Pria Bertopang Dagu

Ada pria bertopang dagu, senja itu.
Pria bertopang dagu duduk di dipan lusuh dekat pintu.
Ada reka reka hidup melintas di depan pria bertopang dagu.
Hidup itu warna warni, biru ungu abu abu.

Ada pria bertopang dagu, sore Sabtu.
Entah apa yang ia pikirkan, matanya menggelayut pilu.
Pria bertopang dagu tak bergeming, Kepalanya kaku.

Ada pria bertopang dagu, wajahnya kuyu.
Ah, pria itu, rupanya ayahku 🙂

Advertisements

Halo! Tuan Sembilan Belas

Jadi ceritanya saya sekarang sudah sembilan belas tahun. Nah, ceritanya lagi, saya semacam gagal menyusun resolusi untuk umur ini. Tuan sembilan belas seperti menjegal saya yang selama ini gemar mengumbar khayalan khayalan utopis.

Nani: “Aku ingin begini aku ingin begitu”

Tuan Sembilan Belas : “Heh! REALISTIS, TOLOL!!”

Iyah, Tuan Sembilan Belas memang kejam. Setelah ngomong gitu, dia membanting saya yang tengah terbang ke tengah tengah manusia (mengaku) sosial dan sibuk dengan komputer, kertas kertas, dan blackberry masing masing.

Tuan Sembilan Belas berkata:
“Kamu itu sudah sembilan belas tahun Nan. Kamu harus menjadi dewasa jika tak ingin mati mengawang awang. Kamu harus berhenti bermimpi terlalu jauh. Aku malu pada Nyonya Dua Puluh jika kamu masih terus kekanakkan begini”

Ia lantas memberi saya wejangan untuk segera mencari pekerjaan yang serius, berpacaran tanpa standarisasi muluk, dan sesegera mungkin, Menikah. Damn, Tuan Sembilan Belas memang kejam. Saya yang selama ini berkubang dalam lumpur mimpi, terpaksa harus handukan dan menyudahi kegiatan menyenangkan itu.

Lagipula, bukankah memang tak ada orang dewasa yang punya cukup waktu untuk bersenang senang?

So, here I am, mendengarkan Tuan Sembilan Belas bergumam pelan pelan. Sepertinya dia masih marah sama saya yang menghabiskan waktu hanya untuk menulis hal hal ga penting, seperti postingan kali ini.

Halo! Tuan Sembilan Belas!

*gelayutan*

Semacam Jemu

Entah kenapa belakangan ini saya begitu merasa lesu. Seperti jenuh or something. And for god sake, entah sudah berapa miliar kata ‘jenuh’ saya lontarkan di blog ini. Sebagai seorang Capricorn yang (katanya) berkaraker Sanguin, maka saya sudah melakukan penyimpangan yang amat sangat terhadap kedua hal tersebut.
Saya menemukan bahwa diri saya ternyata persona membosankan, sendu, dan yang pasti, sama sekali bukan periang 😀 kurang lebih ini komentar kawan saya saat saya tak sengaja mendengar obrolan mereka.

“Nani itu kenapa ya? kok beda banget sama zaman SMA? Dia dulu lucu, sekarang serius banget. Serem”

“Iya ya, beda banget, dulu dia nyambung sama kita, sekarang kok jadi suka bicara hal aneh aneh gitu?”

Yes, it kinda struck me real hard. I mean, yes I know I’m changing. Tapi. Apakah semenyedihkan itu?
Saya tau yang terbijak sekarang adalah tidak memasukkan semua komentar orang ke dalam hati lantaran mereka tak punya hak apapun dalam pembentukkan pribadi saya. Saya hanya kesulitan menampik fakta bahwa mereka adalah kawan baik saya sejak SMP. Jadi.. ya, rasanya sedikit sedih.
Saya sendiri heran, kenapa saya bisa berubah menjadi seseorang yang menjemukan seperti sekarang ini. Bahkan saya saja mungkin akan menolak kalau harus ngobrol bersama diri saya sendiri.
Entahlah.
Oh ya, kemarin malam minggu, saat saya ngumpul sama kawan kawan itu (yang ceritanya ngerayain ultah saya) saya melihatnya. Dia yang kini tetap tinggi, dengan rambutnya yang acak acakkan, seperti dulu. Kita ketemu, dia bilang “Wah sudah sembilan belas tahun Nan? happy bitrhday yaa”
Saya tersenyum, kita ngobrol dengan penuh basa basi. Dan diapun berlalu.
Sungguh saya tak mengerti, ada apa dengan saya?
*Dan saat ini, lagu The Script yang For The First Time mengalun dengan kejinya.

