Reuni dan Ketidakmampuan Meninggalkan Masa Lalu

Saya tengah membongkar bongkar file lama di komputer, siang ini. Niatan saya sih pengen ngehapus data data ga berguna demi memaksimalkan space memory hardisk. Selama ini, saya terbiasa menyimpan data dengan urutan bulan+tahun. Semakin saya membuka file file tahun dan bulan lama, makin susah tangan saya mengklik tombol del di keyboard.

Saya kemudian terlempar ke tahun tahun itu, setiap saya ngeclose satu folder dan berpindah ke bulan dan tahun lain. “Edan, betapa kenangan berhasil menjebak orang dalam keadaan diam,” batin saya. Akhirnya, siang itu berlalu hingga menjelang sore dan saya tak berhasil menghapus satupun file yang ada. Ini sebabnya banyak orang yang justru menambah memory hardisk ketimbang ngehapus yang ada, kali ya..

Saya, dan mungkin banyak di antara kita, terbiasa menimbun kenang kenangan. Di era informatika seperti sekarang, kenangan itu tidak lagi berupa kartu pos atau lembaran foto 4 R berlatar pemandangan. Tidak juga dalam bentuk pernik lucu yang mengingatkan kita pada satu tempat.

Kenangan pada zaman sekarang memakan belasan bahkan ratusan megabyte kapasitas gadget apapun yang kita punya. Entah itu berupa ribuan foto berbagai pose, atau puluhan video. Kita melakukannya, semata untuk mengenang. Layaknya hewan mamalia yang menandai teritori mereka dengan air seni, manusia memberikan banyak checkpoint dengan foto dan video.

Salah? nggak ah, saya nulis poting ini bukan untuk memberikan batasan benar-salah atas sesuatu. Saya hanya merasa seperti.. guilty pleasure.

Ya, bermain main dengan kenangan adalah kesenangan yang membahayakan. Saya sendiri sempat mengalami fase macet dan tersendat demi mengenang masa lalu. Mengingat ingat masa ‘kejayaan’, atau mengenang ngenang saat terindah dalam kenangan hidup. Rasanya ya itu, guilty pleasure.

Begitupun dengan reuni. Berbagai reuni diselenggarakan, semua orang rela menyibukkan diri demi kesuksesan reuni. Kembali bertemu dengan kawan lama, yang konon makin tua rentang suatu reuni, makin besar esensi kangen kangenan yang diumbar. Saya bukan bermaksud sinis terhadap tetek bengek kenangan. Tapi betapa kemudian kita akan begitu terjebak dengan kenangan dan masa lalu hingga rasa rasanya sayang untuk meninggalkan kenangan dan melangkah maju.

Kini, demi alasan move on, saya menolak untuk ikut reuni, atau sekedar hang out bersama kawan lama. Kesannya sombong ya, ini saya lakukan demi diri sendiri. Saya perlu maju ke depan, and I’m really vulnerable with memories. Salah dikit saya bisa jatuh ke ranah stuck dan sulit maju. Ini salah, saya tau, tapi saya memang tak pandai mengatur perasaan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s