Menghajar Minggu!

Selamat sore ^^, saya kelar maraton talkshow beberapa hari di minggu ini. Desember juga bakal di isi dengan beberapa garapan acara dari event organizer yang saya ikuti. Sounds like a busy month. Saya kembali sibuk dengan beberapa draft tulisan. Senja Merah akhirnya selesai, total 55 halaman. Kategorinya fiksi, semi novel kali ya.

Ntar mau dikirim ke publisher di bandung, milik kawan. Semoga layak terbit, hehehe.

Dua bulan yang benar benar menguras kepala. Hahahaha, baru kali ini saya baca buku paket sejarah SMA dan beberapa buku lain demi sebuah karya fiksi. Ntar mau dikelarin lagi. eh, saya juga nemu foto pas siaran di komputer radio. 

Dan jangan bilang foto ini yang bakal dijadiin pamflet program T_T

lesson of today:

“Setiap ghibah yang orang lain berikan padamu, akan memotong pahala 70 sholat fardhu si pelaku ghibah.”

Jadi guys, banyak banyakin ngomong hal jelek tentang saya doonggg 😛

Advertisements

Di Manakah Tuhan Saya?

Pertanyaan itu terlintas di kepala saya sejak kelas enam SD.

Usia bertambah, orang tua saya masih berfikiran kaku tentang tuhan dan dogma dogma agama. Tidak hanya agama, saya mulai mempertanyakan takhayul dan pamali pamali yang dipercayai lantaran merasa takut. Ibu saya selalu bilang di kebun pisang ada hantu. Sayapun mempertanyakan dan ingin tahu apa benar ucapan ibu saya itu. Untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahu, saya harus membebaskan diri saya dari rasa takut. Malam itu saya berkemah di kebun pisang dan saya sakit kuning selama tiga hari. Istilah banjarnya : kepidaraan.

Tapi setidaknya saya tau, itu harga untuk jawaban rasa ingin tahu saya. Orangtua saya bukanlah tipe orangtua yang memukul anaknya kala tak sholat. Meski ayah saya ikut lembaga masjid dan menjadi pengurus surau, beliau selalu bilang bahwa saya akan tiba pada titik pencarian tuhan. Kala itu, ayah saya hanya bilang :

Yakini dengan hati

Saya masih gemar bertanya tanya hingga bangku SMP, SMA, hingga lulus. SMA kelas dua, saya memutuskan untuk mendalami ilmu tasawuf. Tentang syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat. Peleburan diri pada Allah. Jujur, saya mengalami masa ‘damai’ dalam hidup saya. Saya menjadi berdamai dengan segala keadaan di sekitar saya, saya bahkan tidak lagi sibuk mempertanyakan hal hal duniawi. Saya sibuk mencintai Allah.

Hingga kemudian saya mengetahui bahwa ‘dunia’ itu tidak hanya Sampit-Rumah-Saya-Allah. Ada bentangan luas dunia dengan berjuta kompleksitas dan kerumitan agama, keyakinan dan aturan. Di tahun ketiga SMA saya, sayapun mengurungkan niat untuk mengenakan jilbab dan merefleksi satu pertanyaan dalam diri saya:

”Apa yang akan terjadi pada umat agama lain yang telah melakukan kebaikan dalam hidupnya?”

Tentu, pola pertanyaan itu akan membuat orang menyimpulkan bahwa saya ini seorang yang menganggap semua agama sama saja. Saya kemudian mengambil simpulan yang saya yakini hingga saat ini : bahwa tuhan akan berlaku baik pada siapa saja. Sekarang apakah ‘tuhan’ yang saya maksud adalah ‘Allah?” saya coba ketuk ketuk hati saya, tempat tuhan berada, saya ternyata tak mampu temukan jawabanya.

Ayah saya datang ke kamar, suatu malam. Beliau tau saya sedang mempertanyakan tuhan. Buku buku keagamaan saya tinggalkan, saya tanyakan pada ayah : “Abah, apa benar kita boleh paksa orang untuk ikuti aturan beragama?”

