I’m Barely Bare Because of Bored

Ga tau juga kenapa bikin judul postingan kaya gitu. Kalo disingkat jadi IBBBB noh (err.. so?)

Saya bosenbosenbosenbosenbosenbosen!

Film the Social Network premiere bentar lagi. Pengen nonton -_-

Pengen nontooonnnnnnnnnn!

Ehm. Ini lebay.

Let see my newest picture. Taken on Kamar Hitam. With a bunch of light and few hatred.

Ah.. Saya memang cantik! 😛

Advertisements

Petrus

Ayahku digiring melalui pasar dan selokan

Bau amis menyengat di setiap langkahnya menuju pengadilan

Ayah tak dibela, ayah tak punya daya upaya

Babak belur ayah dihakimi massa,

Diseret tubuh rentanya menuju penjara

Ayahku mencuri

Seekor ayam milik tetangga

Alasannya sederhana, ayah tak lagi bisa bekerja

Tubuhnya sudah renta

Negara ini terlalu buta untuk mengasihaninya

Demi aku agar tak lagi mengeluhkan lapar padanya

Maka ayah berdarah-darah kakinya terinjak beling di belakang kandang ayam tetangga

Bukan ayam bangkok, pejantan atau bekisar yang mahal harganya

Hanya ayam buras biasa, putih warnanya

Ditenteng ayah menengahi adzan subuh yang mulai bergema

Kami senang, emak memasak dengan riang, ayah ke mushola menghadap tuhan

Di subuh buta pula ayah dihajar masa, darah dikakinya berlipat banyaknya


Ayah telah pulang dari penjara

3 tahun lamanya

Beliau tak berubah, tetap sayang padaku

Hanya saja tubuhnya telah dirajah paksa oleh sipir penjara

DS 1098 NK tercetak di lengannya

Ayah bilang itulah identitas narapidana

Tubuh rentanya semakin tirus

Semakin kurus

Suatu senja

Kampung kami di kunjungi para bertopeng rajut warna hitam bersenjata

Bersenapan

Mereka geledah semua rumah

Mencari pengkhianat bangsa

Atau dalam versi mereka

Memburu mereka para pengancam kedudukan mutlak presiden negara

Ayah memintaku bersembunyi di bawah meja

Mereka masuk ke bilik kami

Seorang bertopeng rajut hitam todongkan senjata pada ayah

Sebuah suara letusan sederhana membuatku menjadi yatim selamanya

Ayah jatuh berdegum ke lantai tanah

Kaku tubuh tirusnya bersimbah darah

Seorang bertopeng berteriak pada kawanannya

“Dia Bertato! Dia Dalangnya!”

Rusnani Anwar, dalam sebuah malam, Agustus silam.

*petrus, sisa-sisa kesejahteraan

Sajak Tiga

Aku Datang Menjelang,
Mencentang Gamang,
Lalu Perlahan Menghilang…

Berdiri Disini.
Merentang Sepi,
Lantas Pergi Tak Berperi.

Menjadi Ada,
Mengemban Tiada.
Ada Aku Ingin Jadi Tiada.

Bertuak Asa
Mencandu Rasa.
Kamu Bagai Heroin Raksasa.

Direntas Kabut
Menyulam Kalut
Tak Payah Kau Kusebut.

Mencinta Gelap
Mencerca Terang
Lama Pengap Kau Tak Juga Hilang.

Menyusup Angin
Gerogoti Dingin
Hilang Peluh Kusibak Ingin.

Menjadi Aku.
Menjadi Ada.
Menyusup Angin.

Ada Aku Menjadi Angin.

Rusnani Anwar, sebuah sore, suatu Sabtu.

Silogisme

Dunia kita terbagi atas tatanan benar salah.
Atas simpulan pragmatis dengan dogma dosa-pahala
Atas destinasi surga neraka.
Dengan doktrin hitam putih.
Berkebalikan, berkesimpulan.

Nilai-nilai moral yang di junjung adalah dengan menjadi sama maka manusia akan bahagia dunia akhirat
Dengan tertata maka dunia akan damai sentosa
Dengan menata maka akan ada seorang pemimpin yang berkelayakan untuk mengatur kita semua

Lalu dibangunlah sebuah negara dengan konstitusi luar biasa
Dengan undang-undang dan pasal-pasalnya.
Menjadi putih berarti warga yang baik,
Menjadi hitam berarti sebuah penyangkalan atas konkritas suatu tatanan sempurna
Berkebalikan, berkesimpulan.

Lalu bagaimana yang dengan yang mendobrak batasan dan memilih tidak menjadi apa-apa?
Menjadi abu-abu misalnya.
Bauran warna dari solidnya hitam-putih
Atau menjadi banci misalnya
Probabilitas opsi lain atas doktrin pria-wanita

Salah?

