Popor

Aku lupa, mungkin September tanggal tiga.

Saat puluhan berseragam menyesak di ruang tamu tanpa melepas sepatu.

Menjamah sepenjuru rumah tanpa, menyeret orangtuaku dari kelambu.

Itu tengah malam. Hari sabtu.

Popor pertama menyentak tengkukku. Ngilu. Mereka berteriak soal aku dan konspirasi untuk menjatuhkan negara. Negara palsu.

Popor kedua menghujam perut ayahku. Kali ini teriakan mereka pertanyakan keterlibatan ayahku dalam Kelompok Petani Berontak.

Jawaban ayahku tidak menuai paham. Ibuku menjerit, seseorang menumbangkan tubuh ringkihnya. Kepala wanita itu diinjak sepatu sepatu lars hingga darah mengucur dari telinga.

Popor ketiga menghantam pelipis kananku. Pandanganku buram, yang terlihat hanya samar wajah ayahku yang kesakitan saat bayonet mengiris kupingnya.

“Kami bukan pemberontak. Kami keluarga petani..,”

Kian pelan suara ayah. Daun telinganya berlumur darah.

Selanjutnya tiada popor. Api menjilat ruang tamu.

Aku tidak mengingat apa apa saat popor selanjutnya merangsek tulang keringku.

Tiang penyangga rumah berderit. Pria berseragam berlalu dengan derum mobil bak terbuka.

Ayahku tertawa. Sebelum api menjilat tubuh kami, ia berteriak.

“Kita ini tumbal atas ketakutan petinggi”

***