Jawaban ayah menyadarkan saya:

“Nak, abah nanti akan pertanggungjawabkan dosa abah pada Allah atas perbuatanmu. Tapi itu resiko yang abah ambil sebagai orangtua. Sekarang, kamu tidak perlu masuk agama manapun untuk mencari tuhan, tuhan letaknya ada di dalam hati, bukan di patung yesus maupun surban kiai,”

Abah saya diam, cukup lama. Dan sejak itu, saya berdamai dengan dogma agama. Saya sholat, ngaji dan puasa semata lantaran saya ingin ketemu tuhan. Saya baca injil, untuk puaskan pengetahuan saya. Saya sudah berdamai dengan kutex, cat rambut, menstruasi, qunut dan aturan agama lainnya. Saya berdamai dengan aturan agama. Apakah lantas ketika saya tidak memperkarakan syariat, saya tak berhak bertemu dengan tuhan? 🙂

Tanpa larangan benar salah yang di dogmakan islam, apakah sekarang saya sudah menjadi seorang bejat dan tidak bermoral? Alhamdullillah, saya belum ketangkapan melakukan zina dan perbuatan kaum jahiliyah lainnya yang anda sangat murkai. Saya punya moral, self awareness, dan ketaatan atas kesepakatan bersama antar manusia yang bertuai menjadi undang undang.

“Anda ini bagaimana sih, hukum bikinan manusia anda taati, tapi hukum agama malah diabaikan,”

Saya tetap peduli dengan hukum agama. Banyak point kehidupan yang tak ditangkap hukum masyarakat. Dalam agama saya tidak boleh durhaka, jangan munafik, tidak bersekutu dengan setan, dan lain sebagainya. Dogma agama, layaknya hukum masyarakat, akan saya pilah dan cerna kembali. Yang saya yakini akan bermanfaat, saya ambil, yang tidak bisa saya yakini, akan saya tinggalkan sementara sambil terus saya pertanyakan.

Sesimpel itu, hubungan saya dan tuhan.

Tapi entah mengapa, dan ini yang membuat saya kecewa, pandangan saya tentang tuhan dan agama kerap diinterpretasikan sebagai suatu kesalahan yang harus dibenarkan. Orang orang se agama, sesama muslim, merasa wajib membetulkan keyakinan saya. Ayah saya yang sedari kecil merawat saya saja tidak pernah menghakimi saya atas apa yang saya yakini, beliau selalu bilang, hanya Allah yang berhak menghakimi seseorang.

Dan demi tuhan, saya akan sangat marah jika anda sebut ayah saya telah gagal membimbing saya.

Mereka, tidak mengenal saya, tidak mengerti hubungan saya dengan tuhan. Datang tanpa diminta dan mencecar keyakinan saya. Saya disudutkan tanpa sebab. Apa yang saya maksudkan bisa anda baca di postingan ini. Saya memerdekakan pikiran saya. Saya berfikir untuk diri saya sendiri. Dan tidak ada yang salah dari berfikir merdeka. Saya akan terus bertanya, untuk mencari jawabannya, saya harus melepaskan belenggu rasa takut atas dogma agama. Jawaban yang saya dapat, insya allah, akan selalu membuat batin saya puas, dan keyakinan saya semakin kuat.

Tuhan berkata pada nabi Musa: “Mereka yang terikat dengan basa basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri,”

Musa berkata: “Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata kata yang indah jika kita ingin berbicara pada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apapun yang kamu sukai, dengan kata-kata apapun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia”

-The Road to Allah, hal 24-

Mungkin saya harus belajar imannya orang bisu. Ia tak susah payah buktikan pada orang lain bahwa imannya paling benar. Ia juga tak pernah berteriak lantang pekikkan nama tuhannya. Cukup di yakini dengan hati. Apakah lantas saya memproklamirkan diri sebagai sufi? Tidak, saya tidak semulia itu, saya ini masih sangat penuh dosa dan hina di mata Allah. Saya tak layak masuk ke jajaran kekasihnya, para sufi. Saya hanya tau satu. Tidak ada yang salah dari berfikir merdeka, tuhan tak ciptakan otak untuk disia siakan.

Tentu, otak tetap harus berjalan sejajar dengan nurani. Selama hati saya yakin dengan apa yang kepala saya katakan, anda mau apa?

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar.