Boneka Tanah #2

Sedari siang mendung sudah menggelayut. Sesekali hujan, basah. Saya sudah wanti wanti, jangan jangan gelaran musik keras di sanggar bakal sepi. Hujan masih menemani saya ketika pulang siaran, sore jam lima. Prediksi saya meleset, lepas Isya sanggar dipadati massa. Beberapa malah berdiri di luar sanggar. Bukan, bukan lantaran penuh, takut masuk, kata mereka 😀

Dua puluh tiga Oktober, Malam Minggu, satu lagi sejarah musik keras ditorehkan. Jam tujuh malam, saya mendatangi venue. Super bising. Saya tak sempat bertanya urutan penampil. Hanya saja saya tau, dua band yang saya nanti nantikan belum main. Headquarter dan Destroyer. Masing masing dari Palangkaraya dan Sampit.

Bukan bermaksud mengkomparasi, tapi Boneka Tanah #2 lebih terasa lebih masif dan sarat distorsi dibanding gelaran serupa sebelumnya, LokalKarya 15 September silam (baca reviewnya di sini). Mungkin lantaran konsepnya beda kali ya ^^

Boneka Tanah #2 di usung berbentuk parade nonstop musik keras selama rentang 3 sore hingga11 malam. Gempuran punk kental memenuhi rongga dengar selama nyaris delapan jam! Salut untuk Kunjui Entertainment sebagai penyelenggara.

Saya mendengar 20 nama yang akan tampil malam itu. Hanya 14 yang terpublikasi, Mereka adalah:

Revolushit – Banjar Baru

Ronksokan – Banjar Baru

Deafness – Banjar Baru

Bad Simple – Pangkalan Bun

Kadaluarsa – Palangka Raya

The Tenjec – Palangka Raya

Al Chico – Sampit

Headquarter – Palangkaraya

Jalur Ijo – Palangkaraya

MakingLoveintheSky – Sampit

Destroyer – Sampit

Pushink Everyday – Sampit

The Buntard – Sampit

Salmon – Sampit

Big Pim Pim – Sampit

Sisanya mungkin menyusul secara kolektif. Yang pasti, malam itu dahaga saya akan gigs musik keras terbayar. Tuntas! Yang juga menarik adalah acara ini minim publikasi. Hanya sebatas tagging facebook dan mouth to mouth (nulis gini saya kok jadi kebayang napas buatan yak). Tapi jika dilihat dari pengunjung yang datang (non scene), jumlahnya cukup menakjubkan.

Nama nama yang menggempur panggung sendiri benar benar lintas provinsi. Karenanya tidak berlebihan jika saya sebut ini panggung musik keras se Kalselteng. Boneka Tanah #2 tak ubahnya menjadi ajang reuni kawan lama, dan tentu saja, wadah untuk berkenalan dengan kawan kawan baru.

Panggung di dominasi lantunan punk. Mulai dari punk core, straight edge, melodic, punk rock, hingga pure punk merajai di malam itu. Saya hanya sempat meng-capture acara sebentar, tak sampai tiga jam. Masih terlampau lelah lepas tiga hari bergumul nonstop dengan pekerjaan di Sampit-Palangka. Jam 10.30 malam, saya putuskan untuk beranjak. Berat, karena The Buntard tengah meraung di belakang saya. Apa boleh buat, badan sudah tak bisa berkompromi, saya sukses tewas di kasur lepas acara.

Meski hanya sempat menikmati Big Pim Pim, Headquarter, Destroyer, Revolushit, dan Al Chico (Mungkin juga beberapa nama lain yang terlewat, saya masih belum terlalu familiar dengan scene punk kota ini), saya sudah merasa terpuaskan. Terlepas dari berbagai kendala teknis dan segala kekurangan fisik acara, ingin rasanya saya acungi puluhan jempol untuk kawan kawan penyelenggara.

Dan kawan kawan dari luar kota yang sudah sudi memberikan hiburan, kenangan, dan kawan baru bagi kami di Sampit. Terima Kasih! Kita harus bertemu lagi lain kali, di panggung dan gigs selanjutnya!

Band yang saya harapkan tampil, justru batal dengan alasan tak ada drummer. Padahal, Voldeath saya yakini mampu memberi sentuhan lain di gigs ini dengan alunan Burgerkill dan Triviumnya.

Tapi tak apalah, lagu lagu Marjinal, Netral dan Limb Bizkit yang dibawakan malam itu sangat stunning. Pun halnya dengan lagu lagu milik sendiri yang diteriakkan seluruh band malam itu. Distorsi tak berjeda menjejali kuping saya. Kontan, sepanjang jalan pulang saya berkali kali mengindahkan klakson kendaraan lain. Bahasa banjarnya : Bangang wa ai 😀

Di tengah tengah bising penampil, listrik sempat turun dan tak mampu menyala. Dua kali. Tapi pedal drum terus berdentum, tingkah stik masih berpolah di antara simbal. Crowd ber-sing a long menggantikan vokalis yang microphonenya mati. Tetap berpogo, tetap bernyanyi. Saya sangat salut dengan semangat kawan kawan ini. Tak terbayang lelah menembus provinsi pada siang hari dan menghajar panggung malam hari seperti itu.

Well, ini dia satu lagi pentas musik keras di kota Sampit. Kami akan terus bergerak. Cacat musik di kota ini terlampau besar. Kami tak akan kalah besar, kami terus menindas dan bergerak. Semoga saya berkesempatan menikmati gigs serupa, lagi dan lagi.

Hanya ada tiga kata untuk malam itu :

Distorsi, Lonang, dan Kawan Lama!

Lonang : Sejenis minuman keras lokal, terbuat dari air hasil sulingan. Berwarna bening, kerap di campur minuman energi serbuk untuk menambah rasa (atau kamuflase?), harga 0,5 liternya hanya 10-20 ribu. Minum dua liter dijamin mabok, plus kembung.

Ngomong ngomong, kenapa juga saya harus ngejelasin tentang lonang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s