Perempuan Perang

Halooohhh, selamat sore hehehe. Tiba tiba terpikir tentang romusha dan jugun ianfu serta sistem klaim perempuan pribumi siang tadi. Dan brojollah cerpen ini. Ga sampe seupil, sayapun keburu bosen dan dikejar siaran. Kapan kapan deh, diselesaikan.

Perempuan Perang

“Kamu nanti diajari menari, berdandan dan menyanyi!”

Hartati tersenyum sendiri. Ia teringat bulir kata dari ibunya, bertahun silam kala melepasnya pergi. Gadis itu meninggalkan rumah dalam keadaan gamang, marah dan merasa terbuang. Kakak kakaknya dibiarkan bersekolah untuk kemudian dinikahi lelaki lelaki kaya dari kota. Sementara ia harus menjadi topangan keluarga lantaran ayahnya meninggal dalam perang dan ladang habis terjual untuk memoles kakak kakaknya yang semua perempuan.

Keluarganya jatuh miskin, lelaki kaya dari kota tidak satupun datang ke desa. Saluran saluran berita mengabarkan bahwa perang telah usai. Tidak ada lagi gerilya gerilya kaum tani dan ranjau ranjau di hutan karet. Lelaki lelaki kaya berwajah asing itu telah pulang ke negaranya. Negara penjajah yang membawa serta kakak kakak Hartati. Entah apa jadinya mereka. Tidak ada kabar.

Ibunya tengah mengambil upah menyiangi ladang tetangga saat pesawat pesawat kecil melintas dengan dengungan serupa jangkrik. Puluhan banyaknya. Hartati memandangi langit yang tiba tiba dipenuhi burung raksasa bersuara jangkrik sambil sesekali membetulkan antena radio. Hanya ada suara sirene dari kotak bersuara itu. Hanya ada suara dengung serupa kala ia masih balita, kala ayahnya pergi dari rumah dengan parang terhunus.

Katanya sih, berangkat perang.

Kini usianya sudah belasan, radio masih berdengung. Mungkin akan perang, lagi.

Dalam dua tahun, desanya berubah dari hijau menjadi abu abu kehitaman. Lubang lubang raksasa menggeser ladang ladang sayur dan petak petak sawah. Orang orang pintar berkepala gersang dan bermata sipit itu berceracau soal potensi tambang dan penggalian bauksit kepada para penduduk desa. Yang memiliki ladang dan sawah menjual semuanya di bawah todongan senjata. Dengan uang yang tidak seberapa, para penjual tanah itu berhasil pergi menyeberangi pulau, menghindari perang.

Sementara penduduk desa yang tersisa dan tidak memiliki apa apa untuk dijual, seperti ibunya, terpaksa menggeluti pekerjaan yang serupa seperti sebelum perang datang. Membanting tulang di tambang tambang. Bedanya, tidak ada upah kali ini. Hanya jaminan atas nyawa dan sepiring nasi jagung sekali sehari.

*photo was taken here*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s