Negara Hitam Putih

Saya adalah penduduk dari negara Hitam Putih. Sebuah negara yang hanya membenarkan keseragaman dan membenci perbedaan. Yang tak seragam, akan dipaksa menjadi seragam. Kalau tidak manut, negara saya akan menurunkan polisi polisi moral bermodal pukul. Saya takut, akhirnya saya ambil doktrin mereka dan saya telan dengan rasa takut.

Begini begini, saya masih sayang nyawa.

Saya adalah penduduk negara Hitam Putih. Sebuah negara dengan slogan : Yang Banyak Yang Benar. Maka semakin banyak orang orang yang yakin diri mereka benar memaksa orang orang yang mereka yakini salah, untuk dibenar benarkan. Negara saya begitu khawatir dengan moral dan perilaku keagamaan warganya, setiap waktu. Negara saya paranoia jika ada satu yang menyimpang, maka negara akan runtuh. Apa boleh buat, itulah resiko hidup di negara yang penduduknya manut lantaran takut.

Saya adalah penduduk negara Hitam Putih. Hanya ada benar salah, dosa pahala dan surga neraka di negara ini. Moral dan akhlak diributkan orang orang di negara Hitam Putih, setiap hari. Menjadi putih, adalah kebanggaan di negara saya. Menjadi putih artinya menjadi warga negara yang baik, yang menuruti semua aturan. Juga mendukung polisi moral kalau perlu ikut serta dalam membasmi ketidakseragaman.

Tidak, negara Hitam Putih tak kenal timbang rasa dan tepa selira lebih lebih toleransi. Tak pernah ada kata kata tersebut dalam sejarah tata bahasa negara Hitam Putih. Apalagi sebagai esensi berfikir. Hanya ada satu ideologi di negara saya :Yang Banyak Yang Benar. Semua orang berlomba lomba menjadi bagian dari penduduk mayoritas. Agar apapun yang ia lakukan bisa dibenar benarkan.

Negara Hitam Putih, hanya kenal Hitam dan Putih. Hitam berarti hina dan dijadikan contoh perilaku tercela. Kaum yang hitam, biasanya akan disimpan di balik jeruji yang dipamerkan di pinggir jalan. Sebagai objek menakut nakuti. Putih berarti benar, dan benar berarti banyak. Dan kebanyakan, kebenaran di negara itu tak perlu pembenaran, cukup dibenar benarkan dengan alasan yang kasatmata dan tak terkecap indra.

Di negara Hitam Putih, orang orang tak perlu berfikir. Lembaga moral sudah menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka. Orang orang juga tak perlu bertanya. Yang bertanya berarti memilih menjadi abu abu, warna yang tak pernah dikenal negara Hitam Putih. Warna lain selain hitam dan putih, akan dienyahkan oleh polisi moral.

Di negara Hitam Putih, semua orang sudah mati rasa akan kepekaan rasa. Di negara Hitam Putih, semua sudah menjadi robot yang terobsesi atas putihnya negara 🙂

Hitam putih adalah harmoni

Bukan tabu yang kau benci


-Rocket Rockers-

FPI dan Ideologi Mereka

Look what I found on twitter today : click to memperbesar (wkwkwk, anti ngomong enlarge gw)

Yep, saya emang udik hingga baru tau kalau FPI ngebikin akun resmi di twitter. Sebelumnya mah saya temenan sama FPIyeah, akun lucu lucuan. Ga taunya beneran ada yang asli, edan. Saya ngebaca bio mereka sih, bilang gini :

Pressure Group di Indonesia mendorong berbagai unsur pengelola negara berperan aktif perbaiki dan mencegah kerusakan moral dan akidah umat Islam

Buset, bumi gonjang ganjing langit terbelah dua. Saya benar benar tak menyangka bahwa mereka akan mengklaim diri sebagai pressure group. Dalam konteks literasi langsung, artinya adalah kelompok penekan. Kata ‘penekan’ sendiri konotasinya sudah jelak, kalimat berpadanan kata ‘penekan’ sendiri akan menjadi majas peyorasi.

Itu kalau diartikan secara literasi langsung. Nah jika mencari definisi, begini kira kira arti pressure group itu :

An interest group that endeavors to influence public policy and especially governmental legislation, regarding its particular.

Sebuah kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi kebijakan publik dan khususnya undang-undang pemerintah. Ampun dijeeee 😀 *godekgodek*

Oke, saya menangkap tiga hal yang (menurut saya) ganjil dari cara FPI mendefinisikan diri mereka dalam bio twitter itu:

satu, pressure group

dua, mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama

tiga, moral dan akidah umat islam

Satu satu deh dijelasin. Satu, FPI sebagai pressure group yang mencoba mempengaruhi kepemerintahan itu, tak bisa diterapkan di negara ini. Ingat, FPI adalah representasi islam (islam macam apa saya tak tau) yang tentu saja, berdasarkan agama islam. Sementara Indonesia, memiliki lima agama yang diakui. Indonesia negara multikultur. Sebagai pressure group, FPI tak bisa mempengaruhi pemerintah karena mereka hanya mewakili satu agama saja.

Jika pemerintah kemudian berhasil ditekan FPI dan menerapkan aturan islam ke dalam undang undang negara, berarti Indonesia sudah meludahi Bhineka Tunggal Ika. FPI, merangsek ke dalam ranah hukum di negara berazas pancasila. Saya bingung menyebut mereka ini apa, Tebal Muka kali ya 😀

PKI saja, yang tidak berlatar agama tak bisa berjaya menjadi pressure party di Indonesia. Apalagi yang berlandas hal se-sensitive agama. Itu satu, menurut saya, FPI tak akan bisa menjadi pressure group di Indonesia untuk konteks pressure vertikal (FPI ke Pemerintah). Tentu saja, dengan syarat negara tetap pada pancasila dan Undang Undang, tidak beralih pada Al Quran dan Fiqh sebagai dasar negara.

