Perspektif

Darimana simpulan didapat? Seperti apa perspektif terbentuk? Apakah betul betul berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir dan yang sering disebut self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, kecondongan berfikir, dan sejumlah kausal kausal lain yang mampu membentuk -bahkan mempengaruhi- sebuah sudut pandang dan simpulan?
Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi itu tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Postingan kali ini akan mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan ini. Indonesia rupanya tengah mengalami masalah pelik dengan terorisme dan radikalisme agama. Terakhir kabar, saya mendengar mengenai situs situs propagandis berbau agama yang tengah marak dan akan diblokir oleh keminfo.
Sejak awal penciptaannya hingga masa manusia yang berada di era paleotikum percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju, manusia mulai percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa. Dewa dewa dalam ujud mirip manusia dan binatang yang disucikan. Keyakinan ini melebar sejak abad satu hingga sembilan, bermunculanlah agama agama semitik (agama yang berasal dari daerah timur) seperti yahudi, kristen, islam dan lain sebagainya.
Kemudian sampailah manusia di era post-modern. Gejolak sains dan penemuan penemuan ilmiah pada awal abad 16. Porosnya ada di negara negara eropa. Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama semitik yang mulai kuat saat itu mendapat goncangan cukup berat hingga menimbulkan pertikaian. Selebrasi ilmu pengetahuan di negara itu tidak bisa dibendung dan merambah ke benua benua lain hingga akhirnya perspektif orang orang barat (atau sederhananya: Negara Maju) saat ini terhadap apa yang kita sebut sebagai ateisme, sekularisme, liberalisme menjadi biasa saja.
Membebaskan definisi tuhan. Kira kira begitu sebutan saya atas apa yang orang orang so-called berpendidikan ini lakukan. Mereka membebaskan tuhan dari lingkup baku ajaran agama yang tertuang dalam kitab kitab kanon. Ada yang membebaskannya dari ritual, ada yang membebaskannya dari ujud, dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Ditiadakan.
Ini disebabkan sejak era post-modern bangsa eropa-amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan sampai perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, sepertinya, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.
Meski kemudian, teori reltivitas yang saya percayai mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan kemungkinan masih adanya sikap radikalisme, antisekularis dan lain sebagainya di negara negara dengan sejarah peradaban yang mencapai belasan abad itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentunya.
Waktu, ternyata juga mampu mempengaruhi sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasikan fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad, dimulai sejak masa prakolonial. Indonesiapun mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah “berdamai” dengan ledakan ilmu pengetahuan dan pengaruhnya atas konsepsi ketuhanan, Indonesia baru memulai fase animismenya. Lalu berjalan menjadi dinamisme, hingga akhirnya islam masuk melalu pedagang Arab dan masa kolonial dari Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospel (kristen)nya.
Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai ledakan ilmu pengetahuannya sekarang, sejak era milenium.

Mengapa saya menyebut pasca 2000? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal Achdiat K Miradja dan buku Ateisnya, PKI dan tudingan Komunis, hingga Siti Djenar di era Wali Songo? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa nyaris merdeka hingga orde baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsepsi ketuhanan. Ini adalah era post-modernnya kita.
Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era sekarang. Sejak munculnya tokoh Gus Dur sebagai bapak pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari post-modern menjadi modern. Tren melawan arus, gelombang mahasiswa sayap kiri, hingga meluasnya penganut pluralisme, liberalisme dan sekularisme.
Dan saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk dan kelompok kelompok pemuda. Sungguh berbeda dari empat puluh tahun silam.

