Flood!

Well, seems like everything turn okay today. Hanya saja, rumah saya kebanjiran dan sepanjang malam saya tersiksa dengan suara tikus yang mati kembung secara perlahan. Photo(s) will uploaded later.

Post ini, hanya untuk memastikan apakah signature yang saya bikin really works. hehe.

Regards!

Update : here the picture of my floody home:

Lantai Kamar

(Dapur)

if you guys ask how it felt when you seeing a rat swimming around your dinner table, it suck!

Advertisements

Reuni dan Ketidakmampuan Meninggalkan Masa Lalu

Saya tengah membongkar bongkar file lama di komputer, siang ini. Niatan saya sih pengen ngehapus data data ga berguna demi memaksimalkan space memory hardisk. Selama ini, saya terbiasa menyimpan data dengan urutan bulan+tahun. Semakin saya membuka file file tahun dan bulan lama, makin susah tangan saya mengklik tombol del di keyboard.

Saya kemudian terlempar ke tahun tahun itu, setiap saya ngeclose satu folder dan berpindah ke bulan dan tahun lain. “Edan, betapa kenangan berhasil menjebak orang dalam keadaan diam,” batin saya. Akhirnya, siang itu berlalu hingga menjelang sore dan saya tak berhasil menghapus satupun file yang ada. Ini sebabnya banyak orang yang justru menambah memory hardisk ketimbang ngehapus yang ada, kali ya..

Saya, dan mungkin banyak di antara kita, terbiasa menimbun kenang kenangan. Di era informatika seperti sekarang, kenangan itu tidak lagi berupa kartu pos atau lembaran foto 4 R berlatar pemandangan. Tidak juga dalam bentuk pernik lucu yang mengingatkan kita pada satu tempat.

Kenangan pada zaman sekarang memakan belasan bahkan ratusan megabyte kapasitas gadget apapun yang kita punya. Entah itu berupa ribuan foto berbagai pose, atau puluhan video. Kita melakukannya, semata untuk mengenang. Layaknya hewan mamalia yang menandai teritori mereka dengan air seni, manusia memberikan banyak checkpoint dengan foto dan video.

Salah? nggak ah, saya nulis poting ini bukan untuk memberikan batasan benar-salah atas sesuatu. Saya hanya merasa seperti.. guilty pleasure.

Ya, bermain main dengan kenangan adalah kesenangan yang membahayakan. Saya sendiri sempat mengalami fase macet dan tersendat demi mengenang masa lalu. Mengingat ingat masa ‘kejayaan’, atau mengenang ngenang saat terindah dalam kenangan hidup. Rasanya ya itu, guilty pleasure.

Begitupun dengan reuni. Berbagai reuni diselenggarakan, semua orang rela menyibukkan diri demi kesuksesan reuni. Kembali bertemu dengan kawan lama, yang konon makin tua rentang suatu reuni, makin besar esensi kangen kangenan yang diumbar. Saya bukan bermaksud sinis terhadap tetek bengek kenangan. Tapi betapa kemudian kita akan begitu terjebak dengan kenangan dan masa lalu hingga rasa rasanya sayang untuk meninggalkan kenangan dan melangkah maju.

Kini, demi alasan move on, saya menolak untuk ikut reuni, atau sekedar hang out bersama kawan lama. Kesannya sombong ya, ini saya lakukan demi diri sendiri. Saya perlu maju ke depan, and I’m really vulnerable with memories. Salah dikit saya bisa jatuh ke ranah stuck dan sulit maju. Ini salah, saya tau, tapi saya memang tak pandai mengatur perasaan..

Look Inside

This is what I wrote on my wordpress blog, that time:

Tentang Hari Ini, Orang Utan dan Itik Mutan Berpantat Karung Beras.

September 23rd, 2009.

09.01 pm.

damn, that was my longest motorcycling journey that I’ve ever done!.

4 jam pantat saya bergetar! Gila men, ini rekor goyang dangdut nasional. Namanya Goyang Getar! Mari kalahkan Jupe, yeah! 😛

Ini bukan joke. Absolutely not a joke.

I was AS LITERALLY hang over (tergantung gantung, terlunta lunta di tengah biadabnya dunia). (bukannya “hang over” which mean “mabok” :D)

Sebuah penyiksaan keji berkedok outbond (well, though the owner of that place called it as outbound, (it was so fun to figuring James “Bound” gonna “out”. LOL) saya tetep suka sama bond ah).

o ia,I was found some awkward word during our journey. Here they are: (maap buat yang ngerasa, no offense yaaaa)

Di pom bensin Sampit, ada banner kecil dengan tulisan “maaf atas gangguannya, sedang ada renopasi”. Damn men, saya ngakak tanpa prikemanusiaan.

