Kepada Dia Yang Berbicara Tentang Kematian

Tadi malam aku bertemu malaikat kematian,
Begitu tenang duduk disampingku..
Kami berbicara.
Dengan bahasa yang sulit dijamah telinga.
Dengan kata yang membisiki kalimat kalimat resahan.

Semalam aku bertemu malaikat kematian,
Aku bertanya..

“ Apa guna kelahiran jika harus ada kematian?”

Malaikat kematian tersenyum padaku,
Berkata pelan.

“ Apa guna awal jika harus ada akhir?”

Kulayangkan pandangan kepada ribuan bintang di atas
kami.
Mengabaikan kepakan distorsi sayap nyamuk di sekitar..
Merasakan embun di rumput basah tempat kami
berpijak.

Kembali kusuarakan kata dengan bahasa rumit itu.

“Bukankah yang kekal tidak menyisakan kesedihan?”

Dia tertawa kali ini,
Memejamkan matanya..

“ Lalu apa yang harus kukerjakan jika kekekalan itu
abadi?”

Kuteguk kopi yang mulai mendingin..

“ Kau senang melihat yang bersedih?”

Dia beranjak berdiri, membenahi jubah hitamnya dari
rumput liar.

“ Yang bersedih hanya tak tau betapa menyenangkannya
kematian itu”

Di antara riuh rendah alunan jangkrik

Dia pergi.

Advertisements

BERI AKU SEBUAH JAWABAN

Saat teori dan konsep konsep perdamaian.

Saat ajuan untuk sebuah penghargaan atas nilai nilai kemanusiaan.

Dipatahkan. Diharamkan.

Dikafirkan

Oleh apa yang kita sebut sebagai pembela kebenaran agama.

Oleh apa yang kita sebut nilai murni ketuhanan.

Salahkan siapa jika kemudian agama yang kita bela

Yang kita coba kembalikan ke nilai murninya

Dianggap sebagai sarang kekerasan dan tidak manusiawi?

Salahkan siapa jika nilai agama yang kita usung malah frontal menyerang orang orang yang mencoba tegakkan nurani dan hak asasi?

Salahkan siapa jika orang orang di luar agama memandang kita sebagai umat pecandu kekerasan?

Salahkan siapa?

Yahudi?

Amerika?

Beri aku sebuah jawaban

I Recently Falling in Love With..

Adele – Rolling in the Deep

sebenarnya ga ada kesan banget banget sih sama lagu ini. Cuma kebetulan nemu di creativedisc dan kupikir “Covernya asoy” 😀 di cover single ini, Adele difoto dengan gaya gaya androgini gitu. Which I adore sooooooo much. Well, kalo cuma dengerin lewat mp3 (tanpa liat muka si Adele), pasti bakal ngira kalo si Adele ini penyanyi jazz/soul kulit item. Vokalnya unik, suka, kakaakkk ^^

Kalo mau donlot, coba ke sini yaa.

Harus dibilang, ini salah satu top 10 song buat ngegalau. Hahaha 😀

Lyrics:

There’s a fire starting in my heart,
Reaching a fever pitch and
it’s bringing me out the dark

Finally, I can see you crystal clear.
Go ahead and sell me out and I’ll lay your ship there.
See how I leave, with every piece of you
Don’t underestimate the things that I will do.

There’s a fire starting in my heart,
Reaching a fever pitch and it’s bringing me out the dark

The scars of your love, remind me of us.
They keep me thinking that we almost had it all
The scars of your love, they leave me breathless
I can’t help feeling…

We could have had it all… (you’re gonna wish you, never had met me)…
Rolling in the Deep (Tears are gonna fall, rolling in the deep)
Your had my heart… (you’re gonna wish you)… Inside of your hand (Never had met me)
And you played it… (Tears are gonna fall)… To the beat (Rolling in the deep)

Baby I have no story to be told,
But I’ve heard one of you and I’m gonna make your head burn.
Think of me in the depths of your despair.
Making a home down there, as mine sure won’t be shared.

