Negara Hitam Putih

Saya adalah penduduk dari negara Hitam Putih. Sebuah negara yang hanya membenarkan keseragaman dan membenci perbedaan. Yang tak seragam, akan dipaksa menjadi seragam. Kalau tidak manut, negara saya akan menurunkan polisi polisi moral bermodal pukul. Saya takut, akhirnya saya ambil doktrin mereka dan saya telan dengan rasa takut.

Begini begini, saya masih sayang nyawa.

Saya adalah penduduk negara Hitam Putih. Sebuah negara dengan slogan : Yang Banyak Yang Benar. Maka semakin banyak orang orang yang yakin diri mereka benar memaksa orang orang yang mereka yakini salah, untuk dibenar benarkan. Negara saya begitu khawatir dengan moral dan perilaku keagamaan warganya, setiap waktu. Negara saya paranoia jika ada satu yang menyimpang, maka negara akan runtuh. Apa boleh buat, itulah resiko hidup di negara yang penduduknya manut lantaran takut.

Saya adalah penduduk negara Hitam Putih. Hanya ada benar salah, dosa pahala dan surga neraka di negara ini. Moral dan akhlak diributkan orang orang di negara Hitam Putih, setiap hari. Menjadi putih, adalah kebanggaan di negara saya. Menjadi putih artinya menjadi warga negara yang baik, yang menuruti semua aturan. Juga mendukung polisi moral kalau perlu ikut serta dalam membasmi ketidakseragaman.

Tidak, negara Hitam Putih tak kenal timbang rasa dan tepa selira lebih lebih toleransi. Tak pernah ada kata kata tersebut dalam sejarah tata bahasa negara Hitam Putih. Apalagi sebagai esensi berfikir. Hanya ada satu ideologi di negara saya :Yang Banyak Yang Benar. Semua orang berlomba lomba menjadi bagian dari penduduk mayoritas. Agar apapun yang ia lakukan bisa dibenar benarkan.

Negara Hitam Putih, hanya kenal Hitam dan Putih. Hitam berarti hina dan dijadikan contoh perilaku tercela. Kaum yang hitam, biasanya akan disimpan di balik jeruji yang dipamerkan di pinggir jalan. Sebagai objek menakut nakuti. Putih berarti benar, dan benar berarti banyak. Dan kebanyakan, kebenaran di negara itu tak perlu pembenaran, cukup dibenar benarkan dengan alasan yang kasatmata dan tak terkecap indra.

Di negara Hitam Putih, orang orang tak perlu berfikir. Lembaga moral sudah menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka. Orang orang juga tak perlu bertanya. Yang bertanya berarti memilih menjadi abu abu, warna yang tak pernah dikenal negara Hitam Putih. Warna lain selain hitam dan putih, akan dienyahkan oleh polisi moral.

Di negara Hitam Putih, semua orang sudah mati rasa akan kepekaan rasa. Di negara Hitam Putih, semua sudah menjadi robot yang terobsesi atas putihnya negara 🙂

Hitam putih adalah harmoni

Bukan tabu yang kau benci


-Rocket Rockers-

Advertisements

FPI dan Ideologi Mereka

Look what I found on twitter today : click to memperbesar (wkwkwk, anti ngomong enlarge gw)

Yep, saya emang udik hingga baru tau kalau FPI ngebikin akun resmi di twitter. Sebelumnya mah saya temenan sama FPIyeah, akun lucu lucuan. Ga taunya beneran ada yang asli, edan. Saya ngebaca bio mereka sih, bilang gini :

Pressure Group di Indonesia mendorong berbagai unsur pengelola negara berperan aktif perbaiki dan mencegah kerusakan moral dan akidah umat Islam

Buset, bumi gonjang ganjing langit terbelah dua. Saya benar benar tak menyangka bahwa mereka akan mengklaim diri sebagai pressure group. Dalam konteks literasi langsung, artinya adalah kelompok penekan. Kata ‘penekan’ sendiri konotasinya sudah jelak, kalimat berpadanan kata ‘penekan’ sendiri akan menjadi majas peyorasi.

Itu kalau diartikan secara literasi langsung. Nah jika mencari definisi, begini kira kira arti pressure group itu :

An interest group that endeavors to influence public policy and especially governmental legislation, regarding its particular.

Sebuah kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi kebijakan publik dan khususnya undang-undang pemerintah. Ampun dijeeee 😀 *godekgodek*

Oke, saya menangkap tiga hal yang (menurut saya) ganjil dari cara FPI mendefinisikan diri mereka dalam bio twitter itu:

satu, pressure group

dua, mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama

tiga, moral dan akidah umat islam

Satu satu deh dijelasin. Satu, FPI sebagai pressure group yang mencoba mempengaruhi kepemerintahan itu, tak bisa diterapkan di negara ini. Ingat, FPI adalah representasi islam (islam macam apa saya tak tau) yang tentu saja, berdasarkan agama islam. Sementara Indonesia, memiliki lima agama yang diakui. Indonesia negara multikultur. Sebagai pressure group, FPI tak bisa mempengaruhi pemerintah karena mereka hanya mewakili satu agama saja.

Jika pemerintah kemudian berhasil ditekan FPI dan menerapkan aturan islam ke dalam undang undang negara, berarti Indonesia sudah meludahi Bhineka Tunggal Ika. FPI, merangsek ke dalam ranah hukum di negara berazas pancasila. Saya bingung menyebut mereka ini apa, Tebal Muka kali ya 😀

PKI saja, yang tidak berlatar agama tak bisa berjaya menjadi pressure party di Indonesia. Apalagi yang berlandas hal se-sensitive agama. Itu satu, menurut saya, FPI tak akan bisa menjadi pressure group di Indonesia untuk konteks pressure vertikal (FPI ke Pemerintah). Tentu saja, dengan syarat negara tetap pada pancasila dan Undang Undang, tidak beralih pada Al Quran dan Fiqh sebagai dasar negara.

Untuk konteks pressure group yang sifatnya horizontal (FPI ke masyarakat), saya sedih, tapi harus bilang, ya, mereka bisa tetap berdiri. Saya rasa buktinya sudah anda baca dan lihat di televisi. Betapa FPI kemudian tersetarakan dengan satpol PP dalam melakukan pengendalian sosial lapangan. Di negara ini, selama tuhan dan agama masih dianut berdasar rasa takut, FPI akan tetap berjaya. Dan tentu saja, Rental Tuhan saya tetap laku ^^

oke, itu satu, FPI sebagai Pressure Group

Lanjut ke masalah mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Bagi saya, Negara tak punya hak apapun untuk melakukan intervensi moral dan agama penduduknya. Saya sependapat dengan om Andreas (manggil om biar keliatan abegenya) yang beliau tulis di sini saya kutip :

Saya kira, negara tidak perlu ikut campur urusan agama warganya. Harus ada pemisahan yang jelas. Negara hanya berkewajiban mengurusi kebutuhan warganya menyangkut kehidupan bersama, seperti mengatur saluran telepon, saluran air bersih, jalan yang bagus, tidak banjir, perasaan aman, jaminan hukum, dan tidak diskriminatif. Kalau urusan agama, itu biarlah menjadi urusan masjid, gereja, madrasah dan pesantren, vihara, klenteng dan sebagainya. – Andreas Harsono, Wartawan Keren.

Ya, jika ranah agama merambah pemerintah, maka yang akan terbentuk adalah Polisi Moral. Tuhan dan perilaku ketuhanan itu masalah masing masing individu dan tuhannya, IMO. Mari katakan FPI berhasil menanamkan doktrin islam dalam pemerintahan. Lalu apa yang terjadi? selain menginjak demokrasi, pancasila dan multikulturisme yang dianut Indonesia, masyarakat akan hidup dalam rasa ketakutan. Terutama untuk yang minoritas.

Jadi, negara tak boleh ikut campur dan dipaksa (oleh FPI) mencampuri urusan agama masyarakatnya. Dengan dirangsekinya pemerintahan oleh doktrin islam, FPI (secara sadar atau tidak) sudah menjejalkan tuhan (dan islam) ke mulut mulut kaum yang sudah bertuhan/tidak bertuhan di Indonesia. Fokus pada kata menjejalkan. Ketika anda menjejalkan kelinci ke mulut kucing, bukan hanya kucing yang merasa sakit pada mulutnya. Si kelinci juga akan tersakiti.

