Menang ga Menang Saya Tetap Pemenang

*menulis judul postingan ini sambil muntah*

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, saya iseng mengikuti lomba menulis cerpen di @pulkam. Lomba ini kemudian diumumkan tanggal 26 hari ini. Hasilnya… Ga, saya ga menang 😀 tapi serius ini yang menang lombanya cerpennya bagus bagus, jendral!

Coba deh baca ini dan ini.

Sesuai janji, ini dia cerpen yang saya kirimkan dan belum berkesempatan menang itu. Enjoy 😀



Surau







SATU

Ibu menggegas langkahnya menyusur pematang. Hari masih sepertiga malam. Ibu dan kecintaannya kepada Tuhan terkadang membuatku terperangah. Pernah di suatu malam aku menemui beliau terpekur duduk dengan airmata bersimbah. Bercampur peluh, beliau tidak pernah tanggung dalam merangkai rakaat demi rakaat sholat. Pun melafalkan dzikir.

“Sama Gusti Alloh kok pelit.”

Itu merupakan kalimat andalan beliau saat aku lalai dalam sholat sunah atau malas menguntai biji biji tasbih. Biasanya aku dan adik adikku akan merasa malu dan bersegera mengambil wudhu. Ibu memang berasal dari keluarga yang kuat agama. Sejak aku sekolah dasar, ayah meninggal dunia. Tanpa apapun meninggalkan kami kecuali surau kecil di ujung desa. Ayah semasa hidupnya mengabdi pada surau dan ajalnyapun terjemput di sana.

Kini, aku setengah terseok mengimbangi langkah ibu. Matahari bahkan belum terbit dan aku sudah setenga terpaksa menyingkap kelambu. Sudah berbelas tahun ibu begini. Seperti ingin terus mencintai sosok ayah yang tercetak di sana.

Ibu membuka gerendel surau. Walaupun surau milik bersama namun ibu tak pernah tega melihat mimbar dan rak penyimpanan mukena diacak acak gelandangan dan pemabuk yang sesekali iseng tidur di bangunan kecil berkubah satu itu. Penduduk desapun nampaknya mahfum. Toh ibu selalu menjadi orang pertama yang berada di surau. Ibu hadir pukul dua tigapuluh pagi, jauh dari waktu subuh, jauh dari langkah penduduk desa yang ingin tunaikan solatnya.

“Sampai kapan bu, mau begini,” sekali waktu aku pernah melontarkan pertanyaan itu. Ibu sudah tua, aku akan bekerja ke kota dan adikku sudah menikah semua. Siapa yang kelak mengantar ibu menyisir pematang sawah untuk membuka gerendel surau. Siapa yang akan memastikan asam urat beliau tidak bertambah parah dan tidak terjatuh di tengah jalan.

Ibu selalu tersenyum saat aku todong pertanyaan yang diiringi cecar seperti itu. Sikap pasrah dan lillahi ta’ala beliau kerap menjengkelkanku. “Kalau kita niatkan untuk Allah, pasti ibu baik baik saja. Kamu berangkat saja ke kota nanti ibu bisa sendiri,”

Atau, seperti saat aku merengek uang SPP saat sekolah dulu. “Ibu ndak punya uang, sawah belum dibayar penyewa. Kita serahkan saja sama gusti Alloh ya nak,”

Beliau mendapatkan surat panggilan dari kepala sekolah seminggu kemudian.

Aku yakin kepala sekolah juga diberi beliau jawaban yang sama. Pria berkumis itu ketus kepadaku hingga masa sekolah usai.

Tapi begitulah ibu. Semenjak ayah ditemukan tewas dengan dua lubang bekas peluru di kepalanya, ibu sudah menjadi cukup muram. Tak tega rasanya menambah sedih perempuan yang tengah digerogoti usia itu. Ibu menepuk pundakku, alisnya bertaut. Aku mengucap istigfar dan mengekor beliau mengambil wudhu.

DUA

“Hati hati di kota ya nak. Nanti kalau lebaran kamu harus pulang. Harus temani ibu,” perempuan itu lantas membekaliku dengan sekeresek rengginang dan satu termos teh. Aku pergi ke kota siang itu. Mencari kerja.

Sepanjang perjalanan aku membolak balik buku buku ayah yang kutemukan di gudang belakang. Ayahku dulu guru ngaji. Hidupnya berkutat di surau. Mengajari anak anak iqra dan juz amma, sampai melatih hafiz dan menjadi pembicara tarbiyah. Desa kami yang berdekatan dengan pesantren ternama membuat banyak anak anak desa yang berlatih di surau agar diterima saat mendaftar kelak.

Aku bukannya tak pernah bertanya mengapa ayah tewas dengan kepala berlubang. Mengapa beliau tidak meninggal lantaran stroke, jatuh atau apalah. Alasan lain selain ditembus peluru. Tapi ibu selalu bungkam. Kami anak anaknyapun berhenti bertanya dan membiarkan saja gunjing di antara warga desa.

“Bapak Nur itu PKI!”

