FPI dan Ideologi Mereka

Look what I found on twitter today : click to memperbesar (wkwkwk, anti ngomong enlarge gw)

Yep, saya emang udik hingga baru tau kalau FPI ngebikin akun resmi di twitter. Sebelumnya mah saya temenan sama FPIyeah, akun lucu lucuan. Ga taunya beneran ada yang asli, edan. Saya ngebaca bio mereka sih, bilang gini :

Pressure Group di Indonesia mendorong berbagai unsur pengelola negara berperan aktif perbaiki dan mencegah kerusakan moral dan akidah umat Islam

Buset, bumi gonjang ganjing langit terbelah dua. Saya benar benar tak menyangka bahwa mereka akan mengklaim diri sebagai pressure group. Dalam konteks literasi langsung, artinya adalah kelompok penekan. Kata ‘penekan’ sendiri konotasinya sudah jelak, kalimat berpadanan kata ‘penekan’ sendiri akan menjadi majas peyorasi.

Itu kalau diartikan secara literasi langsung. Nah jika mencari definisi, begini kira kira arti pressure group itu :

An interest group that endeavors to influence public policy and especially governmental legislation, regarding its particular.

Sebuah kelompok kepentingan yang berusaha mempengaruhi kebijakan publik dan khususnya undang-undang pemerintah. Ampun dijeeee πŸ˜€ *godekgodek*

Oke, saya menangkap tiga hal yang (menurut saya) ganjil dari cara FPI mendefinisikan diri mereka dalam bio twitter itu:

satu, pressure group

dua, mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama

tiga, moral dan akidah umat islam

Satu satu deh dijelasin. Satu, FPI sebagai pressure group yang mencoba mempengaruhi kepemerintahan itu, tak bisa diterapkan di negara ini. Ingat, FPI adalah representasi islam (islam macam apa saya tak tau) yang tentu saja, berdasarkan agama islam. Sementara Indonesia, memiliki lima agama yang diakui. Indonesia negara multikultur. Sebagai pressure group, FPI tak bisa mempengaruhi pemerintah karena mereka hanya mewakili satu agama saja.

Jika pemerintah kemudian berhasil ditekan FPI dan menerapkan aturan islam ke dalam undang undang negara, berarti Indonesia sudah meludahi Bhineka Tunggal Ika. FPI, merangsek ke dalam ranah hukum di negara berazas pancasila. Saya bingung menyebut mereka ini apa, Tebal Muka kali ya πŸ˜€

PKI saja, yang tidak berlatar agama tak bisa berjaya menjadi pressure party di Indonesia. Apalagi yang berlandas hal se-sensitive agama. Itu satu, menurut saya, FPI tak akan bisa menjadi pressure group di Indonesia untuk konteks pressure vertikal (FPI ke Pemerintah). Tentu saja, dengan syarat negara tetap pada pancasila dan Undang Undang, tidak beralih pada Al Quran dan Fiqh sebagai dasar negara.

Untuk konteks pressure group yang sifatnya horizontal (FPI ke masyarakat), saya sedih, tapi harus bilang, ya, mereka bisa tetap berdiri. Saya rasa buktinya sudah anda baca dan lihat di televisi. Betapa FPI kemudian tersetarakan dengan satpol PP dalam melakukan pengendalian sosial lapangan. Di negara ini, selama tuhan dan agama masih dianut berdasar rasa takut, FPI akan tetap berjaya. Dan tentu saja, Rental Tuhan saya tetap laku ^^

oke, itu satu, FPI sebagai Pressure Group

Lanjut ke masalah mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Bagi saya, Negara tak punya hak apapun untuk melakukan intervensi moral dan agama penduduknya. Saya sependapat dengan om Andreas (manggil om biar keliatan abegenya) yang beliau tulis di sini saya kutip :

Saya kira, negara tidak perlu ikut campur urusan agama warganya. Harus ada pemisahan yang jelas. Negara hanya berkewajiban mengurusi kebutuhan warganya menyangkut kehidupan bersama, seperti mengatur saluran telepon, saluran air bersih, jalan yang bagus, tidak banjir, perasaan aman, jaminan hukum, dan tidak diskriminatif. Kalau urusan agama, itu biarlah menjadi urusan masjid, gereja, madrasah dan pesantren, vihara, klenteng dan sebagainya. – Andreas Harsono, Wartawan Keren.