Tentu maksud saya tidak secara harfiah. Nanti saya dibilang kafir gara2 menyamakan Allah dengan kelinci 🙂 well, somehow, jika islam di’paksa’kan untuk dianuti orang dengan menelusupkan teori islam dalam aturan bernegara seperti itu, saya merasa kasihan dengan Allah. (meski kemudian saya akan dihujat lagi lantaran mengasihani yang maha agung. kalau Allah agung, kenapa lantas diperlakukan seperti kelinci?)

Itu untuk konteks mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Saya di sini mencoba menyuarakan jeritan kaum minoritas di negara ini. Saya ingin mewakili suara kaum kaum non muslim yang insecure beribadah dalam rumah ibadah mereka. Dengan perasaan wanti wanti apakah akan ada penyerangan, pembakaran, atau penusukkan yang akan menimpa mereka. Saya ingin sampaikan suara minoritas di negara ini. Bagi saya, mereka tertindas.

Konteks terakhir : moral dan akidah umat islam

Simple saja, saya sebutkan bahwa moral bukan akidah dan akidah bukan moral. Seperti padi dan nasi goreng. Yang satu produk langsung tuhan (padi) dan satunya produk olahan manusia (nasi goreng). Tetap ada unsur padi dalam nasi goreng. Tapi perlu diproses dulu (dengan akal, hati, nurani) untuk menjadi nasi lantas nasi goreng. Dan keduanya tak bersinggungan pragmatik.

Pragmatik adalah jika orang tak menerapkan akidah islam, maka ia tak bermoral. FYI, akidah islam adalah : Masalah-masalah dan perkara-perkara yang wajib bagi seorang muslim untuk mengimaninya (mempercayainya) ada empat kalau tak salah, Allah, nabi, malaikat dan berita gaib. Jika logika pragmatik ini digunakan, maka secara gamblang anda menyebut kristen itu tak bermoral, lantaran mereka tak menganut akidah islam.

Cape deh ommm

Memangnya anda itu siapa sampai punya hak untuk menentukan kami bermoral atau tidak, lantas mengaturatur moral kami?

Tuhan?

Pada akhirnya manusia akan mempertanyakan perihal ketuhanan, juga moral dan ideologi beragama. Sesungguhnya jawabannya hanya satu :

Masing masing

Apakah postingan saya ini menghakimi FPI? tidak, niatan saya tak begitu. Saya hanya lulusan SMA yang tak tau teori teori agama. Kalau terdengar menghakimi, mohon maaf sebelumnya. Saya hanya mencoba mengeluarkan isi kepala saya 🙂

Agama-isme

sengaja saya sisipkan garis mendatar pada dua kosakata di atas. Nampaknya, keduanya belum menjadi kata yang padu. Atau sudah? entahlah, saya tak pandai dalam bahasa. Tulisan ini seperti bentuk khawatir saya sebagai umat bertuhan. Saya sebut bertuhan karena saya punya tuhan, yang saya sayang dan saya ajak bicara setiap hari.

Bagi saya, ada dua patahan berbeda dalam konteks beragama. Ada tuhan, ada agama. Saya selalu menggunakan istilah bertuhan untuk merujuk pada apa yang saya yakini. Tapi apakah saya beragama? Entah. Saya terlahir beragama islam, menghabiska menghabiskan masa kanak kanak hingga remaja di sekolah islam berbasis kemuhammadiyahan. Ayah saya seorang muslim taat, beliau sering i’tikaf di masjid dan melakukan ritual islam lainnya.

Apakah saya agnostik? tidak, saya tidak sekeren itu. Saya tak bisa menemukan definisi kata untuk apa yang saya lakoni bersama tuhan. Saya percaya agama dan tuhan, dan saya tak bisa mengklaim apakah semua agama benar, karena saya tak pernah berada dalam konteks ‘semua agama’ itu. 

Saya hanya tahu tentang islam, itupun tak seberapa. Ilmu saya dibanding anda mungkin tak sampai seperseribunya. Saya tak pernah beragama kristen, hindu, budha, katolik dan ribuan kepercayaan lain. Jadi saya tak tau rasanya, karenanya saya tak bisa bilang semua agama benar. 