Di kasongan, ada rumah makan bilang “sedia masakan chennes”, saya fikir. “chennes?” daerah eropa ya? (meskipun chennes sama sekali beda sama Cannes, tapi saya fikir tadinya sama:P). Tapi ternyata yang dimaksud adalah chinesse. Gkgkgkgk, I’m gonna guling guling while motorcycling).

Trus di arena outbound (yes, I do to using this “bound” sentence), dalam jalan setapak kecil berjembatan kayu di sepanjang hutan, ada warning sign, dia bilang “awas, jangan berintraksi langsung dengan orang hutan”. Yang lucu adalah : 1. Intraksi. 2. Pengunjung kurang kerjaan mana yang mau berinteraksi dengan monyet yang krisis identitas dan naujubilee liar gitu? (FYI, krisis identitas karena ga satupun dari kami sukses mengklarifikasikan makhluk itu ke dalam ordo monyet manapun sebelum dikasi tau om om petugas, dan bukan, si monyet bukan krisis identitas gara gara belum terdaftar di dinas catatan sipil (btw, mau jadi monyet atau mau kawin,konsisten dong)).

Asik rasanya ketika kita jalan jalan, liat kiri kanan, trus bisa menemukan banyak hal, (eventough lot of them doesn’t understand with my purpose then judge-ing me with “kalo jalan jangan terlalu dikhayati ah”) :’(.

Hmm,, over all…

The conclusion is :

IT WAS SO FUN!

Thanks for today alll!!

P.S : pantat saya jadi flat dan melebar ke samping gara gara dihajar jalanan Sampit-Palangkaraya. damn, call me as nani si pantat rata since now. 😀


Foto foto ini diambil tanggal 23 September 2009. Kami memutuskan buat ke Palangkaraya dengan motor. Serius, empat jam duduk di atas motor sukses bikin pantat saya rata, saat itu. Hm.. that was fun. Seriously fun.

Ah.. kangen kalian, guys..

Kepala Sang Demonstran

Rumah sakit itu tiba tiba terkenal. Seorang dokternya berhasil menemukan cara untuk melihat isi pikiran manusia. Dokter itu hanya perlu memenggal kepala orang yang sudah mati (atau yang masih hidup pun tak apa, kalau dia memang benar benar ingin dilihat isi pikirannya). Dokter itu kemudian menjadi sangat terkenal. Banyak kasus pembunuhan berantai dan perampokkan yang memakan nyawa bisa diselesaikan berkat tampilan gambar dari kepala korban.

Apa yang dilakukan si dokter sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak dukun dan jejampi kampung yang bisa melakukan hal serupa. membaca isi kepala orang. Tapi si dokter menjadi fenomena. Tentu saja, lantaran gelar dokternya, dan betapa mudahnya teori si dokter dicerna logika.

Di negara itu, orang orang menjadi sangat paranoid dan ketakutan hingga tak mudah percaya pada apapun yang tak berbukti nyata.

Ketenaran si dokter dengan cepat menyebar kemana mana. Si dokter kemudian dipekerjakan oleh negara untuk membantu polisi. Si dokter awalnya menolak, ia mengatakan bahwa dirinya bukan detektif yang bisa digunakan untuk mengungkap kejahatan. Tapi tolakan itu berubah menjadi anggukan mesum dan mata berbinar kala menatap tumpukkan uang di atas meja.

Resmi sudah, si dokter bekerja untuk negara. Polisi kerap datang ke rumah sakit. Para berseragam itu biasanya sudah memenggal kepala mayat untuk dibaca oleh si dokter. “Biar bapak tak usah repot,” ujar seorang polisi seraya menyerahkan kantong kresek berisi dua buah penggalan kepala.

Rupanya sore tadi ada pengeboman di kantor pemerintahan. Lima orang tewas di tempat. Tiga orang di antaranya terkena paparan langsung bom sehingga tubuhnya berubah menjadi serpihan. Hanya dua potong kepala milik satpam gedung yang tersisa. Ada sekompi polisi yang datang, juga datang jendral serta kapolri. Semua penasaran, siapa pelaku pengeboman.

Polisi polisi itu lantas menunggu di luar ruangan si dokter. Sementara pimpinan mereka, ikut masuk ke dalam dan menyaksikan sendiri potongan ingatan kepala mayat itu kala menjelang ajalnya. Sore itu, seorang teroris kelas dunia tertangkap dalam pelariannya menuju negara seberang.

Berita menyebar cepat. Tentang si dokter yang berhasil mengungkap pelaku terorisme. Semua orang, terlebih wartawan, menunggu nunggu, kapan lagi si dokter melakukan aksinya. Polisi cenderung jarang membeberkan kapan ada mayat yang akan dipenggal kepalanya dan dibongkar ingatannya oleh si dokter.