Maka sekarang lihatlah, indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Amstrong, Stephen Hawking, hingga Madilog Tan Malaka menjadi bacaan setiap orang dan (bahkan) menjadi sumber studi. Masing masing mulai membebaskan tuhan dari koloni koloni kanon. Dalam perjalanannya, tentu, akan ada perlawanan. Sisa sisa dari era post-modern. Indonesia tengah mengalami eranya sendiri. Melawan radikalisme, menentang upaya agamaisasi dan lain sebagainya.
Mungkin, setelah satu-dua abad gejolak ini menggeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif, negara ini akan menemukan kemerdekaannya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga -waktu- menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan menjadi lepas sepenuhnya di masa mendatang.
Apa yang kita lihat sekarang adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad dan upaya upaya perlawanan frontal dari yang tidak mengkehendaki ledakan ilmu pengetahuan ini terjadi. Yang tidak mengharapkan Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Amerika.
Namun, bisakah kita menghentikan udara?

Saya menempatkan diri dalam perspektif tidak setuju, empat tahun lalu. Saat masih mengkonsumsi Sabili, Eramuslim dan buku buku yang disebut sebagai pencerahan islami. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca Sabili dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, empat tahun berselang, saya menyetujui sekulerisasi dan pluralisme. Dengan alasan yang sudah saya jelaskan di sini.
Inkonsistensi? Tidak tetap pendirian? Peragu?
Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari sudut ketiga. Bukan sepenuhnya self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.
Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Separates

Saya tengah betul betul merindukan moral support dalam wujud pukpuk di kepala dan kawan berbicara dalam bentuk nyata. Satu dua masalah tengah singgah pada saya dan juga keluarga. Kakak sedang dalam masalah dan saya merupakan yang paling sibuk mempersiapkan segala kebutuhan beliau.
Kakak memerlukan dukungan besar dan rasanya tenaga saya habis untuk menjadi penyemangat beliau. Semoga masalah ini cepat selesai. Agak sedih rasanya menemukan ruang tengah selalu dipenuhi argumen dan pekikan sesekali.
Kemudian, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa naskah novel Senja Merah tidak kunjung mendapat tanggapan resmi. Dalam postingan sebelumnya, saya menulis bahwa Senja Merah ditanggapi oleh Media Kalimantan, namun tanggapan itu baru sebatas pemberitahuan seorang kawan bahwa penerbit yang bersangkutan menganggap naskah saya menarik. Belum ada kelanjutan. Rasanya seperti terus berdebar debar dan kehabisan tenaga.
Dua hal di atas menguras energi saya hingga batas maksimal.
Hanya pada saat seperti ini, saya mendambakan kawan yang mampu mendengarkan tanpa banyak bertanya. Kepala saya rasanya sudah tidak sanggup menampung lebih banyak pertanyaan tentang kenapa kok bisa kapan bagaimana gimana. Dan sialnya, saya tengah jomblo dan sudah dua tahun tidak memiliki kehidupan sosial.
Pacarin saya, anyone?
Seminggu terakhir sudah mencoba menahan nahan untuk tidak menulisnya di manapun. Hingga akhirnya tercetus juga postingan berisi keluh kesah ini. Saya setidaknya memetik satu hikmah dari masa muda saya, bahwa menyimpan masalah dalam kepala sendirian itu tidak baik.
Dan sekurang kurangnya, blog, pada akhirnya adalah satu satunya kawan di mana saya bisa curhat tentang apa saja tanpa harus mendengarkan pertanyaan kok bisa kenapa kapan bagaimana gimana. Dan blog tidak pernah sekalipun melontarkan kalimat bijak sok dewasa atas setiap posting bernada keluh dari saya.
Sebab, bagi saya, kalimat kalimat bijak dan berpanjang panjang nasehat bukanlah tanggapan terbaik dari setiap lontar isi kepala saya. Senyum, dan tepukan ringan di bahu lalu saya kembali membicarakan hal hal ga penting. Apapun, agar semuanya tertinggal di belakang, bukan bergelayutan dalam kerangjang kenangan berjejalan dengan kalimat kalimat nasihat sok bijak.
Aih, Nani yang hedonis…

Repost : Telepon Tuhan

Sore itu kuseduh segelas kopi. Kuaduk pelan dan kusesap aromanya beberapa saat. Harum, kalau ini sebangsa teh, pastilah namanya teh poci atau teh melati. Kulirik bungkusnya, tanpa nama, putih keabuan tanpa marka. Kuangkat bahu sepintas, tak penting apa namanya, yang penting aku tau ini kopi.


