam menyusun kaliman menjadi penulisan boks.
Saya menemui Mantil F Senas sebagai narasumber. Untuk alasan jabatannya di tahun 2001, dan segi kesukuan beliau. Beliau seorang dayak dan beragama (?) Kaharingan. Namun jujur sajam saya sempat jatuh bangun mengejar beliau. Di kalangan wartawan, Mantil merupakan sosok yang cukup sulit ditemui. Sebagai Kepala Dinas, mobilitas beliau cukup tinggi.
Seorang rekan dan saya bahkan sempat menund penugasan hingga sebulan lebih lantaran beliau jarang ada di tempat. Jangan tanya mengenai akses komunikasi, meminta nomor handphone beliau sama susahnya dengan minta dikawinin Bratt Pit (sori jayus). Dan akhirnya saya berhasil mewawancarai beliau. Data yang didapat (menurut saya) sangat dayaksentris.
Untuk mencoba mengimbangkan beritanya, saya mencoba mencari sisa sisa anggota Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Yang saya belum ketahui saat itu adalah, IKAMA ternyata sudah dilarang masuk ke Sampit (Kotim). Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah (PERDA) Kotim nomor 5 Tahun 2004 Pasal 7 ayat (2)
“Tidak terlibat langsung pada peristiwa konflik dan tidak terdaftar dalam pengurus IKAMA”
Untuk alasan alasan di atas, berita saya kemudian terbit sebagai:
Mereka Pasrah, Diam dan Menyerah
RUSNANI ANWAR, Sampit
Napak tilas perang etnis mengantarkan saya ke perkampungan warga Madura di kawasan Gang Kutilang, Jalan Perkutut kelurahan MBH Utara, kecamatan Baamang. Sembilan tahun lalu wilayah ini penuh dengan warga Madura. Di Sampit (dan juga banyak wilayah Kotim lainnya), banyak terdapat titik titik perkampungan madura. Mereka terbiasa hidup berkelompok. “Kita tidak pernah cekcok, damai sekali,” ujar Arifin, warga gang Kutilang memaparkan bagaimana interaksi mereka terhadap warga non Madura.
Pria yang mengaku berasal dari Surabaya ini menyatakan memang ada yang berubah dalam perihal tingkah laku warga Madura yang kembali datang ke Sampit. Mereka sekarang lebih diam, memilih untuk menekuni kehidupan mereka sendiri tanpa meributkan siapa yang harus berkuasa terhadap siapa.
Saat ini, mereka yang menjadi korban kerusuhan perlahan kembali ke tempat tinggal mereka dulu. “Saya salut dengan kemampuan orang Madura dalam hal bekerja, mereka memulai lagi semuanya dari nol, kerja keras mereka seperti tidak ada batasnya,” papar Wahidah, warga jalan Kutilang. Padahal jika bicara mengenai perasaan, mereka para warga kecil Madura layak mengeluh. Mereka yang tidak tahu menahu harus menjadi korban, tersingkir dari tanah kelahiran, kehilangan seluruh harta benda.
Tegar. Sebuah kata yang mampu merangkum seluruh perjuangan warga Madura yang kembali ke Sampit. “Saya di Madura malah bingung mau kerja apa, di sana saya tidak punya apa-apa,” ujar seorang Madura yang sedang asik meladang pada Minggu (14/2) pagi. Di atas sisa-sisa bangunan rumah yang habis diluluhlantakkan mereka membangun kembali nafas mereka. Menyusun kembali kepingan harapan di tanah ini.
Tidak sedikit dari mereka yang dulu seorang pengusaha berubah menjadi pekerja kelas rendah. Menjadi pedagang upahan, buruh usaha kecil rumahan, tukang becak, pemulung, apa saja mereka geluti. Sulit rasanya menemukan ketabahan luar biasa semacam itu di zaman sekarang.
“Mereka (warga Madura), ketika kembali kesini seperti tidak kaget melihat harta bendanya hilang semua. Mereka bilang ‘Semua milik tuhan pasti akan kembali padanya’, saya sampai sedih mendengarnya,” ujar salah seorang keluarga Arifin.
Padahal, jika hendak mengenang masa lalu, tahun tahun sebelum kerusuhan adalah masa emas bagi warga Madura di Sampit. Kebanyakan dari mereka memang merupakan pekerja kerah putih. Yang sekedar berprofesi sebagai petani, pedagang pasar maupun buruh bangunan. Sempat hadir sebuah guyonan lokal yang kurang lebih menyebutkan warga Madura menyebut Sampit laksana surga, lantaran pulau asal mereka hanya ada garam.
