Giant Step

Selama beberapa bulan belakangan aku konstan ngirim contoh mini novelku, Jejak Senja, ke beberapa penerbit dan editor. Barusan, dapet kabar dari salah satu editor yang aku kirimin kalo contoh tulisanku sudah selesai dibaca dan akan direview minimal besok. Sekarang sih sedang menunggu hasilnya, tentu dengan harapan; semoga diterbitkan.
Sabtu lalu, dalam balutan uring uringan malam minggu dan I-have-nothing-to-do, aku iseng bikin Petisi Usia. Melalui ritual buka jendela, minum teh hangat dan satu album Frank Sinatra, aku menemukan simpulan janji untuk aku jalani terhitung sejak tahun depan. Bahwa;
Aku akan berhenti bercita cita menjadi penulis jika tidak ada satupun tulisanku diterbitkan.

Agak childish sih, kesannya ngambek sama umur ๐Ÿ˜€ but hey! aku duapuluh tahun depan dan masa sampai umur itu aku masih ribet berkutat dengan tetek bengek mimpi. Bercita cita menjadi penulis dan kuliah sastra di kota besar aku cukupkan untuk usia belasan saja. Saat menginjak angka duapuluh, aku semacam berjanji dengan diri sendiri untuk berpenghidupan lebih baik, menghapus idealisme berlebihku terkait pekerjaan, dan fokus pada… entahlah, apa yang mereka sebut sebagai ‘masa depan’.
Untuk diketahui, sejak lulus SMA dua tahun lalu, aku menerapkan idealisme yang agak sedikit radikal terkait pekerjaan. Aku tidak ingin bekerja jika pekerjaan itu memperbudakku, aku tidak bekerja untuk mencari uang. Aku bekerja untuk bersenang senang. Semata lantaran, iseng. Dan ini yang membuatku dengan bangkenya melepas pekerjaan yang tergolong ‘gampang dan menghasilkan banyak uang’ hanya demi apa yang kusebut idealisme.
Yes, I was that stubborn back there.
Nah, sekarang aku sudah 19 menuju 20. Kalo aku tetap pada pemikiran seperti itu, bisa bisa mati kering dalam balutan kemiskinan ๐Ÿ˜€ kondisiku sekarang kan ‘menunggu cita cita tercapai sambil iseng siaran di radio’. Dengan ditiadakannya cita cita, di umur 20 nanti aku akan fokus untuk kehidupan dan penghidupanku di sini. Tidak ada menunggu, rencananya pengen ambil kursus keahlian komputer dan bekerja dengan baik dan benar di perusahaan sebagai juru ketik. Dengan penghasilan yang lebih baik, aku setidaknya bisa membebaskan orangtua dari tanggungan tanggungan yang seharusnya menjadi bebanku tapi aku alihkan menjadi beban mereka demi memenuhi idealisme pekerjaan dan menunggu cita cita.
Empat tahun tersesat dalam cita cita itu rasa rasanya sudah cukup. I have to move on.
Oks, cukup curhatnya ๐Ÿ˜€ harus kembali siaran hihihihi, selamat soreeeee!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s