Sebentar, darimana aku bisa tahu bahwa yang sedang kusesap baunya ini adalah kopi? Karena warnanya hitam pekatkah? Ah, aspal juga warnanya hitam. Oli juga, air got, dan berputarlah nama nama cairan berwarna hitam di kepalaku. Sendok kecil masih berdenting sesekali saat berbentur dengan dinding gelas.


Kuletakkan gelas berisi kopi (atau sesuatu –apapun itu-yang kuanggap sebagai kopi) di atas meja dekat telepon. Berseberang dengan meja kecil bermahkota telepon, ada televisi, tengah menyala. Suaranya pelan, kumatikan sekalian. Kulirik telepon bertombol belasan itu. Kopi masih mengepul, urung kuminum. Gagang telepon berderit gaung, gegas kupencet beberapa digit nomor. Tut.. tut..


“Halo,” aku bersuara kala nada ‘trek’ terdengar di ujung sana.

Masih diam, kuulang mengucap halo.


“Hey, kamu rupanya, lama betul tak menyapa” suaranya masih sama, selalu sama, menyejukkan dan semilir.

“Saya kangen” ujarku.


Aku sudah nyaris lupa kapan terakhir aku menghubunginya. Rasa rasanya sejak aku berhenti meminum kopi. Atau sejak aku melupakan aroma teh melati. Entahlah, suaranya kini mengetuk kepalaku.

“Ah kamu, kalau kangen kenapa tak pernah menelpon?”


Aku kini terkikik mendengar jawabannya, dia benar, bagiku kata kangen sudah seperti rutinitas semata. Setiap hari aku mengatakan kangen nyaris kepada semua hal. Lama lama kangenku menjadi blur, antara kangen sungguhan atau kangen basa basi.


“Saya sedang sibuk, dunia sedang seru akhir akhir ini,” sahutku.

Aku lantas mereka reka kejadian terakhir dalam hidupku. Kantor, rumah, buku buku, kantor, rumah, buku buku. Ya ya, seru sekali rupanya, aku melengus sendiri.


Suara di seberang sana kini memintaku diam dan mendengarkannya. Aku terlalu sayang pada pemilik suara hingga jangankan membantah, bernafaspun rasanya tidak kulakukan saat menikmati suaranya.

“Aku mengerti, kamu terlalu sibuk memikirkan sesama manusia dan kompleksitas mereka, bukan?”

Suaranya berjeda, ada nada tanya. Entah retorik entah sungguhan menanti jawab.


Aku diam, bisa kudengar nafasnya di gagang telepon. Ah bahkan mendengar nafasnya saja, aku sudah mabuk kepayang, diam dalam diam. Kini aku dan dia sama sama diam. Aku menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan. Aneh, meski kami berbicara lewat telepon, dia bisa tau bahwa aku tengah menggeleng.

Dia memang selalu memukauku dengan segala keanehannya.


“Lalu kamu sedang berfikir tentang apa?” cecarnya setelah melihatku menggeleng

“Saya memikirkan kapan saya naik pangkat, kapan saya bisa membangun rumah yang lebih besar dan kapan buku buku itu habis saya baca” jawabku. Aku tidak pernah mampu berbohong padanya.


Kini nafasku yang terdengar di gagang telepon. Tunggu, darimana aku tau bahwa ini adalah nafasku bukan nafasnya? Apa yang membuat nafas kami begitu berbeda padahal keduanya hanyalah soal menghirup dan menghela semata? Telepon bergeresak, kusepak kabel biru yang melalar keluar jendela. Kini geresaknya hilang, berganti suara.


“Kamu membuatku sedih…” ucapnya yang kemudian disusul kebekuan suara, nafasnyapun tak terdengar.

