Resolusi 19

Yep, dua hari lagi taun baru. Saya tengah mencatat catat apa saja yang sudah terjadi di taun 2010 ini. Dan ternyata, my 2010 turn well ^^
According into this post, saya memaparkan apa yang menjadi resolusi saya di 2010.
Saya Ingin Lebih Baik Lagi Dalam Pekerjaan Saya.
Resolusi tersebut di tulis saat saya masih bekerja sebagai wartawan. Dan ternyata, saya berhenti di bulan Juli ^^.
lantas apakah resolusi saya tak tercapai? Well, standar lebih baik itu ternyata tercapai. Saya berhenti, menjadi penyiar tetap di radio kemudian tergabung sebagai kru event dan sebagainya. Dan ya, saya merasa lebih baik di titik ini. Siapa bilang saya resign dari kora justru mematikan kreativitas saya hah? 😀
itu kejadian satu, saya resign.
kemudian, di bulan2 september-an, saya menggarap tulisan dengan judul Malam Teror Malam. semacam mini novel dengan kisah tentang komunisme. Haha, ini sebenarnya proye iseng saja, tapi pas dibicarakan sama seorang kawan dibandung, saya dapet respon positif.
Lalu, kakak saya menikah di bulan Desember. Ga ada hubungannya sama resolusi saya sih 😀
Oh ya, yang juga terjadi dalam setahun ini adalah saya memiliki kawan kawan yang baik baik di twitter. Akun saya yang kerap mengumbar anatomi tubuh hewan melata itu (apasih) kini terawat baik dan saya sambangi setiap hari. Pas awal awal bikin mah malah gapernah ketweet sama sekali ^^
Kalo mau temenan sama saya di twitter, sok follow akun saya ini.
Nah, kenapa judul posting kali ini Resolusi 19?
Ya, karena saya akan berusia 19 taun Januari tahun depan. Jadi sekalian saja, seperti tahun tahun sebelumnya, saya satukan resolusi taun baru dan resolusi ulang taun ke dalam Resolusi
Dan, kurang lebih ini dia isi Resolusi 19 itu:
Semoga di tahun 2011 dan di usia 19 nanti, saya bisa melihat Malam Teror Malam diterbitkan. Amin 🙂
Semoga di tahun 2011 dan di usia 19 nanti, saya bisa bepergian ke luar Sampit. Dan menaklukkan gunung untuk dijamahi!
Dan terakhir, semoga di tahun 2011 dan di usia 19 nanti, saya bisa PUNYA PACAR!!!!
Ehm,, yang terakhir agak lebay
Haha, taun ini saya tidak ingin membebani diri sendiri dengan resolusi resolusi lebay yang kerap saya tulis beberapa taun belakangan. Saya ingin mengalir apa adanya. Dan lebih menikmati unsur kejutan dan kespontanan hidup.
Sebab, apa menarikanya hidup jika kita kehilangan unsur kejutan?
Dan juga, ingin menerapkan Rules di Colombus di film Zombieland:
Rule number 32, Enjoy the Little Thing!
Bagaimana dengan resolusimu? 🙂
Advertisements

PT Meranti Mustika Plywood

Sebuah Kisah Tentang Kejayaan Perusahaan Kayu

Oleh: Rusnani Anwar, Sampit

Meranti Mustika berlokasi di Tanjung Katung (yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tanjung Mas), Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur. Lokasinya hanya 15 kilometer perjalanan darat dan l0 menit perjalanan sungai dari kota penulis, Sampit. Awalnya, di tahun 1975, Tanjung Katung terkenal sebagai tempat sawmill (pembelahan kayu), lantas pada tahun 1982, PT Meranti Mustika Plywood (MMP) resmi dibuka dengan Njoto Soenarto menjabat sebagai direktur utama perusahaan kayu yang memiiliki Hak Pengelolaan Hutan (HPH) seluas 46.879 hektar ini. PT MMP mengalami puncak kejayaan di tahun 80-an akhir hingga 90-an awal.

Terdapat dua periode kepemimpinan atas perusahaan ini. PT Meranti Mustika Plywood pada periode 1982-1995, dan PT Industri Kayu Meranti Mustika (IKMM) pada tahun 1995-2003. Luas tanah milik perusahaan ini adalah 104 hektar, membentang sepanjang 5 kilometer Tanjung Katung.