“Trying to make it work. but man, these times are hard..”

Selamat Ulang Tahun, Tahun Yang Tak Berulang.

Yep, saya ulang taun hari ini. Sebuah ulang tahun, pertambahan umur, apalah itu. Sepuluh Januari 1992, sembilan belas tahun lalu saya jebret ketemu dunia. There’s so many thing happen. Gila ye, saya sembilan belas tahun sekarang.

Sebenarnya ga banyak yang saya lakukan di usia 18 lalu. Sepengingat saya, usia itu saya habiskan hanya untuk bekerja. Ya ya.. Bekerja bekerja dan tidur sesekali, sesempatnya.

Di akhir usia 18, akhirnya saya resmi unemployee. Kali ini bermaksud buat ngebikin hidup yang lebih menyenangkan dan.. Well, lebih “bermakna”. Meski kemudian saya menemukan, 18 taun saya tidaklah seistimewa yang lain. Indeed, saya memang bukan orang istimewa.

Entah kenapa postingan ulang taun saya kali ini sedikit berbeda dengan post post tentang ulang taun saya sebelum sebelumnya. Yang begitu powerfull dan berapi api. Seakan siap meninju, menghajar dan memenangi satu taun pertambahan usia lagi.

Tapi kali ini saya seperti lelah. Seperti.. Menyerah 🙂

Alih alih mengadakan syukuran dan makan2 serta bepergian bersama kawan kawan, tahun ini saya memutuskan untuk menghabiskan ulang tahun sendirian. Di sebuah kamar losmen, meniup lilin di atas cupcake cokelat yang dibeli dalam perjalanan. Mematikan semua perasaan, dan menenggelamkan diri dalam selimut dan ucapan ucapan selamat ulang tahun. A cliche.

Semacam ingin merenung, mungkin. Dan mencari alasan kenapa saya harus merasa bahagia jika ternyata tahun dan usia yang terlewat tak bisa kembali terulang?

Lantas jika bicara tentang achievement? Apa yang sudah saya capai di sepanjang usia 18? Saya harus bilang, ga ada 🙂 yang saya lakukan hanya hidup sesuai pattern dan bernafas seadanya. No passion ga ada rasa ingin menggapai sesuatu.

So, here I am. Facing the 19. Tahun depan saya berkepala dua. Sigh.

Resolusi dan harapan tetap harus dilontarkan bukan? Maka saya hanya berharap sedikit. Kepada tuhan yang entah ada di mana. Kepada yang pengasih dan penyayang, untuk tak berhenti menyayangi dan memberikan kasih kepada saya. Itu saja. Dan maafkan karena saya kerap kesulitan balas menyayangi dan membagi kasih kepada mereka yang Kau miliki, duhai yang maha pengasih dan penyayang..

Selamat Ulang Tahun, Rusnani Anwar.

10-01-2011
Dalam sebuah pengharapan. Entah harap entah bukan.

Kota Para Dewa

Jakarta adalah kota para dewa. Ada beribu tubuh dengan tujuan bahagia tinggal di sana. Jakarta adalah negeri para penguasa. Yang berkuasa atas takdir dan nafasnya. Jakarta hadir tidak cuma dengan iming iming bahagia, konon ia juga hadir bersama perpanjangan nyawa.

Ya, banyak orang orang berumur selamanya tinggal di Jakarta. Kalaupun tubuh mereka mati, roh roh pencari bahagia masih bernyawa dan beredar di Jakarta. Kota para dewa, kota para roh juga nampaknya.