Sore itu, ada mayat yang datang ke rumah sakit. Mayat itu merangkak rangkak dari kejauhan, ia berangkat sendiri. Di belakang mayat yang merangkak sendiri itu, ada puluhan wartawan yang sibuk mengambil gambar dan berteriak teriak “Ini saatnya!” kepada rekan wartawannya.

Mayat yang merangkak sendirian itu masuk ke pelataran rumah sakit. Tak ada yang mengindahkan, toh ia sudah mati, rumah sakit tempat orang berobat. Kalau mati pergi ke kuburan. Mayat itu akhirnya merangkak sendirian lagi menuju ruangan dokter.

“Apa ini?” si dokter kebingungan. Ia tak pernah mendapati mayat datang sendiri dan minta dibaca seperti itu.

“Tidak ada polisi, ya?” si dokter bertanya lagi. Mayat yang merangkak sendirian itu mengeram ngeram, tak bisa bicara.

Si dokter, mangkel dalam hati. Ia sudah berjanji pada pemerintah untuk hanya membaca isi kepala mayat yang berasal dari kepolisian. Ia hanya menerima penggalan kepala dalam kresek yang dibawakan para polisi.

Wartawan mulai berdengung, sibuk memfoto mayat yang merangkak sendiri. Juga memfoto si dokter yang beberapa kali menggaruk kepalanya yang landai. Si dokter dilema, reputasinya bisa buruk jika menolak mayat yang merangkak sendirian itu.

Presiden kebetulan menonton televisi dari dalam mobilnya. Iapun penasaran, tak pernah ia melihat langsung dokter fenomenal itu. Selama ini hanya anak buah dan bawahannya yang membuat laporan mengenai si dokter. “Berbeloklah, ayo ke rumah sakit itu,” seru presiden pada sopirnya. Mobil berbalik arah, menuju rumah sakit.

Si dokter masih juga dilema. Akhirnya setelah si mayat berhenti mengeram, si dokter akhirnya bersuara

“Bawa mayatnya ke ruangan saya,” ujar si dokter seraya mengenakan sarung tangan latex dan mencucinya dengan cairan disinfektan. Si dokter tak memperbolehkan satu wartawanpun untuk masuk.

“Nanti filmnya rusak kalau terkena blitz kamera anda,” sanggah si dokter. Cukup ampuh, para wartawan berhenti merangsek masuk. Si dokter berjanji akan memperlihatkan video dari isi pikiran mayat yang merangkak sendiri itu. Presiden akhirnya datang, si dokter sudah membredel pintu. Presiden duduk di luar ruangan seraya meladeni pertanyaan wartawan.

“Ya.. saya ke sini lantaran penasaran dengan kinerja si dokter, kepala kepolisian negara antah berantah sibuk memujinya sejak seminggu lalu,” presiden tersenyum pada kamera. kepala kepolisian negara antah berantah yang tengah dibicarakan juga datang. Ia tampak berkeringat, seperti lepas berlari. Ia tersenyum gugup pada presiden, mengangguk sepintas dan menuju ruangan si dokter.

“Eee.. ada pak kepala kepolisian negara antah berantah, mari sini pak, kita berfoto. Biar si dokter bekerja sendirian di dalam, nanti juga kita di kasih tau apa isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu,” kapolri tak berkutik, presiden memergokinya ingin mendobrak masuk ke ruangan dokter. Kapolri lantas mengambil duduk di samping presiden dengan wajah cemas. Wartawan mengabadikan kapolri dengan wajah seperti hendak buang air besar.

Si dokter tak tau mengenai keributan di luar. Profesionalitasnya memaksa si Dokter untuk benar benar melihat isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu padahal ia bisa saja berbohong.

“Aku bisa saja memenggal kepala mayat ini, membawanya keluar dan mengatakan kalau ia mati gara gara narkoba.” Gumamnya. Si dokter lantas melihat tubuh mayat yang merangkak sendirian itu sambil menerka nerka kehidupan macam apa yang ia miliki semasa hidup. Badannya tegap, berisi. Mayat yang merangkak sendirian itu berdarah di sekujur tubuhnya. Kacamatanya remuk, tapi masih melekat di wajahnya. Ada lubang merah kehitaman tepat di tengah jidatnya.

Si dokter penasaran sendiri. Ia lantas memenggal kepala si mayat, memasangkan banyak selang dan kabel. Dari lubang telinga kanan penggalan kepala itu, dikorek korek hingga seutas kabel dengan ujung berlubang keluar. Ia hubungkan kabel yang keluar dari kepala mayat yang merangkak sendirian itu ke proyektor.

