Pencuri Tuhan

“Kita mau ke mana mak?” Aryo bertanya setengah menjerit. Ia dibangunkan pagi pagi buta dan disuruh mengemasi pakaiannya. Ibunya sudah belasan kali ia tanyai, namun tetap bergeming. Bungkam saja sambil terus menjejalkan isi lemari ke dalam karung gandum.

Bapaknya juga sama, selepas solat subuh di surau depan rumah, pria yang selalu mengenakan sarung itu tak kalah sibuk memenuhi karung karung gandum dengan buku buku sekolahnya. Hari itu tanggal 15 Februari, Aryo tidak sekolah, kanjeng nabi tengah berulang tahun.

“Cepat le, cepat mandi, nanti keburu pagi,” Ayahnya terus melongok ke arah jendela, mencari cari pagi. “Ono opo tho Pak?” Aryo tetap bertanya, ditepisnya cantelan kain dekat jendela, ruangan temaram berpenerangan lampu pijar sedikit menyala. Nyaris pagi.

Jam dinding tersenyum di pukul lima dan ayah ibunya telah selesai berkemas. Aryo dipakaikan celana jins bekas lebaran tahun lalu oleh ibunya. Pintu rumah digembok, mereka menuju surau bersama karung karung gandum dan tas tas besar berisi pakaian dan buku sekolah.

Di surau ada belasan orang dengan kondisi serupa, orang orang tua berwajah cemas sambil terus melongok ke arah depan gang. Sementara anak anak kecil berpakaian baik sisa sisa lebaran. Aryo melihat Wati, Imin, Abdul, Rahmat, Lisa, dan banyak teman teman sepertetanggaannya sedang mencoreti susunan batu di halaman surau dengan sebatang kapur.

“Ada apa?” tanya Aryo sambil mencomot arang. Turut menggambari susunan batu di halaman surau.

Kawannya Rahmat yang menjawab, sisanya masih sibuk mencoret coret. “Ndak tau juga, bapak bilang kita mau ke pulau”

Imaji Aryo membumbung tinggi mendengar kata pulau. Ia yang sering menonton televisi minggu pagi mulai membayangkan pulau pulau di kartun aksi. Penuh naga, harta karun dan penjahat bercodet. Ia juga membayangkan pulau tempat neneknya tinggal. Berlaut bersih dan setiap hari dia bisa makan ikan.

“Jauh tha?” Kali ini kawannya yang lain, rupanya sedari tadi menguping.

“Ndak tau, bapak bilang mau ke pulau, itu saja” Rahmat mengangkat bahu.

Aryo memandang belasan pasang suami istri di teras surau, semuanya berwajah suram. Ayahnya membolak balik alquran kecil sambil terus menggumam gumam. Ibunya tafakur sambil menggenggam tasbih, sama seperti ayahnya, ibunya juga sibuk menggumam gumam. Belasan wajah lain kian murung saat matahari meninggi.

“Katanya tuhan kita ndak bener,” Kali ini suara Imin menghampiri kuping Aryo.

“Ndak bener gimana tho? Wong kita udah solat setiap hari,” bocah itu kini melepas arang dari genggamnya, batal menggambar figur action favoritnya. Ia mendengarkan ocehan Imin yang bapaknya terkenal sebagai imam di kampungnya.

Imin kemudian bercerita bahwa sebulan lalu rumahnya disambangi banyak orang orang. Rata rata meminta agar ayahnya bertobat dan mengembalikan tuhan kepada yang berhak.

“Bapakmu mencuri tuhan? Kok disuruh mbalikin?” Wati menyahut.

Imin hanya menggeleng, ia kembali pada ceritanya bahwa ayahnya dan seluruh warga kampung harus pindah dari tempat itu. Kaumnya dianggap merusak tatanan perdamaian. Orang orang di kampung itu disebut sebut sebagai pencuri tuhan, semua orang berang, semua orang marah.

