Polemik Metal Satu Jari

Saya mendapat kabar mengenai ‘metal satu jari’ dari pesan singkat seorang kawan di Bandung. Ia kurang lebih menyampaikan kekhawatirannya akan metal satu jari. Mengenai kemungkinan adanya kubu kubu dalam musik metal, ketakutan akan terjadi semacam konfrontasi dan lain sebagainya. Diindikasi, titik penyebar awal metal satu jari berasal dari Jakarta.

Apa itu metal satu jari? Kurang lebih itu yang saya pikirkan selepas berbalas pesan dengan kawan saya tadi. Honestly, awalnya saya fikir ‘satu jari’ yang dimaksud adalah jari tengah (representasi punk). Tapi bukankah memang semenjak dulu kubu punk dan metal kerap bersinggungan? Apa yang baru? Apa yang harus ditakutkan kalau begitu?

Pesan dari kawan saya itu berlanjut. Menjelaskan bahwa metal satu jari adalah sekumpulan penggemar metal yang beraliran keras dalam agama (baca : islam). Alih alih menggunakan signature khas metal dengan telunjuk dan kelingking yang membentuk tanduk kambing, metal satu jari menggunakan telunjuk yang mengacung ke udara.

Jika ditilik dari sisi antropologi dan sejarah ‘telunjuk mengacung ke udara’, kita pasti teringat dengan rentetan garis keras islam. Entah Hizbullah, entah anggota FPI yang tengah berorasi. Jujur, saya bergidik membayangkannya. Garis keras islam, dengan cara entah bagaimana selalu membuat saya membayangkan vandalisme yang masif.

Sayapun menghabiskan beberapa minggu belakangan untuk menggali mengenai metal satu jari. Dugaan bahwa gerakan ini berbasis di Jakarta rupanya benar. Ini ditulis dalam portalmetal mengenai artikel metal satu jari. Di jejaring sosial seperti Facebook, saya menemukan grup mereka. Overall, saya menemukan metal satu jari ini tak ubahnya dengan metal straight edge. Mereka menulis bahwa apa yang mereka usung didasari rasa prihatin terhadap penggunaan obat terlarang, minuman keras dan anti pentagram. Kita tahu, bahwa pentagram merupakan simbolisasi pemujaan setan, khas blackmetal.

Metal satu jari, kemudian muncul dengan tujuan menampung rekan rekan muslim yang mencintai musik metal tanpa harus terjebak dalam ‘lembah kenistaan’ seperti yang saya sebutkan di atas (pardon my word. I know, it sounds so 70’s). Di titik ini, saya tidak menemukan kesalahan apapun dari metal satu jari. Mereka muslim, ingin tetap taat pada agamanya dan menikmati musik metal tanpa berbuat dosa.

Yang menjadi keprihatinan banyak pihak kemudian adalah pergerakan metal satu jari ini. Saya mungkin akan beranalogi seperti penyebaran komunisme di awal tahun 1950an di Indonesia. Tujuan, visi dan misinya benar, sangat mulia karena ingin mewujudkan ekonomi kerakyatan dan memerangi kapitalis. Namun kemudian, dalam perjalanannya, komunisme mendapat kecaman lantaran dalam penyebaran pahamnya, mereka tak segan menggadai nyawa.

Berlebihan memang, jika mengkomparasikan metal satu jari dan komunisme. Lebay karena belum ada sejarah yang menulis pertumpahan darah akibat metal satu jari. Kekhawatiran tetap ada lantaran kita bisa membayangkan. Metal yang begitu identik dengan hal hal maksiat (oh.. maafkan saya sekali lagi) harus berbaur dengan metal satu jari yang notabene begitu murka dengan kemunkaran. Pelan tapi pasti, saya melihat kemungkinan eksplosifitas metal satu jari.

Berbeda dengan straight edge yang menolak ‘pernik’ metal dengan alasan yang sifatnya pribadi, metal satu jari mendasari pergerakannya dengan nama satu agama. Agama yang kuat dan berdasar ribuan tahun. Radikalisme atas nama agamalah, yang kemudian ditakutkan banyak pihak. Saya sempat berguaru dengan mengatakan “Jangan jangan metal satu jari ini sub cabang FPI”. Sebagai seseorang yang anti FPI, saya kerap kesulitan mencari pembenaran atas pemaksaan kehendak terhadap orang orang yang berbeda keyakinan macam itu.