Hingga saat ini saya masih bertuhan. Saya percaya pada tuhan, tapi sekali lagi, apa, bagaimana dan seperti apa hubungan saya dengan tuhan, saya tak tau sebutannya. Saya hanya lulusan SMA yang tak berkesempatan kuliah. Biarlah urusan menelurkan teori dan konsep menjadi hak mereka mereka yang berilmu. 

Ada perbedaan besar antara tidak percaya dan ‘tak menaruh perhatian berlebih’. Itu yang menjadi dasar pandangan saya terhadap agama. Karenanya saya menolak disebut agnostik. Saya percaya agama, hanya tak menaruh perhatian berlebih atasnya. Percaya adalah perihal meyakini. Beragama, berarti melakukan ritual agama. Solat, kebaktian, tiwah, dan lain lain. Saya tidak menaruh perhatian berlebih dalam beragama. Saya masih sibuk mencintai tuhan.

Saya sibuk bertuhan.

Dan saya tak begitu peduli terhadap keagamaan orang. Saya tau bahwa saya tak ingin dicela, karena itu sebisa mungkin saya tak mencela agama orang. Saya sempat menulis tentang toleransi dan keberagaman agama di sini dan sini. Pada akhirnya, saya hanya bisa menjabarkan bahwa:

Bagi saya, tuhan itu seperti makanan kesukaan saya, Rotiboy. Saya sangat suka Rotiboy, saya beli sebanyak banyaknya dan hanya saya konsumsi sendiri. Saya tak suka jika orang orang membanding bandingkan Rotiboy saya dengan J.Co Donuts. Saya sendiri tak mau menggubah Rotiboy menjadi keJ.coJ.coan. 

Saya juga tak suka jika ada orang yang mengutak atik Rotiboy saya. Dan yang pasti, saya tak cukup baik hati untuk memaksa orang lain memakan Rotiboy saya. Tuhan itu seperti aurat, ia personal dan tak perlu diumbar. Cukup dicintai sebaik baiknya. Saya, anda, kita semua bisa saja membentuk konsep dan teori teori tentang tuhan.

Pada akhirnya, jawabannya cuma satu:

Masing Masing.

Brick

One of my family members told me to being realistic last day. She is my sister. She told me “You may have a good brain and knowledge overall, but you have to shuttle down your ego and start to be realistic, you cant survive if only hanging on your idealism”.

There. Shock me up 😀 

Now, I just sent 2 job application on 2 different radio, I miss my job to be an announcer, but beyond of that. It could be me to proven that I quiet “realistic”; I hate to hear they always talking about my uselessness. I sick to hear voices that order me to earn some money.

Honestly, I hate to work. But “nothing money can’t buy”, isn’t? I have a dream, and I need bunch of money to make it real. My little comic rent-shop :), and my major dream 😀 to travel this whole world by myself. Hohoho.

Which is far far far faaaaaaaaaaaaaaaaar away from reality.

But at least, I’m still trying. Huh?

The reason why I decided to applying a job is simple: I need money. My fam needs money. My mom told me that I a bricks of my older sister wedding. It’s hurt, but it true. My sister paying all of this family needs. If she got a married, who else would pay that bill? My father is too old to earn money. And I just too useless to bring my fatty ass to “real life”.

Oh mine..

I want to be the others, walking trough they favorite university, hang out, the other 18’s stuff

But then, I have to be realistic, huh?

Implikasi Adiksi Sinetron Indonesia Pada Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Selamat Sore dan Salam Sejahtera

Dan Assalammualaikum Wr. Wb

Sate, Bakso, Emping, Kerupuk,

Semuanya Enak!

Baik, dalam panel kali ini kita akan membahas mengenai dampak candu sinetron pada pertumbuhan ekonomi nasional. Saya, Dra. Rusnani Anwar S.om S.Kop S.os akan menjelaskan melalui pandangan ilmiah sesuai bidang ilmu yang saya kuasai. Sesuai gelar, saya pandai merayu Om om, sempat bergabung dengan Koperasi Sejahtera milik bu lurah dan saya gemar makan sosis.

Saudara saudara dalam lindungan tuhan (kok berasa khotbah yak)

Saya sangat prihatin atas maraknya penayangan sinetron di televisi Indonesia. Episode episode sinetron tersebut kerap membuat saya sakit perut dan merasa lapar. Saya sendiri gagal menemukan apa korelasi antara sinetron dan perut yang lapar. Saya lapar, beri saya makan, maka kejahatan akan hilang dari muka bumi, berpindah ke pantat bumi dan bagian tubuh lainnya.

