Sebuah Janji

Yang aku suka dari berbenah kamar adalah jutaan kesempatan untuk menemukan hal hal menarik.

Salah satunya, file sajak berjudul Sebuah Janji ini.

Aku tulis selang beberapa waktu lepas kelulusan.

Saat kawan kawan sibuk mempersiapkan diri untuk masuk universitas

Aku sibuk mempersiapkan berkas lamaran pekerjaan.


Jadi, ini dia semacam jeritan anak 17 tahun yang baru saja lulus SMA tapi sudah dibebani beragam beban dunia dewasa :


Sabar mama, sabar.

Aku pasti akan bekerja, pada akhirnya.

Tapi tidak sekarang, tidak dengan ijazah SMA.

Sabar mama, sabar.

Aku pasti akan jadi berguna, pada akhirnya.

Tapi tidak sekarang. Kukata tidak pada tawaranmu menjadi budak cina.

Sabar mama, sabar.

Aku pasti akan bawakan padamu sebuah surga.

Berupa lipatan lipatan uang, lautan madu di usiamu yang kian senja.

Tapi tidak sekarang, kulantangkan “tidak” untuk bekerja di pelosok desa dimana tak ada apa apa disana kecuali remah dan sisa sisa.

Sabar mama, sabar.

Aku akan bekerja juga. Pada akhirnya.

Setelah aku lelah mengejar mimpi, setelah aku terengah engah bercita cita.

Maka kumohon jangan hentikan aku, nyawaku terbuat dari mimpi dan asa.

Maka kumohon izinkan aku menjadi sarjana.

Sabar mama, sabar.

Lima tahun lagi kupetikkan bintang, kalau perlu seluruh gugusan bimasakti kubawakan pulang untukmu, ambil semua dengan kardus kardusnya.

Ya. Aku akan berhenti. Aku toh pada akhirnya akan lelah juga.

Percayalah aku, aku mampu menyambung nyawa, dengan mimpi dan cita cita.

Advertisements

Minggu Menggila

Yep, those post-tittle inspired by White Shoes and Couples Company newest album, Senja Menggila.

Actually, I think I went crazy today. My day started by attending oldpals wedding. He got married and I even didn’t have any boyfriend untill now!

Haha, struggling from zillion question about ‘jadi kamu belum juga punya pacar sampai sekarang’ is quite annoying.

Fortunately, my best-friends try to cheer me. So, we decided to doing some adventure today.
First, based on Vina Eka Agustriana idea, we founded an unuse grass-track. Located at Jendral Sudirman.


So this is the abandoned grass-track at Jendran Sudirman. The only word that came out my mouth when arrive here :
Magnificant!

So here what we were doing when met those grass-track

(me : POSE!)


(Vina: POSE!)

(Mira + Ratna : Being Busy to Capturing Our POSE!)

After the quickness awkward photoshoot session, we moved to Danau Kapur.

And I got a nice slicy delghtfull photo:

If you’re a photografer and lovin the great view. Come in! Blue sky met view-up-to-the-base water, and white mound of limestone are wait to be captured.

Haha, thanks for this joyfull journey, guys. It mean a lot!

Sudut Kecil Kota Ini

Tengah malam jam setengah dua kutelusuri kota ini.

Perjalanan gila dengan kawan ditengah malam minggu yang luar biasa sepi.

Kami lalui banyak jalan hingga akhirnya kami menepi.

Di warung remang remang tenda tenda prostitusi.

Aib terbesar kota ini.

Tempat mesum berdiri kokoh di jantung kota, tanpa basa basi.

Ya, Nenek nenek buntingpun tau tentang ini, jadi tak perlu rasanya kusensor sana sini.

Iseng, kuajak seorang mbak mbak seksi bermake up tebal sekali ngobrol di sudut warung yang sepi.

Namanya Lastri.

Jarang sekali aku pernah mendengar orang bernama seperti ini.

Dia berasal dari Semarang, desa Tegalsari.

Lucu mendengar suara medoknya yang tak dapat ditutupi.

