Boneka Tanah #2

Sedari siang mendung sudah menggelayut. Sesekali hujan, basah. Saya sudah wanti wanti, jangan jangan gelaran musik keras di sanggar bakal sepi. Hujan masih menemani saya ketika pulang siaran, sore jam lima. Prediksi saya meleset, lepas Isya sanggar dipadati massa. Beberapa malah berdiri di luar sanggar. Bukan, bukan lantaran penuh, takut masuk, kata mereka 😀

Dua puluh tiga Oktober, Malam Minggu, satu lagi sejarah musik keras ditorehkan. Jam tujuh malam, saya mendatangi venue. Super bising. Saya tak sempat bertanya urutan penampil. Hanya saja saya tau, dua band yang saya nanti nantikan belum main. Headquarter dan Destroyer. Masing masing dari Palangkaraya dan Sampit.

Bukan bermaksud mengkomparasi, tapi Boneka Tanah #2 lebih terasa lebih masif dan sarat distorsi dibanding gelaran serupa sebelumnya, LokalKarya 15 September silam (baca reviewnya di sini). Mungkin lantaran konsepnya beda kali ya ^^

Boneka Tanah #2 di usung berbentuk parade nonstop musik keras selama rentang 3 sore hingga11 malam. Gempuran punk kental memenuhi rongga dengar selama nyaris delapan jam! Salut untuk Kunjui Entertainment sebagai penyelenggara.

Saya mendengar 20 nama yang akan tampil malam itu. Hanya 14 yang terpublikasi, Mereka adalah:

Revolushit – Banjar Baru

Ronksokan – Banjar Baru

Deafness – Banjar Baru

Bad Simple – Pangkalan Bun

Kadaluarsa – Palangka Raya

The Tenjec – Palangka Raya

Al Chico – Sampit

Headquarter – Palangkaraya

Jalur Ijo – Palangkaraya

MakingLoveintheSky – Sampit

Destroyer – Sampit

Pushink Everyday – Sampit

The Buntard – Sampit

Salmon – Sampit

Big Pim Pim – Sampit

Sisanya mungkin menyusul secara kolektif. Yang pasti, malam itu dahaga saya akan gigs musik keras terbayar. Tuntas! Yang juga menarik adalah acara ini minim publikasi. Hanya sebatas tagging facebook dan mouth to mouth (nulis gini saya kok jadi kebayang napas buatan yak). Tapi jika dilihat dari pengunjung yang datang (non scene), jumlahnya cukup menakjubkan.

Nama nama yang menggempur panggung sendiri benar benar lintas provinsi. Karenanya tidak berlebihan jika saya sebut ini panggung musik keras se Kalselteng. Boneka Tanah #2 tak ubahnya menjadi ajang reuni kawan lama, dan tentu saja, wadah untuk berkenalan dengan kawan kawan baru.

Panggung di dominasi lantunan punk. Mulai dari punk core, straight edge, melodic, punk rock, hingga pure punk merajai di malam itu. Saya hanya sempat meng-capture acara sebentar, tak sampai tiga jam. Masih terlampau lelah lepas tiga hari bergumul nonstop dengan pekerjaan di Sampit-Palangka. Jam 10.30 malam, saya putuskan untuk beranjak. Berat, karena The Buntard tengah meraung di belakang saya. Apa boleh buat, badan sudah tak bisa berkompromi, saya sukses tewas di kasur lepas acara.

Meski hanya sempat menikmati Big Pim Pim, Headquarter, Destroyer, Revolushit, dan Al Chico (Mungkin juga beberapa nama lain yang terlewat, saya masih belum terlalu familiar dengan scene punk kota ini), saya sudah merasa terpuaskan. Terlepas dari berbagai kendala teknis dan segala kekurangan fisik acara, ingin rasanya saya acungi puluhan jempol untuk kawan kawan penyelenggara.

Dan kawan kawan dari luar kota yang sudah sudi memberikan hiburan, kenangan, dan kawan baru bagi kami di Sampit. Terima Kasih! Kita harus bertemu lagi lain kali, di panggung dan gigs selanjutnya!

Band yang saya harapkan tampil, justru batal dengan alasan tak ada drummer. Padahal, Voldeath saya yakini mampu memberi sentuhan lain di gigs ini dengan alunan Burgerkill dan Triviumnya.

Tapi tak apalah, lagu lagu Marjinal, Netral dan Limb Bizkit yang dibawakan malam itu sangat stunning. Pun halnya dengan lagu lagu milik sendiri yang diteriakkan seluruh band malam itu. Distorsi tak berjeda menjejali kuping saya. Kontan, sepanjang jalan pulang saya berkali kali mengindahkan klakson kendaraan lain. Bahasa banjarnya : Bangang wa ai 😀

Di tengah tengah bising penampil, listrik sempat turun dan tak mampu menyala. Dua kali. Tapi pedal drum terus berdentum, tingkah stik masih berpolah di antara simbal. Crowd ber-sing a long menggantikan vokalis yang microphonenya mati. Tetap berpogo, tetap bernyanyi. Saya sangat salut dengan semangat kawan kawan ini. Tak terbayang lelah menembus provinsi pada siang hari dan menghajar panggung malam hari seperti itu.