Berdasarkan data Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan tahun 2002, PT Meranti Mustika dinyatakan masih aktif hingga Juli 2001. Aktif dalam artian masih memproduksi kayu, baru kemudian di tahun 2003, produksi kayu lapis perusahaan ini berhenti sepenuhnya lantaran pailit. Jatah Produksi Tebangan (JPT) perusahaan ini sebesar 61.586 m­­­­­3 ­­­ per tahun.

Wilayah HPH PT Meranti Mustika Plywood tersebar di berbagai daerah. Nama nama kota kecil seperti Sangai, Kuayan, Keminting, Sebabi hingga Parenggean menjadi tempat dimana bahan baku pabrik pengolahan kayu ini berasal. Sekali datang, ribuan batang kayu yang didominasi oleh jenis Meranti dihanyutkan dari udik (sungai hilir). “Kalau kayu sudah datang, sepertiga lebar sungai Mentaya penuh dengan gelondong kayu,” ujar Rahmadi, dia sempat bekerja sebagai nakhoda togboat dan operator hoest di PT MMP.

Kayu-kayu itu lantas diraup menggunakan mesin hoest (sejenis crane) lalu dimasukan ke areal pabrik untuk dikeringkan menggunakan mesin blower. Semuanya menggunakan mesin otomatis, hanya diperlukan beberapa operator untuk mengoperasikan kenop kenop kendali. Output perusahaan yang mengantongi SK HPH nomor : 1001/kpts-VI/1999 ini adalah plywood. Plywood adalah kayu lapis, hasil olahan kayu di pabrik ini diklasifikasikan berdasar tingkat kualitas. “Grade A dan B untuk ekspor, grade C untuk konsumsi lokal,” tambah Rahmadi.

Kayu-kayu yang masuk disortir berdasar diameternya. Kayu dengan panjang 25 meter ke atas dijadikan bahan baku untuk kayu lapis dan paper overlay. Paper overlay adalah lembaran pelapis yang terbuat dari kayu, bentuknya tipis dan berserat. Sementara sisanya, yang berukuran 25 meter ke bawah, akan diracik dan dijadikan blockboard, semacam papan tebal yang memiliki ketebalan 23-27 mili, biasanya dijadikan bahan pembangunan lantai.

Kayu lapis adalah komoditas terbesar yang diproduksi oleh perusahaan yang kolaps selepas kerusuhan ini. Kayu plywood keluaran perusahaan ini memiliki panjang 8 ft dan lebar 4 ft (kurang lebih 2,44 kali 1,22 meter) . Areal tanah yang dimiliki oleh PT MMP mencapai 109 hektar dengan panjang lima kilometer, membentang di sepanjangTanjung Katung. Perusahaan pengolahan kayu ini memiiliki 5000 bahkan lebih karyawan. Pekerja dibagi menjadi tiga shift, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, pabrik ini nonstop mengolah kayu.

Areal kerja dibagi menjadi tiga. Perkantoran, gudang logistik dan pabrik pengolahan, kantor berada di bagian tengah, ditandai dengan dermaga kecil tempat karyawan kantor menyeberang. Dua dermaga besar menjadi gerbang untuk dua bangunan yang mengapit perkantoran. Sisi kanan dermaga pabrik, sisi kiri dermaga gudang. Gudang yang terbuat dari kayu itu membujur ratusan meter, disinilah kayu-kayu gelondong yang tiba dan di-hoest ditampung sebelum diangkut ke pabrik. Sedangkan dermaga kanan berfungsi sebagai tempat kapal-kapal besar mengangkut hasil akhir olahan pabrik.


Njoto Soenarto , Sangat Royal Pada Karyawan

Njoto Soenarto (Sunarto Nyoto) adalah warga Singapura yang menjadi warga Indonesia dan berdomisili di Jakarta. Di tangannya, PT Meranti Mustika Plywood berkembang menjadi perusahaan pengolahan kayu terbesar se Kalimantan Tengah. Di mata para karyawan, sosok Sunarto Nyoto adalah seorang yang royal terhadap karyawan.

Ada tiga cabang perusahaan pengolahan kayu milik Sunarto Nyoto yang berdiri di Tanjung Katung. Yaitu PT MMP, PT Kayu Tribuana Rama (KTR) I dan PT KTR 2. Ketiganya bergelut di bidang pengolahan kayu.Yang berbeda adalah hasil produksi. Jika PT MMP menghasilkan kayu lapis, PT KTR I dan II memproduksi sound timber dan moulding. Semuanya kualitas ekspor.