Bagaimana bisa.
Ia bauran dari dosa dan pahala.
Jadi, yang manakah kita?

Rusnani Anwar, dalam sebuah kebimbangan.

Cruelty

Saya, menghabiskan banyak waktu untuk membaca jejak sejarah Indonesia yang berdarah. Satu dari sekian tetes darah yang tercetak menjadi jejak itu adalah Insiden Dili. Pemerintah mencoba memperhalus perbahasaannya menjadi Insiden. However, universe already know it as Butchered.

Pembantaian Dili.

Ini yang saya temukan dalam buku Saksi Mata milik Seno Gumira :

Kalimat ini, ada di dalam cerpen Kepala di Pagar Da Silva.

Saya jadi berimajinasi. Mereka reka, apa ini nyata atau hanya fiksi -layaknya kebanyakan cerpen- Atau, memang ada semacam kekejian seperti itu di masa lalu. Membaca ini, saya jadi teringat kala kerusuhan Sampit, 2001 silam. Berdesakkan dalam bak truk, samar saya melihat di perempatan jalan Tidar-Cilikriwut, mayat tanpa kepala, disandarkan ke drum di tengah jalan. Tempat dimana kepala seharusnya berada di ganti dengan bantal.

Dan mayat tanpa kepala itu, dilucuti bajunya, digambari dengan torehan pisau. Dan dipertontonkan. Saya sama sekali tidak mengerti konsep berpikir macam apa yang ‘memperbolehkan’ manusia melakukan hal sekeji itu.

Menurut saya adalah keji, ketika seseorang melakukan pembantaian tanpa menghargai sejarah hidup orang tersebut. Terhukum mati saja langsung dikuburkan dan diurus sesuai agamanya lepas ditembak.

Apa pembenaran atas tindakan seperti itu? Dili, Marsinah, Tanjung Priuk, Pulau Buru, Kedung Ombo dan mungkin jutaan kasus kecil lain yang tak terungkap ke publik terkait kekejian manusia terhadap sesamanya. Saya, sekali lagi sulit menemukan pembenaran atas ini.

Atau mungkin, konsep ‘gelap mata’ benar adanya 🙂

Sulit menemukan siapa/apa yang keji, sebenarnya. Ingin menuding Orba dan Soeharto sebagai dalang dari vandalisme dan pelanggaran HAM di negara ini, sulit rasanya. Soeharto, sama halnya seperti paham komunis, bersifat abstrak. Ia semacam simbol dari sesuatu. Apa Soeharto yang keji? atau pahamnya yang keji? atau justru kepanjangan tangannya yang keji?

Sepertinya, konsep ‘gelap mata’ bukan hanya monopoli orde baru. Kekejian,

cruelty,

Nampaknya memang bersarang dalam pikiran tiap manusia..

Diam

Langkahnya terseok,
meningkahi kucur merah dari lubang menganga di pangkal kakinya
Sesekali ia mengeram, jatuh bersimpuh
Darah masih mengalir, bertambah deras dari lubang telinga
Liurnya menetes, merah juga warnanya, geraham bungsu hingga taring remuk semua
Matanya mengerjap, terik matahari merangsek masuk
Kali ini darah masih di sana, kepalanya tersayat delapan

Nafas memburu, meregang nyawa
Dicengkramnya lengan kiri, melepuh bekas setrika
Wenggini coba menghapus tattonya
Pun tetap jua sepatu lars dan todongan senjata kejutkan pagi
Di sela nafas yang sepenggal sepenggal
Tetes liur bercampur darah dari lidahnya yang dipotong
Menggumam gumam tanpa suara

“Aku takkan mengaku..”

Rusnani Anwar, dalam lesakkan insiden dili milik Seno Gumira

Ke-Benar-an

Betapa sulitnya kebenaran tegak di negeri ini
Pemimpin pemimpin lalim silih berganti
Berserabut menutupi
Lalim pemimpin sebelumnya

Betapa sulitnya mencari pembenaran di negeri ini
Atas tangis para ibu yang kehilangan anak lelakinya
Atas tangis para istri yang ditinggal mati suami

Betapa sulitnya sampaikan kebenaran di negeri ini
Terlampau lama tuli, terlampau lama mengidap penyakit hati
Dengus mendengus, ludah meludah pada onggokan kalimat kebenaran, dikebiri

Betapa sulitnya menjadi benar di negeri ini
Terpapar peluru
Tertikam sangkur tak bertuan
Tercekat racun

Mati

Rusnani Anwar, dalam sebuah resah atas ketiadaan adil
dalam peringatan kematian Munir.