Sebuah kisah kuno tentang sejarah suku Dayak saya temukan pada Perpustakaan dan Arsip Daerah Kotim. Kisah kuno mengenai tokoh Mangkurambang, seorang dayak yang dikisahkan berlayar dan terdampar di pulau Nipah, Madura. Entah cerita tersebut sekedar sage atau justru kisah nyata, setidaknya dapat memberikan gambaran seperti apa hubungan suku Dayak-Madura di masa lampau.
Dikisahkan dalam perjalanannya merantau, Mangkurambang membawa seekor ayam jago. Dalam pelayarannya, pemuda itu terdampar dis ebuah pulau bernama Pulau Nipah. Di sana, ayam yang ia bawa terus berbunyi gaduh. Hal ini memicu kemarahan raja Nipah, raja merasa intergritasnya sebagai pemimpin suku direndahkan karena ayam yang terus berbunyi tersebut.
Perkelahianpun digelar, raja Madura melawan Mangkurambang sang putra Dayak. Dalam dongeng itu, Mangkurambang memenangi duel tersebut. Putri raja Madurapun dipersunting oleh Mangkurambang sebagai hadiah pertandingan. Mereka lantas hidup di pulau Nipah dan memiliki keturunan berdarah Madura-Dayak.
Dalam sekali waktu, kepala ikatan keluarga madura (IKAMA) H. Marlinggi (alm) menyatakan bahwa beliau itu separuh badannya merupakan orang dayak ,”Nenek moyangnya orang Nipah, jadi pak haji (Marlinggi) saja mengakui kalau di Madura ada suatu pulau dimana seluruh orang disana keturunan Dayak,” papar Mantil F Senas, kepala Disdukcapil Kotim yang terlibat langsung dalam konflik etnis 2001 silam.
Dalam rangka sosialisasi peraturan daerah nomor 5 tahun 2004 ke kecamatan Ketapang, Madura pada 22 Agustus 2004 silam, tim sosialisasi difasilitasi warga
Ketapang untuk berkunjung ke Pulau Nipah. Mantil yang tergabung dalam tim tersebut mengaku kaget melihat kebiasaan warga Pulau Nipah. Pasalnya, warga pulau itu memiliki kebudayaan yang sangat serupa dengan suku Dayak, baik dari adanya mandau, bentuk bangunan, hingga kebiasaan teriakan Dayak dalam memanggil kera.
Sosialisasi peraturan daerah no. 5 tahun 2004-pun disambut positif oleh warga Madura, peraturan tersebut antara lain menekankan bahwa warga manapun yang menjadi pendatang di tanah habaring hurung harus menjunjung tinggi falsafah ‘Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, selain itu, perda tersebut juga melarang orang-orang yang memiliki hubungan dengan IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) kembali ke kota Sampit.
Perda tersebut, menurut Mantil sudah dipahami oleh warga Madura. Pasal-pasal di dalam perna merunut persis tentang prosedur bagaimana seorang Madura bisa kembali tinggal di Sampit. Antara lain ketentuan bahwa keharusan mereka membaur dan mengikuti pola adat warga setempat. Kemudian dipaparkan bahwa yang menjadi “eksekutor” atau pemegang hak untuk memperbolehkan atau menentang keberadaan warga Madura di lingkungan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri. “Jika warga lokal menolak, maka mereka harus pulang,” ujar Mantil.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya kecemburuan sosial seperti yang terjadi sebelum kerusuhan. Keadaan dimana pasar dikuasai oleh etnis tertentu membuat warga asli merasa cemburu. Mantil juga mengakui jika dulu, warga Madura memiliki perangai keras. “Saya sampai kesulitan mengevakuasi pasar pada saat kerusuhan itu,” tutupnya. Namun sekarang, sembilan tahun pasca bencana, keadaan sudah kondusif, warga Madura yang kembali ke Sampit telah memahami sepenuhnya peranan dan fungsi mereka sebagai warga pendatang.(***)
Ketika kerusuhan terjadi, saya baru berusia sembilan tahun. Sedari kecil saya tinggal di perkampungan Madura. Umur sembilan tahun menjadi penanda pertama kalinya saya melihat mayat tanpa kepala, menelan ‘ajian’ Dayak yang (konon) bisa membuat tubuh kebal tombak dan terjebak di dalam rumah yang tengah diserbu  massa. Sama sekali bukan ingatan masa kecil yang menyenangkan.
Berikut beberapa foto terkait kerusuhan yang berhasil saya kurasi.
(selebaran selebaran yang beredar)
(selebaran selebaran yang beredar (2))