Untuk mengakomodasi 5000 karyawannya, PT MMP membangun perumahan yang berlokasi di Tanjung Katung. Ribuan rumah beratap asbes dan berbahan baku kayu berjejer rapi di bagian utara Tanjung Katung. Fasilitas penunjang lain juga didirikan untuk karyawan. “Soalnya, pak Nyoto menjalankan pesan almarhum ibunya, untuk selalu peduli sama karyawan,” ungkap Sunarti, seorang penduduk yang penulis temui pagi itu di perumahan PT. MMP.

*bekas bangsal kesehatan yang sekaligus berfungsi sebagai posyandu*

Mulai dari sekolah, masjid, posyandu hingga puskesmas berdiri di sudut-sudut perumahan. Semuanya diberikan untuk karyawan kelas tiga pabrik pengolahan kayu. Sementara untuk karyawan kantor, memiliki bentuk rumah yang berbeda. Rumah Ir. Arman, Manager Produksi PT MMP misalnya. Berada di tengah perumahan karyawan, rumah ini dulunya dihuni oleh Ir Arman di tahun 1990-an. Dengan kontur modern dan berstrukstur kayu, kediaman manager ini lekat disebut sebagai ‘rumah insinyur’ oleh warga lokal. Untuk engineer asing, ditempatkan di mess khusus, dekat areal perkantoran. Misalnya mess yang diperuntukkan bagi engineer dari Korea, di sebelah gedung kantor utama.

Edy Susanto adalah contoh lain, ia yang dulu bekerja di bagian logistik ini mengaku merasa sangat nyaman bekerja di bawah pimpinan Sunarto Nyoto. “Mulai dari tunjangan beras, kesehatan, lembur, uang makan, transportasi hingga jatah libur diberikan oleh pak Nyoto,” ujarnya. Namun kemudian, ketika PT MMP sedang jaya-jayanya, tampuk kepemimpian dilimpahkan ke tangan Ir. Tandiono.

Pada era kepemimpinan Ir. Tandiyono inilah, PT MMP mengalami kemunduran, hingga akhirya pada tahun 1995, PT MMP menjual semua asetnya ke tangan PT Industri Kayu Meranti Mustika (IKMM). “Ketika dipimpin oleh Ir Tandiono, jatah, tunjangan, sudah tidak ada lagi,” ungkap Rahmadi.

Hanya berselang enam tahun lepas pindahnya tampuk kekuasaan ke tangan PT IKMM, perusahaan kayu yang beralamat di Jl. Cempaka Putih Tengah II/1 Blok B 5-12 Jakarta inipun kolaps karena terlilit hutang bank pada tahun 2003. Di tahun 1999, luas HPH PT MMP sebesar 46.879 hektar. Jumlah ini lantas menyusut menjadi 33.498 hektar di tahun 2001. Tahun 2007, luas hutan PT Meranti Mustika tinggal 32.491 hektare.

Pukulan bertubi menimpa kerajaan kayu Meranti Mustika. Pertama, adanya konflik etnis di tahun 2001. Mayoritas karyawan pabrik pengolahan adalah suku Madura. “Pas kerusuhan habis karyawannya ngungsi semua,” ujar Edy. Kedua, faktor perizinan, saat itu HPH Meranti Mustika telah habis. Ditambah dengan keadaan perindustrian kayu yang sedang sulit di era 2000-an, PT IKMM menjadi enggan memperpanjang izin HPH mereka. Ketiga, faktor pailit, perusahaan disita bank karena perusahaan tidak mampu membayar pinjamannya.

Apa Yang Terjadi Kini?

Terlilit hutang dengan Bangkok Bank Jakarta pada tahun 2005, membuat PT IKMM harus menjalani sidang di pengadilan negeri Palangkaraya. Seluruh aset, baik bangunan maupun tanah PT IKMM disita oleh pengadilan. Kepala PN Palangkaraya, Partomuan Sihombing, memutuskan untuk mengajukan permohonan lelang ke Kantor Penagihan Piutang Lelang Negara (KP2LN).

