Tentang Menikah dan Keharusan Kuliah

Baru pulang nyari makan. Nemu mie goreng enak di warung tenda taman kota.
Hm.. Sudah lama, sejak awal bulan April lalu, aku mempertimbangkan buat kuliah.
Universitas lokal saja lah, jangan yang jauh dan makan biaya.
Sekedar demi selembar kertas bernama ijazah.
Status. Titel. Kredibilitas yang konon katanya bisa dibuktikan melalui selembar kertas bertuliskan SARJANA.
Aku muak dengan sistem pendidikan, sebenarnya.
Aku muak belajar dengan pola seperti itu.
dengan mudahnya mengkotak kotakkan manusia berdasar angka.
4 = Genius
3 = Pinter
2 = Bolehlah
1 = Siapa sih bapaknya, bego banget
Semua sistem di mana orang harus menelan disiplin ilmu yang tidak disukai demi meraih nilai. Demi sebuah titel.
Honestly, aku iri.
Iri dengan kawan-kawan seangkatan yang sudah mulai menata masa depan.
Ada yang jadi dokter, akuntan, bidan, guru, banyak profesi kerja.
Mereka mempersiapkannya dengan matang.
Dengan kuliah.
Juga iri dengan teman-teman yang mantap menjawab : “IPB bogor, Unibraw malang,” ketika ditanya “Mau kemana setelah lulus?”.
Mungkin iya, aku kurang bersyukur. hanya bisa merasa iri dengan pencapaian orang lain.
Dan beberapa orang yang sangat kuhargai pendapatnya, semuanya mengatakan aku harus kuliah. meski hanya demi sebuah gelar.
Itu dia, aku terlalu pelit untuk mengeluarkan duit untuk sesuatu yang tidak berguna (menurut versiku).
Dari dulu aku percaya, ilmu ada dimana mana. Bisa diraih dan diserap tanpa harus memastikan diri terdaftar sebagai mahasiswa perguruan anu.
Tapi kemudian aku sadar,
Ijazah yang nggak ada dimana mana.
Ah entah, masih bingung. Aku terlalu tua untuk menjadi ABG labil.
Bahkan anak kelas satu SMA tadi dengan matap menjawab “Fakultas kedokteran UI, kak,”
Jadi pengen nangis dengernya.
Semua punya cita-cita, dan gigih mengejarnya.
Aku, hanya bisa mimpi dan berangan tentang cita cita.
Lalu, tentang menikah. satu minggu belakangan semua hal disekelilingku berubah menjadi janur kuning menghias di ruang tamu.
Tetangga, teman sekelas waktu SD, my sister, dan.. mantan pacar.
Yep, he’s married last month.
Tiba-tiba merasa kuatir. Takut tanpa sadar jadi tua dan belum kawin kawin juga..
Ah puyeng. Aku benci berfikir. Berfikir bikin laper 😛
Selamat Hari Ini, guys.

picture taken here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s