Coretan Distorsi!

Oke, aku mau sedikit mendongeng, tentang bagaimana aku bisa suka dengan musik ini. Dulu musik yang ku tau terbatas pada Mtv atau radio. Dan kita semua tau, bagaimana isi lagu di media mainstream. Mereka mengejar rating, memuaskan pasar, dan mencoba memukul rata ‘selera’ penikmatnya.

Aku, terbiasa menjadi berbeda. Ini berlebihan? Well, kurasa ada hubungannya dengan astronomi, aku capricorn bos! Hehe, kelas satu SMA, tahun 2007, aku masih ingat, waktu itu liburan kenaikan. Nani masih berupa anak SMA polos umur 15 tahun yang imut imut dan setengah mati menggemari Muse. Kenapa Muse? Karena itu satu satunya musik keras yang ku kenal saat itu.

Lalu aku kenal seseorang. Namanya Andre, anak Malang. Datang ke Sampit untuk bekerja, darinya aku kenal Burgerkill. Aku masih ingat, lagu Burgerkill pertama yang ku dengar adalah Berkarat dan Anjing Tanah, masing masing album Dua Sisi dan Beyond Coma and Despair. Percaya atau tidak, aku jatuh cinta pada pandangan pertama (sama Burgerkill, bukan Andre ^^)

Waktu itu aku berontak. Berontak dengan etika, berontak dengan tata laku, berontak pada aturan. Orang tuaku memang bukan seorang kolot, dalam artian gemar mengekang anak dan membatasinya dengan jam malam. Mereka memberikan kebebasan penuh, kebebasan yang bertanggung jawab, kalo kata Pembukaan UUD 1945. Ini salah satu yang kusyukuri, punya orang tua yang G4oL AbHeSss.

Yah maklumlah, aku masih abege labil, umur baru 15 tahun, nggak pernah meluhat dunia luar. Aku sempat jadi anak emo, doyannya Mychemical Romance, Saosin, Paramore, The Faders, de el el. Soalnya, band band itu terlihat jauh lebih keren ketimbang band band populer yang ada saat itu (baca ; Radja, ST12, Kangen Band). Maka waktu itu, aku doyan pakai item item, kalau ngomong, nuansanya gelaapp banget, kadang malah makan beling, khas anak emo gitu.

Sejak dikenalkan dengan Burgerkill (sebenarnya si Andre juga ngasih liat band band lokal lain, kayak Jeruji, Jasad, Aphyxiate, tapi waktu itu yang bener bener bikin suka cuma BK), aku mulai tau, kalau ada kok, band yang cadas tapi nggak lebay. Aku sebut MCR cadas saat itu, musiknya enak (ini memang harus diakui), sayang behave personil, aksi panggung, tema yang diusung, serba lebay. (aku masih nggak ngerti, kenapa ada cowok yang bisa pakai eyeliner pas manggung, full make up pula! *ampun om om personil KISS*)

Andre akhirnya pulang ke Malang akhir tahun 2007. Tahun 2007-2008, di Sampit hanya ada dua warnet. Rin Rin dan Ron Ron. Cuma dua warnet, kecepatannya? Bahkan lebih lambat dari siput lumpuh. Tapi untuk saat itu, bisa internetan juga sudah sukur. Waktu itu masih belum ada yang namanya internetan lewat hape. Cuma segelintir yang bisa, aku termasuk ke dalam golongan yang nggak bisa. Hape saya waku itu Nokia 3100, mana bisa internetan T_T

Berhubung waktu itu aku hanya kenal Burgerkill, maka hanya keyword ‘Burgerkill’ saja yang ku ketik di mesin pencari Google. Pelan pelan, aku mulai mendownload lagunya, baca baca fanpagenya, meng-add Myspacenya (waktu itu Facebook belum ada, aku cuma punya Friendster sama Myspace). Jadi bisa dibilang, masa-masa kelas 2 SMA, aku disebut Anwar, Anak Warnet.

Di Sampit, mulai bermunculan warnet sejak pertengahan 2008. Mulai dari Planet, Salmonet, Robi-net, Nabila, sampai yang paling sering kusambangi sampai sekarang, warnet X-Cool. Di warnet itu juga aku pertama kali kenal Kimung, eks-bassist Burgerkill yang menjadi penulis dan juga pioneer komunitas Ujung Berung Rebels. Kenalnya, pas aku mencoba mencari contact person untuk pembelian buku biografi Ivan Scumbag, vokalis Burgerkill yang meninggal di tahun 2006.

Aku masih ingat, nomornya Simpati, ujungnya ada 222-nya atau gimanaa gitu. Aku kira itu nomor publisher buku yang bersangkutan. Ternyata malah terkoneksi dengan penulisnya. Seorang kawan menyebutnya ‘Doa Seorang Fans Yang Di’ijabah Oleh Tuhan’. Hahaha

Proses berkenalan dengan Kimung-lah yang sangat berkontribusi untuk pengembangan pengetahuan metal selanjutnya. Secara kontinyu, Kimung kala itu tidak jenuh mengirimi kaset kaset metal. Isinya beragam, mulai dokumenter, lagu lagu rekaman, hingga zine zine milik uberebels. Sayang, waktu itu aku belum punya komputer, alhasil kaset kaset berformat data CD itu berulang-ulang ku putar di warnet. CD-R sangat rentan rusak, kawan. Kaset2 yang telah menempuh jarak ribuan kilometer itupun rusak tanpa sempat mengenal dunia luas. Hiks.

Belajar dari pengalaman, aku mulai berinisiatif. Setiap kali kiriman datang, data itu bakal ku burning ke CD kosong harga dua ribuan. Di burning ke format audio CD, biar bisa di putar ke VCD player (aku nggak punya DVD player, jadi harus pakai format audio CD). Dan yak, nasibku memang semengenaskan itu 😛

Kaset kaset hasil burning sendiri itu kunamai ‘Kompilasi Nero’. Soalnya ngeburningnya pakai software Nero ^^. Setiap kaset punya label #1, #2, #3, dst. Totalnya mencapai Kompilasi Nero #23. Hahaha, per kaset kuisi 20-25 lagu, mulai dari Fleshgod Apocalypse, Jagal, Climaxeth, Hatestroke, Dying Fetus, sampai Necrophagist. Lagu-lagu kiriman itu tidak tertampung oleh flashdisk bermemori 2 giga.

Dengan memburning kaset, maka pelan pelan aku mulai jarang main ke warnet;. Saat itu tarifnya Rp 6.000 per jam, kantong anak sekolahan mana sanggup membiayainya ^^. Untuk download lagupun, agak susah melakukannya di warnet. Mulai dari koneksi putus putus, mati lampu, sampai ngehang. Ih, cerita kaya gini mengesankan aku tua banget ya, padahal kan umur saya baru 17 tahun *korupsi umur*

Yah.. bisa dibilang, aku bersyukur bisa sampai di titik ini. Sekarang sudah jauh lebih gampang, internet dimana mana, harganya terjangkau bahkan gratis. Komunikasi keluar pulau jauh lebih mudah, sharing lagu tinggal pakai email, bukan pakai pak pos lagi. Sekarang suka ketawa aja ngeliat Kompilasi Nero di kamar, numpuk jarang diputar. Senangnya bisa menggenggam tekhnologi, hahaha (sumpah berasa tua abis ngomong gini)

O ya, salah satu yang menyenangkan dari menyukai musik adalah ketika kita menemukan kawan dengan pemikiran sama. Kalau dulu untuk sharing tentang metal aku lakukan hanya melalui YM, ceting atau telpon, kini aku punya kawan kawan hebat yang mumpuni soal musik. Aku punya kalian. (nah, ini malah kayak omongan orang mau meninggal).

Sip, cuma segini dongeng saya kali ini, bertemu lagi lain waktu, saya Margareta undur pamit dari ruang baca anda semua, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s