The scars of your love, remind you of us.
They keep me thinking that we almost had it all
The scars of your love, they leave me breathless
I can’t help feeling…

We could have had it all… (you’re gonna wish you never had met me)… Rolling in the Deep
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
Your had my heart… (you’re gonna wish you)… inside of your hand (Never had met me)
And you played it… (Tears are gonna fall)… To the beat (Rolling in the deep)
Could have had it all
Rolling in the deep.
You had my heart inside of your hand,
But you played it with your beating

Throw yourself through ever open door (Whoa)
Count your blessings to find what look for (Whoa-uh)
Turn my sorrow into treasured gold (Whoa)
And pay me back in kind- You reap just what you sow.

(You’re gonna wish you… Never had met me)
We could have had it all (Tears are gonna fall… Rolling in the deep)
We could have had it all yeah ( you’re gonna wish you… never had met me)
It all. (Tears are gonna fall)
It all
It all (Rolling in the deep)

We could have had it all (you’re gonna wish you, never had met me)
Rolling in the deep (Tears are gonna fall rolling in the deep)
You had my heart inside… (you’re gonna wish you)… of your hand (Never had met me)
And you played it… (Tears are gonna fall)… to the beat (Rolling in the deep)
We could have had it all ( you’re wish you never had met me)
Rolling in the deep (tears are gonna fall, rolling in the deep)
You had my heart… ( you’re gonna wish you)… Inside of your hand (Never had met me)

But you played it
You played it.
You played it.
You played it to the beat.

Negeri Tanpa Negara

Aku percaya tak ada manusia yang diciptakan sia sia

Aku percaya setiap manusia memiliki jejak sejarah yang patut dihargai

Aku percaya tak ada manusia yang berhak mencabut nyawa manusia lainnya

Untuk alasan apapun.

Alasan apapun.

Tidak Tuhan tidak pula agama.

Ya, tunjukkan padaku sejuta ayat ayat Tuhan yang kalian rangkum dalam kitab agama

Yang dengannyalah nyawa nyawa itu mendapat pembenaran untuk dilepas dari kerongkongannya

Tunjukkan padaku sejuta ayat yang perbolehkan manusia mencabut nyawa manusia lainnya

Aku siap membantahnya dengan nurani.

Dengan Tuhan yang tak pernah membenci.

Reduce, Reduce.

Hehe, aku kangen kamuh, Tuan Blog 😀 

Jadi ceritanya, aku udah setaun lebih bermain main di twitter,  dan gilaa, adiksinya parah abis abisan hahaha. Ini persis seperti pas aku pertama kali kenal facebook, even worse :P, aku bukan tipe tipe orang yang mampu mengelola waktu dengan cukup baik. Jadi, aku putuskan buat stop twitteran dulu.

Next. Tidak banyak yang bisa kuceritakan hari ini, Tuan Blog, bukan lantaran aku tidak bisa menemukan kata kata yang tepat, tapi lebih lantaran memang tidak banyak yang terjadi dalam hidupku ^^

Lagi rame masalah SARA nih, antara Ahmadiyah dan kelompok kelompok keras islam fundamental. Televisi dibanjiri debat debat dan diskusi diskusi yang melahirkan konsep konsep dan teori teori. Masalah yang awalnya simpel (Ada-tiga-orang-mati-dibantai-oleh-sekelompok-orang), berubah menjadi ribet (Benarkah-ahmadiyah-sesat-dan-haruskah-FPI-serta-MUI-dan-SKB tiga menteri-dicabut)

Seperti biasa, negaraku hilang fokus. Disetir menuju diskusi diskusi melelahkan yang hanya menelurkan konsep konsep dan teori teori. Orang orang berdasi menjejali televisi, berkoar tentang kesetaraan hak atas keimanan. Dan tiga mayat yang dibantai tadi, membusuk dalam diam. Tak bisa melakukan pledoi apa apa.