Aku tersenyum, mulai bertanya itu ini.

Dia jawab malu malu, tetap dengan logat jawanya yang terdengar lucu sekali.

Kutanya sudah berapa lama ia bekerja di warung ini.

Ia bilang “Waduh mbak, saya ndak ingat, waktu itu ada transmigrasi”.

Ya, mungkin baginya sudah terasa lama sekali.

Lastri ternyata hanya dua tahun di atasku, dia bilang dia sembilan belas Desember nanti.

Tapi entah mengapa, aku seperti melihat ketegaran, kepahitan, kepiluan, yang jauh lebih dewasa dari usianya ia simpan jauh di dasar sana, di lubuk hati.

Lastri banyak tertawa selama kami berbicara, entah efek udara, cuaca, atau botol botol arak lokal yang mulai kosong di sudut kursi.

Dia bilang, dia adalah pelayan warung paling mahal dari seluruh warung tenda prostitusi ini.

Sekali colek limapuluh ribu, ditemani ngobrol enampuluh ribu, aku jadi takut membayangkan berapa duit yang bakal kubayarkan padanya nanti.

“Ah, kalo mbak ngobrol gini ga usah bayar, maksud saya tadi, ngobrolnya bayar kalo obrolannya tentang.. ehm” Lastri mengerling, ia tertawa lagi, tapi entah kenapa bagiku terdengar pahit sekali

Aku terdiam, mendengarkan patahan patahan kata yang terluncur dari Lastri.

Makin lama dia makin terbuka, malah curhat denganku tanpa basa basi.

Dia mengeluhkan tentang banyaknya pesaing, para “rookie” di dunia prostitusi.

“Mbak ga mau cari kerja lain? Jadi pramuniaga toko misalnya?” tanyaku konyol sekali.

“Yo ndak bisa mbak, ndak ada yang jaga anak saya kalo saya kerja siang, lagipula, saya ndak punya ijazah”, jawabnya polos, tak terbayang olehku seberapa besar beban yang ia miliki.

Aku terdiam, melihat kawanku yang makan dengan lahapnya, mereka ga peduli mbak mbak teman teman Lastri mulai bergrilya, menggerayang, tertawa manja, menarik perhatian setiap yang datang, sungguh, bagiku itu pemandangan terperih tiada terperi.

Ya, begitu susahnya bagi mereka mencari sesuap nasi.

Sementara pemerintah tetep aja keukeh dengan program transmigrasi.

Mereka harusnya tau, pulau Kalimantan tidak sesubur itu, kalopun iya, tak banyak lahan tersisa untuk digarap (jika mereka niatnya jadi petani)

Perusahaan perusahaan besar telah mengkotak kotakkan tanah kalimantan, jadi tambang, jadi ladang, atau jadi tempat industri.

Tak banyak tersisa di tanah gambut ini.

Pemerintah mah gampang, bilang “Negara ini memiliki mobilitas penduduk yang tidak merata. Timpang di pulau Jawa, ah ah, kami takut pulau Jawa tenggelam, ayo sudah, pindahkan saja para penduduk Jawa ke Kalimantan dan Sulawesi”

Lalu apa, disini mereka hanya menjadi para kalah, lemah tak berijazah, tenggelam dalam remah remah, sebagai kuli.

Yang wanita, tak sedikit termutasi ke jurang prostitusi.

Ya, sekali lagi. Aku bilang ini ironi.

ASAP

Ya, ada asap lagi mengepul di sela jalan, selalu begini sejak 1 bulan terakhir.

Kurasa untuk alasan terklise yang pernah ada, Sampit memang selalu gini tiap tahunnya. Well, aku bukan aktivis pecinta lingkungan, kurasa mencurahkan segenap daya upaya, pikiran dan dana hanya untuk keberlangsungan ekosistem antah barantah yang tak kukenal apa bukanlah hobiku, (kurasa bagiku mencintai lingkungan sama dengan makan babi halal). Hahaha.