Pengajuan lelang dicetuskan karena sebanyak 912 karyawan (yang tercatat) belum menerima uang pesangon. Yang dilelang adalah mesin pengolahan kayu. Pada tahun 2007, PT Tuti Ekspresindo yang bergerak di bidang pembelian limbah, memenangkan lelang dan membelinya seharga Rp 13,5 milyar.

Nasrudin, seorang karyawan PT IKMM mengaku hanya mendapat uang pesangon sebesar Rp 5,5 juta. “Seharusnya, dilihat dari peraturannya, saya dapat Rp 15 juta,” ujar Nasrudin yang berdomisili di Tanjung Katung ini. Total dana yang digunakan untuk membayar pesangon karyawan memakan biaya Rp 5,5 milyar.

Kemudian sejak Oktober 2009 tahun lalu, Bangkok Bank memutuskan untuk membongkar sisa-sisa pabrik. “Saya ditunjuk Bangkok Bank untuk meratakan tempat ini,” ujar H. Rudi Sukamat, pemborong dari Jakarta. Sudah 90 persen bangunan yang diratakan, yang tersisa tinggal area perkantoran dan mess Korea. Begitupun dengan dermaga kiri tempat gelondong kayu diangkut ke dalam gudang logistik. Dermaga besar yang berkonstruksi kayu ini sudah hancur.

*Yang tersisa dari pembongkaran bangunan pabrik kayu*

Sementara gudang logistik dan pabrik pengolahan, sudah rata dengan tanah, besi besi raksasa yang menopang bangunan ini dipilah dan ditumpuk di dermaga kanan, menunggu pembeli. Total 70 pekerja dikerahkan untuk membongkar bangunan yang luasnya mencapai 5 hektar ini. Tanaman rambat liar merangsek disela sela gedung yang sebagian sudah runtuh sejak tahun 2007 itu.

Keadaan ini dikeluhkan oleh pemborong, banyaknya besi yang berserak di lokasi pembongkaran mengundang oknum warga untuk menjarah besi besi tersebut. “Padahal saya sudah bayar ke polres itu, tapi tetap saja ada yang menjarah,” keluh Rudi. Ia memperkirakan lima bulan lagi baru pekerjaannya meratakan Meranti Mustika selesai sepenuhnya.

Saat ini, tidak banyak yang tersisa dari perusahaan ini. Hanya perumahan yang masih bertahan. Itupun sudah banyak yang ditinggalkan penghuninya. Ribuan rumah yang berjejer rapi itu kini hanya dihuni segelintir warga. “Cuma tinggal beberapa puluh kepala keluarga saja yang tinggal disini sekarang,” ujar Sri, seorang guru SMP Meranti Mustika. Tampak rumah-rumah kayu yang telah dihancurkan di sepanjang jalan setapak kompleks perumahan.

Perusahaan yang bangkrut secara otomatis membuat ribuan karyawan kehilangan mata pencaharian. Sebagian mereka memutuskan untuk pindah ke Sampit ataupun bekerja di perusahaan sawit. Kompleks perumahan yang semula ramai berubah menjadi kota mati, sepi sekali. Bangunan puskesmas dan posyandu, sudah hancur, doyong nyaris runtuh. “Dulu, setiap pagi Sabtu, posyandu ini ramai,” ujar seorang warga sambil menunjuk ke halaman gedung posyandu yang sekarang disesaki pohon pisang.

SMP Meranti Mustika sempat memiliki pamor di tahun 1990-an. SMP swasta yang didirikan oleh PT MMP ini kerap berlaga dan menjuara di lomba-lomba baik tingkat akademik maupun atletik. Namun saat ini, gedung SMP yang merangkap SD dan SMK ini sudah nyaris rubuh. Plafon-plafon menjuntai malas, dinding-dinding yang mulai lapuk, jelaga yang bertumpuk di sudut-sudut atap menjadi bukti betapa jauhnya sekolah ini dari pemugaran.

Sama halnya dengan masjid Baiturrahman, masjid yang telah berdiri sejak 1988 ini nyaris tidak pernah diperbaharui. Terakhir bantuan diberikan oleh pemerintah daerah sejumlah Rp 5 juta, itupun hanya cukup untuk memperbaiki sebagian atas masjid yang berlubang lubang dimakan usia. “Masjid ini dulu selalu ramai, ada TK Al Quran juga, tapi sudah tutup,” ujar M. Zainuddin, kaum masjid. Menjelang Magrib, hanya segelintir warga menyambangi masjid ini, kontras dengan keadaan di masa lalu.