Negara ini boleh berkonsep dan berteori tentang Ahmadiyah, lakukan secara kontinyu dan (harusnya) sedari dulu. Bukan secara sporadis dan meletup letup dalam satu momentum lalu lenyap hilang tewas selepasnya. Lalu berulang lagi saat momentum tercipta. Begitu seterusnya.

Ah, negaraku hilang fokus. Puluhan tahun kita mengalami kasus serupa yang berulang ulang tak pernah lekang. Tapi begitu sulitnya temukan jalan tengah. Atau setidaknya, temukan jalan untuk kembali fokus. Bahwa tidak ada ahmadiyah tidak ada kelompok radikal muslim di mata negara, di mata lembaga peradilan.

Hanya ada manusia yang dibantai manusia lainnya.

Gitu aja, kok repot 🙂

Minggu, 6 Pebruari 2011. Kami menghitam, Negaraku.

Senin Hitam

TELEPON TUHAN

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi. Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas.

Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu- yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberang dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut..

“Halo,” aku bersuara kala nada ‘trek’ terdengar di ujung sana.

Masih diam, kuulang mengucap halo.

“Hey, kamu rupanya, lama betul tak menyapa” suaranya masih sama, selalu sama, menyejukkan dan semilir.

“Saya kangen” ujarku.

Aku sudah nyaris lupa kapan terakhir aku menghubunginya. Rasa rasanya sejak aku berhenti meminum kopi. Atau sejak aku melupakan aroma teh melati. Entahlah, suaranya kini mengetuk kepalaku.

“Ah kamu, kalau kangen kenapa tak pernah menelpon?”

Aku kini terkikik mendengar jawabannya, dia benar, bagiku kata kangen sudah seperti rutinitas semata. Setiap hari aku mengatakan kangen nyaris kepada semua hal. Lama lama rasa kangenku menjadi blur, antara kangen sungguhan atau kangen basa basi.

“Saya sedang sibuk, dunia sedang seru akhir akhir ini,” sahutku. Aku lantas mereka reka kejadian terakhir dalam hidupku. Kantor, rumah, buku buku, kantor, rumah, buku buku. Ya ya, seru sekali rupanya, aku melengus sendiri.

Suara di seberang sana kini memintaku diam dan mendengarkannya. Aku terlalu sayang pada pemilik suara hingga jangankan membantah, bernafaspun rasanya tidak kulakukan saat menikmati suaranya.

“Aku mengerti, kamu terlalu sibuk memikirkan sesama manusia dan kompleksitas mereka, bukan?”

Suaranya berjeda, ada nada tanya. Entah retorik entah sungguhan menanti jawab.

Aku diam, bisa kudengar nafasnya di gagang telepon. Ah bahkan mendengar nafasnya saja, aku sudah mabuk kepayang, diam dalam diam. Kini aku dan dia sama sama diam. Aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan. Aneh, meski kami berbicara lewat telepon, dia bisa tau bahwa aku tengah menggeleng. Dia memang selalu memukauku dengan keanehan yang disebabkannya.

“Lalu kamu sedang berfikir tentang apa?” cecarnya setelah melihatku menggeleng

“Saya memikirkan kapan saya naik pangkat, kapan saya bisa membangun rumah yang lebih besar dan kapan buku buku itu habis saya baca” jawabku. Aku tidak pernah mampu berbohong padanya.

Kini nafasku yang terdengar di gagang telepon. Tunggu, darimana aku tau bahwa ini adalah nafasku bukan nafasnya? Apa yang membuat nafas kami begitu berbeda padahal keduanya hanyalah soal menghirup dan menghela semata?

Telepon bergeresak, kusepak kabel biru yang melalar keluar jendela. Kini geresaknya hilang, berganti suara.

“Kamu membuatku bersedih…” ucapnya yang kemudian disusul kebekuan suara, nafasnyapun tak terdengar.

Aku panik, tak pernah kubayangkan lebih lebih kuniatkan untuk membuatnya sedih. Jemariku kini melilit lilit kabel ulir yang menautkan gagang telepon dan papan plastik berisi belasan nomor. Kini kudengar nafasku sendiri, berderu deru nyaring memburu. Sekarang aku mengerti apa yang membedakan nafasku dan nafasnya. Nafasnya selalu sama, lembut teratur menentramkan jiwa. Nafasku bermelodi, kadang tinggi kadang lambat kadang tak ada sama sekali. Rupanya nafas bukan hanya soal menghirup dan menghela semata. Ada nyanyian di sana.

Teleponku masih bungkam. Aku mulai menangis, jemariku kini mengusut lelehan airmata yang mengaliri ceruk pipi, leher hingga nyaris ke dada. Isakku rupanya tertangkap gagang telepon dan sampai ke ruang dengarnya.

“Terlalu banyak kata ‘saya’ dalam jawabmu, aku sedih, rupanya jangankan aku, orang orang di sekitarmupun tak mendapat porsi dalam pikiranmu” suaranya merdu, paling merdu,

Airmataku kering, ingin kulontarkan maaf untuknya. Tapi urung kulakukan. Saat ini tak bisa kubedakan apakah maaf yang kurasakan adalah maaf sungguhan atau sekedar maaf basa basi. Jutaan maaf kuucapkan kepada jutaan hal setiap hari. Hingga batasan maaf sungguhan dan maaf basa basi menjadi kabur, baur.

“Saya tau kamu menyesal, oh aku terlalu menyayangimu hingga tak bisa sesaatpun menguntai benci padamu” suara paling merdu itu kembali menguar.

Heran, dia selalu bisa membaca pikiranku.

“Saya tidak suka mereka, mereka penuh benci dan prasangka” gumamku, meraih remote televisi, menghidupkannya, mencari cari kanal berita. Suara televisi kutiadakan. Aku tidak perlu suara lain jika dia yang bersuara di ujung telepon sudah mampu memenuhi segala kebutuhanku akan suara.

“Kamu tidak suka pada mereka yang penuh benci? Hahaha” dia tertawa dengan tawa paling indah yang pernah kudengar. Heran, suara tawanya saja mampu membuatku turut senang.

“Saya tau, saya tak berbeda dengan mereka yang membenci jika bagi saya masih ada rasa tidak suka”

Aku berpura pura menggerutu, ingin menarik perhatiannya.

Sejurus kemudian aku sadar, tak perlu aku berpura pura, dia selalu memberiku perhatian. Ah, rasa sayangnya padaku memang keterlaluan!

Lagi lagi dia seperti membaca pikiranku, kini bertanya.

“Kamu sayang padaku?” ucapnya, tanpa nada klise sama sekali.

Aku, entah, rasa rasanya sudah bermilyar kali mendapat pertanyaan seperti itu dari bermilyar hal dalam hidupku. Hingga remang bagiku batasan atas pertanyaan klise dan pertanyaan basa basi dari tiga kata itu. Kamu-sayang-padaku?

Aku biasanya tak menjawab, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk tidak menjawab segala hal yang masih (atau sudah) tak jelas batasannya bagiku. Tapi kali ini berbeda, pertanyaannya sama sekali tidak terdengar klise. Begitu tulus, paling tulus.

“Tentu, saya sayang padamu.” Kubiarkan suaraku terdengar menggantung, mengharap respon. Percuma, sebenarnya, dia selalu memberi respon atas semua pertanyaan dan pernyataanku. Hanya aku yang dibuai sibuk oleh keakuanku hingga lupa dan hilang perhatian atas responnya. Kali ini kucermati suaranya. Dia cekikikan.

“Aku senang, kamu rupanya masih sayang pada dirimu sendiri. Susah ya, untuk berhenti tidak menyukai?” tanyanya lagi, kabel ulir menyentuh mulut gelas, nyaris menyentuh genang kopi (atau sesuatu yang kuanggap kopi) di atas meja. Kusentak perlahan, riak permukaannya kini tenang, tidak pula terlihat kepul asap berbau wangi dari dalam gelas. Sepertinya sudah dingin

“Televisi sedang menjualmu” kupaparkan padanya tentang iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Ada hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

“Saya kesal kamu dijual begitu” lanjutku

Dia tertawa lagi. Dia selalu menemukan cara untuk menertawakan apa yang kubenci dan mengundang marahku. Dia humoris, paling humoris.