Untuk konteks pressure group yang sifatnya horizontal (FPI ke masyarakat), saya sedih, tapi harus bilang, ya, mereka bisa tetap berdiri. Saya rasa buktinya sudah anda baca dan lihat di televisi. Betapa FPI kemudian tersetarakan dengan satpol PP dalam melakukan pengendalian sosial lapangan. Di negara ini, selama tuhan dan agama masih dianut berdasar rasa takut, FPI akan tetap berjaya. Dan tentu saja, Rental Tuhan saya tetap laku ^^

oke, itu satu, FPI sebagai Pressure Group

Lanjut ke masalah mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Bagi saya, Negara tak punya hak apapun untuk melakukan intervensi moral dan agama penduduknya. Saya sependapat dengan om Andreas (manggil om biar keliatan abegenya) yang beliau tulis di sini saya kutip :

Saya kira, negara tidak perlu ikut campur urusan agama warganya. Harus ada pemisahan yang jelas. Negara hanya berkewajiban mengurusi kebutuhan warganya menyangkut kehidupan bersama, seperti mengatur saluran telepon, saluran air bersih, jalan yang bagus, tidak banjir, perasaan aman, jaminan hukum, dan tidak diskriminatif. Kalau urusan agama, itu biarlah menjadi urusan masjid, gereja, madrasah dan pesantren, vihara, klenteng dan sebagainya. – Andreas Harsono, Wartawan Keren.

Ya, jika ranah agama merambah pemerintah, maka yang akan terbentuk adalah Polisi Moral. Tuhan dan perilaku ketuhanan itu masalah masing masing individu dan tuhannya, IMO. Mari katakan FPI berhasil menanamkan doktrin islam dalam pemerintahan. Lalu apa yang terjadi? selain menginjak demokrasi, pancasila dan multikulturisme yang dianut Indonesia, masyarakat akan hidup dalam rasa ketakutan. Terutama untuk yang minoritas.

Jadi, negara tak boleh ikut campur dan dipaksa (oleh FPI) mencampuri urusan agama masyarakatnya. Dengan dirangsekinya pemerintahan oleh doktrin islam, FPI (secara sadar atau tidak) sudah menjejalkan tuhan (dan islam) ke mulut mulut kaum yang sudah bertuhan/tidak bertuhan di Indonesia. Fokus pada kata menjejalkan. Ketika anda menjejalkan kelinci ke mulut kucing, bukan hanya kucing yang merasa sakit pada mulutnya. Si kelinci juga akan tersakiti.

Tentu maksud saya tidak secara harfiah. Nanti saya dibilang kafir gara2 menyamakan Allah dengan kelinci 🙂 well, somehow, jika islam di’paksa’kan untuk dianuti orang dengan menelusupkan teori islam dalam aturan bernegara seperti itu, saya merasa kasihan dengan Allah. (meski kemudian saya akan dihujat lagi lantaran mengasihani yang maha agung. kalau Allah agung, kenapa lantas diperlakukan seperti kelinci?)

Itu untuk konteks mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Saya di sini mencoba menyuarakan jeritan kaum minoritas di negara ini. Saya ingin mewakili suara kaum kaum non muslim yang insecure beribadah dalam rumah ibadah mereka. Dengan perasaan wanti wanti apakah akan ada penyerangan, pembakaran, atau penusukkan yang akan menimpa mereka. Saya ingin sampaikan suara minoritas di negara ini. Bagi saya, mereka tertindas.

Konteks terakhir : moral dan akidah umat islam

Simple saja, saya sebutkan bahwa moral bukan akidah dan akidah bukan moral. Seperti padi dan nasi goreng. Yang satu produk langsung tuhan (padi) dan satunya produk olahan manusia (nasi goreng). Tetap ada unsur padi dalam nasi goreng. Tapi perlu diproses dulu (dengan akal, hati, nurani) untuk menjadi nasi lantas nasi goreng. Dan keduanya tak bersinggungan pragmatik.

Pragmatik adalah jika orang tak menerapkan akidah islam, maka ia tak bermoral. FYI, akidah islam adalah : Masalah-masalah dan perkara-perkara yang wajib bagi seorang muslim untuk mengimaninya (mempercayainya) ada empat kalau tak salah, Allah, nabi, malaikat dan berita gaib. Jika logika pragmatik ini digunakan, maka secara gamblang anda menyebut kristen itu tak bermoral, lantaran mereka tak menganut akidah islam.

Cape deh ommm

Memangnya anda itu siapa sampai punya hak untuk menentukan kami bermoral atau tidak, lantas mengaturatur moral kami?

Tuhan?

Pada akhirnya manusia akan mempertanyakan perihal ketuhanan, juga moral dan ideologi beragama. Sesungguhnya jawabannya hanya satu :

Masing masing

Apakah postingan saya ini menghakimi FPI? tidak, niatan saya tak begitu. Saya hanya lulusan SMA yang tak tau teori teori agama. Kalau terdengar menghakimi, mohon maaf sebelumnya. Saya hanya mencoba mengeluarkan isi kepala saya 🙂

Agama-isme

sengaja saya sisipkan garis mendatar pada dua kosakata di atas. Nampaknya, keduanya belum menjadi kata yang padu. Atau sudah? entahlah, saya tak pandai dalam bahasa. Tulisan ini seperti bentuk khawatir saya sebagai umat bertuhan. Saya sebut bertuhan karena saya punya tuhan, yang saya sayang dan saya ajak bicara setiap hari.

