Ruang Lokal

Ruang Lokal itu nama segmen dalam Music Plus, sebuah program di radio FM Mentaya (Sampit), tempat saya siaran dua tahun belakangan. Konsepnya kurang lebih seperti Music Plus, di mana kami menyalurkan lagu lagu dari label besar seperti Nagaswara, Goodfaith, Trinity Optima dan sebagainya. Lagu lagu baru dari label cenderung senada, maklumlah, namanya juga label mainstream. Dari sini, band band pendatang baru yang dijaring label besar biasanya mendapat ruang untuk publikasi dengan menyertakan release. Berformat personil, inspirasi lagu dan sebagainya.
Saya fikir, kalo Music Plus ini dibikin versi non-mainstream (baca: label independent), bakal seru. Sekalian menghidupkan lagi program indie yang sudah ga ada sejak empat tahun terakhir. Dan hari ini, 29 April 2011, segmen ini saya jalankan, menggantikan segmen Music plus Movie yang sudah jalan sejak beberapa bulan belakangan.
Harapannya sih simpel banget, mudah mudahan segmen (bentuknya masih segmen, belum program) ini langgeng. Bertahan dan mendapat tempat di ruang dengan radio FM Mentaya. Sementara untuk long-term wishesnya sih, mudahan segmen ini berkembang lebih besar dan bisa menjadi wadah untuk gigs kecil yang diadakan secara kontinyu. Amiiiinn!
Sementara untuk sekarang, digarap aja dulu pelan pelan. Tentu, support kawan kawan bener2 saya perlukan. Kalo punya info tentang band lokal baru, silahkan hubungi 085249105721 atau e-mail ke ruanglokal@yahoo.com untuk publikasi. Saya bakal dengan sangat sangat senang hati bisa bantu memperluas karya kawan kawan semua ke udara 😀
Oiya, fanpages kami ada di sini, nuhuns di like ya, di sana ntar kita bisa share soal apa saja!
Regards,
Rusnani Anwar (ARA)

In Memoriam, Gus Dur


Telah gugur pahlawan bangsa

Seorang pembela pluralitas dengan jargon sederhana

“Tuhan Tidak Perlu Dibela”

Seorang pemimpin yang lebih sipil dari jelata dan lebih gagah dari panglima.


Seorang pembela minor, kembali pada-Nya.

Dianggap gila untuk alasan luar biasa.

DPR korup, berperilaku labil layaknya anak remaja.

Yang labil, harus dicabut hingga ke akarnya.


Ah, jika bapak masih jadi presiden negara ini,

Saya yakin tak akan ada Crown Royal seharga 1,3 miliar terbuang untuk para mentri

Tapi apa boleh buat pak, perlu sebuah mobil mewah agar para petinggi itu “terlihat” kompeten dalam tugasnya mengatur negeri.


Jujur,

Kami takut, duhai bapak yang telah kembali padanya.

Kami takut tak lagi bisa bersuara.

Kami takut, tak lagi bisa merdeka.


menemukan tulisan ini di folder folder lawas komputer.

Rupanya aku sempat menulis ini beberapa hari setelah Gus Dur wafat.

Dalam kenangan, Gus Dur.


Bagaimana Caranya Pacaran di Sampit?

Pertanyaan ini melintas begitu saja saat Sabtu sore lalu aku memutuskan buat menempuh jalan HM Arsyad yang super crowdy demi beli kebab. Sepanjang jalan protokol itu, puluhan bahkan ratusan (meanly, RATUSAN) motor berjejer di trotoar dan halaman gedung gedung perkantoran yang rata rata sudah tutup. Waktu itu pukul lima sore.
Entah lantaran aku yang kurang gaul atau karena selalu menghabiskan sore untuk siaran, aku tidak begitu ngeh dengan perubahan luar biasa di ruas jalan yang terkenal sebagai area tawaf itu. Well, mencoba mengingat ingat… mungkin terakhir kali aku jalan jalan di sore Sabtu melintas HM Arsyad itu pas kelas 3 SMA. Nah, semenjak putus dua minggu lalu dari sebuah hubungan super singkat, aku mulai mikir.
“Gimana ya caranya pacaran di Sampit?”