Aku panik, tak pernah kubayangkan lebih lebih kuniatkan untuk membuatnya sedih. Jemariku kini melilit lilit kabel ulir yang menautkan gagang telepon dan papan plastik berisi belasan nomor. Kini kudengar nafasku sendiri, berderu deru nyaring memburu. Sekarang aku mengerti apa yang membedakan nafasku dan nafasnya. Nafasnya selalu sama, lembut teratur menentramkan jiwa. Nafasku bermelodi, kadang tinggi kadang lambat kadang tak ada sama sekali. Rupanya nafas bukan hanya soal menghirup dan menghela semata. Ada nyanyian di sana.


Teleponku masih bungkam. Aku mulai menangis, jemariku kini mengusut lelehan airmata yang mengaliri ceruk pipi, leher hingga nyaris ke dada. Isakku rupanya tertangkap gagang telepon dan sampai ke ruang dengarnya.

“Terlalu banyak kata ‘saya’ dalam jawabmu, aku sedih, rupanya jangankan aku, orang orang di sekitarmupun tak mendapat porsi dalam pikiranmu” suaranya merdu, paling merdu,


Airmataku kering, ingin kulontarkan maaf untuknya. Tapi urung kulakukan. Saat ini tak bisa kubedakan apakah maaf yang kurasakan adalah maaf sungguhan atau sekedar maaf basa basi. Jutaan maaf kuucapkan

kepada jutaan hal setiap hari. Hingga batasan maaf sungguhan dan maaf basa basi menjadi kabur, baur.


“Aku tau kamu menyesal, oh aku terlalu menyayangimu hingga tak bisa sesaatpun menguntai benci padamu” suara paling merdu itu kembali menguar.

Heran, dia selalu bisa membaca pikiranku.


“Saya tidak suka mereka, mereka penuh benci dan prasangka” gumamku, meraih remote televisi, menghidupkannya, mencari cari kanal berita. Suara televisi kutiadakan. Aku tidak perlu suara lain jika dia yang bersuara di ujung telepon sudah mampu memenuhi segala kebutuhanku akan suara.


“Kamu tidak suka pada mereka yang penuh benci? Hahaha” dia tertawa dengan tawa paling indah yang pernah kudengar.

Heran, suara tawanya saja mampu membuatku turut senang.

“Saya tau, saya tak berbeda dengan mereka yang membenci jika bagi saya masih ada rasa tidak suka” Aku berpura pura menggerutu, ingin menarik perhatiannya.


Sejurus kemudian aku sadar, tak perlu berpura pura, dia selalu memberiku perhatian. Ah, rasa sayangnya padaku memang keterlaluan!

Lagi lagi dia seperti membaca pikiranku, kini bertanya.


“Kamu sayang padaku?” ucapnya, tanpa nada klise sama sekali.

Aku, entah, rasa rasanya sudah bermilyar kali mendapat pertanyaan seperti itu dari bermilyar hal dalam hidupku.

Hingga remang bagiku batasan atas pertanyaan klise dan pertanyaan basa basi dari tiga kata itu. Kamu-sayang-padaku?

Aku biasanya tak menjawab, sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk tidak menjawab segala hal yang masih (atau sudah) tak jelas batasannya bagiku. Tapi kali ini berbeda, pertanyaannya sama sekali tidak terdengar klise. Begitu tulus, paling tulus.


“Tentu, saya sayang padamu.” Kubiarkan suaraku terdengar menggantung, mengharap respon. Percuma, sebenarnya, dia selalu memberi respon atas semua pertanyaan dan pernyataanku. Hanya aku yang dibuai sibuk oleh keakuanku hingga lupa dan hilang perhatian atas responnya. Kali ini kucermati suaranya. Dia kembali menguntai tawa.