“Biarkan saja, yang menjual saya justru bisa membuat saya semakin terkenal. Kalau saya sudah terkenal, saya akan muncul di spanduk spanduk dekat kantormu, papan iklan di depan rumahmu, bahkan saya akan dipasang di setiap sampul buku yang kau baca,” ujarnya, terdengar riang.

Dia melanjutkan dengan nada semakin riang

“Jadi, kamu akan menemukanku di kantor, rumah dan buku. Di setiap pikiranmu. Kamu akan selalu kangen padaku, duh, senangnya”

Aku tersipu, dia masih ingat hal hal kecil tentangku.

“Ah kamu! Saya jadi geer nih. Beberapa dari mereka selalu mencoba mengklaim bahwa kamu hanya milik mereka. Yang tidak setuju dimusuhi. Kadang, yang dimusuhi membalas mengklaim kamu. Mereka berebut kamu. Saya sebal sekali” gerutuku tak berbendung.

“Ciee.. kamu cemburu?” dia menjawab, dengan pertanyaan baru.

Wajahku terasa panas, kupingku apalagi, seperti ada yang mengigit gigit. Berkali kali kutepis anak rambut yang sebenarnya tak jatuh ke wajah. Gila, dia selalu tau cara membuatku salah tingkah. Jawaban terjujur kini tercetak di wajahku, aku bersyukur menghubunginya melalui telepon sehingga ia (kupikir) takkan bisa melihat wajahku. Aku berdehem, mencoba mengalihkan pertanyaannya.

“Kamu sedang sibuk?” tanyaku, mengambil sepotong koran dari bawah meja. Koran pagi tadi, kulipat kecil dan kukipas kipaskan pada wajahku yang merah padam.

“Hihihi, aku tidak pernah sibuk, engga seperti kamu yang sibuk terus sampai lupa buat kangen padaku,”

“Ah. Iya deh saya minta maaf,” aku kembali memasang nada merajuk padanya.

Dia kembali tertawa, “Eh, jadi kamu engga cemburu nih sama mereka yang sibuk memperebutkanku?”

Aku bergumam gumam.

Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi terfokus pada genangan kopi dalam gelas. Aku menatap televisi, ada ratusan orang tengah berteriak teriak sambil memukuli pria bercelana sarung. Pria itu tersungkur, wajahnya tunarupa. Bilur biru di sekujur tubuh. Aku melihat balok kayu dan laras besi menghujani tubuh si pria bercelana sarung. Sumpah serapah mengalun disela teriakan teriakan. Aneh, padahal televisi sudah kutiadakan suaranya, namun masih saja jeritan si pria bercelana sarung saat meregang nyawa hinggap di kupingku. Mungkin juga hinggap di gagang telepon, tersampaikan padanya.

“Mereka meneriakkan namamu saat membunuh pria itu,” bisikku pelan. Begitu pelan hingga aku ragu ia bisa mendengar kata kata yang bahkan tak sampai ke kuping kiriku itu.

“Siapa bilang itu namaku?” ia menjawab dengan tenang.

“Tapi televisi bilang itu kamu, namamu” aku lantas terdiam. Kata kata itu meluncur mendahului otakku untuk memikirkan maksudnya apa.

Dia masih di sana, menjawab dan terus merespon setiap nafasku.

“Jadi sekarang kamu lebih sayang televisi nih dibanding aku?”

“Huh! Nanti lama lama kamu bisa berhenti kangen padaku. Soalnya kamu fikir aku sudah ada di televisi,”

Aku tau dia hanya bercanda, tak pernah merajuk. Tidak sepertiku yang begitu mudah ngambek dan mogok menelponnya kala dia (kuanggap) tidak meresponku.