Mari kita berkaca, siapa sebenarnya yang paling banyak mengkonsumsi tayangan sinetron? benar, adalah ibu ibu kampung dan babu babu kota. Kaum kelas tiga yang setiap harinya bergulat dengan kesusahan hidup. Yang menjalani pola berulang sumur-dapur-kasur 24 jam selama rentang tujuh hari. Bisa anda bayangkan betapa jenuhnya hidup seperti itu?

Selepas sehari penuh mengurusi asap dapur, para babu dan ibu ibu kampung kelas tiga itu akan berpaling kepada televisi. Saya sudah melakukan studi lapangan dengan objek penelitian emak dan tetangga saya. Emak, sebagai representasi ibu ibu kampung kelas tiga, rela meninggalkan dan menanggalkan segalanya demi mengikuti tayangan Cinta Fitri. Bagi beliau, tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini selain mengetahui apakah Farel yang hilang ingatan kembali mengingat Fitri, cinta sejatinya.

Alhasil, keluarga kami sering tidak mendapat jatah makan malam. Terpaksa order makanan luar dan bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk memenuhi hasrat konsumsi lima mulut manusia dan 12 ekor kucing setiap malamnya. Emak saya, secara langsung maupun tidak, telah melakukan pemborosan. Dan tentu saja, pemborosan itu berimplikasi pada pendapatan ayah dan semakin memperbesar jurang dari pendapatan per kapita dan target KB nasional.

(feel lost? me too)

Tayangan sinetron Indonesia, juga telah memperbesar jumlah pengangguran. Contoh terdekat adalah kawan saya. Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya), dia adalah seorang karyawan di sebuah kantor asuransi. Suatu malam, Bunga di minta untuk lembur untuk menyelesaikan laporan keuangan akhir bulan. Bunga, berada dalam dilemma. Di satu sisi, laporan keuangan yang tidak selesai akan memberikan dampak pragmatis di mana ia dan seluruh rekan sekantornya terpaksa telat digaji. Di sisi lain, Bunga nampaknya tak ingin melewatkan episode ke 97 sesion ke 6 Cinta Fitri.

Bunga, mengambil keputusan yang berat. Baginya, tidak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain melewatkan adegan hiperbolis Mischa saat menyiksa Fitri, dan Farel yang lumpuh tengah berusaha sedramatis mungkin untuk kembali ke kursi roda. Ya, demi menonton para artis yang bahkan saat tidurpun memakai make up itu, Bunga rela melihat rekan sekantornya telat gajian.

Bunga, dengan segala kecacatan moral yang dimilikinya, memilih untuk bolos dan tidak menyelesaikan laporan keuangan bulan Oktober. Ia pulang kantor pukul lima dan menyiapkan diri untuk menantikan detik detik bersejarah dalam hidupnya, menonton episode ke 97 sesion ke 6 Cinta Fitri. Bunga, berhasil mengetahui bahwa Farel, selepas perjuangan maha beratnya, berhasil kembali duduk di kursi roda. Dan Mischa, kembali menjatuhkannya. Satu episode itu seluruhnya di isi adegan Farel-jatuh-terus-berusaha-naik-terus-dijatuhin-lagi. Bunga gegap gempita, hatinya cerah ceria bagaikan matahari di Minggu pagi.

Besok harinya, Bunga dipecat.

Dan bayangkan ada berapa banyak Bunga yang dipecat dan menjadi pengangguran di negeri ini lantaran bolos demi nonton sinetron super lebay dengan jalan cerita absurd dan karakter imbisil seperti kawan saya Bunga??

Atas nama keadilan, saya menuntut agar tayangan sinetron Indonesia dihapuskan selamanya. Gantikan dengan tayangan open air Al Jazeera atau StarWorld, juga gapapa. Atau jadikan saya Menteri Komunikasi dan Informasi. Saya juga ga tau apa hubungannya dengan sinetron Indonesia, yang pasti saya akan lebih banyak salaman dengan Michelle Obama.

Sekian pidato saya sore hari ini.