Well, ini dia satu lagi pentas musik keras di kota Sampit. Kami akan terus bergerak. Cacat musik di kota ini terlampau besar. Kami tak akan kalah besar, kami terus menindas dan bergerak. Semoga saya berkesempatan menikmati gigs serupa, lagi dan lagi.

Hanya ada tiga kata untuk malam itu :

Distorsi, Lonang, dan Kawan Lama!

Lonang : Sejenis minuman keras lokal, terbuat dari air hasil sulingan. Berwarna bening, kerap di campur minuman energi serbuk untuk menambah rasa (atau kamuflase?), harga 0,5 liternya hanya 10-20 ribu. Minum dua liter dijamin mabok, plus kembung.

Ngomong ngomong, kenapa juga saya harus ngejelasin tentang lonang?

Apa Kita Akan Menjadi Tua dan Kesepian?

Saya satu mobil bersamanya, saat dalam perjalanan pulang. Usianya mungkin 80 tahun, keturunan China. Sepanjang jalan, beliau sibuk mengoceh dan sesekali mengajak saya berbicara (bukan sesekali juga sih, SERINGkali!)

Beliau bertanya mengenai apa yang saya lakukan di sana. Lantas merembet ke perkara pekerjaan dan apakah saya kuliah. Begitu saya mengatakan saya tidak kuliah. Berbagai nasehatpun dimuntahkan wanita berkacamata itu. Mulai dari saya yang telah menyia nyiakan usia lah, hingga orang tua saya yang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Awalnya, saya sungguh merasa nenek ini annoying. Menyebalkan, cerewet dan terlalu banyak bicara. Sayapun tinggalkan pembicaraan dengan beliau ketika seorang ibu ibu masuk ke dalam mobil. Dari kursi depan, saya menangkap banyak perbincangan dua orang di kursi tengah itu.

Beliau, rupanya orang Surabaya yang tengah mengunjungi anaknya di Palangkaraya. Sayang, di Palangkaraya anak dan menantunya sibuk bekerja hingga tak punya banyak waktu untuk menjamunya. Selang seminggu di Palangkaraya, beliaupun bergerak ke Sampit, mengunjungi anak tertuanya.

Telepon berdering, beliau berkata : “Ama (sebutan untuk nenek dalam literasi China) mau ke Sampit” jeda “Oh ya kah sayang? papah lagi ke Jakarta? ngapain?” jeda “Kamu mau berangkat les? ya udah nanti Ama hubungi mamah kamu aja,”

Mati. Beliaupun kembali mengobrol mengenai sulitnya hidup di Surabaya sendirian sementara anak anak dan keluarga tinggal berjauhan. Suaminya telah meninggal. Anak perempuannya tinggal di New York.

Mobil menepi di Kasongan, seorang pria masuk, terlihat terburu buru. Si nenek bertanya “Kamu orang mana?” pada sang pria. Saya coba menerka kenapa nenek bertanya kesukuan si pria. Sempat terbersit diagnosa rasis dari dalam benak saya. Kemudian saya mengerti, ketika pria itu bilang “Uluh itah”. Artinya, ia cukup kampungan hingga tak mengerti caranya masuk ke barisan belakang mobil (ia ingin lompat ke dalam tanpa menekuk kursi tengah)

Perbincanganpun berlanjut, antara nenek berkacamata dan ibu ibu berjilbab. Si nenek rupanya tengah berkeliling, mengunjungi satu satu keluarganya yang tersebar di mana mana. Yang saya tangkap,

Beliau hanya kesepian

Karenanya sepanjang jalan sibuk berkenalan dan meminta nomor handphone ibu ibu berjilbab. Karenanya sepanjang jalan sibuk mengobrol dan selalu ingin didengarkan.

Ah, betapa mengerikannya menjadi kesepian. Saya jadi berfikir, sepanjang sisa perjalanan itu. Usia kadang menjadi perihal menakutkan. Ketika lahir, tumbuh menjadi bayi, anak anak hingga remaja, semua orang mencurahkan perhatian pada kita. Orangtua dengan segala kekhawatirannya atas pertumbuhan kita. Para guru yang mencemaskan kredibilitas kemampuan berfikir kita.

Tapi apa yang terjadi setelah kita melewati usia remaja? Kita siap dinobatkan menjadi dewasa. Dewasa adalah saat di mana kita di anggap cukup cerdas untuk berfikir dan memilah mana baik mana buruk mana manfaat mana yang tak berfaedah. Karenanya, perhatian atas kita semakin memudar. Kitapun mencari perhatian itu dari lawan jenis.

Di usia dewasa, kitapun merasa memerlukan orang yang bisa memperhatikan kita dan mendengarkan ocehan kita. Karenanya, di usia dewasa, orang orang dewasa memutuskan untuk menikah. Lantas memiliki anak, dan beranjak tua.

Kita, akan sampai pada fase di mana secara perlahan, orang orang yang se usia satu per satu di panggil tuhan. Satu di antara orang itu bisa jadi kawan, tetangga, atau bahkan, orang yang kita putuskan untuk menjalani hidup dengannya. Betapa mengerikannya usia ini. Kita menunggu, menunggu waktu.

Sambil mengulur ulur dan menunggu, orang orang yang dulu memberikan perhatian, menghilang. Anak anak kita? cucu cucu kita? bagaimana?