Sampit tidak memiliki mall, pusat perbelanjaan bahkan sekedar ruang publik yang sekiranya bisa disinggahi tanpa harus menelan resiko digodain mas mas iseng. Sampit tidak memiliki toko buku, bioskop bahkan toko makanan cepat saji! Apa yang mereka (baca: pasangan yang berpacaran) lakukan saat kencan? makan di warung warung tenda pinggir jalan, keliling naik motor sampe pantat rata, lantas menepi di trotoar HM Arsyad dan duduk di atas motor sampe… bosen?
Aku tarik pertanyaan ini pada diriku sendiri. Apa yang aku lakukan saat pacaran di Sampit? Sepertinya begitulah. Makan dan jalan jalan. Demikian seterusnya sampe bosen dan aku lampiaskan dalam hubungan. “Aku bosen pacaran kaya gini, putus ya.” dan, sebagai seorang pembosan sepertiku, aku cuma mampu bertahan sebulan (serius, sebulan penuh menjalani rutinitas pacaran dengan pola makan-keliling naik motor itu membuatku setengah gila kebosanan).
Jadi, Sampit berkontribusi penuh dalam alasan ‘kenapa aku tidak pernah terlibat dalam suatu hubungan yang berumur lebih panjang dari lima bulan’ 😀
iye, kalimat di atas itu denial.

But I think it would be nice if we can sit on public place, talking about a lot of things in fence. Or just hand on hand when we walk on a park, or spending our night on movie theater..
Selamat hari Rabu, eniwei 😀

Siapa Bilang Kami Jalan di Tempat?

Saya kembali mengingat ingat, kapan terakhir kali saya melibatkan diri dalam perbincangan ringan soal musik musik keras. Rasa rasanya nyaris setahun lalu. Kala kawan kawan memutuskan untuk membentuk sampit music community dan kami berkumpul di Nada Dua setiap Senin malam.

Ya, rasa rasanya setahun lalu.
Ini membuat saya berfikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan pergerakan musik keras di kota ini. Entah lantaran saya yang terlampau lama alpa dan sudah tidak pernah bertemu kawan kawan komunitas lagi. Atau saya, yang begitu sibuk (tsaaahhhh pengangguran gini emangnya sibuk ngapain?) hingga tidak pernah sempat lagi memastikan yang sedang terjadi di bawah tanah sana.
Atau mungkin, musik keras di kota ini sudah benar benar kolaps?
Hingga tadi malam, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya, nomer asing. Perbincangan berlanjut dan di satu bagian pesan kami saling berbicara tentang Burgerkill. Bahwa dia dan bandnya tengah serius mempelajari lagu Angkuh milik band asal bandung itu. Saya tanya usianya, dia bilang 18 taun, masih kelas 2 SMA. Anak Sampit, suprisingly.
Dan ini membuat saya tersenyum dan mengingat ingat beberapa runutan kejadian belakangan ini. Mulai dari invansi lagu lagu keras dan pola vokal growl minimal scream yang dibawakan beberapa band Sampit di festival band ulang tahun radio awal Maret lalu, lantas beberapa video yang di-tag ke halaman pesbuk saya yang berisikan rekaman video live band band yang mengcover lagu lagu keras.
Juga beberapa kawan yang meminta lagu bandnya untuk diputar di radio.
Saya fikir, siapa bilang kami jalan di tempat?

Kami bergerak! memang tidak masiv dan terkoordinir dalam lingkup komunitas. Tapi individu dan band band kecil ini tetap bergerak dengan caranya sendiri. Dan melihat sebuah band asli Sampit berpersonilkan anak anak usia sekolah menyanyikan lagu lagu seperti Burgerkill atau sekedar mengaransemen ulang lagu lagu saint loco dan superman is dead dengan scream dan growl a la post-metalcore, sudah berhasil membuat saya tersenyum. Seneng!
*Voldeath, Dies Natalis Unda 2010*

*newsletter yang diharap mampu jadi scene. Sampit Burning*

Kali ini cukup segini. Kapan kapan bakal nulis nulis hal lain deh.
oh ya, hari ini 19April! bertepatan dengan ulang tahun vokalis Burgerkill, Ivan 🙂
Selamat Ulang Tahun, Ivan Scumbag!

Ventriloquist

Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa.

Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membuat kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya.

Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll.

Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil?

Sebagai seorang realis-relatif, maka saya percaya pada teori sains yang sudah disepakati sebagai ke-be-nar-an dalam mengambil simpulan terhadap apapun (termasuk di dalamnya teori teori filsafat). Bahwa yang menggerakkan manusia adalah self-conscious, pertimbangan pribadi, dan reaksi tubuh atas perintah yang diberikan syaraf syaraf neurotik dari otak.

Bahwa tidak ada konspirasi setan-malaikat serta pihak ketiga dalam wujud yang menggerakkan manusia untuk berfikir, bernafas, mengunyah, berjalan, berbuat apapun. Sebagian besar merupakan tindakan natural yang terjadi secara begitu saja. Neither lantaran tubuh memang terbiasa melakukannya atau memang harus dilakukan demi stabilisasi organ tubuh (baca: denyut nadi, bernafas dan lain sebagainya)

Fokus saya kali ini, adalah apa yang menggerakkan pikiran manusia. Sebagai pusat gerak, tubuh harus diperintah oleh pikirannya. Mencuri, membunuh, tindakan tindakan yang disepakati secara sosial sebagai ‘perbuatan tercela’ itu tentu telah mendapat stimulasi dari pikiran untuk mencuri, membunuh dan sebagainya, oleh pikiran manusia.

Apa betul, tindakan jahat manusia digerakkan oleh setan? Sementara perbuatan baik digerakkan oleh malaikat? Saya, memilih untuk belum mempercayainya. Pihak ketiga yang menggerakkan manusia secara pasif untuk berfikir dan mencerna segala sesuatu itu berbentuk kasatmata. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh lingkungan, latar pendidikan, asupan pengetahuan dan tentu saja: pengalaman hidup.

Keputusan yang diambil seseorang yang tidak pernah tau bahwa karbondioksida itu zat berbahaya tentu berbeda dengan keputusan seseorang yang mengetahui bahwa zat karsinogenik dari karbondioksida bisa memicu kanker dan flek paru paru saat keduanya sama sama dihadapkan pada masalah serupa: menyetujui atau tidak menyetujui pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil di dekat rumahnya, dengan iming iming kompensasi yang cukup besar.

Setidaknya itu merupakan contoh bahwa campur tangan pihak ketiga yang kasatmata (dalam hal ini pengetahuan) bisa membuat perbedaan dalam tindakan manusia. Simpulannya, ventriloquist saya adalah akal, nurani, asupan pengetahuan dan keinginan untuk terus berkembang.


So, who/what is your ventriloquist?

Tanned Nani

Menghabiskan Sabtu-Minggu di semacam perkebunan Sawit nun jauh di mata. Tiga jam berkendara dan mengisi acara di sana sebagai MC (screw you if ever think that I’m being “pengisi acara” there :D)

It been FUN. However, anything that you do for the first time always fun. Including ‘Goes to Palm Oil Plantation’, though 😛

Here’s some picture:

*aku juga lupa sejak kapan aku jadi self-centered kaya gini*

Dengan bangga aku nyatakan. Nani menghitam dengan sukses!! 😀
*uhuk* Oks. Saatnya lanjut siaran :)) selamat siaaaaaaanggg!!!

Review: Headquarter – Kekasih Hatiku Berbadan Dua (demo single)

Bank punk-rock Palangkaraya, lagu lagunya sempat menggema dalam LokalKarya dan Boneka Tanah #2 yang digelar di Sampit, nyaris setahun lalu. Impresi pertama lagu ini? Liriknya gila! hahaha. Siapa sangka dibalik lagu yang notabene sekeras ini memiliki lirik yang aduhai. Mengingatkan saya pada lirik lirik ‘binal’ milik Kung Pow Chicken.