Belasan tahun lalu PKI memang menjadi buah bibir di mana mana. Berbagai label disandangkan kepada kelompok yang konon katanya membunuh banyak pejabat di ibukota. Namun label yang paling sering kudengar, PKI itu kelompok anti tuhan. Katanya bertujuan menhapuskan agama dna membuat semua orang memuja setan. Bagaimana bisa bapakku yang lulusan pesantren dan menjadi guru ngaji sepanjang hidupnya bisa menjadi PKI? Bapak memuja Tuhan. Mustahil bagi beliau mengobarkan anti kepadaNya.

Di satu buku, aku menemui tulisan tangan ayah dalam huruf arab gundul. Walaupun ibu menanamkan nilai agama sejak kecil namun aku tidak begitu pandai dalam tekstual agama. Layaknya ibu yang tidak mahir menulis arab, kami mencintai Tuhan dengan perwujudan taat dalam ibadah dan tingkah hidup. Yang kutangkap hanya satu dua patah kalimat tentang pemikiran dan waham baru dalam agama islam. Sisanya, wallahu alam.

Kalimat ibu untuk pulang sebelum lebaran sudah tercetak jelas di kepalaku. Akupun berniat pulang. Ke kampung, menuju ibu yang tidak pernah lelah mengirimiku surat sebulan sekali. Aku tau betul tidak mudah bagi beliau untuk mengirim surat. Kantor pos ada di kecamatan. Satu satunya cara untuk mengirim surat adalah dengan menitipkannya pada pedagang dari kecamatan yang membeli sayur mayur dari desa. Itupun dengan upah nitip yang cukup mahal. Suratnya naik mobil, sih.

Surat surat itu berisi pertanyaan apa kabar dan peringatan untuk tidak telat makan. Begitu berulang ulang. Seakan ibu mencetak surat yang sama setiap bulan. Pertanyaannya dan peringatan beliau akan berubah di bulan bulan menjelang dan sesudah lebaran. Menanyaiku kapan pulang dan mengancam tidak akan memasak opor makanan kesukaanku jika aku kelak mudik.

Dan kemudian, enam tahun berselang dan aku tidak kunjung pulang.

TIGA

Jakarta bukan kota yang mudah ditaklukkan. Setahun penuh kuhabiskan dengan menjadi cleaning service di perusahaan BUMN. Ijazah hanya SMA. Tak sanggup aku berharap muluk darinya. Tahun kedua, tabunganku mencukupi untuk mengambil gelar D1. Aku menjadi juru ketik di pertengahan tahun ketiga. Pun uangku tak cukup untuk mudik. Dulu saja ibu harus menjual dua ekor sapi untuk modalku berangkat ke Jakarta. Aku tak sempat menabung, uang gaji habis untuk kontrakan, makan dan mengirimi ibu setiap bulan.

Tahun ini, tahun keenam, aku mendapat kerja sebagai supervisor pabrik pengolahan sepatu. Kerabat presiden rupanya ingin memproduksi sepatu dengan model sama untuk dipakai anak sekolah seluruh negri. Meski kemudian upaya penyeragaman sepatu itu gagal, honorku tetap dibayar dan aku bergegas naik kereta api. Bersegera pulang. Kangen ibu.

Sepanjang perjalanan pulang, kepalaku melayang ke enam tahun silam. Saat aku dalam kereta yang sama, dalam perjalanan menuju Kota. Kini buku buku ayah kubuka satu persatu. Kali ini lebih teliti lantaran selama di kota aku berkawan baik dengan Abdullah, penjual kain keturunan arab yang mengontrak rumah dekat denganku. Abdullah yang baru dua tahun pulang ke Jakarta setelah menghabiskan masa hidupnya di Saudi bersama ibunya yang TKI itu dengan senang hati mengajariku bahasa arab.

Dan yang kini membuatku terpaku membaca, adalah kalimat kalimat arab gundul milik ayah yang diterjemahkan Abdullah ke dalam bahasa indonesia.

Islam memerlukan pencerahan, bukan sekadar agama yang dilabelkan kepada mereka mereka yang mengucap syahadat. Negara mengkotakkan islam ke dalam deretan pelengkap keterangan kartu tanda penduduk. Negara melepaskan islam dari akarnya, dari khittahnya sebagai agama yang mengatur segala aspek hidup.

Salah satunya, cara bernegara.

Bulu kudukku meremang. Gunjingan orang orang desa tidak sepenuhnya salah. Ayahku bukan PKI. Namun beliau berada di kubu yang serupa dengan PKI, sama sama musuh negara. Tidak ada satupun petinggi negara mengingini pemberontakkan. Dimunculkanlah istilah makar dan subversif sebagai pemersatu ‘nasionalisme’ dalam melawan mereka yang mengancam keberadaan negara.

Dalam buku buku yang Abdullah terjemahkan nampak jelas struktur perjuangan ayah. Pelakunya nama nama besar di pesantren dekat desamya. Aku sendiri bingung, hausnkah menyampirkan kata pejuang atau pemberontak di belakang nama ayahku.