 

selebaran selebaran yang beredar (3)

 

 

selebaran selebaran yang beredar (4)




Berikut hasil terbitan dua tulisan saya :

Saya menyadari sepenuhnya indepth news yang saya coba bangun ini gagal.
Saya tidak berhasil cover both side. Saya belum mampu menafsirkan apa yang terjadi dengan warga Madura hingga nekat menyerang warga Dayak di Tumbang Samba. Jika berdasarkan konflik perorangan, mengapa bisa meluas menjadi begitu besar?
Sejauh ini, yang saya ketahui mengenai percikan awal kerusuhan hanyalah pertikaian seorang Madura kepada Dayak. Ini pendapat saya, mungkin ada semacam kecemburuan sosial terhadap kaum Madura yang secara implisit ‘menguasai’ Kotim dalam segi ekonomi. Rasa iri? atau justru ada semacam kesetiakawanan yang sangat besar dalam tubuh masing masing suku hingga rela mati demi terinjaknya harga diri salah seorang sukunya?
*Terbit untuk SKH Radar Sampit edisi 18 Februari 2010*

Kemarin Aku Pulang

Semua ini rasanya sudah terlampau gelap. Sedari dulu. Aku tak peduli, sama sekali tak ingin peduli. Tentang bagaimana hidup ini harus berlalu dan terlewati..
Sore itu gerimis menyapa lembut kota ini. Aku baru pulang. Gerimis pelan berubah menjadi butiran raksasa, lagi lagi kehujanan. Cuaca agak menggila akhir akhir ini. Panas terik yang berlangsung seharian ditimpa hujan badai di sore hari. Bahkan cuacapun mulai lebay..
Aku melintasi satu per satu pengendara yang menepi. Ruko ruko kosong mulai berjamur di kota ini, masih baru. Keberadaannya yang dinilai strategis membuat para investor tak pikir dua kali untuk turut mengeksploitasi.
Hujan makin lebat, jarak pandang kian tipis. Aku tak peduli, tidak pada intonasi hujan yang meninggi, pada lampu jalan yang berkedip merah sejak tadi, atau pada jerit sejumlah anak berseragam putih-biru yang tengah menggigil dingin di ruko kosong.
“Awas!!!,”
Sepenggal kata itu sempat sedikit menyusup ke telinga. Sayang, kedatangannya sedikit lebih lambat dari jeritanku. Aku menjerit, terhempas lantas terpental ke trotoar. Bising suara penanti hujan di ruko kosong kian menggema. Berdengung di tengah tatapan nanarku. Darah bersimpul di sudut kacamataku yang retak. Dari kejauhan, sayup gaungan –entah ambulance atau mobil polisi- meraung.
Lantas gelap yang membekas. Diiringi sedikit ayunan, derek kereta troli dan getaran sepanjang jalan. Sakit terasa menggerayangi. Pelan ia menyentuh ujung kaki, bergerilya ke lutut, pinggul, dada, hingga kerongkongan. Sakit yang teramat sangat. Yang lantas sibuk berbisik di kepalaku adalah sepenggal sepenggal ceramah yang dulu kerap diputar Abah* dari tape tuanya.
“Ajal pasti akan datang… diriwayatkan dalam hadist nabi… rasanya seperti hewan yang dikuliti hidup hidup..”
Suara tape tua itu seakan direwind, berulang sepotong sepotong. Aku lupa bagaimana lengkapnya. Ceramah itu kerap kudengar semasa tinggal di rumah Abah, kala masih kanak kanak, belasan tahun silam. “Aku mati?” bisikku. Aku sulit menggambarkan apakah aku berbisik, bergumam atau berteriak. Lidahku kelu, tidak ada satupun desibel yang terlontar.
Pertanyaan itu terjawab. Aku akhirnya mendengar lantunan al-quran dan merasakan hal klise yang hanya kulihat di komik komik jepang. Aku melayang, benar benar melayang. Bisa kulihat aku yang terbujur tengah diarak, menuju liang kuburan. Ah! Itu Dimas, Irfan, Rahma, Qonita.. aku mulai mengingat ingat wajah yang melingkar di tepi tanah basah berlubangi itu.