Salam sejahtera, Assalammualaikum

Bakso, Sate..

*Ditimpuk Massa*

Membangun Scene Metal

Sampit Perlu Perubahan!

Sore itu, saya menyempatkan untuk menyapa seorang kawan, Kimung. Namanya mungkin tidak lagi terdengar asing. Terlebih untuk ranah musik keras Bandung. Ia, merupakan salah satu yang memprakarsai pembentukan scene UjungBerung Rebels (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Uberebels). Ujung Berung, bagi beberapa scene metal di kota kota lain, bisa dianggap sebagai kiblat. Atau jika tak ingin terdengar berlebihan, Ujung Berung dapat disebut sebagai salah satu scene musik keras tertua di Indonesia.

Via chatting, ia menjelaskan mengenai seperti apa keadaan Uberebels sekarang dan masa lampau. Saya lantas mencoba untuk mengkomparasi antara Bandung dan kota saya, Sampit. Sebelumnya, saya ingin mengenalkan Sampit. Ini adalah sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah, posisinya berdekatan dengan Palangkaraya. Sampit, pada dasarnya memiliki potensi besar untuk berkembang (dari segi pergerakan musik). Mungkin, kami hanya belum berkesempatan untuk berkembang.

Poin poin yang membuat scene Bandung bisa berkembang secara masif adalah jejaring, wadah, dan tentu saja, massa. “Bandung kota kecil, dari pusat kota ke tiap ujung daerah paling butuh waktu 20-30 menit bermotor,” ujarnya saat saya sanjung mengenai betapa besarnya Bandung sebagai kota. Ia menyebutkan, dengan keadaan kota yang kecil, kesempatan untuk bertemu banyak orang semakin besar.

Dari situlah, crowd perlahan terbentuk. Komunitas kecil perlahan berkembang menjadi scene dengan massa bejibun. Kedua, adalah wadah. Kimung menyatakan di Bandung, terdapat banyak acara dengan penyelenggara berbeda. Keberagaman gig musik keras membuat kawan kawan yang tergabung dalam scene memiliki tempat untuk sekadar bernyanyi dan menyebarkan kabar mengenai eksistensi mereka.

Kemudian, yang terakhir adalah jejaring. Mereka, mengembangkan jaringan tidak hanya sebatas internal musik keras. Jaringan dengan pemerintahan, kepolisian hingga komunitas non musik dikembangkan. “Perupa,arsitek, penulis, fesyen, mahasiswa, dokter, hingga tentara,” sebutnya. Jejaring seperti ini, disebut sebagai jejaring eksternal. Hal ini diperlukan sebagai upaya perluasan komunitas, dan tentu saja, dapat mempermudah pengadaan acara.

Di Bandung, tak asing jika kemudian dalam pagelaran musik, diselipi pameran dan pertunjukkan. Pun sebaliknya. Nilai plusnya, perizinan bisa lebih mudah didapat. Mengenai perizinan, Kimung memiliki catatan tersendiri untuk scene di kotanya. Ia menyebutkan “Di banding awal 2000an perijinan hari ini sangat susah,”

Awalnya, saya mengira bahwa hal ini berhubungan dengan peristiwa Beside dan AAC beberapa tahun silam. Ternyata, peristiwa tersebut bukan satu satunya penyebab. Kimung lebih menyebut adanya ketidaksamaan visi antara pengada acara dan pemerintah. “Walikota tak punya visi yang jelas tentang kota ini. Ga gaul. Ga tau dinamika yang terjadi,” paparnya. Dinamika di mana kaum muda dan pergerakan musik di kota itu sudah sangat masif dan memerlukan support pemerintah.

Saya fikir, kolot-isme pemerintahan terjadi di mana mana. Pemerintah yang begitu paranoid dengan gerombolan bertatto dan kaos hitam hitam ^^. Lepas perbincangan dengan Kimung, saya mencoba untuk mengkomparasikannya dengan kota saya. Lantas mengukur probabilitas kemajuan pergerakan musik keras di kota ini.