Di Jakarta, semua orang merasa bahagia. Mulai dari yang terjebak dalam kemacetan Thamrin di mobil mobil berpelat merahnya hingga yang tidur berbalut koran di emper stasiun Senen. Semua bahagia meski di wajahnya berbalut duka. Habisnya, mana bisa sedih kalo sudah menjejak tanah para dewa.

Layaknya dewa dewa, Jakarta memiliki aura magis. Menghipnotis siapa saja yang melaju mendatanginya, pun pada kaki yang baru saja menjejak di pelabuhan Tanjung Priuk, kamis pagi. Negeri para dewa merayunya hingga ke batasan hedonis tertinggi, dan membuat si pemilik kaki enggan beranjak pulang meski puluhan surat dari desa datang padanya berbulan bulan. Anaknya mati istrinya mblendung sembilan bulan.

Tidak.. pemilik kaki yang menjejak Pelabuhan kamis pagi itu tidak bergeming dari kontrakan lusuhnya di kawasan Penjaringan selama berbulan bulan. Sebuah mimpi membuatnya bertahan dari rayuan pulang surat surat berperangko wajah presiden yang mbulet tak keruan itu. Semacam terjebak dalam angan utopis, pemilik kaki yang menjejak pelabuhan di kamis pagi itupun tetap mengayuh kakinya, menjadi kuli di negeri para dewa, Jakarta.

Ah! kini lihatlah, sang pemilik kaki mati tertimbun kawat baja dari (semacam) apartemen yang diburuhinya. Ada seorang mandor, yang seperti utusan dewa, berkoar koar nyaring kala matanya beradu pada kepala pemilik kaki yang terbelah dan otaknya terburah itu.

“Jembut! Gue udah bilang, beli helm! anak bini mulu yang dikirimin duit!”

Pria pemilik kaki melayang nyawanya. Namun di kota para dewa, nyawa nyawa yang mati (meski mengenaskan) tetap tersenyum bahagia dalam batasan utopis angan hedonnya. Sihir dewa memang sakti mandraguna.

*suatu sore, dalam angan hijrah ke Jakarta ^^*

Coretan Distorsi!

Oke, aku mau sedikit mendongeng, tentang bagaimana aku bisa suka dengan musik ini. Dulu musik yang ku tau terbatas pada Mtv atau radio. Dan kita semua tau, bagaimana isi lagu di media mainstream. Mereka mengejar rating, memuaskan pasar, dan mencoba memukul rata ‘selera’ penikmatnya.

Aku, terbiasa menjadi berbeda. Ini berlebihan? Well, kurasa ada hubungannya dengan astronomi, aku capricorn bos! Hehe, kelas satu SMA, tahun 2007, aku masih ingat, waktu itu liburan kenaikan. Nani masih berupa anak SMA polos umur 15 tahun yang imut imut dan setengah mati menggemari Muse. Kenapa Muse? Karena itu satu satunya musik keras yang ku kenal saat itu.

Lalu aku kenal seseorang. Namanya Andre, anak Malang. Datang ke Sampit untuk bekerja, darinya aku kenal Burgerkill. Aku masih ingat, lagu Burgerkill pertama yang ku dengar adalah Berkarat dan Anjing Tanah, masing masing album Dua Sisi dan Beyond Coma and Despair. Percaya atau tidak, aku jatuh cinta pada pandangan pertama (sama Burgerkill, bukan Andre ^^)

Waktu itu aku berontak. Berontak dengan etika, berontak dengan tata laku, berontak pada aturan. Orang tuaku memang bukan seorang kolot, dalam artian gemar mengekang anak dan membatasinya dengan jam malam. Mereka memberikan kebebasan penuh, kebebasan yang bertanggung jawab, kalo kata Pembukaan UUD 1945. Ini salah satu yang kusyukuri, punya orang tua yang G4oL AbHeSss.