Di usia ini, kita akan menyadari bahwa kita ini tidak lebih dari sesosok tua pengganggu yang banyak mengoceh. Perlahan kita menjadi pikun, tak mampu bergerak bebas, menjadi beban.

Tak lebih menjadi renta yang menjadi beban anak menantu, kesepian, dan menunggu waktu.

Foto saya temukan di Kaskus, dalam perbincangan bersama agan agan, ditemani cendol dan petromax.

Air, Udara, Apa Kami Punya?

Siang itu panas memanggang

Kampungku lengang

Udara gerah

Lenguh mendesah

Gerombol kambing kurus

Merumput di lapangan tak terurus

Sela menyela, gerutu wanita paruh baya

Menatap langit kian biru menganga

Panas

Tercenung, anak anak legam berpeluh campur daki

Terancam tak mandi lagi hari ini

Pun tetap dikejarnya layangan, berdebu, bertelanjang kaki

Drum drum kaleng kosong

PDAM mendengus tiap kali dirongrong

Mengapa air kami diberangus

Dijawab masa tenggang telah hangus

Peluh menetes, kemarau masih singgah

Drum drum kaleng kosong, menelan ludah

Kapan hujan datang?

Kami lelah.

(Foto musim kemarau 2009. Stadiun 29 November, Sampit Expo)

Wiji Thukul – Aku Ingin Jadi Peluru

Nama Wiji Thukul pertama kali saya dengar bertahun lalu. Saat kelas satu SMA, kalau tak salah. Di dalam buku Membedah Kesusastraan (atau apa judul tepatnya, lupa). Seingat saya, nama Wiji Thukul dikategorikan ke dalam sastra kerakyatan dalam buku itu. Sastra kerakyatan, adalah tulisan tulisan pro rakyat dan kerap mengambil tema umum di masyarakat.

Kemiskinan.

Saya sendiri, baru berkesempatan membaca buku kumpulan puisi miliknya (Aku Ingin Menjadi Peluru) yang terbit tahun 2000 itu pada bulan lalu. Sepuluh tahun terlambat. Itupun kalau tidak seorang kawan menjualnya di pasar buku Facebook miliknya, niscaya saya tak akan pernah menyesapi keluarbiasaan buku ini (deuh lebay pisannn)

Tak perlu rasanya saya tulis mengenai biografi Wiji Tukul di postingan ini. Dunia sastra Indonesia tidak mungkin asing dengan namanya. Saya cuma ingin membagi kesan kesan saya lepas membaca buku ini.

Ada lebih dari belasan line yang saya suka dari buku ini. Secara personal, saya menyukai keseluruhan buku. Entah ada hubungan dengan kegemaran saya menulis sajak sajak getir khas orang miskin, atau memang buku ini memiliki magnitude besar yang tak pelak membuat siapapun penikmatnya suka.

Salah satu kalimat yang (jujur saja) membuat saya sedih tak karuan adalah

“Aku tak akan mengakui kesalahanku

Karena berfikir merdeka bukanlah kesalahan

Bukan dosa bukan aib bukan cacat

yang harus disembunyikan”

Merontokkan Pidato – Wiji Thukul

Betapa mengerikannya pemerintahan kala itu (tulisan berkisar antara tahun 80-90an awal). Betapa karya sastra (pun sastrawan) semacam menjadi momok kala itu. Wiji Thukul adalah penulis sajak! sajak bukan essai bukan pledoi yang bisa menumbangkan seseorang. Sajak, kemudian dicetuskan sebagai karya sastra berbasis fiksi. Negara, takut terhadap fiksi, sungguh perilaku banci.

Tapi tak bisa dipungkiri, perjuangan melalui sastra dianggap paling ampuh untuk menggalang massa kala itu. Betapa banyak orasi mahasiswa yang di ‘produseri’ puisi dan sajak berapi api. Kala itu, pers yang dianggap vokal turut di bredel (editor, detik, tempo). Kumpulan puisi ini, konon ditulis Wiji saat dia dalam pelarian.

Hingga akhirnya, tahun 1996, ia diputuskan sebagai ‘Yang Hilang Secara Misterius’. Ia menjadi buron lantaran berpuisi. Bukti bahwa pemerintahan kala itu sungguh paranoia dan obsesif gila gilaan terhadap kekuasaan. Dan betapa mengerikannya pelanggaran HAM yang meraja kala itu. Orba, bagaimanapun merupakan bagian dari sejarah kelam perpolitikkan bangsa.

Hmm.. mungkin yang juga menarik dari Wiji adalah kejeniusannya memutar kata dan menemukan banyak hook hook menarik dalam sajaknya. Satir, getir, pahitnya kemiskinan disulap menjadi sebuah pasar malam. Penuh hiburan (dengan perpseksi miskin, tentu saja) dan rasa tergelitik untuk turut menertawakan pemerintah. Juga, tentu saja, pembangkit semangat juang nomor wahid. Mengurai kemiskinan tanpa menimbulkan kesan cengeng dan mengada ada.

Juang lepas dari miskin, Juang lepas dari pemimpin zalim.

PENGUASA KEMBALIKAN BAPAKKU!