Bersikap apatis pun percuma, asap berkedok kabut toh tetap hadir, menyesakkan paru paru, bikin mata pedes (padahal tadi pesen ga pake cabe). Ini malam takbiran men! Om om penebang di atas sana (FYI : diatas=gunung, bukan, beliau bukan malaikat penebang pohon) pada ga konvoi apah?? (damn, ini bodoh, I know). Saya ngerti kalo ini dilakukan dalam rangka pemenuhan daya konsumerisme mereka yang begitu dahsyat menggebu, tapi bukan cuma mereka yang perlu duit, saya juga perlu duit! saya penggangguran fresh graduated dari SMA pencetak bintang porno yang dengan pongahnya memajang layar kelip-warna-merah hanya untuk prove bahwa mereka Sekolah Internasional, WTF?!

(hihi, mungkin setelah ini tittle saya adalah pengangguran+narapidana atas tuduhan pencemaran nama baik)

Balik lagi ke asap (antivirus? Kebetulan, banyak trojan di komputer saya, (hmm,, sirup trojan enak neh buat besok):P maapin kejayusan saya). Bukannya tentang pengelolaan sumber daya alam di atur undang undang ya? Pasal 30 ayat 1,2,3, (emak! Ga sia sia mak bayarin SPP saya tiap bulan!, setidaknya dari 3 tahun dicekoki geograpi, saya tau pasal tentang entertainment, eh, environment (sekali lagi, maapin kejayusan saya).

Jujur, saya ga bisa (dan ga niat) berkontribusi apa apa buat kotim, buat hutan ini, soalnya kalo saya bilang “Lestarikan hutan kita, tidakkah kita ingin anak cucu kita kelak menikmati hidup layak berudara segar khas pegunungan? (oke, saya tau kalimat terakhir terdengar seperti iklan AC).


Atau “Anak anak muda penerus bangsa, mari kita lindungi hutan kita dari jamahan tangan tangan asing yang hendak merusak kredibilitas hutan kita” (saya baru tau orang asing doyan menjamah, enak ga yah, dijamah orang asing awh awh (pesan moral : jauhkan anak anda dari majalah stensilan)). Atau paling parah kalo saya update akun facebook dan twitter saya dengan bilang “Hey guys! Kalian bukan anak gaul kalo kalian ga peduli dengan lingkungan, jadi, mari kita sayangi hutan kita”. Triple huek plus cuh! (visualisasikan sendiri)

Saya berasa munafik, saya enggan berkoar demikian karena saya ga punya niat buat ngelakuinnya, sekali lagi, ngelakuin itu bagi saya sama seperti makan babi halal ( its awesome men! Saya mesti cepet mempatenkan peribahasa ini (sebelum di klaim sama Malaysia), akan terliat indah rasanya kalo di buku seribu satu peribahasa indonesia J.S Badudu cetakan Tiga Serangkai bakal memuat peribahasa saya : “Bagai Makan Daging Babi Halal = melakukan hal yang sia sia” ini bakal menggantikan peribahasa “bagai menegakkan titit impoten”, eh, benang basah booo). Btw alasan kuat saya kenapa bersikap apatis lantas mencela namun ga mau berbuat apa apa (untuk konteks kabut asap di kotim) adalah :

1. Ada orang yang DIGAJI buat menjaga keberlangsungan hutan, mereka disebut polisi hutan (jenis profesi ini banyak banget tercantum di novel Lima Sekawan), meraka disebut bappeda ( well, saya ga tau apa fungsi dinas ini, tapi BAPPEDA=badan pengawasan daerah, lha, bukannya hutan perlu diawasi biar ga kebakar (not as literally of course, I cant imagine someone babysitting the tree and bush, 😀 random).