Bagi saya, ada dua patahan berbeda dalam konteks beragama. Ada tuhan, ada agama. Saya selalu menggunakan istilah bertuhan untuk merujuk pada apa yang saya yakini. Tapi apakah saya beragama? Entah. Saya terlahir beragama islam, menghabiska menghabiskan masa kanak kanak hingga remaja di sekolah islam berbasis kemuhammadiyahan. Ayah saya seorang muslim taat, beliau sering i’tikaf di masjid dan melakukan ritual islam lainnya.

Apakah saya agnostik? tidak, saya tidak sekeren itu. Saya tak bisa menemukan definisi kata untuk apa yang saya lakoni bersama tuhan. Saya percaya agama dan tuhan, dan saya tak bisa mengklaim apakah semua agama benar, karena saya tak pernah berada dalam konteks ‘semua agama’ itu. 

Saya hanya tahu tentang islam, itupun tak seberapa. Ilmu saya dibanding anda mungkin tak sampai seperseribunya. Saya tak pernah beragama kristen, hindu, budha, katolik dan ribuan kepercayaan lain. Jadi saya tak tau rasanya, karenanya saya tak bisa bilang semua agama benar. 

Hingga saat ini saya masih bertuhan. Saya percaya pada tuhan, tapi sekali lagi, apa, bagaimana dan seperti apa hubungan saya dengan tuhan, saya tak tau sebutannya. Saya hanya lulusan SMA yang tak berkesempatan kuliah. Biarlah urusan menelurkan teori dan konsep menjadi hak mereka mereka yang berilmu. 

Ada perbedaan besar antara tidak percaya dan ‘tak menaruh perhatian berlebih’. Itu yang menjadi dasar pandangan saya terhadap agama. Karenanya saya menolak disebut agnostik. Saya percaya agama, hanya tak menaruh perhatian berlebih atasnya. Percaya adalah perihal meyakini. Beragama, berarti melakukan ritual agama. Solat, kebaktian, tiwah, dan lain lain. Saya tidak menaruh perhatian berlebih dalam beragama. Saya masih sibuk mencintai tuhan.

Saya sibuk bertuhan.

Dan saya tak begitu peduli terhadap keagamaan orang. Saya tau bahwa saya tak ingin dicela, karena itu sebisa mungkin saya tak mencela agama orang. Saya sempat menulis tentang toleransi dan keberagaman agama di sini dan sini. Pada akhirnya, saya hanya bisa menjabarkan bahwa:

Bagi saya, tuhan itu seperti makanan kesukaan saya, Rotiboy. Saya sangat suka Rotiboy, saya beli sebanyak banyaknya dan hanya saya konsumsi sendiri. Saya tak suka jika orang orang membanding bandingkan Rotiboy saya dengan J.Co Donuts. Saya sendiri tak mau menggubah Rotiboy menjadi keJ.coJ.coan. 

Saya juga tak suka jika ada orang yang mengutak atik Rotiboy saya. Dan yang pasti, saya tak cukup baik hati untuk memaksa orang lain memakan Rotiboy saya. Tuhan itu seperti aurat, ia personal dan tak perlu diumbar. Cukup dicintai sebaik baiknya. Saya, anda, kita semua bisa saja membentuk konsep dan teori teori tentang tuhan.

Pada akhirnya, jawabannya cuma satu:

Masing Masing.

Implikasi Adiksi Sinetron Indonesia Pada Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Selamat Sore dan Salam Sejahtera

Dan Assalammualaikum Wr. Wb

Sate, Bakso, Emping, Kerupuk,

Semuanya Enak!

Baik, dalam panel kali ini kita akan membahas mengenai dampak candu sinetron pada pertumbuhan ekonomi nasional. Saya, Dra. Rusnani Anwar S.om S.Kop S.os akan menjelaskan melalui pandangan ilmiah sesuai bidang ilmu yang saya kuasai. Sesuai gelar, saya pandai merayu Om om, sempat bergabung dengan Koperasi Sejahtera milik bu lurah dan saya gemar makan sosis.

Saudara saudara dalam lindungan tuhan (kok berasa khotbah yak)

Saya sangat prihatin atas maraknya penayangan sinetron di televisi Indonesia. Episode episode sinetron tersebut kerap membuat saya sakit perut dan merasa lapar. Saya sendiri gagal menemukan apa korelasi antara sinetron dan perut yang lapar. Saya lapar, beri saya makan, maka kejahatan akan hilang dari muka bumi, berpindah ke pantat bumi dan bagian tubuh lainnya.

Mari kita berkaca, siapa sebenarnya yang paling banyak mengkonsumsi tayangan sinetron? benar, adalah ibu ibu kampung dan babu babu kota. Kaum kelas tiga yang setiap harinya bergulat dengan kesusahan hidup. Yang menjalani pola berulang sumur-dapur-kasur 24 jam selama rentang tujuh hari. Bisa anda bayangkan betapa jenuhnya hidup seperti itu?

Selepas sehari penuh mengurusi asap dapur, para babu dan ibu ibu kampung kelas tiga itu akan berpaling kepada televisi. Saya sudah melakukan studi lapangan dengan objek penelitian emak dan tetangga saya. Emak, sebagai representasi ibu ibu kampung kelas tiga, rela meninggalkan dan menanggalkan segalanya demi mengikuti tayangan Cinta Fitri. Bagi beliau, tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini selain mengetahui apakah Farel yang hilang ingatan kembali mengingat Fitri, cinta sejatinya.

Alhasil, keluarga kami sering tidak mendapat jatah makan malam. Terpaksa order makanan luar dan bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk memenuhi hasrat konsumsi lima mulut manusia dan 12 ekor kucing setiap malamnya. Emak saya, secara langsung maupun tidak, telah melakukan pemborosan. Dan tentu saja, pemborosan itu berimplikasi pada pendapatan ayah dan semakin memperbesar jurang dari pendapatan per kapita dan target KB nasional.