Tidak banyak, saya rasa tidak banyak band punk seperti Headquarter. Kebetulan Anggri, vokalis mereka kerap wara wiri di halaman facebook saya dengan postingan postingannya. Sulit menyebut Headquarter sebagai band punk kebanyakan yang identikal dengan booze, hal hal njelimet soal filosofi hidup dan kosakata jalanan jika sudah terbiasa dengan status facebook Anggri yang begitu…. lah (speechless, mending temenan aja deh sama dia di sini). Maka maafkanlah jika saya salah menyimpulkan bahwa Headquarter adalah kumpulan jejaka (yang entah masih perjaka) nan alim.


impresi anda tentang kami sangat benar! kami ingin jauh jauh dari hal rumit, kebusukan politik, etc… hal hal kayak gitu udah porsi band lain… hahahaha mengangkat tema yang dekat dengan kita sajalah… realita yang dibalut dengan jenaka dan agak binal namun sesungguhnya semua itu adalah sebuah teguran kepada kaum muda tanpa harus sok mengajari… makasih reviewnya! PLUR!” ~ Anggri, dalam commentnya.


Setidaknya saya diajak bertobat dan merenungi kenakalan remaja di era informatika (loh ini kenapa jadi Efek Rumah Kaca?). Ga sabar untuk menikmati EP kalian, Headquarter!


Ini lagu mereka:


Lyrics:

Teringat lagi pertama kali

Kudapat nomornya di dinding w.c.

Gadis sexy, pujaan hati, idaman semua kaum lelaki


Seragam ketat sungguh memikat

Membuat jantung ingin melompat

Lupa makan ampe lupa sholat

Teringat tatto di bawah pusat


Pendekatan kulancarkan

Tak lama kami jadian

Tiga bulan tlah berjalan

Awalnya semua aman

Hingga tiba di suatu malam

Dia mengajak ku berkencan

Check up ke dokter kandungan


Enaknya lima menit

Sembilan bulan aku menderita

Kekasih hatiku tercinta mengaku tlah berbadan dua

Enaknya lima menit

Dan selamanya ku kan menderita

Kami kan jadi orang tua, saat naik kelas dua sma


Sedihnya lagi, semua terjadi

Disaat kami tak sadar diri

Sehabis party, seusai pensi

Bersama empat orang lelaki


Tak dapat ku membayangkan

Hidupku yang berantakan

Cita cita tinggal angan

Yang tersisa penyesalan

Tiada harapan, masa depan

Semua hanyalah impian

Karna cinta satu malam


Enaknya lima menit

Sembilan bulan aku menderita

Kekasih hatiku tercinta mengaku tlah berbadan dua

Enaknya lima menit

Dan selamanya ku kan menderita

Kami kan jadi orang tua, saat naik kelas dua sma

Support your local scene!

Tanda Tanya

*Sok, disimak dulu trailernya :)*
Film ini mendapat tanggapan pedes dari ketua MUI, Cholil Ridwan. Yang pengen baca baca beritanya sok mampir di sini. Aku belum nonton sih, masih harus menunggu beberapa bulan lagi untuk menikmati DVDnya. Jadi aku belum bisa bicara banyak. Sekedar pengen berbagi info saja, kalau ada loh, film asik tentang pluralisme.
Dengerin monolog di awal film: “Manusia memilih jalan setapak yang berbeda, namun bertujuan sama: Tuhan,”. Aku tidak menganggap ini sebagai bentuk syirik modern atau istilah istilah yang dilabeli penggiat islam ‘kaffah’ atau apalah itu. Aku menyebutnya sebagai pluralisme. Sebagai ilmu agama tahap transenden. Yang konon, jika manusia sudah mencapai tahapan itu, label agama bukan lagi persoalan. Akhirnya agama agama (baik semitik, non semitik maupun kepercayaan kepercayaan lain) memang sama sama membuat jalan menuju Tuhan. Bertujuan satu: Tuhan.
Dan agama, adalah interpretasi atas pemahaman manusia atas Tuhan.
Well, setidaknya ini yang saat ini aku percayai 🙂 semoga ke depannya bisa menjadi lebih baik. Amin.
“Apa itu Islam, Pak Ustad?”