Sayang, tidak ada yang berurai airmata. Sembabpun tidak. Mereka hanyalah kawan sekolah dulu, yang bahkan tidak tau apa nama belakangku. Aku terus menengok ke bawah, mencari wajah wajah yang basah. Ibu, ayah, kakak. Ah, rupanya mereka masih sayang padaku.
Atau jangan jangan mereka menangisi masalah yang kutinggalkan? Aku teringat anak kecil bersepeda yang kuhantam ketika meregang nyawa. Tiba tiba semuanya menjadi flashback. Bentakan bentakanku pada mereka, tuntutan tuntutan yang terkadang tak tercerna logika. Semuanya berputar, menyisakan sedikit pilu di sudut pikiranku. Semacam menyesal.
Tiba tiba aku merasakan tarikan yang kuat, dari belakang. Tepat ketika aku menyatakan menyesal. Punggungku seperti terbakar, panas. Tarikan itu tak kunjung berhenti, lapis demi lapis awan kulewati. Pandangan akan tanah pemakaman kian mengabur, meninggalkan titik kecil yang kian lama kian menghilang.
Seakan gravitasi terbalik, aku yang sedari tadi ditarik ke atas tiba tiba jatuh ke bawah. Terjerembab. Aku melihat batu batu raksasa bertumpuk. Tebing curam, langit yang merah dan bulan – atau matahari- bergumpal, satu, dua.. lima jumlahnya. Aku berpijak pada tanah, yang entah mengapa begitu liat, seakan mengisap. Aku yang sedari kecil terintegrasi dengan doktrin surga-neraka langsung berasumsi apa yang kulihat sekarang bukan surga.
Gambaran fisik surga yang kukenal adalah lautan madu dengan ribuan bidadari. Lamunan itu buyar ketika sesosok hitam menghampiriku. Pikiranku melayang pada sebuah komik mengenai shinigami, dewa kematian. Ia berjubah hitam panjang. Dengan wajah yang hampa, hanya ada hamparan lubang hitam di tempat seharusnya wajah sosok ini berada.
“Imelda Ningrum?” suaranya berat, mengingatkanku pada seorang penyanyi bariton yang kerap tampil di televisi.
“I. iya,” kurasakan dingin yang amat sangat ketika makhluk tak berwajah ini menatapku.
Ia lantas menjentikkan jarinya –atau sesuatu mirip jari- yang panjang kurus berwarna kelabu. Sebuah perkamen melayang mendekatinya. Aku tersungkur, siapapun dia, ia telah mendorongku dengan sentakan udara dingin. Sosoknya tiba tiba menjadi terlihat begitu tinggi. Lama aku tidak merasakan perasaan ini. Aku merasa takut.
Sosok pekat itu lantas bersuara.
“Kamu akan ke neraka, atas tuduhan bunuh diri,”
Tercekat, aku mencoba mereka kembali proses kematianku. Demi tuhan aku tidak akan melakukan perbuatan pendosa seperti itu.
“Saya tidak bunuh diri!,” sanggahku, namun entah kenapa kurasakan sedikit gentar dalam suara itu.
Ia melebarkan perkamen yang sedari tadi dipegangnya. Kertas itu lantas membentang, menjadi layar raksasa. Di sana, aku melihat hidupku.
Kilatan pertama hadir di kala lebaran, tiga tahun lalu. Layar itu menampilkan aku yang membentak kedua orangtuaku lantaran mereka menolak memberiku uang untuk berlibur. Kulihat aku yang memutuskan tidur selama hari raya, memutus semua telepon kawan yang ingin bertandang.
Ini bukan dosa, wajar aku marah terhadap orangtua yang gagal membahagiakanku itu.
Malaikat kematian itu seakan membaca pikiranku, berdehem pelan dan berkata
“Seperti apa bahagia yang kau mau? Memiliki banyak materi?”
Aku tau itu retoris, namun kujawab juga
“Sejak kecil aku tak pernah dimanjakan. Selepas dewasa aku malah dituntut menafkahi mereka,”
Protesku dijawab dengan kilatan cahaya dari layar.
Tampak sosok ibu ibu yang setengah mati ngeden, sambil sesekali mencengkeram tepian ranjang. Sekali dua ia seperti nyaris pingsan. Akhirnya si bayi keluar, darah menggenang.