(feel lost? me too)

Tayangan sinetron Indonesia, juga telah memperbesar jumlah pengangguran. Contoh terdekat adalah kawan saya. Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya), dia adalah seorang karyawan di sebuah kantor asuransi. Suatu malam, Bunga di minta untuk lembur untuk menyelesaikan laporan keuangan akhir bulan. Bunga, berada dalam dilemma. Di satu sisi, laporan keuangan yang tidak selesai akan memberikan dampak pragmatis di mana ia dan seluruh rekan sekantornya terpaksa telat digaji. Di sisi lain, Bunga nampaknya tak ingin melewatkan episode ke 97 sesion ke 6 Cinta Fitri.

Bunga, mengambil keputusan yang berat. Baginya, tidak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain melewatkan adegan hiperbolis Mischa saat menyiksa Fitri, dan Farel yang lumpuh tengah berusaha sedramatis mungkin untuk kembali ke kursi roda. Ya, demi menonton para artis yang bahkan saat tidurpun memakai make up itu, Bunga rela melihat rekan sekantornya telat gajian.

Bunga, dengan segala kecacatan moral yang dimilikinya, memilih untuk bolos dan tidak menyelesaikan laporan keuangan bulan Oktober. Ia pulang kantor pukul lima dan menyiapkan diri untuk menantikan detik detik bersejarah dalam hidupnya, menonton episode ke 97 sesion ke 6 Cinta Fitri. Bunga, berhasil mengetahui bahwa Farel, selepas perjuangan maha beratnya, berhasil kembali duduk di kursi roda. Dan Mischa, kembali menjatuhkannya. Satu episode itu seluruhnya di isi adegan Farel-jatuh-terus-berusaha-naik-terus-dijatuhin-lagi. Bunga gegap gempita, hatinya cerah ceria bagaikan matahari di Minggu pagi.

Besok harinya, Bunga dipecat.

Dan bayangkan ada berapa banyak Bunga yang dipecat dan menjadi pengangguran di negeri ini lantaran bolos demi nonton sinetron super lebay dengan jalan cerita absurd dan karakter imbisil seperti kawan saya Bunga??

Atas nama keadilan, saya menuntut agar tayangan sinetron Indonesia dihapuskan selamanya. Gantikan dengan tayangan open air Al Jazeera atau StarWorld, juga gapapa. Atau jadikan saya Menteri Komunikasi dan Informasi. Saya juga ga tau apa hubungannya dengan sinetron Indonesia, yang pasti saya akan lebih banyak salaman dengan Michelle Obama.

Sekian pidato saya sore hari ini.

Salam sejahtera, Assalammualaikum

Bakso, Sate..

*Ditimpuk Massa*

Pencitraan

Saya banyak mendengar/membaca kalimat ini belakangan. Apa itu pencitraan? saya yang semasa sekolah dulu berjurusan IPS menemukan kata ‘penctitraan’ dalam pelajaran Geografi. Dan saya meyakini, pencitraan yang dimaksud bukan pencitraan satelit angkasa luar seperti yang ada dalam textbook geografi.
People portraying something, creating a opinion on it. That’s pencitraan. Di Indonesia, pencitraan justru berlaku sebaliknya. People creating some opinion about something, dan menyuguhkannya sebagai citra. Image, gambaran.
Saya menemukan kalimat ini dalam The Colbert Report. Semacam tivi show amrik yang mengusung slaptical joke/sarkasm joke dalam tayangannya.
“I always pictured Indonesians communicating by banging coconuts on a log”

It just so sad to knewing the wolrd portraying us as a super primitive primate. Saya sih bangga, sebenarnya. Indonesia bisa masuk ke dalam acara sekelas The Colbert Report. Tapi TIDAK dengan isu ini! tonton videonya di sini.
Yep, menkominfo PKS kita yang tercinta itu kembali berlaku memalukan. Di forum internasional, ia telah mempertontonkan hipokrasi dan inkonsistenitas yang cukup untuk ngebuat saya gemes dan ingin melindas beliau dengan mobil tinja. Ya, sesebal itu.
Tapi siapalah saya, seorang blogger pengangguran jomblo yang gapunya kerjaan.. (out of topic) ^^

Reuni dan Ketidakmampuan Meninggalkan Masa Lalu

Saya tengah membongkar bongkar file lama di komputer, siang ini. Niatan saya sih pengen ngehapus data data ga berguna demi memaksimalkan space memory hardisk. Selama ini, saya terbiasa menyimpan data dengan urutan bulan+tahun. Semakin saya membuka file file tahun dan bulan lama, makin susah tangan saya mengklik tombol del di keyboard.

Saya kemudian terlempar ke tahun tahun itu, setiap saya ngeclose satu folder dan berpindah ke bulan dan tahun lain. “Edan, betapa kenangan berhasil menjebak orang dalam keadaan diam,” batin saya. Akhirnya, siang itu berlalu hingga menjelang sore dan saya tak berhasil menghapus satupun file yang ada. Ini sebabnya banyak orang yang justru menambah memory hardisk ketimbang ngehapus yang ada, kali ya..

Saya, dan mungkin banyak di antara kita, terbiasa menimbun kenang kenangan. Di era informatika seperti sekarang, kenangan itu tidak lagi berupa kartu pos atau lembaran foto 4 R berlatar pemandangan. Tidak juga dalam bentuk pernik lucu yang mengingatkan kita pada satu tempat.

Kenangan pada zaman sekarang memakan belasan bahkan ratusan megabyte kapasitas gadget apapun yang kita punya. Entah itu berupa ribuan foto berbagai pose, atau puluhan video. Kita melakukannya, semata untuk mengenang. Layaknya hewan mamalia yang menandai teritori mereka dengan air seni, manusia memberikan banyak checkpoint dengan foto dan video.