“Kalau suatu saat, mereka tau bahwa saya selalu menelepon kamu, lantas telepon ini diambil karena saya dianggap merebut kamu dari mereka, gimana?” lega, apa yang mengganggu pikiranku sejak melihat televisi tadi kini sudah kutanyakan.

Tut… tut… tut…

Telepon terputus tiba tiba.

Kutarik tarik kabel biru yang menjalar lewat jendela. Kupencet pencet tombol redial. Setengah putus asa kuguncang guncang papan plastik berisi belasan nomor. Tak sengaja tersenggol gelas kopi, prang! Pecah di lantai ubin.

Aku kini menangis sejadinya, genangan pekat kopi bercampur lelehan airmata. Teleponku padanya tak pernah diputus (atau mungkin terputus) tiba tiba. Genangan kopi yang tak sempat terminum itu merembes ke karpet, perlahan mengalir hingga menyentuh steker listrik untuk televisi. Aku melihat percikan bunga api, perlahan membesar lantas terdengar letupan.

Televisi hitam, korslet.

Telepon berdering. Aneh, kabel biru yang menjalar di jendela telah kucabut. Bergegas kutempelkan gagangnya ke kuping kanan.

Aku mendengar suaranya lagi. Suara terindah, paling indah.

“Dasar cengeng,” dia terkekeh, aku merengut sambil menyeka airmata.

“Jangan lakukan lagi, saya kira kamu meninggalkan saya” suaraku tertahan tahan, mengisak isak.

“Habisnya, kamu selalu berbicara tentang televisi. Aku kan jadi cemburu,”

Aku menatap layar televisi yang hitam. Tidak lagi kulihat iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Yang berwarna hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

Tidak juga kulihat pria bercelana sarung yang dipukuli sampai mati oleh ratusan orang yang meneriakkan namanya di sela hujan sumpah serapah. Ruang tengah rumahku kini begitu tenang. Aku kini mengerti, bahwa dia hanya cemburu. Bahwa dia ternyata tak ingin aku membenci orang lain karena televisi.

Aku tersenyum, kuucapkan selamat malam padanya. Aku menuju tidur.

“Baiklah, kamu harus tidur, aku akan sangat kangen padamu. Hm.. sebelum kamu tidur, aku boleh ucapkan sesuatu?” aku menghela nafas, kusiapkan diri untuk menerima ucapannya.

“Apa itu?”

Suaranya nyaris samar. Antara udara malam dan aku yang kian mengantuk.

“Kamu tidak perlu melaporkan semua kebencian yang menguar di televisi padaku. Percayalah, aku sudah tahu bahkan sebelum pria bercelana sarung itu mati dipukuli orang orang yang meneriakkan, kata televisimu, namaku. Aku sudah tahu bahkan sebelum iklan tentangku dimuat di televisimu. Kamu tidak membenciku karena ini, kan? Aku tahu bahwa kamu takkan menganggapku telah membiarkan mereka saling membunuh karena memperebutkanku. Aku tahu, dan aku akan bekerja dengan caraku.,”

Senyumku semakin lebar saat dia mengucapkan selamat tidur untukku. Kututup telepon dan mengulangi kata katanya.

Bahwa

Dia ada, Paling Ada. Dia tau, Paling Tau.

Ditulis di hari Minngu, enam Pebruari 2011. Hari ini tiga orang meninggal dan sedikitnya 25 Jemaah Ahmadiah Indonesia luka luka. Penyerangan dilakukan 500an orang di masjid mereka di Cikeusik, Pandeglang Banten.

Bukan, saya bukan ahli surga dengan hati selembut sutra.

Saya bukan nabi dengan maaf dan kasih yang lebih luas dari semesta.

Saya hanya manusia, yang membenci, sangat membenci, kekejian manusia atas manusia lainnya.

Hanya dengan alasan;

Berebut Tuhan.

link berita:

DETIKNEWS
VIVANEWS
KOMPAS
KOMPAS