Di Manakah Tuhan Saya?

Pertanyaan itu terlintas di kepala saya sejak kelas enam SD.

Usia bertambah, orang tua saya masih berfikiran kaku tentang tuhan dan dogma dogma agama. Tidak hanya agama, saya mulai mempertanyakan takhayul dan pamali pamali yang dipercayai lantaran merasa takut. Ibu saya selalu bilang di kebun pisang ada hantu. Sayapun mempertanyakan dan ingin tahu apa benar ucapan ibu saya itu. Untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahu, saya harus membebaskan diri saya dari rasa takut. Malam itu saya berkemah di kebun pisang dan saya sakit kuning selama tiga hari. Istilah banjarnya : kepidaraan.

Tapi setidaknya saya tau, itu harga untuk jawaban rasa ingin tahu saya. Orangtua saya bukanlah tipe orangtua yang memukul anaknya kala tak sholat. Meski ayah saya ikut lembaga masjid dan menjadi pengurus surau, beliau selalu bilang bahwa saya akan tiba pada titik pencarian tuhan. Kala itu, ayah saya hanya bilang :

Yakini dengan hati

Saya masih gemar bertanya tanya hingga bangku SMP, SMA, hingga lulus. SMA kelas dua, saya memutuskan untuk mendalami ilmu tasawuf. Tentang syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat. Peleburan diri pada Allah. Jujur, saya mengalami masa ‘damai’ dalam hidup saya. Saya menjadi berdamai dengan segala keadaan di sekitar saya, saya bahkan tidak lagi sibuk mempertanyakan hal hal duniawi. Saya sibuk mencintai Allah.

Hingga kemudian saya mengetahui bahwa ‘dunia’ itu tidak hanya Sampit-Rumah-Saya-Allah. Ada bentangan luas dunia dengan berjuta kompleksitas dan kerumitan agama, keyakinan dan aturan. Di tahun ketiga SMA saya, sayapun mengurungkan niat untuk mengenakan jilbab dan merefleksi satu pertanyaan dalam diri saya:

”Apa yang akan terjadi pada umat agama lain yang telah melakukan kebaikan dalam hidupnya?”

Tentu, pola pertanyaan itu akan membuat orang menyimpulkan bahwa saya ini seorang yang menganggap semua agama sama saja. Saya kemudian mengambil simpulan yang saya yakini hingga saat ini : bahwa tuhan akan berlaku baik pada siapa saja. Sekarang apakah ‘tuhan’ yang saya maksud adalah ‘Allah?” saya coba ketuk ketuk hati saya, tempat tuhan berada, saya ternyata tak mampu temukan jawabanya.

Ayah saya datang ke kamar, suatu malam. Beliau tau saya sedang mempertanyakan tuhan. Buku buku keagamaan saya tinggalkan, saya tanyakan pada ayah : “Abah, apa benar kita boleh paksa orang untuk ikuti aturan beragama?”

Jawaban ayah menyadarkan saya:

“Nak, abah nanti akan pertanggungjawabkan dosa abah pada Allah atas perbuatanmu. Tapi itu resiko yang abah ambil sebagai orangtua. Sekarang, kamu tidak perlu masuk agama manapun untuk mencari tuhan, tuhan letaknya ada di dalam hati, bukan di patung yesus maupun surban kiai,”

Abah saya diam, cukup lama. Dan sejak itu, saya berdamai dengan dogma agama. Saya sholat, ngaji dan puasa semata lantaran saya ingin ketemu tuhan. Saya baca injil, untuk puaskan pengetahuan saya. Saya sudah berdamai dengan kutex, cat rambut, menstruasi, qunut dan aturan agama lainnya. Saya berdamai dengan aturan agama. Apakah lantas ketika saya tidak memperkarakan syariat, saya tak berhak bertemu dengan tuhan? 🙂

Tanpa larangan benar salah yang di dogmakan islam, apakah sekarang saya sudah menjadi seorang bejat dan tidak bermoral? Alhamdullillah, saya belum ketangkapan melakukan zina dan perbuatan kaum jahiliyah lainnya yang anda sangat murkai. Saya punya moral, self awareness, dan ketaatan atas kesepakatan bersama antar manusia yang bertuai menjadi undang undang.

