Logika Kun Fayakun

Iyah, ceritanya postingan saya kali ini sekedar latah latahan dari buku Madilog-nya Tan Malaka. Saya menyelesaikannya siang ini. Dan saya harus bilang, ini buku keren sekali. Ada patahan kata yang membuat saya suka. Kurang lebih bilang “Bangsa ini takkan maju jika masih menggunakan logika mistik”

Apa itu logika mistik? kalau otak saya yang seadanya ini sih cuma bisa menganalogikan gini:

+ “Kenapa indeks rupiah menurun?”

– “Itulah azab tuhan”

Yang menarik dari madilog adalah masa ditulisnya buku ini. Sekitar taun 30-40an. Jadi, mengingat zaman itu ritus-ritus klenik masih cukup kental, maka rasanya tidak berlebihan jika Tan Malaka menyebut “Bangsa ini takkan maju jika masih menggunakan logika mistik”. Logika mistik dipaparkan sebagai ilmu alam gaib. Di mana jawaban jawaban atas pertanyaan manusia dijawab dengan jawaban mistik. Ga logis.

Menurut saya, jika pertanyaan logika dijawab dengan jawaban teologis, sebenarnya manusia telah melakukan kemunduran berfikir ke berbelas abad ke belakang ^^ Jika dalam era Tan Malaka logika mistik berkaitan erat dengan budaya animisme, maka logika mistik yang terjadi di era sekarang adalah logika teologis. Kalau dalam agama saya (baca : Islam) adalah logika kun fayakun.

+ “Kenapa bisa terjadi gempa dan tsunami di Mentawai?”

– “Itulah kehendak tuhan”

+ “Bagaimana proses terjadinya hujan?”

– “Jadi maka terjadilah”

Dan senada dengan pendapat Tan Malaka, bangsa ini takkan maju kemanapun jika masih terjebak dalam logika mistik, logika teoligis, pun logika kun fayakun. Bukannya dalam islam mengenal istilah iqra? membaca alam, mempelajari suatu kejadian. Bukankah dalam islam nabi Muhammad mengajarkan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China? (untuk tataran zaman nabi, China adalah negara terjauh, rupanya)

Bagaimana dengan hasil pemikiran manusia? Ilmu ilmu kepemerintahan, psikologi hingga analisis sains. Bukankah semuanya (acapkali) bertentangan dengan tataran kitab suci? hehe entah. Saya masih kurang mengerti di mana letak takaran “benar” suatu teori teologis. Ini hal yang tidak berstandar, sehingga sulit menentukan premis benar dari masalah masalah keagamaan. 

Ya, kitab suci adalah tataran benar-salah dalam ilmu ketuhanan, tapi bukankah kitab suci hanya berlaku untuk umat yang mempercayainya saja? bukankah untuk bisa berlaku universal, diperlukan mass agreement yang melibatkan seluruh (setidaknya perwakilan) umat manusia? Jika paparan kitab suci tidak dianut semua manusia? bukankah logika kebenaran tidak bisa berlaku universal dan terpepat dalam lingkaran ekslusif penganut saja. 

Inilah, yang kemudian memicu semacam kegagalan paham, pemaksaan tataran satu kitab suci untuk menjadi landasan laku seluruh umat manusia. Pemaksaan ini, bertuang dalam sikap superior, perasaan paling benar, paling suci lebih lebih paling dekat dengan esensi kebenaran tuhan. Ini, logika mistik Tan Malaka (menurut versi saya)

Negara, dalam satu kompleksitas keagamaan dan keyakinan mistiknya tidak bisa sekedar bergantung dalam wadah mistik. Takkan berkembang. Saya sepenuhnya sadar dalam teori komunisme (dalam hal ini yang di’anut’ Tan Malaka) kurang lebih menyebutkan bahwa agama kerap menjadi penghalang kemajuan suatu negara. IMO, dari sinilah muncul teori Logika Mistik (meski dalam buku Madilog sama sekali tidak ada pendoktrinan komunisme)

Kesimpulan yang saya dapet dari membaca Madilog kurang lebih begini : 

Tidak perlu ilmu ketuhanan dalam ilmu pengetahuan. Tidak perlu ilmu pengetahuan dalam ilmu ketuhanan. Keduanya berbatas antara pelanggaran ilahiyah dan pencerahan kebutaan manusia. Ilmu ketuhanan memiliki limitasi logika. Ilmu pengetahuan memiliki limitasi ketertundukkan pada kitab suci. Kedua ilmu ini memiliki koridor berbeda. Ilmu pengetahuan memiliki standar benar-salah dengan dasar pembuktian pembuktian logika. 

Ilmu ketuhanan, memiliki standar benar-salah dengan dasar keimanan. Dan tidak akan pernah bisa, sebuah pembuktian logika diterapkan untuk standarisasi benar-salah keimanan. Ini sebabnya, prasyarat ilmu ketuhanan adalah Iman dan Ketaatan. Prasyarat ilmu pengetahuan adalah rasa ragu dan pencarian. 

Tapi masalahnya jika kedua hal ini tidak berporsi sama dalam konteks pemerintahan, akan mengakibatkan stagnan-itas. Negara dengan standar ilmu ketuhanan tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi negara yang memaksakan kebenaran ajaran dan penerapan hukum yang jauh dari logika. Sementara negara dengan standar ilmu pengetahuan akan sangat maju dalam aspek kehidupan, tapi timpang dalam perilaku moral. Karena bagaimanapun, diperlukan tuhan untuk menggerakkan sistem moral seorang manusia. 

Jadi, negara yang baik adalah negara yang memberi porsi sama untuk kedua hal itu. Tidak mencampurkannya, hanya memberi kesempatan untuk keduanya saling berjalan sejajar. Tapi masalahnya adalah : superioritas umat beragama kerap menolak ilmu pengetahuan dengan alasan out of context dari literasi kitab suci. Ini, masalah yang harus dipecahkan 😀 oleh siapa? yang pasti bukan saya, saya tidak dibayar buat mikirin negara 😛

Well, sekian sajalah postingan kali ini. Sebelum saya mulai meracau lebih jauh ^^ selamat sore kawan kawan!!

*craving buku ini sejak lama sekali, hahaha, kewl!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s