Medan Perang Terasa Menjemukan

Ada kalanya, ketika kematian menjadi semacam lelucon.

Mayat mayat tak bernyawa menjadi semacam mainan.

Ada kalanya, kematian menjadi semacam guyon

Beberapa mengencingi malaikat maut

Padanya ditunjukkan seringai kebal senjata

Ada kalanya, tubuh tubuh kaku berserak

Lemas dan perlahan disetubuhi

Tertawa tawa, meningkahi sorai bersenjata

Pesing desing mesin Jepang

Gagahi langit subuh buta

Pun terdengar juga, sayup adzan

Mayat mayat tak bernyawa

Dicabik dan disayat

Dimakan

Kadang kala jemu menunggu

Mayat mayat bercelana jeans

Didandani dengan segumpal ilalang kering

Atau cemoreng arang

Mayat mayat busuk tunarupa

Dibuang

Atau ditinggalkan

Kala serdadu beranjak, meninggalkan lokasi perang

Mencari cari (lagi)

Mayat mayat bercelana jeans yang bisa

Dijadikan mainan

Siang memanggang

Medan perang terasa begitu menjemukan

Rusnani Anwar, dalam candu film Atonement, Kiera Knightly.

Advertisements

Senja Merah

Sore itu aku teringat, sepotong senja merah
Yang berpendar, sesekali berkeriap, angin terbangkan awan kecil
Seperti gulali
Sepuluh tahun lalu, ya, ya, sepuluh tahun lalu
Aku masih kanak kanak dengan sepatu kuning bergambar kartun
Kala peluru berdesing, pria berparang berlarian, darah tumpah
Di pelabuhan
Ya, ya, sepuluh tahun lewat
Saat badan badan tunakepala
Dibuang ke tepian sungai
Amis menguar ke udara
Laki laki berseragam, sibuk berbalas tembak
Dengan senjata rakitan dan tebasan parang
Sesekali, asap pekat mengepul di sudut sudut kota
Sesekali, tubuh tumbang bersimbah darah
Kadang berlubang, kadang terpenggal
Nafas Ayah tersengal, digendongnya aku
Puluhan berparang
Menyentakku dari gendongan, berteriak teriak
Uluh itah kia, uluh itah kia*, disoraikan ayah
Burung burung elang*
Berputar putar, magis
Ya, ya, sepuluh tahun lewat
Dan aku masih sulit terlelap
Di Minggu senja merah






*Uluh itah kia : Bahasa Dayak Ngaju, artinya “Orang kita juga”
*Burung Elang yang berputar putar di atas rumah terbakar dimitoskan sebagai jelmaan Panglima Burung, konon, dengan adanya elang yang berputar di atas rumah, api takkan menyebar
*Jelang sepuluh tahun peristiwa kerusuhan Sampit, 18 Februari 2001

Pelajaran Cita Cita

“Mari bermain cita cita”

Seru guru itu dalam ruang kelasnya, Selasa pagi

Di sebuah sekolah kumuh,

Dengan murid murid kumuh,

Dengan dana remah remah anggaran daerah

Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan

Satu per satu, ditanyai ingin menjadi apa

Berloncatan senang, masing masing punya jawaban

Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan

Ada yang memukul mukul meja,

Tak sabar menunggu cita citanya terpapar

Amin diam,

Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu

“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”

Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika

Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas

Karena tak punya cita cita

Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis

Lebih lebih presiden

Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto

Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta

Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB

Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto

Astronot kemudi kereta

Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak

Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah

Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima

Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya

Kawannya yang ingin jadi presiden mati

Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi

Kais mengais, sampah yang bisa dimakan

Gumam pelan Amin tak tertangkap udara

“Hidup kok kebanyakan cita cita..”

When Everybody Grown..

Menjadi tua adalah konsekuensi waktu. Tua, adalah konspirasi semesta atas waktu. Menjadi tua, adalah keadaan yang tak tebantahkan. Semua manusia lahir, menjadi anak anak, remaja, tua, karena waktu.

Menjadi dewasa, adalah konsekuensi kondisi. Berbeda dengan waktu yang dikendalikan semesta, kondisi dikendalikan oleh faktor non fisik. Faktor yang tidak bertaraf, yang tidak berjenjang. Kondisi bersifat random, acak dan tidak terprediksi.

Karenanya, menjadi tua adalah hal yang pasti.

Menjadi dewasa (saya pinjam bahasa corny ini) adalah misteri ilahi.

Ada seorang anak kecil. Usianya baru 11 tahun. Ia harus menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi ibu dan dua adiknya dan tetap bersekolah.

Ada seorang 40 tahun, yang sibuk berfoya foya menghabiskan warisan keluarga sambil mencari istri kedua, tiga dan selanjutnya.

Contoh gamblang antara dewasa dan tua.

Saya, 18 tahun dan dua bulan lagi akan menginjak 19 tahun. Di usia ini, saya sudah masuk kategori lepas remaja dan berada di usia tanggung. Saya sembilan belas tahun dan masih gamang mengenai masa depan.

Hanya khawatir, jangan jangan kegamangan ini akan terus berlangsung hingga saya berusia 30 tahun. Saya takut menjadi tua tanpa menjadi dewasa..

Tuan Hitam, Anda Sedang Sakit

saya, secara tak sengaja menginjak Tuan Hitam saat sebelum siaran. Kamar yang berantakkan dan keterburu buruan resmi membuat Tuan Hitam batuk batuk dan pecah LCDnya. Saya coba googling tentang LCD pecah. Konon, kalau tidak segera diganti, kerusakan bisa menyebar. Oh, tidaaakkk..