Yah maklumlah, aku masih abege labil, umur baru 15 tahun, nggak pernah meluhat dunia luar. Aku sempat jadi anak emo, doyannya Mychemical Romance, Saosin, Paramore, The Faders, de el el. Soalnya, band band itu terlihat jauh lebih keren ketimbang band band populer yang ada saat itu (baca ; Radja, ST12, Kangen Band). Maka waktu itu, aku doyan pakai item item, kalau ngomong, nuansanya gelaapp banget, kadang malah makan beling, khas anak emo gitu.

Sejak dikenalkan dengan Burgerkill (sebenarnya si Andre juga ngasih liat band band lokal lain, kayak Jeruji, Jasad, Aphyxiate, tapi waktu itu yang bener bener bikin suka cuma BK), aku mulai tau, kalau ada kok, band yang cadas tapi nggak lebay. Aku sebut MCR cadas saat itu, musiknya enak (ini memang harus diakui), sayang behave personil, aksi panggung, tema yang diusung, serba lebay. (aku masih nggak ngerti, kenapa ada cowok yang bisa pakai eyeliner pas manggung, full make up pula! *ampun om om personil KISS*)

Andre akhirnya pulang ke Malang akhir tahun 2007. Tahun 2007-2008, di Sampit hanya ada dua warnet. Rin Rin dan Ron Ron. Cuma dua warnet, kecepatannya? Bahkan lebih lambat dari siput lumpuh. Tapi untuk saat itu, bisa internetan juga sudah sukur. Waktu itu masih belum ada yang namanya internetan lewat hape. Cuma segelintir yang bisa, aku termasuk ke dalam golongan yang nggak bisa. Hape saya waku itu Nokia 3100, mana bisa internetan T_T

Berhubung waktu itu aku hanya kenal Burgerkill, maka hanya keyword ‘Burgerkill’ saja yang ku ketik di mesin pencari Google. Pelan pelan, aku mulai mendownload lagunya, baca baca fanpagenya, meng-add Myspacenya (waktu itu Facebook belum ada, aku cuma punya Friendster sama Myspace). Jadi bisa dibilang, masa-masa kelas 2 SMA, aku disebut Anwar, Anak Warnet.

Di Sampit, mulai bermunculan warnet sejak pertengahan 2008. Mulai dari Planet, Salmonet, Robi-net, Nabila, sampai yang paling sering kusambangi sampai sekarang, warnet X-Cool. Di warnet itu juga aku pertama kali kenal Kimung, eks-bassist Burgerkill yang menjadi penulis dan juga pioneer komunitas Ujung Berung Rebels. Kenalnya, pas aku mencoba mencari contact person untuk pembelian buku biografi Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal di tahun 2006.

Aku masih ingat, nomornya Simpati, ujungnya ada 222-nya atau gimanaa gitu. Aku kira itu nomor publisher buku yang bersangkutan. Ternyata malah terkoneksi dengan penulisnya. Seorang kawan menyebutnya ‘Doa Seorang Fans Yang Di’ijabah Oleh Tuhan’. Hahaha

Proses berkenalan dengan Kimung-lah yang sangat berkontribusi untuk pengembangan pengetahuan metal selanjutnya. Secara kontinyu, Kimung kala itu tidak jenuh mengirimi kaset kaset metal. Isinya beragam, mulai dokumenter, lagu lagu rekaman, hingga zine zine milik uberebels. Sayang, waktu itu aku belum punya komputer, alhasil kaset kaset berformat data CD itu berulang-ulang ku putar di warnet. CD-R sangat rentan rusak, kawan. Kaset2 yang telah menempuh jarak ribuan kilometer itupun rusak tanpa sempat mengenal dunia luas. Hiks.

Belajar dari pengalaman, aku mulai berinisiatif. Setiap kali kiriman datang, data itu bakal ku burning ke CD kosong harga dua ribuan. Di burning ke format audio CD, biar bisa di putar ke VCD player (aku nggak punya DVD player, jadi harus pakai format audio CD). Dan yak, nasibku memang semengenaskan itu 😛

Kaset kaset hasil burning sendiri itu kunamai ‘Kompilasi Nero’. Soalnya ngeburningnya pakai software Nero ^^. Setiap kaset punya label #1, #2, #3, dst. Totalnya mencapai Kompilasi Nero #23. Hahaha, per kaset kuisi 20-25 lagu, mulai dari Fleshgod Apocalypse, Jagal, Climaxeth, Hatestroke, Dying Fetus, sampai Necrophagist. Lagu-lagu kiriman itu tidak tertampung oleh flashdisk bermemori 2 giga.