2. The best thing yang saya rasa bisa dilakuin orang2 seperti saya (seperti saya : usia muda, sering berfikir brutal, liar dan binal, kadang kadang anarkis berkedok sosialis) adalah/hanyalah : DEMO. Damn men! Selagi kita panas panasan, bakar bakaran spanduk dan poster di depan kantor bupati (which is sangat tidak tepat sasaran), para cukong cukong berperut buncit (oke. No offense buat yang berperut buncit, we still love u) sedang menikmati streaming live show pembakaran hutan, ditemani kopi lundak (FYI: kopi luwak = kopi dari kotoran luwak, kopi ini ada di film the Bucket List, yang maen tuh yang jadi tuhan di film Bruce Almighty sama Evan Almighty, dia juga jadi cameo di film the Pursuit of Happines (oke, aku memang freak) dan kopi lundak = kopi+bulu landak) don’t ask why! Jadi apa gunanya? Lagian dengan kita membakar poster ukuran 3X4 meter itu, kita udah buang buang kertas, oh men,use ur logica! kertas dari pulp, pulp dari kayu, kayu dari hutan. Berarti secara kasatmata kita turut punya andil dalam film Kabut Asap Return ini dong!

3. Kerena saya apatis, saya APATIS (bukan, saya engga autis, agak hiperbolis, emang). Saya sama sekali bukan seorang yang berjiwa nasionalis, saya engga sayang negara serta cinta lingkungan, saya sudah memastikan kalo kita perang dengan Malaysia saya bakal ngungsi sejauh jauhnya. Dan berhenti jadi orang Indonesia.

4. Saya ga suka Kangen Band,sekali lagi ; saya sangat ga suka Kangen Band. jadi saya ga berminat menyelamatkan habitat alami mereka (STOP ANIMAL CRUELTY, JANGAN HINA KANGEN BAND). Well, saya memang lucu.

Ini jam 1.15 malam, saya sedang di seputaran bundaran KB (dan jangan tanyakan apa yang sedang saya lakukan), jarak pandang : 0 meter, soalnya saya lupa pake kacamata :P. saat ini bundaran KB-lah tempat terbaik buat syuting sinetron Inayah episode Sarah dan Om gendruwo sedang bersenggama, eh, bercengkrama (maap, efek .3gp Maria Ozawa duet sama Aoi Sora tadi). Atau buat kalian yang ngaku anak band dan punya obsesi terpendam punya video klip a la Cradle of Flith lagu Nymphetamine, inilah saat yang tepat. Kalian tinggal memerlukan tekad serta paru paru yang kuat.

Mungkin kita semua cuma korban bullshit (bull = kerbau, shit = kotoran) para politisi yang doyan berpolitik melalui banner segede gede gaban. Kita pikir, dia yang paling hebat, merasa paling jago.. (maap, saya penggemar Derbie Ramones). Kita pikir kita udah memilih yang terbaik ketika kita baca slogan anti-korupsi serta jargon memajukan kotim mereka, kita pikir kaos cantik, payung partai serta kaos kaki anti air bergambar wajah calon bupati di bagian telapaknya hanya sekedar ucapan “terima kasih” tulus dari sang calon tanpa embel embel “pilih saya” dibelakangnya. Well, saya rasa inilah sebabnya saya apatis, karena saya pengangguran tak berpenghasilan di kota yang konon katanya kaya raya. Inilah sebabnya saya benci politik dan pemerintahan, saya adalah korban janji muluk itu. ( maap, saya tadi curhat).

Saya rasa solusinya sederhana.

Kita analogikan sebagai pedagang#1 dan pedagang#2.

Pedagang#1 punya hutan jati dan ladang sayur. Ia panen sayurnya setiap 3 bulan sekali, disimpan, lantas diolah menjadi salad dan dijual di gerai depan rumahnya dengan harga lumayan, setiap tahun ia juga menebang BEBERAPA pohon untuk kemudian diolah menjadi perabot dibengkel kreatif yang ia dirikan di garasi rumahnya, dan dijual dengan harga tinggi.

Pedagang#2 memiliki hutan jati dan ladang sayuran yang 2 kali lipat lebih luas dari pedagang#1, tapi pedagang#2 lebihmemilih memanen seluruh ladang sayurnya, menjualnya dengan harga grosiran, lantas menjual tanahnya untuk alasan malas mengurus kebun, begitu pula dengan hutan jatinya, ia tebang semua lantas dijual dengan harga standar, ini artinya ia harus menunggu hingga 20-50 tahun lagi agar hutannya kembali.