Massa dan jejaring. Dua hal ini, sebenarnya bisa kota saya dapatkan dengan mudah. Massa musik keras di kota ini cukup mumpuni. Tentu bukan dengan standar ‘musik keras’ sekelas Disgorge ataupun Funeral Inception. Musik keras sekelas punk, emo atau bahkan rock and roll, dapat diterima dengan baik. Saya, sempat membuktikan ini dengan berhasil mengumpulkan 56 nama untuk menjadi anggota Sampit Music Community. Meski kemudian komunitas ini kolaps dan lenyap entah kemana.

Massa, adalah potensi pertama yang saya yakini ada di kota ini. Kemudian jejaring. Untuk kota sekelas Sampit, kemajuan tekhnologi dan akses keluar kota sudah cukup mumpuni. Jejaring, saya rasa bukan kendala. Komunitas punk Sampit, mampu menembus hingga Malang dan Surabaya. Secara aktif, mereka sesekali mengadakan panggung kecil kelas internal. Saya rasa, sekali lagi, jejaring bukan kendala sebenarnya.

Masalah utama kota ini, adalah wadah. And unfortunately, wadah adalah hal krusial yang tanpa keberadaannya suatu komunitas bisa tewas. Ini dibuktikan oleh komunitas yang saya dan kawan kawan coba usung. Komunitas metal, tak dapat wadah bahkan hanya untuk berkumpul. Tak terbayang susahnya membuat perizinan untuk mengadakan panggung dengan mengusung nama metal.

Stigma mengenai metal sama dengan rusuh masih berkelibas terlampau sering di kepala awam. Saya, sulit menyalahkan siapa dalam hal ini. Selain perizinan dan stigma yang terlanjur terbentuk, tempat untuk berkreasi cenderung minim di kota ini. Kering pagelaran musik. Solusi? Ini yang saya lupa tanyakan pada Kimung.

Meski sebenarnya saya tau apa yang akan ia jawab jika saya tanyakan perihal ini.

“Bergeraklah, terus maju dengan caramu. Suatu saat pasti ada jalan. Jangan berhenti, karena berhenti berarti mati,”

Kimung menulis buku mengenai scene ujungberung. Dalam buku Myself, Scumbag: Beyond Life and Death, MinorBooks, 2007. Buku yang berorientasi pada sebuah nama, Ivan Scumbag, dan band-nya Burgerkill. Kedekatan personal penulis dan isi buku membuat Myself, Scumbag: Beyond Life and Death menjadi sebuah karya epik yang menarik untuk diikuti, dari halaman satu hingga akhir. Banyak bagian dari buku ini yang menguras emosi. Kita dibawa ke dalam dunia Ivan, Kimung, Burgerkill dan uberebels. Dalam sebuah penghormatan atas kematian vokalis band metal paling heavy se-Indonesia itu 🙂



Rusnani Anwar

Sampit, 12 Nopember 2010

Dengan lantunan Suffocation dan bergelas gelas susu coklat hangat.

Pencitraan

Saya banyak mendengar/membaca kalimat ini belakangan. Apa itu pencitraan? saya yang semasa sekolah dulu berjurusan IPS menemukan kata ‘penctitraan’ dalam pelajaran Geografi. Dan saya meyakini, pencitraan yang dimaksud bukan pencitraan satelit angkasa luar seperti yang ada dalam textbook geografi.
People portraying something, creating a opinion on it. That’s pencitraan. Di Indonesia, pencitraan justru berlaku sebaliknya. People creating some opinion about something, dan menyuguhkannya sebagai citra. Image, gambaran.
Saya menemukan kalimat ini dalam The Colbert Report. Semacam tivi show amrik yang mengusung slaptical joke/sarkasm joke dalam tayangannya.
“I always pictured Indonesians communicating by banging coconuts on a log”

It just so sad to knewing the wolrd portraying us as a super primitive primate. Saya sih bangga, sebenarnya. Indonesia bisa masuk ke dalam acara sekelas The Colbert Report. Tapi TIDAK dengan isu ini! tonton videonya di sini.
Yep, menkominfo PKS kita yang tercinta itu kembali berlaku memalukan. Di forum internasional, ia telah mempertontonkan hipokrasi dan inkonsistenitas yang cukup untuk ngebuat saya gemes dan ingin melindas beliau dengan mobil tinja. Ya, sesebal itu.
Tapi siapalah saya, seorang blogger pengangguran jomblo yang gapunya kerjaan.. (out of topic) ^^