***

*Beberapa foto yang saya ambil di Tanjung Mas, Maret silam*

*Terbit untuk Surat Kabar Harian Radar Sampit, 15 Maret 2010

Tentang Menikah dan Keharusan Kuliah

Baru pulang nyari makan. Nemu mie goreng enak di warung tenda taman kota.
Hm.. Sudah lama, sejak awal bulan April lalu, aku mempertimbangkan buat kuliah.
Universitas lokal saja lah, jangan yang jauh dan makan biaya.
Sekedar demi selembar kertas bernama ijazah.
Status. Titel. Kredibilitas yang konon katanya bisa dibuktikan melalui selembar kertas bertuliskan SARJANA.
Aku muak dengan sistem pendidikan, sebenarnya.
Aku muak belajar dengan pola seperti itu.
dengan mudahnya mengkotak kotakkan manusia berdasar angka.
4 = Genius
3 = Pinter
2 = Bolehlah
1 = Siapa sih bapaknya, bego banget
Semua sistem di mana orang harus menelan disiplin ilmu yang tidak disukai demi meraih nilai. Demi sebuah titel.
Honestly, aku iri.
Iri dengan kawan-kawan seangkatan yang sudah mulai menata masa depan.
Ada yang jadi dokter, akuntan, bidan, guru, banyak profesi kerja.
Mereka mempersiapkannya dengan matang.
Dengan kuliah.
Juga iri dengan teman-teman yang mantap menjawab : “IPB bogor, Unibraw malang,” ketika ditanya “Mau kemana setelah lulus?”.
Mungkin iya, aku kurang bersyukur. hanya bisa merasa iri dengan pencapaian orang lain.
Dan beberapa orang yang sangat kuhargai pendapatnya, semuanya mengatakan aku harus kuliah. meski hanya demi sebuah gelar.
Itu dia, aku terlalu pelit untuk mengeluarkan duit untuk sesuatu yang tidak berguna (menurut versiku).
Dari dulu aku percaya, ilmu ada dimana mana. Bisa diraih dan diserap tanpa harus memastikan diri terdaftar sebagai mahasiswa perguruan anu.
Tapi kemudian aku sadar,
Ijazah yang nggak ada dimana mana.
Ah entah, masih bingung. Aku terlalu tua untuk menjadi ABG labil.
Bahkan anak kelas satu SMA tadi dengan matap menjawab “Fakultas kedokteran UI, kak,”
Jadi pengen nangis dengernya.
Semua punya cita-cita, dan gigih mengejarnya.
Aku, hanya bisa mimpi dan berangan tentang cita cita.
Lalu, tentang menikah. satu minggu belakangan semua hal disekelilingku berubah menjadi janur kuning menghias di ruang tamu.
Tetangga, teman sekelas waktu SD, my sister, dan.. mantan pacar.
Yep, he’s married last month.
Tiba-tiba merasa kuatir. Takut tanpa sadar jadi tua dan belum kawin kawin juga..
Ah puyeng. Aku benci berfikir. Berfikir bikin laper 😛
Selamat Hari Ini, guys.