Aku merasa jijik, kupalingkan muka.
Lalu seperti menonton film lawas, aku melihat potongan potongan masa kanak kanakku. Namun di sudut pandang lain. Tenyata uang untuk menyekolahkanku di sekolah elit itu berasal dari hasil ayah berhutang. Di layar kulihat terkadang ayah menundukkan wajah, seperti diceramahi oleh si empunya pinjaman.
Juga sesekali melintas sosok ibu yang menghitung uang tengah malam. Serius memandang tombol kalkulator dan menggumam. Uang lantas disisihkan dengan desisan “Kurang lagi..” sesekali.
Lalu muncul aku dua tahun lalu. Saat pulang kerumah dan meminta uang untuk membeli formulir universitas. Wajah kuyu mereka muram, lalu menggeleng lemah. Marah, kubanting televisi empatbelas inci satu satunya milik keluarga kami di ruang tengah. Selepas itu, seminggu aku tak pulang, ngambek dan bermalam di kontrakan kawan.
Saat itu aku fikir mereka tidak memperdulikan rengekanku untuk masuk universitas. Bahkan mencetuskan ultimatum untuk tidak akan pulang kalau permintaanku ditangguhkan.
Yang tidak ku tahu, selama seminggu aku kabur dari rumah, ayah ibu mati matian mencari pinjaman. Namun tak ada yang percaya, hutang menyekolahkanku saja belum lunas. Berbelas pintu menolak ajuan hutang ayah ibuku. Hari ketujuh mereka seakan menyerah, atau malu lantaran keseringan berhutang hingga tak lagi dipercaya. Layar itu menjawab semuanya.
Aku masih menolak kenyataan. Kubilang pada malaikat kematian bahwa ini tidak ada hubungannya dengan bunuh diri.
Ia mengeram, lantas berteriak lantang.
“Dua tahun aku mengawasimu! Dua tahun kamu tidak pulang kerumah orangtuamu!,” suaranya menggelegar, aku kian gentar.
Layar berkedip menampilkan aku yang memenuhi ultimatumku dan minggat ke kota lain. Aku yang kala itu berhasil melamar pekerjaan di sebuah kantor penerbitan mulai bekerja sebagai penulis. Hasilnya bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Tulisanku laku keras, padahal aku hanya menuliskan khayalan khayalanku.
Tentang terlahir di keluarga kaya raya, menjadi anak tunggal kemudian hatuh cinta kepada rekan kerja ayah. Hidup sempurna tokoh utamaku rupanya mengundang minat jutaan remaja. Buku sold out, produser melirikku sebagai penulis naskah sinetron. Rupanya masih banyak anak muda yang gemar berkhayal terlampau tinggi di negara ini.
Lama aku tak pulang, hanya ketika dinyatakan meninggallah pihak penerbit memulangkan jenazahku ke kota kelahiran.
Sayang aku keburu menjadi mayat ketika pulang, sehingga tak tau seperti apa keadaan orangtuaku sekarang.
Lagi lagi layar yang menjawab gumamku.
Sebuah rumah reot terlintas, kedua orangtuaku yang sudah separuh baya, duduk di atas dipan. Sesekali mereka melongok ke jendela. Rupanya longokan itu di arahkan ke sepeda pak pos yang memang lewat setiap hari di depan rumah.
“Mereka menanti tukang pos itu berhenti dan membawa kabar tentangmu,”
Suara malaikat kematian itu kontan meluruhkan hatiku, aneh, sudah matipun tenyata masih bisa menangis.
Bayangkan seperti apa perasaan mereka setelah satu satunya kabar tentangmu yang ditunggu selama dua tahun hanyalah sebuah kematian.
Namun, aku dengan sangat keras kepalanya bersikukuh aku tidak bunuh diri.
“Baik, aku berdosa pada orangtuaku. Aku lalai atas mereka, tapi kenapa aku dianggap bunuh diri??” uraiku.
Malaikat kematian tiba tiba menghilang, pun dengan perkamen-layar tadi.
Hanya sebuah suara yang terdengar, seperti doa, yang lamat lamat kutangkap sebagai suara abah.