Sementara, harga LCD untuk ukuran 11 inci biasanya 1 sampai 1,5 juta.

Doakan saya, semoga ada om om yang mau jalan sama saya malem ini.

*nangis guling guling*

Dunia Fisik!

Look what I found on my desk this evening:

Ini iklan pencarian kerja yang masuk ke radio. Masih ada ya, standarisasi ‘berpenampilan menarik’ dalam kualifikasi bekerja kayak gitu. Yang membuat saya bingung adalah, bukankah cantik atau tidak (baca : menarik atau tidak) nya seseorang itu relatif. Tergantung dari sudut pandang masing masing orang. Seseorang yang menarik bagi seseorang bisa saja menjadi tidak menggiurkan bagi orang lain (beuh bahasanye)

Jika memang ada semacam patokan ‘berpenampilan menarik’ dalam sebuah pekerjaan, maka akan ada yang disebut generalisasi kecantikan. Standarisasi. Ini aneh, mengingat ‘menarik’ adalah kata sifat yang probabilitasnya masih mengawang awang.

Saya sih, sudah tau seperti apa yang mereka cari 😀

1. Kurus

2. Bersedia mengenakan kaos ketat, hak tinggi dan rok mini ketika bekerja

3. Rambut panjang, kulit mulus, make up tebal

4. Jago merayu

Hehe, ini bukan semacam generalisasi SPG yang saya buatan sendiri loh. Yang saya tau, inilah pengertian ‘berpenampilan menarik’ dari salah satu kualifikasi pencarian kerja di atas. Kalo gitu, kasian cewek cewek seperti saya* dong..

*Seperti saya : Gendut, jelek, kutu buku, gabisa dandan, illcommunication dan super tidak pinter ngerayu (lah, ngobrol aja saya gagu, apalagi ngerayu :P)

Dunia Angka

Kita hidup di dunia angka.

Ah, kita hidup di dunia berstandar angka.

Kita dikenalkan pada satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sejak baru bisa buka mata.

Lantas ayah-ibu ajarkan pada kita untuk senantiasa kejar peringkat pertama dimanapun kita berada.

Setelah dewasa, kita begitu terobsesi pada jumlah,ukuran, dan kalkulasi angka.

Kita begitu peduli pada peringkat berapa kita berada pada tatanan masyarakat , lantas terobsesi untuk mengejarnya.

konon, di dunia manusia, nilai prestise dan kehormatan seseorang ditentukan oleh para angka.

Dengan angka mereka dengan mudahnya mengkotak kotakkan manusia lainnya.

Berdasarkan jumlah harta, mereka membagi manusia menjadi miskin-kaya.

Berdasarkan urutan peringkat, mereka klasifikasikan sebagai genius-idiot-hingga goblok luar biasa.

Berdasarkan ukuran, mereka jajah dengan doktrin kurus-gemuk-seksi-culun-kutubuku dan puluhan kata sifat lainnya.

Aku terkesima, manusia memang sakti mandraguna.

Mereka bisa memberikan predikat yang mungkin tak bisa orang lain terima.

Aku pun lantas tertawa dengan dunia fisik kita.

Kulihat di pusat perbelanjaan, banyak anak anak baru lulus pada magang, berseragam SMA.

Aku masih ingat, waktu dulu disekolah, aku sangat peduli pada aturan sekolah nomor duabelas, tentang dilarangnya memodifikasi seragam sekolah, untuk mengejar prestise dan predikat “murid teladan yang patuh pada gurunya”.

Ya, dulu waktu di sekolah, kami dilarang keras mengetat ngetatkan seragam, konon katanya tidak sopan untuk standar anak SMA.

Tapi di sana kulihat seragam kecil luar biasa, pas ditanya, konon katanya itu tuntutan buat jadi pramuniaga.

Ooo, jadi peraturan itu sifatnya fleksibel ya, bisa di modifikasi dan diubah ubah meskipun objeknya itu itu saja.

Juga tentang sebuah surat pencarian kerja.

Persyaratannya sungguh membuatku tertawa.

Bagaimana tidak, persyaratan konyol itu tertera tepat di urutan pertama.

“1. Wanita, usia 17-25, berpenampilan menarik”.

Lantas baru di urutan kedua.

“2.tinggi minimal 150cm,memiliki kendaraan pribadi dan siap menerima penempatan kerja”.

Nah.. setelah juling mataku mencari, baru kutemukan di urutan lima.

“5. Melampirkan ijazah pendidikan terakhir, minimal SMA”.

Rupanya sudah berpuluh puluh tahun aku tinggal di bawah batu, hingga kaget aku melihat surat edaran pencarian kerja.

Persyaratan 1-4 adalah spesifikasi bentuk, rupa, dan penampilan fisik kita.

Baru lantas nun jauh di ujung sana, baru mereka mempertanyakan isi otakmanusia,.

Sungguh, kurasa inilah jawaban terakhirku atas kenapa aku enggan terjun ke dunia kerja.

Hahaha.

Habisnya. “berpenampilan menarik” adalah standarisasi pelecehan kaum wanita.

Makna sebenarnya bukan seberapa pandai anda “menarik” customer untuk berbelanja.

Tapi seberapa besar anda punya dada.

Seberapa menawan senyum anda.

Dan seberapa tinggi rok span itu mampu melekat pada paha.

Cuih, prostitusi besar besaran Negara kita.

Lagipula, kumohon jawab pertanyaanku, apa fungsi ukuran lingkar pinggul dan dada dalam usaha kita memerangi kelaparan dunia?.