“Anda ini bagaimana sih, hukum bikinan manusia anda taati, tapi hukum agama malah diabaikan,”

Saya tetap peduli dengan hukum agama. Banyak point kehidupan yang tak ditangkap hukum masyarakat. Dalam agama saya tidak boleh durhaka, jangan munafik, tidak bersekutu dengan setan, dan lain sebagainya. Dogma agama, layaknya hukum masyarakat, akan saya pilah dan cerna kembali. Yang saya yakini akan bermanfaat, saya ambil, yang tidak bisa saya yakini, akan saya tinggalkan sementara sambil terus saya pertanyakan.

Sesimpel itu, hubungan saya dan tuhan.

Tapi entah mengapa, dan ini yang membuat saya kecewa, pandangan saya tentang tuhan dan agama kerap diinterpretasikan sebagai suatu kesalahan yang harus dibenarkan. Orang orang se agama, sesama muslim, merasa wajib membetulkan keyakinan saya. Ayah saya yang sedari kecil merawat saya saja tidak pernah menghakimi saya atas apa yang saya yakini, beliau selalu bilang, hanya Allah yang berhak menghakimi seseorang.

Dan demi tuhan, saya akan sangat marah jika anda sebut ayah saya telah gagal membimbing saya.

Mereka, tidak mengenal saya, tidak mengerti hubungan saya dengan tuhan. Datang tanpa diminta dan mencecar keyakinan saya. Saya disudutkan tanpa sebab. Apa yang saya maksudkan bisa anda baca di postingan ini. Saya memerdekakan pikiran saya. Saya berfikir untuk diri saya sendiri. Dan tidak ada yang salah dari berfikir merdeka. Saya akan terus bertanya, untuk mencari jawabannya, saya harus melepaskan belenggu rasa takut atas dogma agama. Jawaban yang saya dapat, insya allah, akan selalu membuat batin saya puas, dan keyakinan saya semakin kuat.

Tuhan berkata pada nabi Musa: “Mereka yang terikat dengan basa basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri,”

Musa berkata: “Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata kata yang indah jika kita ingin berbicara pada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apapun yang kamu sukai, dengan kata-kata apapun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia”

-The Road to Allah, hal 24-

Mungkin saya harus belajar imannya orang bisu. Ia tak susah payah buktikan pada orang lain bahwa imannya paling benar. Ia juga tak pernah berteriak lantang pekikkan nama tuhannya. Cukup di yakini dengan hati. Apakah lantas saya memproklamirkan diri sebagai sufi? Tidak, saya tidak semulia itu, saya ini masih sangat penuh dosa dan hina di mata Allah. Saya tak layak masuk ke jajaran kekasihnya, para sufi. Saya hanya tau satu. Tidak ada yang salah dari berfikir merdeka, tuhan tak ciptakan otak untuk disia siakan.

Tentu, otak tetap harus berjalan sejajar dengan nurani. Selama hati saya yakin dengan apa yang kepala saya katakan, anda mau apa?

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar.

4 thoughts on “Di Manakah Tuhan Saya?

  1. Assalamualaikum 🙂 salam ukhuwah Kak.

    Sudah dua pekan ini aku sempatkan diri utk buka twitter. Menarik membaca twit2 kk, mb three, dll. Bagiku kk kontroversial, di awal2 aku membaca twit2mu. Aku jg sempat mikir bahwa kk anggota JIL 🙂 Hehe salah. Rusnani tak salah lantaran berpikir merdeka. Dlm berbagai hal, ada yg patut diteladani darimu kak.

    Hingga tiba pd kptusan pengen kenal kk, kucari d fb.

    Well, jangan sampai murtad loh kak:)
    tak ada yg slh dr berpikir merdeka.

    Salam manis,
    Nurul Hikmah
    (I'm a student of SMA)