Fitri Nganthi Wani – Putri Wiji Thukul dalam puisi Pulanglah, Pak

P.S : Masih menghasrati Nagabumi – Seno Gumira Ajidharma dan Tanah Tabu-nya Anindhita S. Juga Pledoi Sastra Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin. Ah saya ini banyak maunya!

Suatu Ketika, di Pedalaman Kalimantan

Selong adalah anak rimba Kalimantan

Ayahnya kepala suku

Selong, berusia 10 tahun. Usia di mana kawan kawan seusianya sibu belajar membaca, menulis dan mengaji, di kota

Selong, putra dayak asli yang akan menjaga sukunya, suatu saat kelak

Badannya legam, sangat pandai berburu

Babi hutan, anjing hingga kijang pernah ditangkapnya

Selong, membuat ayahnya bangga

Suatu hari, segerombol orang pintar menyambangi sukunya

Orang orang pintar dari kota

Mendirikan bilik dan menamainya sekolah

Anak anak seusia Selong diajari membaca, menulis dan bernyanyi

Selong, baru mengenal moral, logika, dan berkasih kasihan

Lepas bertahun Selong sekolah

Ia kini tak lagi gemar berburu

Bocah itu kini senang membaca buku

Ayahnya murka kala Selong menolak berburu lantaran tak tega

Ibunya mengaduh kala melihat Selong kini senang berdiam di rumah dan sesekali bernyanyi

Sore itu, sekolah bilik hilang menjadi abu

“Kita gagal lagi” Gumam pria bersafari

Ayah Selong naik pitam, anaknya berubah menjadi banci

Seruan Ela Mahaur Itah! menderu deru

Mengubur cita cita Selong menjadi guru

Foto diambil dengan kamera pinjaman.

Somewhere at Puring river, Antang Kalang.


Ela Mahaur Itah : Jangan ganggu kami

Sakula : Sekolah

Seringai di Java Rocking Land 2010

Saya sempat guling guling sebel lantaran ga bisa ngakses JRL streaming via internet seperti taun lalu. Ditambah dengan serunya kawan kawan twitter ngobrolin hal ini, saya makin iri. Konsepnya sama aja kali ya, kayak taun taun sebelumnya. Digeber tiga hari tiga malam, dengan deretan nama band keras, dan dengan tiket seharga satu hektar tanah di kampung saya.

Seringai, saya sedari dulu suka kagum dengan pergerakan yang dilakukan band ini. Terutama Arian13, sang vokal. Di twitter, @aparatmati saya sering menemukan kalimat kalimat satir yang dilontarkan oleh pria berkacamata ini (terakhir yang saya dengar mereka dipanggil polisi lantaran menerbitkan kaos)

Well, meski menurut saya pribadi, kadang protes sosial yang mereka lakukan (saya ga tau nih, suara suara vokal itu dilontarkan Arian sebagai persona atau Arian sebagai lead Seringai) sedikit berlebihan. Misal, ketika tampil di Java Rocking Land, sebagai orasi Arian menyebut nyebut Tifatul Sembiring sebagai ‘abege’ lantaran si menteri itu doyan maen twitter.

Dan menyebut partai keadilan sejahtera (PKS) sucks, kemudian menyebut partai itu berorientasi pada Arab de el el. Juga ucapannya untuk memaknai kasus Playboy. Pengertian pornografi yang ia maksud mengacu ke pengertian pornografi barat.

Entah, sayapun masih gamang menyikapi pornografi di Indonesia. (Oh ya, sekedar ngasi tau, sekarang lagi musimnya produksi film sampah di indonesia. berkedok horor, isinya mesum. Herannya, bisa lolos lembaga sensor).

Overall, dibalik orasi yang menurut saya hanya mengumbar kata kata heboh itu, Arian sangat attractive. Saya mulai mengikuti kiprah band rock asal Jakarta itu sejak mendengar album Serigala Militia. Lagu berhenti di 15 nampaknya susah ilang dari kepala saya.

Yang terakhir, rilis di taun 2004, judulnya High Oktane Rock kalo ga salah. Saya cuma download beberapa lagu di album ini. Maap sudah nge-hi jack lagunya yah, di Sampit gada yang jual kasetnya -_-

Citra Natural menjadi andalan saya di album itu. Bahwa ada semacam pencitraan media terhadap sosok ‘perempuan seharusnya’. Yang cantik adalah yang kurus, kulit putih mulus dan rambut lurus panjang. Setuju, perempuan cantik tidak harus mengikuti citra media. (saya emosi, soalnya saya gendut, kulit gosong belang belang dan keriting kruwel kruwel sejak lahir) 😀

Oh ya, ini dia penampilan Seringai di JRL 2010. Dengan lagu Tifatulnya. However, I still love you, Arian. And also Tifatul 😛

//www.youtube.com/get_player

Orasinya kagak nahan!