Salah? nggak ah, saya nulis poting ini bukan untuk memberikan batasan benar-salah atas sesuatu. Saya hanya merasa seperti.. guilty pleasure.

Ya, bermain main dengan kenangan adalah kesenangan yang membahayakan. Saya sendiri sempat mengalami fase macet dan tersendat demi mengenang masa lalu. Mengingat ingat masa ‘kejayaan’, atau mengenang ngenang saat terindah dalam kenangan hidup. Rasanya ya itu, guilty pleasure.

Begitupun dengan reuni. Berbagai reuni diselenggarakan, semua orang rela menyibukkan diri demi kesuksesan reuni. Kembali bertemu dengan kawan lama, yang konon makin tua rentang suatu reuni, makin besar esensi kangen kangenan yang diumbar. Saya bukan bermaksud sinis terhadap tetek bengek kenangan. Tapi betapa kemudian kita akan begitu terjebak dengan kenangan dan masa lalu hingga rasa rasanya sayang untuk meninggalkan kenangan dan melangkah maju.

Kini, demi alasan move on, saya menolak untuk ikut reuni, atau sekedar hang out bersama kawan lama. Kesannya sombong ya, ini saya lakukan demi diri sendiri. Saya perlu maju ke depan, and I’m really vulnerable with memories. Salah dikit saya bisa jatuh ke ranah stuck dan sulit maju. Ini salah, saya tau, tapi saya memang tak pandai mengatur perasaan..

Kepala Sang Demonstran

Rumah sakit itu tiba tiba terkenal. Seorang dokternya berhasil menemukan cara untuk melihat isi pikiran manusia. Dokter itu hanya perlu memenggal kepala orang yang sudah mati (atau yang masih hidup pun tak apa, kalau dia memang benar benar ingin dilihat isi pikirannya). Dokter itu kemudian menjadi sangat terkenal. Banyak kasus pembunuhan berantai dan perampokkan yang memakan nyawa bisa diselesaikan berkat tampilan gambar dari kepala korban.

Apa yang dilakukan si dokter sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak dukun dan jejampi kampung yang bisa melakukan hal serupa. membaca isi kepala orang. Tapi si dokter menjadi fenomena. Tentu saja, lantaran gelar dokternya, dan betapa mudahnya teori si dokter dicerna logika.

Di negara itu, orang orang menjadi sangat paranoid dan ketakutan hingga tak mudah percaya pada apapun yang tak berbukti nyata.

Ketenaran si dokter dengan cepat menyebar kemana mana. Si dokter kemudian dipekerjakan oleh negara untuk membantu polisi. Si dokter awalnya menolak, ia mengatakan bahwa dirinya bukan detektif yang bisa digunakan untuk mengungkap kejahatan. Tapi tolakan itu berubah menjadi anggukan mesum dan mata berbinar kala menatap tumpukkan uang di atas meja.

Resmi sudah, si dokter bekerja untuk negara. Polisi kerap datang ke rumah sakit. Para berseragam itu biasanya sudah memenggal kepala mayat untuk dibaca oleh si dokter. “Biar bapak tak usah repot,” ujar seorang polisi seraya menyerahkan kantong kresek berisi dua buah penggalan kepala.

Rupanya sore tadi ada pengeboman di kantor pemerintahan. Lima orang tewas di tempat. Tiga orang di antaranya terkena paparan langsung bom sehingga tubuhnya berubah menjadi serpihan. Hanya dua potong kepala milik satpam gedung yang tersisa. Ada sekompi polisi yang datang, juga datang jendral serta kapolri. Semua penasaran, siapa pelaku pengeboman.

Polisi polisi itu lantas menunggu di luar ruangan si dokter. Sementara pimpinan mereka, ikut masuk ke dalam dan menyaksikan sendiri potongan ingatan kepala mayat itu kala menjelang ajalnya. Sore itu, seorang teroris kelas dunia tertangkap dalam pelariannya menuju negara seberang.

Berita menyebar cepat. Tentang si dokter yang berhasil mengungkap pelaku terorisme. Semua orang, terlebih wartawan, menunggu nunggu, kapan lagi si dokter melakukan aksinya. Polisi cenderung jarang membeberkan kapan ada mayat yang akan dipenggal kepalanya dan dibongkar ingatannya oleh si dokter.

Sore itu, ada mayat yang datang ke rumah sakit. Mayat itu merangkak rangkak dari kejauhan, ia berangkat sendiri. Di belakang mayat yang merangkak sendiri itu, ada puluhan wartawan yang sibuk mengambil gambar dan berteriak teriak “Ini saatnya!” kepada rekan wartawannya.

Mayat yang merangkak sendirian itu masuk ke pelataran rumah sakit. Tak ada yang mengindahkan, toh ia sudah mati, rumah sakit tempat orang berobat. Kalau mati pergi ke kuburan. Mayat itu akhirnya merangkak sendirian lagi menuju ruangan dokter.

“Apa ini?” si dokter kebingungan. Ia tak pernah mendapati mayat datang sendiri dan minta dibaca seperti itu.

“Tidak ada polisi, ya?” si dokter bertanya lagi. Mayat yang merangkak sendirian itu mengeram ngeram, tak bisa bicara.

Si dokter, mangkel dalam hati. Ia sudah berjanji pada pemerintah untuk hanya membaca isi kepala mayat yang berasal dari kepolisian. Ia hanya menerima penggalan kepala dalam kresek yang dibawakan para polisi.

Wartawan mulai berdengung, sibuk memfoto mayat yang merangkak sendiri. Juga memfoto si dokter yang beberapa kali menggaruk kepalanya yang landai. Si dokter dilema, reputasinya bisa buruk jika menolak mayat yang merangkak sendirian itu.

