Karena Kata tak Sekedar Lingua

Saya, dijejali jutaan istilah sastra, kala sekolah dulu. Diksi, koreksio, repetisi, analidip, pleonasme, dan mungkin ribuan istilah lain yang masih terburai di perguruan perguruan tinggi. Tempat yang tak akan sempat saya singgahi.

“Setiap manusia terlahir menjadi kritis, cerdas dan banyak bertanya. Sekolah merusaknya,”

Demikian kutipan kalimat yang saya temukan entah dimana. Saya rasa, entah.

Mungkin benar mungkin salah. Saya rasa sekolah bukan hal yang salah, sistemnya yang perlu di kritisi. Sistem yang memarjinalkan sekolah sehingga berjejalan murid baru dalam satu ruang kelas, berebut bangku. Sistem yang mengajarkan rasa trauma sebagai solusi terbaik penanggulangan kesalahan.

Saya masih ingat, kelas dua SMP. Saya terlahir sebagai seseorang yang lemah berhitung, saya sangat bodoh matematika. Seorang guru matematika, meminta saya maju ke depan kelas untuk menuliskan pekerjaan rumah saya di papan tulis. Dan salah.

Saya, dipaksa berdiri di depan kelas seraya mendengarkan rentetan serapah dari sang guru. Mungkin emosi, mungkin si guru tengah banyak masalah. Saya, dibilang dungu, tak bisa berhitung dan tidak akan sukses bermatematika sampai kapanpun.

Yang paling menyakitkan, seuntai kata.

“Kalau berhitung seperti ini saja tak bisa, jangan sekolah!”

Jujur, sejak itu saya benci matematika. Dan nilai 100 yang saya dapat pada tes selanjutnya hanyalah semacam pembuktian, bahwa saya tak bodoh matematika. Saya hanya tak berminat dengan manipulasi angka.

Sistem ini, saya rasa masih berlanjut hingga generasi pedesaan saat ini.

Saya sebut pedesaan, karena sistem pembelajaran kota-desa sangat berbeda. Di kota, murid tak perlu pontang panting mencari buku pegangan. Tak perlu memfotokopi setiap kali ada ulangan. Dan tak perlu patungan 500 rupiah untuk membayar kertas guru yang di fotokopi.

Well, thanks for 70-30 policy, Soeharto. kami timpang sementara warga Jakarta bisa memiliki segalanya.

Karenanya, saya seperti masih merasa ragu saat ini. Untuk melanjutkan pendidikan.

Apakah saya belajar kelak lantaran saya harus belajar? atau bisakah saya hanya mempelajari hal yang saya sukai?

Bisakah saya menjadi penulis yang baik, dengan mempelajari sastra dan sejarah kebudayaan, tanpa intervensi logaritma dasar dan matematika 101?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s