picture taken here

Resolusi 18

Sebenarnya saya tidak terbiasa merayakan ulang tahun. Dulu misalnya, saat tujuhbelas, saya hanya melewati malam di kos teman, numpang nginep sambil nonton Saw 3, minum coca cola dan menulis sampai pagi. Saya masih menyimpan resolusi tujuh belas saya. dan dalam perjalanannya beberapa tidak terpenuhi.
Saya masih ingat pas ulang tahun ke tujuh belas dulu, saya menulis :
Saya hanya akan bekerja jika pekerjaan itu mampu bersinergi dengan ideologi saya (saya tau ini terdengar sangat sangat super sombong)
Well, saya rasa ini salah satu dari resolusi ulang tahun yang mampu saya penuhi. Ideologi saya sebenarnya tidak muluk, saya hanya ingin pekerjaan yang tidak terpaku hanya pada satu space. Tidak hanya diam, menunggu tanggal gajian lalu berulang sampai tahun berlalu tanpa terasa lantas saya jadi tua dan kalang kabut nyari jodoh :D. saya waktu tujuhbelas itu pengen jadi penulis. Jadi sastrawan. Jadi seseorang yang dapet duit dari sesuatu yang disenangi. Dan saya sangat senang menulis. Saya senang merangkai kata. Tapi kemudian ternyata implementasinya tidak segampang itu,,
Sekarang, di delapan belas tahun saya ga punya pengharapan apa-apa. Yang saya inginkan hanya kematangan berfikir, kebijaksanaan dalam bertindak, dan kesabaran dalam mengentaskan masalah. Saya tidak bisa lagi bilang “Yah maklumlah, saya pan remaja labil,” sebagai tameng di setiap kesalahan yang saya perbuat. Saya tidak bisa lagi berlindung di bawah “keTujuhBelasTahunan,”
Maka resolusipun tercetus, seperti ulangtahun-ulangtahun sebelumnya :
Saya Ingin Lebih Baik Lagi Dalam Pekerjaan Saya.
Hanya itu, berbeda dengan resolusi tujuh belas saya yang mencapai puluhan harapan.
Saya sangat beruntung karena bisa memiliki 2 pekerjaan yang sangat saya sukai. Menjadi penyiar dan reporter. Penyiar karena saya senang berbicara. Reporter karena saya sangat senang menulis. Yap, sebuah kesenangan yang mungkin terdengar klise 🙂 tapi saya sangat mencintai apa yang saya kerjakan saat ini, meskipun pada kenyataannya saya sangat tertatih dan super tertekan dalam menjalaninya. (See, sometimes real life played me so hard. Again, Indonesians birocracy fail me).
Maka harapan saya di delapan belas ini sederhana, semoga saya bisa lebih baik lagi dalam pekerjaan saya. Semoga saya dapat menyajikan siaran yang bagus dan disenangi banyak pendengar, semoga saya bisa lebih mumpuni lagi dalam menulis berita dan tidak lagi menyusahkan redaktur dengan segala keter-udik-an saya dalam dunia jurnalis.
Masalah jodoh, hahaha. Jadi inget kata seorang teman. “Ga bosen Nan? Jomblo?,”.. hmm, made me thinking little bit. Saya juga ga ngerti kenapa saya bisa stuck dalam perjodohan seperti ini. Jarang ada cowo yang mau saya selingkuhi dengan kerjaan soalnya 😀 yah.. jangankan pacaran, mandi aja saya ga sempat.. oh well. Kita liat nanti sajalah, masih delapan belas ini.. 😛
Maka sekali lagi..

Happy Happy Birthday Myself!

Kematian

Entah angin apa, sy sedang banyak bertanya tentang kematian, akhir akhir ini. Ditambah satu-dua kabar kematian -entah dari jauh maupun dekat- yang datang, rasa rasanya tidak berlebihan jika kemudian tertuang dalam tulisan (halah gw ngemeng apeeee)

Ini dia yang saya tulis dalam chapter terakhir dalam naskah proyek tulisan saya akhir2 ini:

Wenggini menghambur berlari menuju Sloan, tak pernah ia berlari sekuat itu dalam hidupnya. Pria itu kini tampak kurus, pipinya tirus dengan rambut acak acakkan. Gelayut lelah menghitam di bawah matanya yang tertutup kacamata.

“Wengi?” bola mata Sloan membesar kala melihat perempuan yang namanya selalu ia bisikkan sepanjang waktu itu. Kini keduanya berhadapan, saling menatap. Keduanya mengejar 23 tahun yang terlewat. Wenggini kembali menjadi gadis 19 tahun yang lugu dan Sloan kembali menjadi pria 30 tahun yang gagah, berbalut jas dan dasi serta kacamata berbingkai emas.

Sloan mendekap Wenggini sangat erat sambil menggumamkan nama perempuan itu berulang ulang. Ia elus rambut Wenggini, mengecup keningnya berulang ulang. Wenggini menangis dalam dekapan dada Sloan. Ia tak peduli, tak pernah peduli pada waktu yang terbuang untuk menunggu pria itu.

Ia kini membayar rindunya. Mereka berpelukkan hingga terdengar rentetan senapan. Senapan mesin, terdengar ditembakkan ke arah massa yang masih menggumpal di depan pengadilan. Pria bertopi baret berlari ke arah Wenggini dan berteriak teriak.

“Lari! Mereka menembaki kawan kawan kita di gedung presiden, semua dipukul mundur, yang mati tak terhitung, banyak! Cepat!,” pria itu berlalu dan mengajak massa untuk menyelamatkan diri. Ada puluhan tubuh yang tumbang dihantam peluru. Di tengah jalan, Wenggini melihat mobil jeep yang memuntahkan peluru.