Karinding Attack di MTV

Baru saja saya mendapat kiriman video dari seorang kawan lama di ujung sana.
Rekaman shownya di MTV.
Sebenarnya saya sendiri sudah wanti-wanti buat sedikit nyelipin waktu dan nonton dia di tipi, Senin lalu. Tapi, seperti biasa, penyakit lama menyapa saya. Lupa!
Saya ikut rapat, lantas tersadar di tengah jalan, perkara dipecat kalau keluar ruangan.
Bos : “Ngapain kamu keluar?,”
Saya : “Mau nonton tipi, abisnya si Bos ngomongnya bikin bosen!,”
Perkara dibunuh idup-idup.
Kecewa berat, sayapun merengek-rengek minta dikirimin rekamannya. Selang menit, sebuah link mampir ke wall pesbuk saya. Perlu waktu setengah jam buat ngedownloadnya. Kecepatan 54.0 Mbps.
Jeng jeng, kelar donlot, masih belum bisa nonton, kebut siaran.
Barusan saya nonton. And damn, I Gonna Love It!!!
Klip kolaborasi antara Burgerkill, Karat, dan Fadli Padi.
Saya bukan seseorang yang sangat paham tentang musik.
Oke, make it simple.
Saya SAMA SEKALI nggak paham tentang musik. Saya ga ngerti tempo, irama, aliran, subgenre, teknik, de el el de es te.
Tapi saya benar-benar jatuh cinta dengan klip ini, mungkin karena:
1. Saya sangat suka lagunya
2. Saya sangat suka sama Burgerkill
3. Saya sangat suka sama Eben
4. Saya sangat suka sama Fadli
5. Nggak, saya sebenarnya ga suka sama MTV
Lagu Tiga Titik Hitam yang sempat bikin saya mendadak ga napsu hidup setelah mendengarnya beberapa tahun lalu dibawakan dengan sangat apik selama tujuh menit.
Ya, hanya tujuh menit dan berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati.
nuansa sakral menyelimuti seluruh lagu, saya tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata lain selan sakral.
sekali lagi, saya hanyalah seorang awam dalam dunia musik.
saya menangkapnya seperti mereka sedang berkomunikasi dengan ‘sesuatu’.
entah, mungkin tuhan, begitu hanyut saya terbawa, masing-masing pemain seakan tenggelam dengan tingkah alat musik yang mereka hajar.
sayapun hanya bisa ber “oo” dalam hati,
“Jadi itu yah, namanya celempung”
“Ooo, itu yang namanya karinding,”
jatuh cinta dengan kebudayaan mereka.
mungkin juga lantaran MTV sedang mengusung konsep baru, akhir-akhir ini saya melihat tipi. mereka hadir dengan konsep backstage, berantakan tapi nyeni.
hihi, ga ngerti deh, tapi yang jelas, klipnya menghipnotis.
kalo kata anak gaul sih..
TOP ABEZZ!
😀