Di layar besar, si dokter melihat kuburan, dan spanduk spanduk. Si dokter sibuk mempercepat, memperbesar dan kadang kadang menghentikan video isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Spanduk diperbesar, si dokter mencoba membaca. Viva.. ah, gambarnya tiba tiba buram. Mayat yang merangkak sendirian itu rupanya terkena hantaman benda tumpul di kepala belakang. Si dokter sibuk mencatat,

“Ini dia sebab kematiannya,” gumamnya.

Gambar di video terlihat horizontal. Mayat yang merangkak sendirian itu pasti sudah tumbang ke tanah.

“Tunggu, kalau dia sudah tumbang, kenapa videonya masih hidup?” si dokter mengguncang guncang penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.

“Ah.. ia hanya sekarat! Belum mati,” si dokter menyadari kesalahannya dan tertawa kecil.

Dari gambar horizontal itu si dokter melihat mayat bertumbangan. Satu satu seperti terpukul mundur dan kemudian tumbang. Dikeraskannya suara video dari penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.

Suaranya seperti letusan tembakan.

Senjata mesin, terdengar seperti rentetan.

Tubuh tubuh bertumbangan. Tiba tiba gambar video menghadap langit. Sebuah wajah terlihat menodongkan senjata.

Dor.

Mayat yang merangkak sendirian akhirnya mati.

Si dokter menganga.

Tercenung.

Wajah itu adalah wajah kepala kepolisian negara antah berantah, dalam versi setidaknya lebih muda 20 tahun.

Si dokter segera keluar dari ruangannya. Ia kembali terkejut, ada ratusan wartawan, presiden, dan kepala kepolisian negara antah berantah dalam versi 20 tahun lebih tua dari isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Semuanya berdiri, menunggu nunggu jawaban.

Si dokter menarik nafas panjang, mulai merangkai kata sebagai konferensi pers

“Demi kepentingan privasi dan arsip rumah sakit, saya tidak bisa memperlihatkan rekaman isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu..”

Si dokter lagi lagi menarik nafas panjang

“..Mayat yang merangkak sendirian itu, nampaknya tewas karena terlalu banyak menonton film film sadis..”

Kapolri tersenyum lega. Senyum itu menjanjikan sesuatu pada si dokter.

Mereka berdua kini punya rahasia.

Si dokter dan kepala kepolisian negara antah berantah tahu,

Mayat yang merangkak sendirian itu datang dari masa lalu.

This isn’t a Job. It is My Hobby

Aku tidak ingin menjadi penyiar radio, sebenarnya. ini bukan cita citaku. Aku bercita cita menjadi penulis dan wartawan. Menjadi wartawan sudah pernah kugeluti, dan ternyata tidak semenyenangkan yang kubayangkan. That’s why I quit. Kemudian menjadi penulis, doakan saja ya ^^

Pertama kali siaran, pas kelas 3 SMA. Di salah satu radio dalam kota. Waktu itu, satu satunya alasanku adalah iseng. Totally iseng, dan sebenarnya, aku mencoba untuk ngasih impresi baik pada ehm.. seseorang. Ah forgot it! Kenapa kemudian aku memutuskan untuk kembali siaran pas lulus SMA?

Mungkin karena aku suka musik kali ya. Dan radio, juga dengan program yang kubawakan sekarang, aku merasa seperti orang yang paling pertama tau mengenai musik. Padahal sih ga juga 😀 itu satu, terus alasan lainnya, karena aku illcommunication.

Ya, aku termasuk orang yang susah ngobrol dengan baik pada orang lain. Aku cenderung diam, trus mendengarkan ketika berada dalam sebuah perbincangan. Di radio, aku bisa ngomong apa saja tanpa harus khawatir dengan mimik lawan bicara.

Dan sejauh ini, aku merasa kualitas siaranku baik baik saja. hehe.

Radio tempatku membanting suara bernama Mentaya FM. Berdiri sejak tahun 1989. Umurnya udah 21 tahun. Sebagai radio uzur, Mentaya FM justru mengambil segmen ‘kawula muda’. Langkah yang cukup langka untuk radio dengan usia tua.

Pelan pelan, siaran menjadi semacam candu. Aku mulai merasa bahwa siaran adalah hal yang ingin kulakukan, bukan hal yang harus kulakukan. Sesuatu yang kulakukan karena aku suka melakukannya. Hobi.

Dan entah keberuntungan macam apa yang kumiliki, aku berkesempatan dibayar untuk melakoni hobi. Seperti yang rekan rekan seprofesiku sering katakan, menjadi penyiar radio di kota kecil seperti Sampit bukanlah pekerjaan menjanjikan. Bukan pekerjaan yang bisa dijadikan topangan hidup. Aku agak sangsi, sebenarnya. Cukup-tidak cukupnya kan tergantung kebutuhan hidup. Aku 18 tahun, masih tinggal bersama orang tua. Dan aku perempuan 😀

Ruang siar

Halloween rilisan 9 November 1999