Presiden kebetulan menonton televisi dari dalam mobilnya. Iapun penasaran, tak pernah ia melihat langsung dokter fenomenal itu. Selama ini hanya anak buah dan bawahannya yang membuat laporan mengenai si dokter. “Berbeloklah, ayo ke rumah sakit itu,” seru presiden pada sopirnya. Mobil berbalik arah, menuju rumah sakit.

Si dokter masih juga dilema. Akhirnya setelah si mayat berhenti mengeram, si dokter akhirnya bersuara

“Bawa mayatnya ke ruangan saya,” ujar si dokter seraya mengenakan sarung tangan latex dan mencucinya dengan cairan disinfektan. Si dokter tak memperbolehkan satu wartawanpun untuk masuk.

“Nanti filmnya rusak kalau terkena blitz kamera anda,” sanggah si dokter. Cukup ampuh, para wartawan berhenti merangsek masuk. Si dokter berjanji akan memperlihatkan video dari isi pikiran mayat yang merangkak sendiri itu. Presiden akhirnya datang, si dokter sudah membredel pintu. Presiden duduk di luar ruangan seraya meladeni pertanyaan wartawan.

“Ya.. saya ke sini lantaran penasaran dengan kinerja si dokter, kepala kepolisian negara antah berantah sibuk memujinya sejak seminggu lalu,” presiden tersenyum pada kamera. kepala kepolisian negara antah berantah yang tengah dibicarakan juga datang. Ia tampak berkeringat, seperti lepas berlari. Ia tersenyum gugup pada presiden, mengangguk sepintas dan menuju ruangan si dokter.

“Eee.. ada pak kepala kepolisian negara antah berantah, mari sini pak, kita berfoto. Biar si dokter bekerja sendirian di dalam, nanti juga kita di kasih tau apa isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu,” kapolri tak berkutik, presiden memergokinya ingin mendobrak masuk ke ruangan dokter. Kapolri lantas mengambil duduk di samping presiden dengan wajah cemas. Wartawan mengabadikan kapolri dengan wajah seperti hendak buang air besar.

Si dokter tak tau mengenai keributan di luar. Profesionalitasnya memaksa si Dokter untuk benar benar melihat isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu padahal ia bisa saja berbohong.

“Aku bisa saja memenggal kepala mayat ini, membawanya keluar dan mengatakan kalau ia mati gara gara narkoba.” Gumamnya. Si dokter lantas melihat tubuh mayat yang merangkak sendirian itu sambil menerka nerka kehidupan macam apa yang ia miliki semasa hidup. Badannya tegap, berisi. Mayat yang merangkak sendirian itu berdarah di sekujur tubuhnya. Kacamatanya remuk, tapi masih melekat di wajahnya. Ada lubang merah kehitaman tepat di tengah jidatnya.

Si dokter penasaran sendiri. Ia lantas memenggal kepala si mayat, memasangkan banyak selang dan kabel. Dari lubang telinga kanan penggalan kepala itu, dikorek korek hingga seutas kabel dengan ujung berlubang keluar. Ia hubungkan kabel yang keluar dari kepala mayat yang merangkak sendirian itu ke proyektor.

Di layar besar, si dokter melihat kuburan, dan spanduk spanduk. Si dokter sibuk mempercepat, memperbesar dan kadang kadang menghentikan video isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Spanduk diperbesar, si dokter mencoba membaca. Viva.. ah, gambarnya tiba tiba buram. Mayat yang merangkak sendirian itu rupanya terkena hantaman benda tumpul di kepala belakang. Si dokter sibuk mencatat,

“Ini dia sebab kematiannya,” gumamnya.

Gambar di video terlihat horizontal. Mayat yang merangkak sendirian itu pasti sudah tumbang ke tanah.

“Tunggu, kalau dia sudah tumbang, kenapa videonya masih hidup?” si dokter mengguncang guncang penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.

“Ah.. ia hanya sekarat! Belum mati,” si dokter menyadari kesalahannya dan tertawa kecil.

Dari gambar horizontal itu si dokter melihat mayat bertumbangan. Satu satu seperti terpukul mundur dan kemudian tumbang. Dikeraskannya suara video dari penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.

Suaranya seperti letusan tembakan.

Senjata mesin, terdengar seperti rentetan.

Tubuh tubuh bertumbangan. Tiba tiba gambar video menghadap langit. Sebuah wajah terlihat menodongkan senjata.

Dor.

Mayat yang merangkak sendirian akhirnya mati.

Si dokter menganga.

Tercenung.

Wajah itu adalah wajah kepala kepolisian negara antah berantah, dalam versi setidaknya lebih muda 20 tahun.

Si dokter segera keluar dari ruangannya. Ia kembali terkejut, ada ratusan wartawan, presiden, dan kepala kepolisian negara antah berantah dalam versi 20 tahun lebih tua dari isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Semuanya berdiri, menunggu nunggu jawaban.

Si dokter menarik nafas panjang, mulai merangkai kata sebagai konferensi pers

“Demi kepentingan privasi dan arsip rumah sakit, saya tidak bisa memperlihatkan rekaman isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu..”

Si dokter lagi lagi menarik nafas panjang

“..Mayat yang merangkak sendirian itu, nampaknya tewas karena terlalu banyak menonton film film sadis..”

Kapolri tersenyum lega. Senyum itu menjanjikan sesuatu pada si dokter.

Mereka berdua kini punya rahasia.

Si dokter dan kepala kepolisian negara antah berantah tahu,

Mayat yang merangkak sendirian itu datang dari masa lalu.

Polemik Metal Satu Jari

Saya mendapat kabar mengenai ‘metal satu jari’ dari pesan singkat seorang kawan di Bandung. Ia kurang lebih menyampaikan kekhawatirannya akan metal satu jari. Mengenai kemungkinan adanya kubu kubu dalam musik metal, ketakutan akan terjadi semacam konfrontasi dan lain sebagainya. Diindikasi, titik penyebar awal metal satu jari berasal dari Jakarta.