Mbok Nah

Pagi pagi mbok Nah sudah sibuk dengan keranjang keranjang sayurnya, sepeda tuanya berderit derit mengangkut beban, pelan mbok Nah mengayuh sepedanya, beliau takut rantainya putus lagi seperti kemarin, setiap hari seperti ini, mengayuh pelan menyusuri ladang.
Jam 3 subuh mbok Nah sampai di pasar, peluhnya mengucur di tubuhnya yang sudah uzur, rapuh tergerus zaman, perjalanan 4 kilometer mengayuh sepeda berbeban keranjang sayur yang sarat sampai nyaris terseret seret di aspal jalan bukanlah hal ringan, ditambah lagi asam urat yang membayangi usia senjanya.
Mbok Nah langsung menuju halaman pasar, mbok tak punya banyak uang untuk mendirikan tenda sebagai tempatnya berdagang sayur, hanya lapak biasa, tanpa tenda, beralaskan karung gabah yang gatalnya luar biasa, menghantui kulit rentanya sepanjang siang yang terik ini. Tadi subuh, mbok nah terpaksa membayar seorang kuli untuk mengangkut keranjangnya menuju lapak, terlalu berat untuk tubuh ringkihnya, sementara jika diseret seperti hari kemarin, mbok Nah takut sayurnya rusak, terbatuk batuk mbok Nah mengikuti langkah kuli yang terseok.
Hingga siang hanya sayur bayam yang dilirik pelanggan, mungkin karena ini sayur sisa kemarin yang tak habis terjual, sehingga kurang segar, mbok Nah tak punya kulkas, sayurnya layu, meski sudah di diskon habis habisan, tetpa saja tak ada yang mau membeli, azan lohor berkumandang.
Mbok Nah menitipkan lapaknya pada seorang cacat peminta minta, mereka senasib, hanya saja mbok Nah merasa beruntung, beliau masih memiliki kaki untuk mengayuh sepeda tuanya. Lepas sholat di langgar terdekat, mbok Nah duduk sejenak di beranda langgar, beliau membuka tas karungnya, membuka bekal, nasi jagung lauk tempe, tampak lahap beliau mengunyah nasi yang sudah tak relevan lagi dengan kekuatan gigi mbok Nah mengunyah, alot tak keruan rasa.
Sebenarnya untung hari ini cukup untuk sekedar membeli nasi uduk di warung yu Gina, tapi mbok teringat pada Ayu, anaknya yang sebentar hari ini lulus SMA, Ayu pasti senang jika nanti mbok pulang membawakan nasi uduk kesukaannya, mbok Nah mengalah, nasi jagung pun cukuplah baginya.
Bunyi deru motor dan sorak sorai terdengar dari kejauhan, anak anak berseragam putih abu menguak kerumunan jalan, segerombolan anak SMA itu berteriak selepas lepasnya, mengumandangkan satu noktah yang bermakna ribuan bahagia, lulus!!!!!, seragam mereka sudah tak karu karuan rupa, merah hijau aneka warna, peluh pun terlihat tak segan menetes di sela sela coretan baju mereka, tapi mereka tak peduli, biar semua penduduk israel masuk islampun mereka tak perduli, mereka terllu gembira, euforia memenuhi pasar di siang terik itu.
Sepanjang sore mbok Nah tak henti henti tersenyum, hatinya membuncah, senang luar biasa tak terbayang rasa, hari ini pengumuman kelulusan Ayu, terbayang oleh mbok Nah Ayu adalah salah satu dari anak anak yang merayakan kelulusan tadi, mbok nahpun membayangkan Ayu yang sudah lulus dan bakerja dengan pekerjaan yang lebih baik, Ayu ingin menjadi pramuniaga supermarket di kota, dekat dengan pasar tempat mbok berjualan. Terpicing mata mbok Nah memandang bangunan 4 lantai di arah barat, luapan gembira memenuhi hatinya, “nanti kalau Ayu sudah kerja, ibu ndak perlu jualan sayur lagi, biar Ayu yang biayai ibu”, terasa menitik airmata mbok Nah jika mengingat kata kata ayu saat itu.
Jam 5 sore, mbok mulai membenahi lapak karungnya, dilipat lipat sekenanya, keranjangpun diletakkan seadanya, beliau begitu ingin pulang, begitu ingin memeluk Ayu dan memberikan nasi uduk kesukaannya sebagai hadiah kelulusan. Asam urat beliau sebenarnya mulai kambuh ketika mbok Nah memaksakan mengayuh sepeda sekuat itu, perjalanan naik turun bukit tak memudahkan beliau mengayuh sepeda dengan cepat. Tapi mbok tak peduli, beliau begitu ingin segera pulang dan menemui Ayu.
Sepanjang perjalanan mbok teringat akan pertengkaran hebat Ayu dan almarhum ayahnya 3 tahun lalu, ketika Ayu lulus SMP, ayahnya begitu gigih ingin menikahkan ayu dengan pemilik kebun tempat ayah dan ibunya meladang selama ini. Ayu histeris, Ia tak ingin hidupya berakhir seperti lastri kakaknya yang menikah di usia 16 tahun, seperti usianya saat itu, ayahnya yang sakit sakitan sudah tak mampu menyewa tanah untuk meladang, jika Ayu menikah dengan anak juragan, setidaknya ayahnya terlepas dari beban satu mulut sebagai tanggungan, lebih lebih, siapa tau nanti Ayu dikasih mas kawin tanah kebun itu.
Airmat a mbok Nah menetes pelan disela keringatnya jika mengingat kejadian itu, suaminya meninggal 2 minggu berselang setelah kejadian itu, radang paru paru yang mendera tubuh tuanya tak lagi mampu beliau tangguhkan, Ayu menyesal saat itu, Ayu sempat menyesal menolak menikah dengan anak juragan, juragan yang pinangan anaknya ditolak, merasa marah dan memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang waktu penyewaan ladang, ayah Ayu tak sempat dibawa ke puskesmas, tak ada biaya, ayahnya dirawat dirumah, si juragan tak mau tau, selagi ayah Ayu meregang nyawa, habis habisan ayah Ayu dicela, dikata katai sebagai orang melarat yang sok, yang tak tau malu menolak pinangan anak juragan, utang utang ayahpun ditagih habis habisan, ayah Ayu meninggal setelah si juragan itu pulang.
Ayu tak bisa dan tak mungkin bisa membenci ayahnya, ayahnya berbalik mendukung ayu untuk menolak lamaran itu. Ayu jelaskan pada ayahnya, Ayu dapat beasiswa untuk masuk SMA, beasiswa penuh, Ayu jelaskan pada ayahnya tentang kemungkinan kemungkinan Ayu akan mendapat pekerjaan yang lebih baik nantinya jika ia memiliki ijazah SMA, Ayu hanya tak inginkan hidup dengan pola sumur-dapur-kasur seperti Lastri kakaknya yang sudah beranak lima. Ayupun bercitacita ingin kuliah jika nanti dapat pekerjaan, selepas lulus SMA.
Mbok Nah ingin teriak rasanya, untuk menggambarkan kebahagiaan hatinya, pelan beliau berbisik di sela sela derit sepedanya, “kang, anakmu Ayu lulus SMA hari ini, akang tak perlu kuatir lagi, sudah ada Ayu yang akan menggantikan saya bekerja”, menetes lagi airmata beliau, terasa berkelebat bayang kang Aryo, suaminya yang menemaninya selama 50 tahun lebih, mengayuh usia bersama.
Lepas maghrib mbok Nah tiba di rumah, rumahnya gelap, pelita belum dinyalakan, “mungkin Ayu belum pulang”, bisik mbok Nah pelan, biasanya beliau akan marah jika Ayu belum pulang hingga senja, namun hari ini beliau memakluminya, wajar jika Ayu ingin merayakan kelulusannya bersama teman temannya. Usai memasukkan sepedanya ke dalam kandang kambing kosong yang penghuninya habis dijual untuk biaya pemakaman dan bayar utang, mbok Nah menuju dapur, mengambil piring, meletakkan nasi uduk dan membuat teh manis buat Ayu. “ah, ditaruh dikamarnya Ayu saja, siapa tau nanti pas dia pulang saya sudah tidur”, gumam mbok Nah.
Bumi serasa lepas dari porosnya ketika mbok Nah menyibak tirai kamar Ayu, ya, Ayu sudah pulang dari tadi, hanya saja, lehernya terjerat tali, tergantung di kisi kisi atap rumah, ia masih berseragam, hanya saja seragamnya bersih,tanpa coretan apa apa, mukanya pucat pasi, nampak sudah mati.
Menjelang isya, rumah mbok Nah ramai sekali, para tetangga, polisi, ambulans dan kuli tinta lalu lalang di sekitar mbok Nah, mbok Nah hanya diam, beliau tidak menangis, hanya diam, tangannya menggenggam bungkusan nasi uduk, teh manis sudah tumpah, teman teman sekolah Ayu berdatangan, semua mengatakan mustahil, guru guru pun demikian, semua bilang Ayu adalah anak berprestasi, anak dengan disiplin tinggi serta sangat rajin sekali. Dalam hati mbok Nah mengiyakan, tak satupun bayangan tentang Ayu yang tidak lulus sempat beliau pikirkan seharian ini. Ayu anak yang pandai sekali.
Para tetangga bilang, nilai ijazah Ayu ditukar dengan nilai Somad, anak kepala desa yang baru baru ini menyumbang sebuah WC untuk sekolah Ayu, mbok Nah tentu marah, Somad yang luar biasa nakalnya itu, konon memiliki nilai kelulusan tertinggi. Tapi mbok Nah hanya diam, memaki pun takkan menghidupkan Ayu kembali. Teriak pun takkan mengubah ijazah Ayu. Ya, Ayu sang murid besiswa tak lulus SMA, ibunya tak mampu berbuat apa apa, habis sudah cita citanya.