Dengan memburning kaset, maka pelan pelan aku mulai jarang main ke warnet;. Saat itu tarifnya Rp 6.000 per jam, kantong anak sekolahan mana sanggup membiayainya ^^. Untuk download lagupun, agak susah melakukannya di warnet. Mulai dari koneksi putus putus, mati lampu, sampai ngehang. Ih, cerita kaya gini mengesankan aku tua banget ya, padahal kan umur saya baru 17 tahun *korupsi umur*

Yah.. bisa dibilang, aku bersyukur bisa sampai di titik ini. Sekarang sudah jauh lebih gampang, internet dimana mana, harganya terjangkau bahkan gratis. Komunikasi keluar pulau jauh lebih mudah, sharing lagu tinggal pakai email, bukan pakai pak pos lagi. Sekarang suka ketawa aja ngeliat Kompilasi Nero di kamar, numpuk jarang diputar. Senangnya bisa menggenggam tekhnologi, hahaha (sumpah berasa tua abis ngomong gini)

O ya, salah satu yang menyenangkan dari menyukai musik adalah ketika kita menemukan kawan dengan pemikiran sama. Kalau dulu untuk sharing tentang metal aku lakukan hanya melalui YM, ceting atau telpon, kini aku punya kawan kawan hebat yang mumpuni soal musik. Aku punya kalian. (nah, ini malah kayak omongan orang mau meninggal).

Sip, cuma segini dongeng saya kali ini, bertemu lagi lain waktu, saya Margareta undur pamit dari ruang baca anda semua, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuhh..

Logika Kun Fayakun

Iyah, ceritanya postingan saya kali ini sekedar latah latahan dari buku Madilog-nya Tan Malaka. Saya menyelesaikannya siang ini. Dan saya harus bilang, ini buku keren sekali. Ada patahan kata yang membuat saya suka. Kurang lebih bilang “Bangsa ini takkan maju jika masih menggunakan logika mistik”

Apa itu logika mistik? kalau otak saya yang seadanya ini sih cuma bisa menganalogikan gini:

+ “Kenapa indeks rupiah menurun?”

– “Itulah azab tuhan”

Yang menarik dari madilog adalah masa ditulisnya buku ini. Sekitar taun 30-40an. Jadi, mengingat zaman itu ritus-ritus klenik masih cukup kental, maka rasanya tidak berlebihan jika Tan Malaka menyebut “Bangsa ini takkan maju jika masih menggunakan logika mistik”. Logika mistik dipaparkan sebagai ilmu alam gaib. Di mana jawaban jawaban atas pertanyaan manusia dijawab dengan jawaban mistik. Ga logis.

Menurut saya, jika pertanyaan logika dijawab dengan jawaban teologis, sebenarnya manusia telah melakukan kemunduran berfikir ke berbelas abad ke belakang ^^ Jika dalam era Tan Malaka logika mistik berkaitan erat dengan budaya animisme, maka logika mistik yang terjadi di era sekarang adalah logika teologis. Kalau dalam agama saya (baca : Islam) adalah logika kun fayakun.

+ “Kenapa bisa terjadi gempa dan tsunami di Mentawai?”

– “Itulah kehendak tuhan”

+ “Bagaimana proses terjadinya hujan?”

– “Jadi maka terjadilah”

Dan senada dengan pendapat Tan Malaka, bangsa ini takkan maju kemanapun jika masih terjebak dalam logika mistik, logika teoligis, pun logika kun fayakun. Bukannya dalam islam mengenal istilah iqra? membaca alam, mempelajari suatu kejadian. Bukankah dalam islam nabi Muhammad mengajarkan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China? (untuk tataran zaman nabi, China adalah negara terjauh, rupanya)

Bagaimana dengan hasil pemikiran manusia? Ilmu ilmu kepemerintahan, psikologi hingga analisis sains. Bukankah semuanya (acapkali) bertentangan dengan tataran kitab suci? hehe entah. Saya masih kurang mengerti di mana letak takaran “benar” suatu teori teologis. Ini hal yang tidak berstandar, sehingga sulit menentukan premis benar dari masalah masalah keagamaan. 