Apa itu metal satu jari? Kurang lebih itu yang saya pikirkan selepas berbalas pesan dengan kawan saya tadi. Honestly, awalnya saya fikir ‘satu jari’ yang dimaksud adalah jari tengah (representasi punk). Tapi bukankah memang semenjak dulu kubu punk dan metal kerap bersinggungan? Apa yang baru? Apa yang harus ditakutkan kalau begitu?

Pesan dari kawan saya itu berlanjut. Menjelaskan bahwa metal satu jari adalah sekumpulan penggemar metal yang beraliran keras dalam agama (baca : islam). Alih alih menggunakan signature khas metal dengan telunjuk dan kelingking yang membentuk tanduk kambing, metal satu jari menggunakan telunjuk yang mengacung ke udara.

Jika ditilik dari sisi antropologi dan sejarah ‘telunjuk mengacung ke udara’, kita pasti teringat dengan rentetan garis keras islam. Entah Hizbullah, entah anggota FPI yang tengah berorasi. Jujur, saya bergidik membayangkannya. Garis keras islam, dengan cara entah bagaimana selalu membuat saya membayangkan vandalisme yang masif.

Sayapun menghabiskan beberapa minggu belakangan untuk menggali mengenai metal satu jari. Dugaan bahwa gerakan ini berbasis di Jakarta rupanya benar. Ini ditulis dalam portalmetal mengenai artikel metal satu jari. Di jejaring sosial seperti Facebook, saya menemukan grup mereka. Overall, saya menemukan metal satu jari ini tak ubahnya dengan metal straight edge. Mereka menulis bahwa apa yang mereka usung didasari rasa prihatin terhadap penggunaan obat terlarang, minuman keras dan anti pentagram. Kita tahu, bahwa pentagram merupakan simbolisasi pemujaan setan, khas blackmetal.

Metal satu jari, kemudian muncul dengan tujuan menampung rekan rekan muslim yang mencintai musik metal tanpa harus terjebak dalam ‘lembah kenistaan’ seperti yang saya sebutkan di atas (pardon my word. I know, it sounds so 70’s). Di titik ini, saya tidak menemukan kesalahan apapun dari metal satu jari. Mereka muslim, ingin tetap taat pada agamanya dan menikmati musik metal tanpa berbuat dosa.

Yang menjadi keprihatinan banyak pihak kemudian adalah pergerakan metal satu jari ini. Saya mungkin akan beranalogi seperti penyebaran komunisme di awal tahun 1950an di Indonesia. Tujuan, visi dan misinya benar, sangat mulia karena ingin mewujudkan ekonomi kerakyatan dan memerangi kapitalis. Namun kemudian, dalam perjalanannya, komunisme mendapat kecaman lantaran dalam penyebaran pahamnya, mereka tak segan menggadai nyawa.

Berlebihan memang, jika mengkomparasikan metal satu jari dan komunisme. Lebay karena belum ada sejarah yang menulis pertumpahan darah akibat metal satu jari. Kekhawatiran tetap ada lantaran kita bisa membayangkan. Metal yang begitu identik dengan hal hal maksiat (oh.. maafkan saya sekali lagi) harus berbaur dengan metal satu jari yang notabene begitu murka dengan kemunkaran. Pelan tapi pasti, saya melihat kemungkinan eksplosifitas metal satu jari.

Berbeda dengan straight edge yang menolak ‘pernik’ metal dengan alasan yang sifatnya pribadi, metal satu jari mendasari pergerakannya dengan nama satu agama. Agama yang kuat dan berdasar ribuan tahun. Radikalisme atas nama agamalah, yang kemudian ditakutkan banyak pihak. Saya sempat berguaru dengan mengatakan “Jangan jangan metal satu jari ini sub cabang FPI”. Sebagai seseorang yang anti FPI, saya kerap kesulitan mencari pembenaran atas pemaksaan kehendak terhadap orang orang yang berbeda keyakinan macam itu.

Well, this post heading to nowhere. Saya hanya menuliskan sesuatu yang mengganjal kepala saya. Perkara apakah saya mendukung atau justru opposite dengan metal satu jari, saya sendiri tak tau jawabannya. Saya setuju, dengan niatan mereka menampung pecinta metal yang anti berbuat dosa. Saya tidak setuju, jika kemudian niatan itu dipaksakan kepada pecinta metal lain yang sudah memilih untuk mabok, giting dan sebagainya sebagai jalan metalnya.

Rusnani Anwar

Senja Merah


Dalam upaya melawan lupa


Malam Teror

Sore itu, langit berpendar merah. Dari kejauhan, matahari memancar, silau. Sudah jam enam sore, matahari belum menyerah. Langit yang sama, yang berulang setiap hari. Wenggini menatapnya dengan mata terpicing. Seperti menantang. Tak lama, pendar silaunya kalah juga. Semesta menghendaki desa Wenggini berubah menjadi malam.
Wenggini memasuki kamarnya. Malam mulai menggelayut di luar sana. Jendelanya kini dirapatkan. Ayahnya tengah sibuk menggotong sekarung jagung ke dalam lumbung kecil di sebelah rumah. Dari jendela Wenggini melihat pria renta itu tergopoh gopoh masuk rumah. Berlomba dengan pendar matahari yang nyaris mati.
Malam, bagi seluruh penduduk desa Wenggini, adalah teror. Sedari kecil hingga ia kini berusia 16 tahun, Wenggini tak habis fikir bagaimana bisa malam menenggelamkan keberanian warga satu kampung. Pertanyaan itu, sebenarnya, terjawab dengan sendirinya. Ketika suatu malam, Sunaryo abangnya diseret paksa dari dalam rumahnya.
Ya.. Wenggini masih ingat malam itu. Rasa rasanya seperti baru seminggu lewat. Segerombol bersenjata menendang pintu, meneriakkan nama abangnya. Popor senjata tumbangkan ayahnya saat ingin mencegah seretan tanpa ampun para bersepatu lars itu. Ayahnya pingsan, hingga kini kakinya masih pincang. Wenggini masih mengenang abangnya yang berdarah darah, berteriak lantang;
“Lebih baik mati daripada..”
Dor.
Abangnya mati di tempat, berlubang kepalanya. Gerombol hitam bersenjata menghilang seiring gemuruh debu dan bising mobil jeep. Wenggini memicingkan mata, mengingat ingat matahari yang terbit kala Sunaryo dikubur seadanya. Di tengah ladang jagung, dengan nisan secarik kayu. Ia kini berbaring di ranjangnya. Pukul tujuh malam dan desa Wenggini tak ubahnya pekuburan.
“Lebih baik mati daripada menyerah,” desis Wenggini.
Bulu kuduknya merinding, ia ngeri sendiri menggumamkan kalimat yang kerap diucapkan abangnya itu. Kalimat itu hanya tersusun dari kosakata sederhana. Tak sampai sepuluh kata. Tapi kalimat itu juga, yang mengantarkannya menjadi tak berabang selamanya. Malam kian tinggi, dari kamarnya Wenggini mendengar pintu pintu berselerek dirapatkan. Jendela jendela diganjal dan dikunci ganda. Juga gemerisik bisik ketakutan seluruh warga desa.
Terkadang, di tengah malam, Wenggini mendengar kerosak jerami kering yang diinjak. Juga bisik membisik dari luar bilik kamarnya. Wenggini ingat, itu suara Sunaryo yang selalu menelusup pergi di tengah malam. Sunaryo tak takut pada teror malam, Wenggini kagumi abangnya yang bersekolah di kota itu.
Malam, adalah teror bagi desa Wenggini. Entah sejak kapan, tak satupun ada yang berani keluar ketika malam tiba. Bahkan tidak untuk sekedar membuka pintu dan memastikan teriakan “Maling maling” dari rumah demang. Ada yang lebih mengerikan dari maling bercelurit di desa Wenggini. Orang orang enggan membeberkan apa teror malam itu sebenarnya.
Wenggini tahu, teror malam itulah yang merobek perut maling bercelurit dan membiarkannya tergantung membusuk dengan usus memburai di pohon Akasia tepi jalan masuk ke desanya. Teror malam yang sama yang melubangi kepala abangnya. Wenggini meraba raba ke bawah ranjangnya. Sebuah tas ransel diraihnya. Milik Sunaryo dulu. Entah apa isinya, tas ransel itu Wenggini temukan terbungkus plastik sangat banyak dan mengapung di sumur belakang rumahnya.
Wenggini tak sengaja mengangkatnya dengan ember berisi air keperluan minum dua sapi milik ayahnya. Ia tak tahu, atau enggan mencari tahu apa maksud lembaran lembaran kertas yang ada dalam ransel Sunaryo. “Lebih sedikit yang tahu, lebih sedikit yang lolos dari peluru,” gumam Wenggini seraya mengembalikan ransel itu ke bawah ranjang.
Wenggini berdesis, terkejut. Mbok Warsih, ibunya mengetuk pintu kamarnya. Malam sudah larut, kokok ayam dan dengung anjing berkeracau, tak berhenti. Ketukan itu semakin kencang, Wenggini segera menyulut pelita. “Ada apa, bu?” suara Wenggini terdengar parau.
“Kemasi bajumu, nduk, cepat,” ibunya menggasak masuk, seperti kesetanan membongkar lemari Wenggini dan melemparkan isinya ke udara. Wenggini melompat dari ranjangnya. Ia tarik ransel Sunaryo dan menjejalkan isi lemari yang dilemparkan ibunya. Mbok Warsih berceracau. “Ealah mampus kita nduk, pamanmu.. abangmu. Kali ini siapa lagi,” “Ibu ndak tau nduk. Apa yang mereka mau” titik airmata dari wajah Mboh Warsih.
Wenggini kian bingung, tapi dikemasinya juga lemparan ibunya. Malam itu, Wenggini dipaksa Mbok Warsih berlari menembus ladang jagung. Nisan abangnya sempat membuatnya jatuh. Wenggini bergidik, ini pertama kalinya ia keluar rumah di malam teror. Mbok Warsih berbalik, kembali ke rumah. Ia berteriak teriak seperti kesetanan. Wenggini tak sempat mencegah, ibunya menghilang dalam pekat ladang jagung.
Wenggini bersimpuh di makam abangnya seraya mengurut kaki, bertanya tanya. Gelap malam dan ladang jagung setinggi kepala rupanya menyembunyikan Wenggini dari rongrongan malam teror. Di sela rapat daun jagung, Wenggini melihat api. Berkeretek, dengan asap menjulang ke langit. Malam teror sedikit berwarna. Api itu dari rumahnya.
Dor. Dor.
Wenggini yatim piatu sejak malam itu.

Ini sebenarnya semacam proyek novelku. Beh, berasa penulis beneran aje bilang ‘proyek novel’ kayak gini. Hm.. mengambil tema PKI, sebenarnya, tentang kapitalisme, ekonomi kerakyatan, komunisme, Freud, Stalin dan kawan kawan. Yang di atas baru chapter satu. Semoga saja, aku ga keburu bosen dan karya ini ga terselesaikan (lagi) layaknya belasan proyek tulisan lain.
Susahnya jadi orang gampang bosenan.

Well, so far aku udah nulis 15 halaman A4 😀 wismilak!