Sloan menarik tangan Wenggini, di ajaknya perempuan itu berlari selamatkan diri. Keduanya berdiri di titik bidik pria pria bersenapan. Wenggini menggeleng, dilekatkannya pelukan terhadap pria itu.

“Saya lelah berlari, saya ingin merdeka,” bisiknya di dada Sloan.

Sloan tantas mengenadah, menatap lagit. Warnanya begitu biru, matahari meredup, udara terasa sejuk. Rentetan peluru masih berdesing terbang.

“Kita merdeka, Wengi, murka orang orang di negara ini tak akan mampu dibungkam peluru. Kita merdeka”

Dor.

Entah dari mana datangnya. Mungkin dari pria berseragam yang menudingkan senjata ke arah mereka berdua.

Dor.

Tubuh Sloan limbung, darah mengucur dari lubang di belakangnya. Wenggini batuk, ada darah yang keluar. Dua peluru yang menembus dada Sloan, menembus jantungnya.

Keduanya saling menatap, masih berpeluk.

Langit kian gelap, rintik turun sesekali. Peluru masih berdesing sesekali.

Ada dua mayat, saling berpelukan.

Matanya menatap mata yang berpejam.

Bersuara.

“Kita merdeka”

***


yak. Gw MEMBUNUH kedua pemeran utama!! *ketawa setan*

Well, selamat Jumat. Saya harus kembali ke tumpukkan kertas dan tinta tinta. Menggarap event akhir taun. bubye!

Distraksi

Selama ini, saya cuma ketawa saat maen ke blog2 kawan. Rata rata mengaku teralihkan atensinya oleh jejaring sosial bernama Twitter. Dan sekarang, saya yang mengalaminya (menertawakan diri sendiri). Twitter ternyata sangat menggoda, kawan! (pengakuan seorang blogger yang udah setaun punya akun twitter tapi baru ngeh cara gunainnya)

Oke, kabar baru dari saya :

Tanggal lima desember lalu, kakak Menikah.

Terus tetangga depan rumah meninggal sehari sebelum resepsi. Ini ironi, kawan..

Well, seperti yang saya bilang, tidak banyak yang ingin saya sampaikan, yang pasti..

Selamat Twitteran Lagi!!!

Fuzzy Friday

Bayangkan, dalam satu rumah ukuran kecil, diisi 17 orang yang hidup bersama. Serius, ini keadaan rumah saya sekarang. Keluarga abah datang dari Jaro, Kalimantan Selatan, 12 orang. Keadaan penuh sesak. Malam ini saya rencananya mau nyari penginapan. T_T can u imagine that? nyari penginapan di kota sendiri? haha, tapi tak apalah, sepuluh tahun sekali ini.

Kakak saya akan menikah hari minggu ini, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 26. Kakak selalu bilang beliau lega, akhirnya melepas lajang di usia yang relatif tidak terlampau tua. Orang tua, sanak saudara juga lega, kemungkinan punya anak perawan tua di keluarga berkurang. Saya mungkin masih belum cukup tua untuk mengerti mengapa orang orang tua yang notabene masih teguh pegang adat seperti orangtua saya, begitu paranoid dengan label ‘punya anak perawan tua’.

Apakah mungkin lantaran stigmasi sosial yang terbentuk kemudian? atau sang orang tua khawatir anak perempuannya yang belum juga menikah akan mengundang ghibah? (buset, gw semacam doyan sama kata ghibah akhir akhir ini :P) hahaha, saya hanya khawatir, suatu saat nanti, saya akan menikah bukan untuk alasan ibadah ataupun kehendak saya dari hati. Tapi berasal dari gesekan dan paksaan halus dari keluarga dan dunia sosial.

Damn, kadang ada harga yang harus dibayar untuk hidup bareng bareng manusia.

eh, ini foto yang saya ambil di daerah blauran. Kawasan lapak lapak PKL di daerah jantung kota Sampit.

Langit mendung, rintik sesekali.

Eh, liat juga apa yang saya temukan pas bongkar bongkar loteng kemarin.

Entah milik siapa, saya bukan penggemar stensil jenis horor kaya gitu. Asikkan softcore, hardcore, BDSM, *eh. 😛

C’est la Vie!!