“Aku senang, kamu rupanya masih sayang pada dirimu sendiri. Susah ya, untuk berhenti tidak menyukai?” tanyanya lagi, kabel ulir menyentuh mulut gelas, nyaris menyentuh genang kopi (atau sesuatu yang kuanggap kopi) di atas meja. Kusentak perlahan, riak permukaannya kini tenang, tidak pula terlihat kepul asap berbau wangi dari dalam gelas. Sepertinya sudah dingin


“Televisi sedang menjualmu” kupaparkan padanya tentang iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Ada hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

“Saya kesal kamu dijual begitu” lanjutku

Dia tertawa lagi. Dia selalu menemukan cara untuk menertawakan apa yang kubenci dan mengundang

marahku. Dia humoris, paling humoris.


“Biarkan saja, yang menjualku justru bisa membuatku semakin terkenal. Kalau aku sudah terkenal, aku akan muncul di spanduk spanduk dekat kantormu, papan iklan di depan rumahmu, bahkan di setiap sampul buku yang kamu baca,” ujarnya, terdengar riang.

Dia melanjutkan dengan nada semakin riang


“Jadi, kamu akan menemukanku di kantor, rumah dan buku. Di setiap pikiranmu. Kamu akan selalu kangen padaku, duh, senangnya”

Aku tersipu, dia masih ingat hal hal kecil tentangku.

“Ah kamu! Saya jadi geer nih. Beberapa dari mereka selalu mencoba mengklaim bahwa kamu hanya milik mereka. Yang tidak setuju dimusuhi. Kadang, yang dimusuhi membalas mengklaim kamu. Mereka berebut kamu. Saya sebal sekali” gerutuku tak berbendung.


“Ciee.. kamu cemburu?” dia menjawab, dengan pertanyaan baru.

Wajahku terasa panas, kupingku apalagi, seperti ada yang mengigit gigit. Berkali kali kutepis anak rambut yang sebenarnya tak jatuh ke wajah. Gila, dia selalu tau cara membuatku salah tingkah. Jawaban terjujur kini tercetak di wajahku, aku bersyukur menghubunginya melalui telepon sehingga ia (kupikir) takkan bisa melihat wajahku. Aku berdehem, mencoba mengalihkan pertanyaannya.


“Kamu sedang sibuk?” tanyaku, mengambil sepotong koran dari bawah meja. Koran pagi tadi, kulipat kecil dan kukipas kipaskan pada wajahku yang merah padam.

“Hihihi, aku tidak pernah sibuk, engga seperti kamu yang sibuk terus sampai lupa buat kangen padaku,”

“Ah. Iya deh saya minta maaf,” aku kembali memasang nada merajuk padanya.

Dia kembali tertawa, “Eh, jadi kamu engga cemburu nih sama mereka yang sibuk memperebutkanku?”

Aku bergumam gumam.


Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi terfokus pada genangan kopi dalam gelas. Aku menatap televisi, ada ratusan orang tengah berteriak teriak sambil memukuli pria bercelana sarung. Pria itu tersungkur, wajahnya tunarupa. Bilur biru di sekujur tubuh. Aku melihat balok kayu dan laras besi menghujani tubuh si pria bercelana sarung. Sumpah serapah mengalun disela teriakan teriakan. Aneh, padahal televisi sudah kutiadakan suaranya, namun masih saja jeritan si pria bercelana sarung saat meregang nyawa hinggap di kupingku. Mungkin juga hinggap di gagang telepon, tersampaikan padanya.


“Mereka meneriakkan namamu saat membunuh pria itu,” bisikku pelan. Begitu pelan hingga aku ragu ia bisa mendengar kata kata yang bahkan tak sampai ke kuping kiriku itu.

“Siapa bilang itu namaku?” ia menjawab dengan tenang.

“Tapi televisi bilang itu kamu, namamu” aku lantas terdiam. Kata kata itu meluncur mendahului otakku untuk memikirkan maksudnya apa.

Dia masih di sana, menjawab dan terus merespon setiap nafasku.

“Jadi sekarang kamu lebih sayang televisi nih dibanding aku?”

“Huh! Nanti lama lama kamu bisa berhenti kangen padaku. Soalnya kamu fikir aku sudah ada di televisi,”


Aku tau dia hanya bercanda, tak pernah merajuk. Tidak sepertiku yang begitu mudah ngambek dan mogok menelponnya kala dia (kuanggap) tidak meresponku.