2 hari telah berselang.
mbok Nah kembali mengayuh sepeda menyusuri ladang.
Sepeda tua sarat muatan di keranjang.
Menemaninya hingga subuh menjelang.
Ya, Ayu sang murid besiswa tak lulus SMA.
ibunya tak mampu berbuat apa apa.
habis sudah cita citanya.

Intoleransi dan Pekaknya Negara Ini

Saya terlibat sebuah perbincangan dengan kawan lama, via Yahoo Messenger, tadi malam. Ia, kurang lebih mengomentari postingan saya mengenai pembredelan majalah playboy dan pembubaran FPI yang saya tulis disini. Kawan saya ini merupakan mahasiswa salah satu perguruan islam negeri di kawasan Jawa Timur.
Ia, menjabarkan bahwa di agama manapun, terutama islam, sama sekali tidak pernah menyetujui (baca: menghalalkan) pornografi. Itu merupakan bid’ah, zinah mata, dan dosa.
Baik, saya pernah menuntut ilmu di sekolah islami, bahkan sempat mondok beberapa bulan. Saya, setuju sepenuhnya mengenai pernyataan kawan saya itu. Bahwa tidak pernah dalam agama manapun, pornografi diperbolehkan. Dan saya mencoba menjaga perasaannya sebagai akhwan. Karenanya malam itu, saya menyetujui saja segala perkataannya.
FPI, menurutnya adalah representasi dari masyarakat muslim Indonesia. Namanya saja sudah sangat jelas, Front Pembela Islam. Maka mereka akan jihad fi sabbillillah untuk membela Islam. Saya mengerti hingga di sisi ini.
Saya lantas bertanya padanya, adakah dalil dalam agama yang memperbolehkan pejuangnya merusak rumah ibadat agama lain, mencekal orang lain beribadah sesuai keyakinannya dan membredel hal hal yang dipandang haram oleh sudut pandang Islam?
Ia, menjelaskannya dengan banyak huruf arab dan kutipan kutipan hadist. Antara lain menerangkan mengenai berbagai perang di zaman nabi, yang intinya memerangi kaum kafir. Tentang betapa banyaknya syuhada yang meninggal kala itu untuk menegakkan kebenaran agama.
Saya terdiam, cukup lama.
Ya, bukankah merupakan kewajiban setiap muslim untuk mencegah kemunkaran? Dan berdosa seorang muslim jika membiarkan hal hal yang dilarang agama ditunaikan.
Lepas tercenung, dia mengagetkan saya dengan dengungan buzz. Saya tersenyum, dan menjawab :
“Maafkan saya, afwan. Nampaknya saya telah khilaf dan meragukan betapa kuatnya keislaman di negara kita. Saya pamit, ingin tidur. Assalamualaikum.”
Saya lantas kembali tenggelam dalam buku islam favorit saya, The Road To Allah milik Jalaludin Rakhmat. Semacam mencari pembenaran, saya baca habis buku itu hingga menjelang subuh.
“Jika seseorang jatuh cinta, ia akan lakukan apapun untuk dia yang dicinta. Demi menyenangkan hatinya, demi membahagiakan dia yang dicinta. Seperti itulah seharusnya hubungan umat dan tuhannya. Cinta”
Begitu kira kira esensi buku setebal 335 halaman itu. Sayapun berhusnuzon, berprasangka baik pada FPI. Mereka hanya umat yang sangat mencintai tuhannya hingga kerap tak menggunakan rasionalitas dalam mencerca kesalahan agama yang terjadi.
Saya (akan) setuju dengan tindakan FPI.
Dengan catatan, JIKA ini negara Islam. Saya tak akan banyak kata jika ini merupakan Lebanon, Afganistan atau Mekkah. Meski islam merupakan agama mayoritas di negara ini, bukan berarti lantas kita bisa menyuarakan bahwa Indonesia merupakan negara islam.
Kita merupakan negara berazaskan pancasila.
Kita merupakan negara dengan landasan hukum berupa Undang Undang.
Kita negara dengan presiden sebagai pemimpinnya.
Kita negara dengan ideologi demokrasi.
Bukan alquran, bukan hadist, bukan fiqh yang menjadi acuan dalam mengambil keputusan untuk negara ini.
Maaf, sekali lagi saya tidak berniat menjatuhkan nama islam. Saya hanya ingin menegaskan bahwa islam bukan agama radikal yang lepas pendidikan.