Di Jakarta aku bekerja untuk negara dan sekarang bapakku meninggalkan catatan tentang bagaimana melawan negara. Aku katupkan buku terakhir dan mengembalikannya ke dalam tas. Tanganku menyentuh surat terakhir ibu, bertanggalkan empat bulan lalu. Sebenarnya ini salah satu alasanku segera pulang. Biasanya ibu semakin intens mengirim surat saat menjelang lebaran. Beliau akan menumpahkan rasa kangennya untuk tarawih, sahur dan berbuka bersamaku. Tahun ini tidak ada surat kangen dari beliau.

Kereta api bersambung bus antarkota dan kini aku bersesakan dengan berbagai hewan ternak di truk besar milik rumah potong hewan kecamatan. Dengan menumpang begini aku bisa membelikan ibu baju di pasar Minggu.

EMPAT

Bulan puasa di kampungku selalu sama. Udara pengap lantaran ini pertengahan kemarau. Di tiap halaman rumah bertumpuklah janur dan pelepah kelapa. Masing masing rumah membuat ketupatnya sendiri. Anak anak bermain gundu dan berlomba memandikan kerbau di sungai.

“Nur sudah pulang! Mari singgah dulu nak!,”

Adzan zuhur mengalun. Ibu pasti ada di surau. Urung aku ke rumah, kuletakkan tas ranselku di halaman buklik Parti, tetangga kami. Tidak ada suguhan walaupun matahari meranggas. Aku mahfum, itu hari keenambelas bulan puasa.

“Lama sekali ga pulang Nur!,” buklik Parti memindahkan ranselku ke atas dipan. “Ibumu ada di surau, sampai sore ngajar ngaji,”

“Ngajar ngaji?” tanyaku menguar lantaran sepeninggalku ibu tidak begitu fasih baca Quran.

Buklik Parti lantas berbicara sendiri. Mengeluhkan kebiasaan aneh ibuku beberapa bulan belakangan ini. Beliau katakan ibu jadi gemar tidur di surau. Kalaupun pulang hanya untuk mengambil satu dua barang dan akhirnya ke surau lagi. Sawah tidak terurus dan kambing kambing beliau berpindah kepemilikan. Uang kirimanku dipakai buklik Parti membelikan makanan untuk ibu.

Ibumu baik baik saja. Mungkin kesepian saja tinggal sendirian di rumah.

Zuhur sudah reda. Kupercepat langkah menuju surau. Sebuah bilik kecil di belakang mimbar kubuka tanpa ketuk. Aku kangen ibu. Sangat!

Enam tahun berselang dan empat bulan tanpa surat. Ibu menyambutku pulang dengan satu pertanyaan.

“Kenapa baru pulang?,”

Terbata aku menjawab, mengumpulkan alasan. “Saya bekerja bu.. ndak dapat cuti,”

Aku menemui raut berbeda di wajah ibu. Beliau jauh terlihat lelah, kusergap dengan cium dan peluk. Bergegas kubuka ransel. Memuntahkan buku buku bapak ke hadapan ibu. Ibu harus tau apa yang sebenarnya terjadi pada bapak. Lebih dari sekedar meninggal gara gara peluru nyasar. Bola mata perempuan itu tidak bisa menyembunyikan kejutnya.

Ia lantas berdiri dan mengambil tumpukkan buku dari lemari kayu. Disodorkannya padaku. Seperti ayah, ibu menyimpan rahasia serupa. Nama ibu tertera besar besar dalam struktur perjuangan ayah sebagai sayyidah.

Ibu mengumpulkan massa dengan berdiskusi di surau. Kepada pemudi pemudi kampung, kepada ibu ibu pengajian. Ibu membuka tanganku dan menumpuk lembaran kliping koran di sana. Walaupun aku tinggal di Jakarta, takpernah kubaca koran. Berita mengenai ancaman pemberontak negara kudengar sepintas saja.

Tidak terbayang rasanya jika ayah dan ibuku adalah pelakunya.

Seusai tarawih ibu menyuruhku pulang. “Jaga rumah baik baik. Ibu mau bicara sama anak anak pesantren malam ini,”

Aku terlambat sahur. Tidurku betul betul pulas semalam. Subuh menggantung, kutelusuri sawah seperti saat aku masih kecil dulu. Membuntuti langkah ibu menuju surau. Hanya saja kali ini tanpa ibu, beliau menungguku di sana. Tidak ada adzan, fajar kemerahan sudah nyalang di ufuk timur.

LIMA

Setengah berlari aku menuju surau. Ada perasaan sesak. Di dalam surau, bau amis menguar. Lemari penyimpanan mukena memuntahkan isinya. Berceceran di lantai. Kuteriakkan “Ibu!” berkali kali hingga kutemui perempuan itu bersimbah darah di dalam bilik.

Seperti bapak,

Dua peluru melubangi kepalanya.



***

3 thoughts on “Menang ga Menang Saya Tetap Pemenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s