“Ya Allah.. anakku telah durhaka. Tidak ada ampunan bagi seorang pendurhaka. Jangan siksa ia dalam pedihmu ya Allah. Biarlah kami anggap dia telah meninggal, asal jangan golongkan ia ke dalam pendurhaka. Dosa bunuh dirinya biarlah kami yang menanggung, anggap ia telah mati agar dosanya terhadap kami tidak lagi bertambah ya Allah,”

Tiba tiba semuanya terasa kedap cahaya.

Tadi malam aku bertemu malaikat kematian,

Begitu tenang duduk disampingku..

Kami berbicara.

Dengan bahasa yang sama dengan angin ketika ia menyapa daun kering di pucuk pohon tua..

Dengan kata yang air sampaikan pada sang hujan..

Semalam aku bertemu malaikat kematian,

Aku bertanya..

“Apa guna kelahiran jika harus ada kematian?”

Malaikat kematian tersenym padaku,

Berkata pelan..

“Apa guna awal jika harus ada akhir?”

Kulayangkan pandanganku pada ribuan bintang di atas kami.

Mengabaikan kepakan distorsi sayap nyamuk di sekitar..

Merasakan embun di rumput basah tempat kami berpijak..

Kembali kusuarakan kata dengan bahasa rumit itu.

“Bukankah yang kekal tak kan menyisakan kesedihan?”

Dia tertawa kali ini,

Memejamkan matanya..

“Lalu apa yang harus kukerjakan jika kekekalan itu abadi?”

Kuteguk kopi yang mulai mendingin..

“Kau senang melihat yang bersedih?”

Dia beranjak berdiri, membenahi jubah hitamnya dari rumput liar.

“Yang bersedih tak tau betapa menyenangkannya kematian itu”

Di antara riuh rendah alunan jangkrik..

Dia pergi.