Well, this post heading to nowhere. Saya hanya menuliskan sesuatu yang mengganjal kepala saya. Perkara apakah saya mendukung atau justru opposite dengan metal satu jari, saya sendiri tak tau jawabannya. Saya setuju, dengan niatan mereka menampung pecinta metal yang anti berbuat dosa. Saya tidak setuju, jika kemudian niatan itu dipaksakan kepada pecinta metal lain yang sudah memilih untuk mabok, giting dan sebagainya sebagai jalan metalnya.

Rusnani Anwar

Advertisements

Macet

Ga, potingan kali ini ga ada hubungannya dengan problematika Jakarta. Biarlah itu menjadi urusan bang Foke dan tuhan saja. Macet kali ini adalah keadaan stuck yang lagi kualami. Pernah ga sih, ngerasa udah ngelakuin progress yang amat sangat terhadap sesuatu. Tapi tiba tiba mandek? kayak ada yang nyabut kabel power aja gitu. Shyut! dan mati.

Nah, aku mengalami hal kaya gitu. Aku lagi semangat semangatnya ngegarap beberapa hal nih. Mulai dari nulis, bikin format clock, ngumpulin ide siaran, sampai bikin novel. Serius, penulis bukan.. tapi bikin novel. Pas lagi semangat semangatnya mikir, suddenly I lose my power. Tiba tiba ga napsu ngapa ngapain.

Sekarang, aku lagi ngerancang liburan Sabtu-Minggu. Berhubung di hari itu aku bebas siaran, jadi bisa nyolong waktu dan berjalan jalan. Rencananya, aku mau ngelanjutin perjalanan ke arah Bagendang Hulu. Jembatan gantung 2. Yang ini agak lebih jauh daripada jembatan gantung 1 yang kusambangi bareng Ayu empat bulanan lalu.

this place is stunning. Masih hijau, banyak hutan, trus pemukimannya jarang jarang. Bahkan pasar aja buka seminggu sekali. untuk transportasi, mereka ngandelin jalur air. Ini dikarenakan, desa ini (somewhere at bagendang) letaknya tepat di tepian Sungai Sampit. Kalau dari jalur darat, harus masuk lagi sekitar 1,5 kilometer.

Aku dan Ayu, menghabiskan waktu untuk sekedar berfoto dan duduk di dermaga. Rumah rumah tepi sungai, langit yang setengah cerah setengah mendung, wah perpek deh. Ada dua jembatan, yang di atas adalah jembatan 1. Kata Ayu sih, jembatan 2 letaknya berdekatan dengan PT. Indo Balambit. Untuk menuju ke sana, harus ke arah selatan beberapa kilometer lagi. Ah semoga Minggu ini sempat main ke sana yak ^^

Biasanya sih, kalo aku lagi ‘macet’ kaya gini, berlibur singkat bisa jadi obatnya. Ini cuma jenuh ringan, hehehe.

o iya, bad news hit me.

1. Tuan Hitam Sakit

Sedih banget rasanya ngeliat Tuan Hitam sakit kaya gini (baca cerita lengkapnya di sindang)
2. My little cat was died
Namanya E Ning (bukan, dia bukan eneng eneng versi digital). Umurnya belum nyampe setaun, mati ketabrak motor pas lagi main di halaman. At least I know, she die in peace, and happy. Hiks. Emak sebenarnya yang paling seding E Ning tewas dengan kepala remuk kelindes ban motor kayak gitu. Emak sangat berduka sampe ga nyuci baju seminggu. (ini berduka atau kesempatan dalam kesempitan?)

(E Ning yang warnanya kuning. Di rumahku nama kucing sangat sederhana. Kalo warnanya putih jadi E Tih, hitam jadi E Tam, belang jadi E Lang *dibaca i lang*. Sederhana, dan tidak kreatif, sebenarnya)

Ebetewe, Rest in Peace, my dear kitten..

I Need More Courage!

Hari ini, aku nyalon.

(new look, sebenarnya tampangku gitu gitu aja, ga ada new newnya)

Banyak orang yang pasti salah kaprah mengenai perempuan dan salon. Aku ga tau sih, apa yang cewek cewek lain rasakan. Bagiku, ke salon itu mirip seperti wajib militer. Sesuatu yang nggak menyenangkan tapi mau ga mau ya harus dilakukan. Aku, terlahir dengan rambut keriting.