Pencuri Tuhan

“Kita mau ke mana mak?” Aryo bertanya setengah menjerit. Ia dibangunkan pagi pagi buta dan disuruh mengemasi pakaiannya. Ibunya sudah belasan kali ia tanyai, namun tetap bergeming. Bungkam saja sambil terus menjejalkan isi lemari ke dalam karung gandum.

Bapaknya juga sama, selepas solat subuh di surau depan rumah, pria yang selalu mengenakan sarung itu tak kalah sibuk memenuhi karung karung gandum dengan buku buku sekolahnya. Hari itu tanggal 15 Februari, Aryo tidak sekolah, kanjeng nabi tengah berulang tahun.

“Cepat le, cepat mandi, nanti keburu pagi,” Ayahnya terus melongok ke arah jendela, mencari cari pagi. “Ono opo tho Pak?” Aryo tetap bertanya, ditepisnya cantelan kain dekat jendela, ruangan temaram berpenerangan lampu pijar sedikit menyala. Nyaris pagi.

Jam dinding tersenyum di pukul lima dan ayah ibunya telah selesai berkemas. Aryo dipakaikan celana jins bekas lebaran tahun lalu oleh ibunya. Pintu rumah digembok, mereka menuju surau bersama karung karung gandum dan tas tas besar berisi pakaian dan buku sekolah.

Di surau ada belasan orang dengan kondisi serupa, orang orang tua berwajah cemas sambil terus melongok ke arah depan gang. Sementara anak anak kecil berpakaian baik sisa sisa lebaran. Aryo melihat Wati, Imin, Abdul, Rahmat, Lisa, dan banyak teman teman sepertetanggaannya sedang mencoreti susunan batu di halaman surau dengan sebatang kapur.

“Ada apa?” tanya Aryo sambil mencomot arang. Turut menggambari susunan batu di halaman surau.

Kawannya Rahmat yang menjawab, sisanya masih sibuk mencoret coret. “Ndak tau juga, bapak bilang kita mau ke pulau”

Imaji Aryo membumbung tinggi mendengar kata pulau. Ia yang sering menonton televisi minggu pagi mulai membayangkan pulau pulau di kartun aksi. Penuh naga, harta karun dan penjahat bercodet. Ia juga membayangkan pulau tempat neneknya tinggal. Berlaut bersih dan setiap hari dia bisa makan ikan.

“Jauh tha?” Kali ini kawannya yang lain, rupanya sedari tadi menguping.

“Ndak tau, bapak bilang mau ke pulau, itu saja” Rahmat mengangkat bahu.

Aryo memandang belasan pasang suami istri di teras surau, semuanya berwajah suram. Ayahnya membolak balik alquran kecil sambil terus menggumam gumam. Ibunya tafakur sambil menggenggam tasbih, sama seperti ayahnya, ibunya juga sibuk menggumam gumam. Belasan wajah lain kian murung saat matahari meninggi.

“Katanya tuhan kita ndak bener,” Kali ini suara Imin menghampiri kuping Aryo.

“Ndak bener gimana tho? Wong kita udah solat setiap hari,” bocah itu kini melepas arang dari genggamnya, batal menggambar figur action favoritnya. Ia mendengarkan ocehan Imin yang bapaknya terkenal sebagai imam di kampungnya.

Imin kemudian bercerita bahwa sebulan lalu rumahnya disambangi banyak orang orang. Rata rata meminta agar ayahnya bertobat dan mengembalikan tuhan kepada yang berhak.

“Bapakmu mencuri tuhan? Kok disuruh mbalikin?” Wati menyahut.

Imin hanya menggeleng, ia kembali pada ceritanya bahwa ayahnya dan seluruh warga kampung harus pindah dari tempat itu. Kaumnya dianggap merusak tatanan perdamaian. Orang orang di kampung itu disebut sebut sebagai pencuri tuhan, semua orang berang, semua orang marah.