Pedagang#1 adalah Negara Maju.

Pedagang#2 adalah Indonesia.

Saya rasa kita cukup cerdas untuk mengimplementasikannya ke dalam masalah kabut asap ini.

Saya cukup sering blogwalking ke blog blog orang Indonesia yang bekerja di luar negri. Mereka dapat melihat indonesia dari perspektif bangsa asing, orang asing sangat menyayangkan Indonesia ga jadi negara kaya.

Liat Tahiti, kapulauan Maui Hawaii yang terkenal dengan lautnya yang super jernih, kita punya Papua yang punya laut maha jernih, sayang penduduk di Papua ga tau harus gimana, jangankan berinvestasi mendirikan sebuah resort wisata bahari, buat menghindari mati dari bahaya kelaparan saja mereka kepayahan.

Atau liat Malaysia, mereka punya apa? (di Indonesia satu satunya komoditas malaysia yang menjamur adalah DVD porno, nyaris semua video porno amatir made in Malaysia, heran, doyan banget mereka ngewe di depan kamera)

Tapi segitu gitunya mereka, mereka negara maju men! Itu artinya mereka kaya dan ga banyak utang. Bayangkan, mereka kaya raya padahal komoditas ekspornya adalah DVD porno!, sementara di Indonesia yang punya RATUSAN hewan eksotik (engga, kangen band bukan salah satu dari mereka), tapi malah 20 orang mati kegencet cuma buat makan nasi!

Liat deh blognya suamigila atau bulengehe.

(iya, saya sering blogwalking, meskipun ujung ujungnya saya pasti lari ke blog bluesex-ABG.blogpsot.com)

I.R.O.N.I.S

Selamat Satu Oktober!

Hari ini saya peringati dengan kembali menggali koleksi koleksi lama materi tulisan waktu bekerja di koran dulu. Ceritanya sih, saya semacam ingin membangun ‘a good first impression’ terhadap seorang kawan dari Jakarta.
It been a great day. Lama sekali rasanya saya tidak menemukan perbincangan berbobot seperti hari ini. Nice share!
Per satu Oktober ini, jam terbang saya di radio ditambah. Saya ingin mulai menjalani profesi sebagai penyiar ah.. yang saya yakini, hard work never fail me. Kerja keras, adalah semacam password untuk sukses. At least, I’ve made it 😀
Dan seorang kawan, menawarkan pekerjaan untuk saya. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat menyatakan ingin bekerja sebagai SPG (sales promotion girl). Dengan alasan saya tidak ingin melakoni pekerjaan yang menguras otak. Lihatlah SPG! tinggal attract some customer, and earn A LOT of money. Tidak perlu berfikir!
Kemarin, saya ditawari menjadi SPG salah satu produk (entah apa saya belum nanya). Dengan gaji enam digit. Siapa yang tak tergiur, the only thing that I have to do is lose some weight. Saya sudah talkactive 😛
Tapi kemudian, saya tolak.
Takut merasa jenuh..
Lantas mengecewakan banyak pihak..

Pancasila Hilang Saktinya

Satu Oktober

Pancasilaku tak lagi sakti

Menjadi penghias kepentingan petinggi
Lumat ia digerus upeti

Pancasilaku hilang saktinya
Seperti karet
Dijejalkan kemanapun kepentingan berseret

Pancasilaku hilang saktinya
Menjadi penghias upacara
Cinderamata dari masa merdeka

Pancasila kini dikebiri

Tuhan Esa diludahi intoleransi beragama
Kemanusiaan di ujung senapan penguasa
Persatuan atas dasar suku dan agama
Kerakyatan yang dipimpin keprihatinan,
permusyawaratan perwakilan pepat kepentingan
Keadilan bagi segelintir kelompok pemenang.

Pancasilaku hilang saktinya
Menjerit ia dihujani lecehan penuh murka.

Kembalilah menjadi sakti, Pancasilaku