(pas kelas 1 SMA. masih keriting)

Dan ribetnya punya rambut keriting kayak gitu, sama ribetnya kaya punya pacar abege. Tiap pagi mesti dikasi anti-frizz, mesti dirawat ekstra, de el el. Waktu itu istilah rebonding masih asing (dan mahal). Semenjak kelas 2 SMA, aku baru dikasih pencerahan sama tuhan kalo ada solusi buat meluruskan rambut ke jalan yang benar. Since then, aku rebondingan tiap empat bulan.

Nah, bagiku, ke salon adalah kebutuhan primer. Yang kalo ga dilakuin, ya rambutku bakal ribet lagi. Lagian siapa sih yang suka duduk selama lima jam lebih dan menjalani proses -diguyur-dikeringin-ditariktarik-diguyur-dikeringin-ditariktarik dan begitu seterusnya sampe mbak mbak salon bosen.

Eniwei..

Aku mencoba menyibukkan diri, akhir akhir ini. Antara lain dengan fokus pada siaran. Jam siaran nambah satu jam lagi, sekarang aku siaran empat jam sehari. Asik sih, pola ini udah kujalanin dari awal Oktober, sebenarnya. Pas liat slip gaji, aku rada kaget juga, jumlahnya nyaris setara dengan gaji sebulan pramuniaga toko.
Dan, sebenarnya, ini adalah hal yang ingin kusyukuri. Setidaknya, aku hanya meluangkan empat dari 24 jam waktuku sehari untuk bekerja. Seperti ini pekerjaan yang kuingini, aku bisa memiliki banyak waktu luang untuk diriku sendiri. Mungkin terdengar egois, tapi aku selalu menuntut banyak waktu untuk diriku sendiri.

Nah, empat harian ini aku lagi bersemangat banget ngegarap novel. Idenya tercetus pas mau tidur, ngebayangin tentang bule dan jugun ianfu. Tiba tiba aja bleber kemana mana gitu. Yang pengen baca silahkan ke sini. Kisahnya sih terus bekembang, sampai hari ini aku udah nyelesain 20an halaman A4.

Tujuannya sih ga ada, cuma pengen nulis aja 😀 dan entah kenapa, ini kali pertama aku begitu excite nulis cerita fiksi panjang kayak gini. Mungkin gara gara itu tadi kali ya, mencari kesibukan. Akhir akhir ini juga lumayan banyak yang nyaranin aku buat ngirim tulisan ke media besar. Kompas, Tempo, Suara Merdeka.

Setiap kali dikomporin kaya gitu, aku bakal menarik diri dan bergumam

“Aku masih perlu banyak keberanian..”

