Kami Ini Orang Orang Miskin

Kami ini orang orang miskin, maka kami pasrah saja ketika diludahi.

Kami ini orang orang miskin, maka kami tak peduli pada omong kosongmu tentang visi misi kepemimpinanmu atas negara ini.

Kami ini orang orang miskin, kami menangisi anak anak kami yang tak berkesempatan berpendidikan tinggi.

Kami orang orang miskin, kami bahkan tak mampu kredit panci, karena sejarah keuangan kami buruk sekali.

Kami orang orang miskin, terbiasa pada lapar, pada dingin, dan rasa sakit serta derita bertubi.

Kami orang orang miskin, tak ayal mengumpat, mencaci dan merasa iri pada siapa saja di atas kami.

Kamilah para miskin, kami rawan atheis, kami rawan dijerumuskan pada sistem negara berkedok kaos cantik dan semboyan semboyan basi.

Kami orang miskin, maka kami sangat kuatir anak anak kami kurang gizi.

Kami takut jika besok kami tak berhak lagi atas tanah ini karena para pembesar muak melihat kekumuhan kami.

Ya, hanya karena kekumuhan ini para pembesar memotong nadi kami.

Lapak lapak kami, rumah rumah kami, nafas nafas kami diluluhlantakkan, hanya untuk alasan malu diliat bupati.

Presiden malu pada kami, pembesar benci pada kemiskinan kami, maka kami dihapus dari peta negara ini.

Di gang gang sempit kami lahir, membanting nyawa, lantas mati.

Di atas bantal dan kelambu lusuh yang kau takutkan akan menularimu kutu dan debu, kami berbagi dan bermimpi.

Di dalam mimpimu ada mimpi kami.

Di atas tanah gersang berdebu kami juangkan nafas kami.

Meski pada akhirnya toh terputus juga, para pembesar lagi lagi bilang kami mengotori kota ini.

Kami lantas ditangkap, ditahan, lantas dikeluarkan karena rasio tempat penampungan dan kami berbeda jauh sekali.

Orang orang pintar dan berdasi debatkan kami di majelis majelis tinggi.

Mereka bilang kami ini masalah terbesar bangsa, mereka bilang mereka harus memberantas kemiskinan di negara ini.

Kami menjadi objek, kami menjadi benda mati.

Kami tak dapat bersuara, kami tak mampu memaki.

Enak saja mau memusnahkan kemiskinan di negara ini.

Miskin kan udah jadi tradisi.

Rusnani Anwar, dalam sebuah rindu atas lantunan langit dan hamparan sleeping bag.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s