Aryo teringat kisah bapaknya. Bahwa ada banyak orang yang menyatakan bahwa ada yang salah dengan kaumnya. Mereka harus pergi atau dipergikan. Mengasingkan diri atau diasingkan. Dari sanalah, Imin kembali merenda cerita bahwa orang orang di desanya harus pergi.

Terjawab sudah pertanyaan Aryo, bahwa mereka akan pergi ke pulau asing.

“Jadi, kalau kita nanti tinggal di pulau, ndak akan ngganggu yang lain. Biar damai, katanya” Imin menutup kisahnya.

Aryo diam saja, dia tidak begitu mengerti apa yang tengah terjadi. Tentang tuhan tuhan yang dicuri sudah sejak lama ia lihat di televisi. Juga tentang orang orang yang tidak menginginkan mereka untuk mencintai tuhan yang sama.

Di kepalanya kini berdesing desing berbagai reka ingatan tentang ayah, ibunya, bapaknya Imin dan ingatan ingatan laun tentang pria pria kota yang sering datang ke kampungnya.

Bocah itu juga melihat kepala desanya yang sudah berjam jam mondar mandir. Terlihat panik dan telepon genggam tak lepas dari kuping, sesekali tinggi suaranya. Rahmat menyelesaikan coretan di atas susunan batu halaman masjid. Kawannya itu sangat pandai menggambar, beberapa kali pernah ikut lomba nggambar dan kaligrafi di tingkat kabupaten.

Tapi hari ini Aryo mendesis dan mengatakan gambar Rahmat kawannya jelek. Hanya ada titik titik panjang seperti antrian dan bulatan besar dengan tulisan Pulau Tuhan besar besar di tengahnya. Aryo urung bertanya saat suara sirene meraung di kejauhan.

Belasan tubuh yang terkantuk kantuk di teras surau tersentak bangun. Lenguhan sirene kian nyaring. Beberapa anak bayi tersentak kaget dan menangis sejadinya. Bersama sirene tumpah ribuan pria berbaju putih dengan wajah penuh amarah. Sirene rupanya diraungkan untuk memenangi lomba. Lomba siapa cepat menyelamatkan dan menghancurkan surau.

Aryo lupa apa dia sudah bangun atau belum dari tidurnya. Ia mengingat ingat bahwa dirinya sudah mengerjakan PR, minum teh dan nonton acara lawak di televisi. Ia ingat betul, ia tidur setelahnya. Tapi apakah Aryo sudah terbangun? Atau jangan jangan potongan potongan gambar yang melintas di depan matanya sekarang hanyalah mimpi?

Potongan potongan gambar itu melintas, membentuk wajah wajah, teriakan teriakan, batu batu yang melayang, darah dan mayat Ayahnya, yang dadanya menganga mengeluarkan linangan darah merah kehitaman bekas sabetan senjata tajam. Aryo juga melihat, ibunya yang diinjak kepalanya, dihantamkan ke susunan batu halaman surau. Mungkin ibunya sudah mati, Aryo tidak tahu pasti, dari mulut perempuan yang selalu menyapihnya sebelum berangkat sekolah itu keluar darah, sama merahnya dengan yang keluar dari lubang menganga di dada ayahnya.

Potongan potongan gambar itu kini membentuk surau berlumuran darah. Ada belasan pasang wajah yang terkantuk kantuk dan kini berubah menjadi darah. Aryo lupa apakah dirinya berteriak, meraung atau menangis setengah gila seperti yang dilakukan Wati, Imin, Abdul, Rahmat, Lisa dan semua anak sebayanya.

Aryo hanya ingat tubuhnya dipeluk pria berseragam coklat, digendong menuju truk dengan bak terbuka. Dari bak terbuka yang perlahan lahan menjauh dari lautan pria berwajah penuh amarah, bocah itu masih melihat coretan Rahmat kawannya, yang tertimpa genangan darah dari tubuh tubuh terluka tanpa nyawa di susunan batu halaman surau. Tulisan besar besar di tengah bulatan besar itu terbaca samar:

Pulau Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s