“Agama tanpa ilmu, apa jadinya?”

Kembali ke masalah negara. Maka ketika Indonesia telah dinoktahkan sebagai negara dengan lima agama yang diakui di dalamnya, gugurlah kewajiban saya untuk bertindak di luar batas untuk mengatakan ‘anda salah’ pada setiap warga diluar keyakinan saya.
Saya, dibatasi oleh toleransi.
T-o-l-e-r-a-n-s-i. (ngambil gitar, nyanyi lagu D’bagindaz. Bertahan satu ci~~~nnntaaa. Bertahan satu c-i-n-t-a~~~)
Toleransi bukan hal hina. Toleransi adalah keadaan dimana kita menahan diri untuk tidak membakar rumah ibadat orang orang yang menganut agama di luar keyakinan kita.
Toleransi adalah keadaan dimana kita tetap tersenyum dan bertegur sama pada tetangga yang memelihara anjing di halaman rumahnya.
Toleransi, adalah esensi penting dari negara lintas agama, multikultur seperti Indonesia.
Bagaimana bisa kita berkoar bahwa hitam itu salah sementara ada segelintir yang mengatakan hitam itu benar? Meski segelintir, mereka tetap warga negara yang terlindung hak haknya, dijamin undang undang negara.
Untuk FPI, atau pembela radikal islam dimanapun anda berada. Jika tetap menginginkan pembelaan penuh terhadap islam. Silahkan berhenti menjadi warga negara Indonesia. Cari atau bahkan buatlah negara sendiri. Yang satu garis dengan keyakinan anda, dan anda berhak memilih habib manapun sebagai pemimpin negara.
Saya menulis posting ini sebagai seorang muslim yang sangat malu terhadap perilaku sesama muslimnya.

“Anda malu terhadap saudara anda sendiri? Terhadap kawan seakhlak anda?”

Saya lebih malu lagi jika berada di barisan FPI, menjual nama tuhan untuk memuaskan keinginan segelintir penguasa.
Naudzubillah.
Lantas apa hubungan postingan saya ini dengan pornografi? Baik, kita ambil kesimpulan bahwa majalah Playboy adalah majalah porno. Saya setuju bahwa itu bid’ah, zinah dan membacanya adalah dosa.
Buat apa anda, duhai kawan saya orang orang FPI, begitu meributkan moral dan akhlak para pembaca playboy? Anda anda bukan orang yang kelak menanggung dosa para pembaca majalah porno itu toh?
Anda bukan orang yang kelak di neraka akan dirajam. Mengenai dosa-pahala, adalah urusan masing masing umat. Neraka-surga adalah konsekuensi masing masing pelaku agama. Untuk apa meributkan mereka yang membacanya?
Jika membacanya adalah dosa dan anda tak ingin berdosa, maka jangan membacanya! Biarlah dosa ditanggung masing masing. Jika anda merasa bersalah lantaran tak mengingatkannya untuk tak membaca, maka tegurlah dengan halus, sopan. Ia tak mengindahkan, maka biarlah tuhan yang menurusnya.
Biarlah tuhan bekerja dengan cara-Nya, bukan dengan cara anda.
Bukankah islam agama damai yang membenci pertumpahan darah?
Negara ini memiliki lembaga peradilan, maka biarkan mereka bekerja.
Anda merasa bahwa peradilan negara ini bobrok dan tak becus mengurusi perihal penyelewengan moral? Lantas anda merasa berhak menjadi pahlawan kesiangan dan merusak semua yang menurut anda tak sesuai norma?
Jika semua warga Indonesia berpikiran sesempit itu, saya meyakini sepenuhnya, tak kurang dari lima tahun negara ini akan hilang dari muka bumi. Warganya akan mati semua lantaran yang satu gemar menikam yang salah, yang satu gemar membunuh yang tak sesuai dengan inginnya.
Bagi saya, tak ada satupun pembenaran atas ulah anarki orang beriman atas ketidakberimanan orang lain. Tidak ada pembenaran atas perilaku tak beradab yang cacat hukum demi keberlangsungan suatu agama.
Islam yang saya kenal bukan agama kerdil berisikan manusia manusia kebal hukum. Agama saya, sekali lagi saya ungkapkan, Agama saya terlampau agung untuk direpresentasikan preman berkedok jubah.