Aryo teringat kisah bapaknya. Bahwa ada banyak orang yang menyatakan bahwa ada yang salah dengan kaumnya. Mereka harus pergi atau dipergikan. Mengasingkan diri atau diasingkan. Dari sanalah, Imin kembali merenda cerita bahwa orang orang di desanya harus pergi.

Terjawab sudah pertanyaan Aryo, bahwa mereka akan pergi ke pulau asing.

“Jadi, kalau kita nanti tinggal di pulau, ndak akan ngganggu yang lain. Biar damai, katanya” Imin menutup kisahnya.

Aryo diam saja, dia tidak begitu mengerti apa yang tengah terjadi. Tentang tuhan tuhan yang dicuri sudah sejak lama ia lihat di televisi. Juga tentang orang orang yang tidak menginginkan mereka untuk mencintai tuhan yang sama.

Di kepalanya kini berdesing desing berbagai reka ingatan tentang ayah, ibunya, bapaknya Imin dan ingatan ingatan laun tentang pria pria kota yang sering datang ke kampungnya.

Bocah itu juga melihat kepala desanya yang sudah berjam jam mondar mandir. Terlihat panik dan telepon genggam tak lepas dari kuping, sesekali tinggi suaranya. Rahmat menyelesaikan coretan di atas susunan batu halaman masjid. Kawannya itu sangat pandai menggambar, beberapa kali pernah ikut lomba nggambar dan kaligrafi di tingkat kabupaten.

Tapi hari ini Aryo mendesis dan mengatakan gambar Rahmat kawannya jelek. Hanya ada titik titik panjang seperti antrian dan bulatan besar dengan tulisan Pulau Tuhan besar besar di tengahnya. Aryo urung bertanya saat suara sirene meraung di kejauhan.

Belasan tubuh yang terkantuk kantuk di teras surau tersentak bangun. Lenguhan sirene kian nyaring. Beberapa anak bayi tersentak kaget dan menangis sejadinya. Bersama sirene tumpah ribuan pria berbaju putih dengan wajah penuh amarah. Sirene rupanya diraungkan untuk memenangi lomba. Lomba siapa cepat menyelamatkan dan menghancurkan surau.

Aryo lupa apa dia sudah bangun atau belum dari tidurnya. Ia mengingat ingat bahwa dirinya sudah mengerjakan PR, minum teh dan nonton acara lawak di televisi. Ia ingat betul, ia tidur setelahnya. Tapi apakah Aryo sudah terbangun? Atau jangan jangan potongan potongan gambar yang melintas di depan matanya sekarang hanyalah mimpi?

Potongan potongan gambar itu melintas, membentuk wajah wajah, teriakan teriakan, batu batu yang melayang, darah dan mayat Ayahnya, yang dadanya menganga mengeluarkan linangan darah merah kehitaman bekas sabetan senjata tajam. Aryo juga melihat, ibunya yang diinjak kepalanya, dihantamkan ke susunan batu halaman surau. Mungkin ibunya sudah mati, Aryo tidak tahu pasti, dari mulut perempuan yang selalu menyapihnya sebelum berangkat sekolah itu keluar darah, sama merahnya dengan yang keluar dari lubang menganga di dada ayahnya.

Potongan potongan gambar itu kini membentuk surau berlumuran darah. Ada belasan pasang wajah yang terkantuk kantuk dan kini berubah menjadi darah. Aryo lupa apakah dirinya berteriak, meraung atau menangis setengah gila seperti yang dilakukan Wati, Imin, Abdul, Rahmat, Lisa dan semua anak sebayanya.

Aryo hanya ingat tubuhnya dipeluk pria berseragam coklat, digendong menuju truk dengan bak terbuka. Dari bak terbuka yang perlahan lahan menjauh dari lautan pria berwajah penuh amarah, bocah itu masih melihat coretan Rahmat kawannya, yang tertimpa genangan darah dari tubuh tubuh terluka tanpa nyawa di susunan batu halaman surau. Tulisan besar besar di tengah bulatan besar itu terbaca samar:

Pulau Tuhan.