Kematian

Entah angin apa, sy sedang banyak bertanya tentang kematian, akhir akhir ini. Ditambah satu-dua kabar kematian -entah dari jauh maupun dekat- yang datang, rasa rasanya tidak berlebihan jika kemudian tertuang dalam tulisan (halah gw ngemeng apeeee)

Ini dia yang saya tulis dalam chapter terakhir dalam naskah proyek tulisan saya akhir2 ini:

Wenggini menghambur berlari menuju Sloan, tak pernah ia berlari sekuat itu dalam hidupnya. Pria itu kini tampak kurus, pipinya tirus dengan rambut acak acakkan. Gelayut lelah menghitam di bawah matanya yang tertutup kacamata.

“Wengi?” bola mata Sloan membesar kala melihat perempuan yang namanya selalu ia bisikkan sepanjang waktu itu. Kini keduanya berhadapan, saling menatap. Keduanya mengejar 23 tahun yang terlewat. Wenggini kembali menjadi gadis 19 tahun yang lugu dan Sloan kembali menjadi pria 30 tahun yang gagah, berbalut jas dan dasi serta kacamata berbingkai emas.

Sloan mendekap Wenggini sangat erat sambil menggumamkan nama perempuan itu berulang ulang. Ia elus rambut Wenggini, mengecup keningnya berulang ulang. Wenggini menangis dalam dekapan dada Sloan. Ia tak peduli, tak pernah peduli pada waktu yang terbuang untuk menunggu pria itu.

Ia kini membayar rindunya. Mereka berpelukkan hingga terdengar rentetan senapan. Senapan mesin, terdengar ditembakkan ke arah massa yang masih menggumpal di depan pengadilan. Pria bertopi baret berlari ke arah Wenggini dan berteriak teriak.

“Lari! Mereka menembaki kawan kawan kita di gedung presiden, semua dipukul mundur, yang mati tak terhitung, banyak! Cepat!,” pria itu berlalu dan mengajak massa untuk menyelamatkan diri. Ada puluhan tubuh yang tumbang dihantam peluru. Di tengah jalan, Wenggini melihat mobil jeep yang memuntahkan peluru.

Sloan menarik tangan Wenggini, di ajaknya perempuan itu berlari selamatkan diri. Keduanya berdiri di titik bidik pria pria bersenapan. Wenggini menggeleng, dilekatkannya pelukan terhadap pria itu.

“Saya lelah berlari, saya ingin merdeka,” bisiknya di dada Sloan.

Sloan tantas mengenadah, menatap lagit. Warnanya begitu biru, matahari meredup, udara terasa sejuk. Rentetan peluru masih berdesing terbang.

“Kita merdeka, Wengi, murka orang orang di negara ini tak akan mampu dibungkam peluru. Kita merdeka”

Dor.

Entah dari mana datangnya. Mungkin dari pria berseragam yang menudingkan senjata ke arah mereka berdua.

Dor.

Tubuh Sloan limbung, darah mengucur dari lubang di belakangnya. Wenggini batuk, ada darah yang keluar. Dua peluru yang menembus dada Sloan, menembus jantungnya.

Keduanya saling menatap, masih berpeluk.

Langit kian gelap, rintik turun sesekali. Peluru masih berdesing sesekali.

Ada dua mayat, saling berpelukan.

Matanya menatap mata yang berpejam.

Bersuara.

“Kita merdeka”

***


yak. Gw MEMBUNUH kedua pemeran utama!! *ketawa setan*

Well, selamat Jumat. Saya harus kembali ke tumpukkan kertas dan tinta tinta. Menggarap event akhir taun. bubye!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s