    Like

  2. Secara umum saya suka dengan tulisan anda yang apa adanya…. dalam tiap diri kita ternyata memang selalu ada ruang untuk mencari jati diri, dalam falsafah Jawa (kalau tidak salah-sebab saya memang Jawa tapi jujur saya sendiri tidak begitu jawa- dalam arti kurang tahu tentang falsafah Jawa yang sebenarnya) ada istilah Sangkan Paraning Dumadi…konsep tentang pemahaman terhadap keberadaan kita, berasal dari dan kemana kita kelak kembali… baiklah tidak semestinya saya banyak membahas tentang itu, saya kira dalam proses pencarian anda, anda cukup banyak membaca referensinya..
    saat saya membaca tulisan anda tentang Kerusuhan Sampit, saya apresiatif dengan pandangan dan report anda, namun sebagaimana anda akui memang kajiannya kurang mendalam… dan akan sangat membantu jika anda mau melakukan riset sekali lagi dengan lebih dalam dan komprehensif atas peristiwa tersebut.
    Tidak untuk mengungkap luka lama, dan tidak untuk memperolok kebodohan diri kita semua sebagai anak bangsa namun, bagi saya dan juga mungkin banyak saudara-saudara kita sebangsa, saat ini dimana institusi resmi semisal negara tidak lagi bisa hadir untuk sekedar membela warganya dari keerpurukan ekonomi telah menyudutkan sebagian dari kita dalam lubang kebencian dan dendam terhadap sesama, kita makin gampang mengkambing hitamkan orang, kelompok, suku dan bahkan agama lain ketika kita sendiri terpuruk… kita hampir kehilangan kesadaran logika kita sebagai manusia…
    Di saat itulah kejadian kelam masa itu hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua betapa butuh kita akan kebresamaan dan saling menghargai untuk bersama-sama “hidup” dan sekedar “bertahan” dalam kelompok2 yang boleh jadi memang berbeda karena sekali lagi hanya itulah modal kita untuk terus melanjutkan “kemakhuk sosialan”.

    Oh ya… kembali pada pencarian keyakinan dan jati diri kita…. saya berharap anda sudah semakin matang dan dewasa dalam memahami makna kehidupan. coba sekali lagi cari dan pelajari dengan lebih dalam… Tashawuf…Jalan Cinta itu-saya yakin- jalan yang terbaik untuk menghantar kita pada Kesejatian Diri dan bisa menjadi Obor dalam pencarian Tuhan di tengah belantara ideologi yang hampir-hampir kita tidak bisa lari dari pengaruh-pengaruhnya… Insya Allah… Ukhti saya yakin… antum berhak mendaptkan itu dan Iman yang berasal dari pencarian yang sungguh-sungguh -Ijtihad- jauh lebih baik dan langgeng ketimbang taklid buta…. Fafirru ilaLLah….

    Salam….
    Ucok Santosa
    ucoksantosa@ymail.com

    Like

  3. Tulisan saya mengenai kerusuhan ditulis nyaris setahun lalu. Saat saya masih belum memahami terlalu dalam tentang kejadian. Lagipula, posisi saya sebagai wartawan kala itu, tidak memungkinkan saya untuk memasukkan banyak opini dan telaah pribadi tentang hal tersebut.
    Namun saat ini, saya terus berusaha memperoleh pendapat2 orang yang juga tertarik tentang hal ini. Banyak sharing dengan etnologis, wartawan ibukota dan kawan2 media membuat saya sedikit demi sedikit memahami bahwa apa yang terjadi di kota saya sembilan tahun lalu itu tidak sepenuhnya merupakan konflik internal antar dua suku semata.

    Ya, terlalu banyak intervensi politis dan tunggangan kepentingan dalam hal tersebut. Namun sekarang, bukan lagi porsi saya untuk memaparkannya meski hanya untuk sebatas tulisan di blog. Saya sudah berhenti menjadi wartawan dan vakum dari dunia akademik.

    Jadi ya.. sekedar disimpan untuk diri sendiri saja hahaha.

    Mengenai tulisan saya di atas..
    Sebenarnya saya tidak begitu suka membeber perihal ketuhanan di ruang publik. Layaknya udaya, keimanan bukanlah sesuatu yang bisa ditakar dan dihakimi dengan putusan soleh-murtad.

    Layaknya manusia yang menjadi gudangs egala khilaf, saya mencoba menjawab kekesalan saya atas tudingan orang orang yang menjatuhkan vonis sesat dan murtad atas diri saya.

    Ya, saya masih kesulitan untuk berhubungan dengan tuhan tanpa harus terusik dengan anggapan manusia sekitar. Semoga ke depan saya lebih dikuatkan lagi ^^

    Well, ruang ijtihad, menurut saya tidaklah harus berhenti di abad 10 (saat para petinggi agama saat itu semacam berembug dan mengeluarkan fatwa bahwa ikhwal ijthad harus dilakukan orang2 yang tinggi maqamnya dalam islam saja)

    Just my opinion, ini akan menyebabkan orang2 mengikuti suatu tarekat/mahzab dengan -seperti yang anda bilang- taqlid buta. Setidaknya, berilah ruang untuk manusia memikirkan tiga pertanyaan pokok kehidupan.

    “Darimana kita berasal, untuk apa kita di dunia, dan kemana kita akan pulang?”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s