Ya, kitab suci adalah tataran benar-salah dalam ilmu ketuhanan, tapi bukankah kitab suci hanya berlaku untuk umat yang mempercayainya saja? bukankah untuk bisa berlaku universal, diperlukan mass agreement yang melibatkan seluruh (setidaknya perwakilan) umat manusia? Jika paparan kitab suci tidak dianut semua manusia? bukankah logika kebenaran tidak bisa berlaku universal dan terpepat dalam lingkaran ekslusif penganut saja. 

Inilah, yang kemudian memicu semacam kegagalan paham, pemaksaan tataran satu kitab suci untuk menjadi landasan laku seluruh umat manusia. Pemaksaan ini, bertuang dalam sikap superior, perasaan paling benar, paling suci lebih lebih paling dekat dengan esensi kebenaran tuhan. Ini, logika mistik Tan Malaka (menurut versi saya)

Negara, dalam satu kompleksitas keagamaan dan keyakinan mistiknya tidak bisa sekedar bergantung dalam wadah mistik. Takkan berkembang. Saya sepenuhnya sadar dalam teori komunisme (dalam hal ini yang di’anut’ Tan Malaka) kurang lebih menyebutkan bahwa agama kerap menjadi penghalang kemajuan suatu negara. IMO, dari sinilah muncul teori Logika Mistik (meski dalam buku Madilog sama sekali tidak ada pendoktrinan komunisme)

Kesimpulan yang saya dapet dari membaca Madilog kurang lebih begini : 

Tidak perlu ilmu ketuhanan dalam ilmu pengetahuan. Tidak perlu ilmu pengetahuan dalam ilmu ketuhanan. Keduanya berbatas antara pelanggaran ilahiyah dan pencerahan kebutaan manusia. Ilmu ketuhanan memiliki limitasi logika. Ilmu pengetahuan memiliki limitasi ketertundukkan pada kitab suci. Kedua ilmu ini memiliki koridor berbeda. Ilmu pengetahuan memiliki standar benar-salah dengan dasar pembuktian pembuktian logika. 

Ilmu ketuhanan, memiliki standar benar-salah dengan dasar keimanan. Dan tidak akan pernah bisa, sebuah pembuktian logika diterapkan untuk standarisasi benar-salah keimanan. Ini sebabnya, prasyarat ilmu ketuhanan adalah Iman dan Ketaatan. Prasyarat ilmu pengetahuan adalah rasa ragu dan pencarian. 

Tapi masalahnya jika kedua hal ini tidak berporsi sama dalam konteks pemerintahan, akan mengakibatkan stagnan-itas. Negara dengan standar ilmu ketuhanan tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi negara yang memaksakan kebenaran ajaran dan penerapan hukum yang jauh dari logika. Sementara negara dengan standar ilmu pengetahuan akan sangat maju dalam aspek kehidupan, tapi timpang dalam perilaku moral. Karena bagaimanapun, diperlukan tuhan untuk menggerakkan sistem moral seorang manusia. 

Jadi, negara yang baik adalah negara yang memberi porsi sama untuk kedua hal itu. Tidak mencampurkannya, hanya memberi kesempatan untuk keduanya saling berjalan sejajar. Tapi masalahnya adalah : superioritas umat beragama kerap menolak ilmu pengetahuan dengan alasan out of context dari literasi kitab suci. Ini, masalah yang harus dipecahkan 😀 oleh siapa? yang pasti bukan saya, saya tidak dibayar buat mikirin negara 😛

Well, sekian sajalah postingan kali ini. Sebelum saya mulai meracau lebih jauh ^^ selamat sore kawan kawan!!

*craving buku ini sejak lama sekali, hahaha, kewl!*