Senja Merah


Dalam upaya melawan lupa


Malam Teror

Sore itu, langit berpendar merah. Dari kejauhan, matahari memancar, silau. Sudah jam enam sore, matahari belum menyerah. Langit yang sama, yang berulang setiap hari. Wenggini menatapnya dengan mata terpicing. Seperti menantang. Tak lama, pendar silaunya kalah juga. Semesta menghendaki desa Wenggini berubah menjadi malam.
Wenggini memasuki kamarnya. Malam mulai menggelayut di luar sana. Jendelanya kini dirapatkan. Ayahnya tengah sibuk menggotong sekarung jagung ke dalam lumbung kecil di sebelah rumah. Dari jendela Wenggini melihat pria renta itu tergopoh gopoh masuk rumah. Berlomba dengan pendar matahari yang nyaris mati.
Malam, bagi seluruh penduduk desa Wenggini, adalah teror. Sedari kecil hingga ia kini berusia 16 tahun, Wenggini tak habis fikir bagaimana bisa malam menenggelamkan keberanian warga satu kampung. Pertanyaan itu, sebenarnya, terjawab dengan sendirinya. Ketika suatu malam, Sunaryo abangnya diseret paksa dari dalam rumahnya.
Ya.. Wenggini masih ingat malam itu. Rasa rasanya seperti baru seminggu lewat. Segerombol bersenjata menendang pintu, meneriakkan nama abangnya. Popor senjata tumbangkan ayahnya saat ingin mencegah seretan tanpa ampun para bersepatu lars itu. Ayahnya pingsan, hingga kini kakinya masih pincang. Wenggini masih mengenang abangnya yang berdarah darah, berteriak lantang;
“Lebih baik mati daripada..”
Dor.
Abangnya mati di tempat, berlubang kepalanya. Gerombol hitam bersenjata menghilang seiring gemuruh debu dan bising mobil jeep. Wenggini memicingkan mata, mengingat ingat matahari yang terbit kala Sunaryo dikubur seadanya. Di tengah ladang jagung, dengan nisan secarik kayu. Ia kini berbaring di ranjangnya. Pukul tujuh malam dan desa Wenggini tak ubahnya pekuburan.
“Lebih baik mati daripada menyerah,” desis Wenggini.
Bulu kuduknya merinding, ia ngeri sendiri menggumamkan kalimat yang kerap diucapkan abangnya itu. Kalimat itu hanya tersusun dari kosakata sederhana. Tak sampai sepuluh kata. Tapi kalimat itu juga, yang mengantarkannya menjadi tak berabang selamanya. Malam kian tinggi, dari kamarnya Wenggini mendengar pintu pintu berselerek dirapatkan. Jendela jendela diganjal dan dikunci ganda. Juga gemerisik bisik ketakutan seluruh warga desa.
Terkadang, di tengah malam, Wenggini mendengar kerosak jerami kering yang diinjak. Juga bisik membisik dari luar bilik kamarnya. Wenggini ingat, itu suara Sunaryo yang selalu menelusup pergi di tengah malam. Sunaryo tak takut pada teror malam, Wenggini kagumi abangnya yang bersekolah di kota itu.
Malam, adalah teror bagi desa Wenggini. Entah sejak kapan, tak satupun ada yang berani keluar ketika malam tiba. Bahkan tidak untuk sekedar membuka pintu dan memastikan teriakan “Maling maling” dari rumah demang. Ada yang lebih mengerikan dari maling bercelurit di desa Wenggini. Orang orang enggan membeberkan apa teror malam itu sebenarnya.
Wenggini tahu, teror malam itulah yang merobek perut maling bercelurit dan membiarkannya tergantung membusuk dengan usus memburai di pohon Akasia tepi jalan masuk ke desanya. Teror malam yang sama yang melubangi kepala abangnya. Wenggini meraba raba ke bawah ranjangnya. Sebuah tas ransel diraihnya. Milik Sunaryo dulu. Entah apa isinya, tas ransel itu Wenggini temukan terbungkus plastik sangat banyak dan mengapung di sumur belakang rumahnya.
Wenggini tak sengaja mengangkatnya dengan ember berisi air keperluan minum dua sapi milik ayahnya. Ia tak tahu, atau enggan mencari tahu apa maksud lembaran lembaran kertas yang ada dalam ransel Sunaryo. “Lebih sedikit yang tahu, lebih sedikit yang lolos dari peluru,” gumam Wenggini seraya mengembalikan ransel itu ke bawah ranjang.
Wenggini berdesis, terkejut. Mbok Warsih, ibunya mengetuk pintu kamarnya. Malam sudah larut, kokok ayam dan dengung anjing berkeracau, tak berhenti. Ketukan itu semakin kencang, Wenggini segera menyulut pelita. “Ada apa, bu?” suara Wenggini terdengar parau.
“Kemasi bajumu, nduk, cepat,” ibunya menggasak masuk, seperti kesetanan membongkar lemari Wenggini dan melemparkan isinya ke udara. Wenggini melompat dari ranjangnya. Ia tarik ransel Sunaryo dan menjejalkan isi lemari yang dilemparkan ibunya. Mbok Warsih berceracau. “Ealah mampus kita nduk, pamanmu.. abangmu. Kali ini siapa lagi,” “Ibu ndak tau nduk. Apa yang mereka mau” titik airmata dari wajah Mboh Warsih.
Wenggini kian bingung, tapi dikemasinya juga lemparan ibunya. Malam itu, Wenggini dipaksa Mbok Warsih berlari menembus ladang jagung. Nisan abangnya sempat membuatnya jatuh. Wenggini bergidik, ini pertama kalinya ia keluar rumah di malam teror. Mbok Warsih berbalik, kembali ke rumah. Ia berteriak teriak seperti kesetanan. Wenggini tak sempat mencegah, ibunya menghilang dalam pekat ladang jagung.
Wenggini bersimpuh di makam abangnya seraya mengurut kaki, bertanya tanya. Gelap malam dan ladang jagung setinggi kepala rupanya menyembunyikan Wenggini dari rongrongan malam teror. Di sela rapat daun jagung, Wenggini melihat api. Berkeretek, dengan asap menjulang ke langit. Malam teror sedikit berwarna. Api itu dari rumahnya.
Dor. Dor.
Wenggini yatim piatu sejak malam itu.

Ini sebenarnya semacam proyek novelku. Beh, berasa penulis beneran aje bilang ‘proyek novel’ kayak gini. Hm.. mengambil tema PKI, sebenarnya, tentang kapitalisme, ekonomi kerakyatan, komunisme, Freud, Stalin dan kawan kawan. Yang di atas baru chapter satu. Semoga saja, aku ga keburu bosen dan karya ini ga terselesaikan (lagi) layaknya belasan proyek tulisan lain.
Susahnya jadi orang gampang bosenan.

Well, so far aku udah nulis 15 halaman A4 😀 wismilak!

Am I a Flat Girl?

Aku bertemu kawan lama, Sabtu sore. Cuaca mendung membuatnya terpaksa menjemput aku bermobil. Dia adalah kawan yang aku temukan lewat chatting. Hebatnya, aku dan dia sudah nyaris tiga tahun ber YM an dan kami tak pernah bertemu.

Sebagai seorang yang sangat kolot, aku sempat khawatir ketika dia berkata bakal menjemputku bermobil. Those time, aku takut diculik, kawan 😀 silly me. Kami bertemu, jalan dan akhirnya menepi di dermaga pelabuhan. Saat itu belum ada kapal yang merapat. Pelabuhan sepi lantaran gerimis sesekali jatuh.

“Dalam rangka apa nih, ke Sampit?”

Aku mencoba memecah kebekuan. Aneh, kadang kita bisa begitu heboh ketika ngobrol di YM/skype, tapi menjadi begitu kaku ketika bertemu.

“Besok aku mau ke PT. MAP, ada rapat senin pagi”

“Parenggean?”

“Ya,” jawabnya singkat seraya membuka dashboard yang ada di dekatku.

Sebuah coklat

“Nih.” Katanya.

Sambil berterima kasih aku potek potekkin coklat itu.

Ia mulai bercerita bahwa ia tengah mengalami masalah dengan tunangannya.

Aku, sebenarnya punya teori mengenai ‘laki laki buaya yang sedang merayu perempuan,”

Salah satu dari barisan penunjang teori itu adalah:

Menyebutkan bahwa sedang bermasalah dengan pasangannya untuk menarik simpati perempuan yang dirayu.

Untuknya, aku bingung apakah teoriku dapat teraplikasi.

Pertama, teori itu hanya berlaku untuk cowok ababil usia 14-23 tahun

Kedua, aku sama sekali tidak merasa pantas dirayu oleh pria semapan dia.

Ketika aku tengah sibuk dengan pikiranku, dia menegur dan meminta maaf sudah membeberkan masalah pribadinya pada pertemuan pertama kami.

Aku bilang tak apa.

Jika dia merasa bahwa itu bisa membantu, aku akan mendengarkan.

Kisahnya bergulir. Dan akhirnya aku mengerti, ia mengambil keputusan untuk membatalkan pertunangannya.

“menurutmu aku salah?”

Pertanyaan itu dia tanyakan padaku.

Senja turun di luar sana, kami masih memandangi sungai. Mendung masih menggelayut.

Sesekali ia hidupkan wiper mobil, menghalau tetesan air yang menghalau pemandangan.

“Kamu menyesal dengan keputusan itu?” tanyaku balik

Dia bilang, “Keputusan yang berat, Nan. Tapi aku tidak menyesal, rasanya plong,” ujarnya seraya menurunkan AC mobil. Dingin menusuk hingga ke tulang.

“Berarti kamu nggak salah,”

“Kok bisa? Dia (mantan tunangannya) selalu bilang aku salah dengan keputusanku ini,”

“Menyesal adalah perasaan yang timbul setelah seseorang melakukan kesalahan. Kamu tidak menyesal, kamu tidak salah,” ujarku, menuntaskan gigitan terakhir pada coklat pemberiannya.

Ini, sebenarnya adalah kalimat andalanku. Kalimat andalan ketika seseorang menanyakan pendapatnya atas suatu keputusan yang telah ia buat. Akupun begitu, ketika tengah mengambil keputusan, aku akan diam beberapa saat. Dan menerka nerka apa yang sedang kurasakan. Jika aku menyesal, berarti aku sudah berbuat kesalahan.

Ia menepuk pundakku. Berterimakasih. Di luar mulai gelap, ia nyalakan lampu bangku belakang.

“Sebenarnya kita ini masing masing menunggu lapar. Kamu lapar?” ia melirik jam, nyaris setengah tujuh. Artinya sudah dua jam kami duduk di dalam mobil.

“Ingin jawaban jujur atau basa basi?”

Segera ia nyalakan mobil, menuju rumah makan.

Sambil menatap hujan, menunggu makanan. Ia bertanya.

“Kita udah tiga tahun kenal loh, Nan,”

“Yeah, suprisingly,” aku menjawab seraya meniup niup gelas teh panas.

“Kamu ga pernah cerita tentang ‘love story’mu,”

“Maybe because I never had one?” aku balik tanya

“Ah bohong!

“Serius, selama tiga tahun, kamu pernah ga liat status facebookku yang menyerempet ke perkara cinta cintaan?”

Makanan datang. Hujan mulai turun.

“Kamu tidak jelek”

“Pinter”

“Lucu”

“Kurang apa”

Ujarnya

Aku tertawa

“Kamu posisikan diri sebagai aku deh, kira kira apa penyebab aku belum berpacaran juga?”

Dia diam sejenak.

Kamu belum menemukan yang cocok?”

Aku tersenyum, merasa tak perlu mengiyakan penyataannya.

“Aku tak tau, apa ini lantaran espektasiku yang ketinggian atau gara gara para laki laki sering merasa terintimidasi olehku,”

“Espektasi, intimidasi, define!”

“Well, aku berharap menemukan seseorang yang bisa kuajak ngobrol. Dan mengimbangi obrolanku. Yang bisa di ajak berdebat mengenai politik, sejarah, apa saja, hanya itu, seseorang yang bisa berbicara denganku tanpa harus bergidik dan mengataiku sok pintar,

“Kemudian yang terjadi, ketika aku berada dalam tahapan PDKT nih, saat seseorang itu menjemputku, mengajakku jalan. Mereka akan bilang “Kmu terlalu baik bwtku” lewat SMS dan hubungan kami terputus saat itu,”

“Apa yang kamu lakukan saat PDKT?” ia mengunyah ngunyah ayam bakar pesanannya.

“Just be me,” jawabky singkat

“Ah.. I see, kamu akan jomblo selamanya kalau gitu,” ia tertawa

“Jahat! Kamu fikir aku mau gitu selamanya kaya gini,”

“Hm.. yang PDKT denganmu pasti para fans kamu dari radio kan?” tebaknya

“Sigh, fans, bukanlah. Kebanyakan kawannya kawan, comblangan gitu”

“Berarti kusimpulkan, seusia denganmu”

Ia melanjutkan kalimatnya. Kalimat yang mungkin akan sulit kulupakan. Kalimat itu terasa sangat benar

“Kotamu ini kota kecil. Anak anak seusiamu, 18-20 tahun, tak akan punya kesadaran tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Lebih lebih politik dan sejarah internasional. Usia ini, tidak hanya di Sampit, adalah usia sibuk. Sibuk memikirkan kuliah, pacaran, dan jalan jalan. Usia senang senang. Manusia normal, kemudian akan begitu concern terhadap isu populer saat mereka menginjak usia 25 tahun ke atas. Ini usia kritis.”

“Aku tidak normal?” ujarku, setengah cemberut.

“Kamu hanya dewasa sebelum waktunya

“Solusinya.. ya.. kalau kamu ingin pacaran dengan anak seusiamu, berpura pura bodohlah” ia menuntaskan kunyahan terakhirnya, lalu melanjutkan

“Atau, jika ingin berpacaran sehat seperti keinginanmu. Carilah pria yang setidaknya 10 tahun lebih tua. Biar bisa seimbang,”

“Gimana kalau denganku?” dia mengerling

Aku tertawa, memukul bahunya.

“Aku tidak ingin berpacaran dengan kawan. Aku jarang punya teman, kalau putus nanti repot,” ia menirukan suara perempuan. Mencoba membaca hatiku.

Malam itu berakhir dengan dentang jam ke sepuluh. Perut kenyang dan dingin yang menusuk tulang.

Foto di ambil di Pelabuhan Mentaya, siang hari. Langit begitu biru, sungai begitu keruh, kala itu