Ya, jika ranah agama merambah pemerintah, maka yang akan terbentuk adalah Polisi Moral. Tuhan dan perilaku ketuhanan itu masalah masing masing individu dan tuhannya, IMO. Mari katakan FPI berhasil menanamkan doktrin islam dalam pemerintahan. Lalu apa yang terjadi? selain menginjak demokrasi, pancasila dan multikulturisme yang dianut Indonesia, masyarakat akan hidup dalam rasa ketakutan. Terutama untuk yang minoritas.

Jadi, negara tak boleh ikut campur dan dipaksa (oleh FPI) mencampuri urusan agama masyarakatnya. Dengan dirangsekinya pemerintahan oleh doktrin islam, FPI (secara sadar atau tidak) sudah menjejalkan tuhan (dan islam) ke mulut mulut kaum yang sudah bertuhan/tidak bertuhan di Indonesia. Fokus pada kata menjejalkan. Ketika anda menjejalkan kelinci ke mulut kucing, bukan hanya kucing yang merasa sakit pada mulutnya. Si kelinci juga akan tersakiti.

Tentu maksud saya tidak secara harfiah. Nanti saya dibilang kafir gara2 menyamakan Allah dengan kelinci πŸ™‚ well, somehow, jika islam di’paksa’kan untuk dianuti orang dengan menelusupkan teori islam dalam aturan bernegara seperti itu, saya merasa kasihan dengan Allah. (meski kemudian saya akan dihujat lagi lantaran mengasihani yang maha agung. kalau Allah agung, kenapa lantas diperlakukan seperti kelinci?)

Itu untuk konteks mendorong negara aktif dalam urusan moral dan agama. Saya di sini mencoba menyuarakan jeritan kaum minoritas di negara ini. Saya ingin mewakili suara kaum kaum non muslim yang insecure beribadah dalam rumah ibadah mereka. Dengan perasaan wanti wanti apakah akan ada penyerangan, pembakaran, atau penusukkan yang akan menimpa mereka. Saya ingin sampaikan suara minoritas di negara ini. Bagi saya, mereka tertindas.

Konteks terakhir : moral dan akidah umat islam

Simple saja, saya sebutkan bahwa moral bukan akidah dan akidah bukan moral. Seperti padi dan nasi goreng. Yang satu produk langsung tuhan (padi) dan satunya produk olahan manusia (nasi goreng). Tetap ada unsur padi dalam nasi goreng. Tapi perlu diproses dulu (dengan akal, hati, nurani) untuk menjadi nasi lantas nasi goreng. Dan keduanya tak bersinggungan pragmatik.

Pragmatik adalah jika orang tak menerapkan akidah islam, maka ia tak bermoral. FYI, akidah islam adalah : Masalah-masalah dan perkara-perkara yang wajib bagi seorang muslim untuk mengimaninya (mempercayainya) ada empat kalau tak salah, Allah, nabi, malaikat dan berita gaib. Jika logika pragmatik ini digunakan, maka secara gamblang anda menyebut kristen itu tak bermoral, lantaran mereka tak menganut akidah islam.

Cape deh ommm

Memangnya anda itu siapa sampai punya hak untuk menentukan kami bermoral atau tidak, lantas mengaturatur moral kami?

Tuhan?

Pada akhirnya manusia akan mempertanyakan perihal ketuhanan, juga moral dan ideologi beragama. Sesungguhnya jawabannya hanya satu :

Masing masing

Apakah postingan saya ini menghakimi FPI? tidak, niatan saya tak begitu. Saya hanya lulusan SMA yang tak tau teori teori agama. Kalau terdengar menghakimi, mohon maaf sebelumnya. Saya hanya mencoba mengeluarkan isi kepala saya πŸ™‚

3 thoughts on “FPI dan Ideologi Mereka

  1. SIPZ MAZ . . . sebagai orang muslim q juga kurang setuju sama adanya FPI . . karena percaya atau tidak di daerah ku, para pengikut FPI telah mengkafirkan orang – orang sekitar yang tidak sealiran dengan mereka. . . hebat ya . . hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s