“Kalau suatu saat, mereka tau bahwa saya selalu menelepon kamu, lantas telepon ini diambil karena saya dianggap merebut kamu dari mereka, gimana?” lega, apa yang mengganggu pikiranku sejak melihat televisi tadi kini sudah kutanyakan.


Tut… tut… tut…

Telepon terputus tiba tiba.


Kutarik tarik kabel biru yang menjalar lewat jendela. Kupencet pencet tombol redial. Setengah putus asa kuguncang guncang papan plastik berisi belasan nomor. Tak sengaja tersenggol gelas kopi, prang! Pecah di lantai ubin. Aku kini menangis sejadinya, genangan pekat kopi bercampur lelehan airmata. Teleponku padanya tak pernah diputus (atau mungkin terputus) tiba tiba. Genangan kopi yang tak sempat terminum itu merembes ke karpet, perlahan mengalir hingga menyentuh steker listrik untuk televisi. Aku melihat percikan bunga api, perlahan membesar lantas terdengar letupan.


Televisi hitam, korslet.

Telepon berdering. Aneh, kabel biru yang menjalar di jendela telah kucabut. Bergegas kutempelkan

gagangnya ke kuping kanan.

“Dasar cengeng,” dia tertawa, aku merengut sambil menyeka airmata.

“Jangan lakukan lagi, saya kira kamu meninggalkan saya” suaraku tertahan tahan, mengisak isak.


“Habisnya, kamu selalu berbicara tentang televisi. Aku kan jadi cemburu,”

Aku menatap layar televisi yang hitam. Tidak lagi kulihat iklan yang menjualnya secara grosir maupun eceran. Beserta sumber tenaga yang bisa diisi ulang dengan dicolokkan ke listrik. Juga tentang pernak pernik pendukungnya. Yang berwarna hijau, hijau sekali, putih, merah, biru hingga marka marka berbentuk kotak, gumpalan rumput berbuah, kepalan tangan hingga silangan senjara tajam.

Tidak pula kulihat pria bercelana sarung yang dipukuli sampai mati oleh ratusan orang yang meneriakkan namanya di sela hujan sumpah serapah. Ruang tengah rumahku kini begitu tenang. Aku kini mengerti, bahwa dia hanya cemburu.


Bahwa dia ternyata tak ingin aku membenci orang lain karena televisi. Aku tersenyum, kuucapkan selamat malam padanya.Menuju tidur.

“Baiklah, kamu harus tidur, aku akan sangat kangen padamu. Hm.. sebelum kamu tidur, aku boleh ucapkan sesuatu?” aku menghela nafas, kusiapkan diri untuk menerima ucapannya.

“Apa itu?”


Suaranya nyaris samar. Antara udara malam dan aku yang kian mengantuk.

“Kamu tidak perlu melaporkan semua kebencian yang menguar di televisi padaku. Percayalah, aku sudah tahu

bahkan sebelum pria bercelana sarung itu mati dipukuli orang orang yang meneriakkan, kata televisimu, namaku. Aku sudah tahu bahkan sebelum iklan tentangku dimuat di televisimu. Kamu tidak membenciku karena ini, kan? Aku tahu bahwa kamu takkan menganggapku telah membiarkan mereka saling membunuh karena memperebutkanku. Aku tahu, dan aku akan bekerja dengan caraku.,”

Senyumku semakin lebar saat dia mengucapkan selamat tidur untukku. Kututup telepon dan mengulangi kata katanya.

Bahwa;


Dia ada, Paling Ada. Dia tau, Paling Tau.



***

Ditulis di hari Minggu, enam Pebruari 2011. Hari ini tiga orang meninggal dan sedikitnya 25 Jemaah Ahmadiyah Indonesia luka luka. Penyerangan dilakukan 500an orang di masjid mereka di Cikeusik, Pandeglang Banten.