Dawn

Terbangun di subuh hari selalu membuat saya gelisah. Gelisah ingin tidur lagi, dan gelisah terhadap terlalu banyak hal yang saya pikirkan. Kebiasaan lama, mengawang-menerawang membiarkan banyak hal mengisi kepala. Baik nyata maupun harapan.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa novel Senja Merah yang saya tulis mendapat tanggapan dari Media Kalimantan, sebuah koran sekaligus (penerbit?) yang ada di Banjarmasin. Kabar ini, yang paling banyak mengisi subuh-mengawang awang saya 😀
Membayangkan kelak, saya bisa memperkenalkan diri sebagai penulis dengan tulisan yang dikaryakan kepada orang orang baru. Atau, mengatakan pada tuan hujan bahwa saya menulis buku, yang menurutnya; “Penulis itu hebat. Menuangkan isi pikiran dalam bentuk lisan tuh susah, apalagi menulisnya”
Lagi, saya suka menya menye sendiri akhir akhir ini. Berkat postingan sebelumnya, saya sukses menyerahkan diri dalam dekapan kenangan. Membuai, menenangkan dan rasanya nyaman. Menjebak. Harus menghentikan kebiasaan tidur sampai larut malam. Dan juga kebiasaan tidur awal lalu terbangun tengah malam lalu terjaga hingga pagi 😐
Sedang menyukai Goro Goro milik Putu Wijaya. Buku yang sudah lama tersimpan dan akhirnya sempat dibaca sampai habis minggu lalu. Putu Wijaya, jika disampirkan dengan Seno Gumira (penulis kesukaan saya selama ini), memiliki unsur tata bahasa yang lebih baku. Tidak senyastra Gumira dan tidak segamblang Wiji Thukul. Goro Goro hadir dengan bahasa yang nyaris seperti contoh contoh kalimat di KBBI. Tentang pak Amat dan kritik sosial-pemerintah-sistem-lingkungannya.
Yang menarik, meski menggunakan gaya bahasa ter”kalem” jika dijajarkan dengan buku buku yang saya baca selama ini, Goro Goro tetap mampu memikat untuk dibaca sampai tuntas. Walaupun harus memakan waktu seminggu untuk seorang pembaca lamban seperti saya.
Saya adalah reviewer yang buruk. Sebenarnya ingin bisa menulis resensi yang baik atas buku-musik-film yang tengah saya baca-dengar-tonton dan sukai (atau tidak). Tapi review saya selalu terhenti di titik “memberikan informasi seputar author-musisi-aktor”. I’m bad on memorizing name and numbers. Saya selalu lupa berapa award yang V for Vendetta menangkan, kapan Goro Goro diterbitkan, apakah Putu Wijaya masuk dalam angkatan ’66 atau ’45 bersama Chairil Anwar dan W.S Rendra. Juga di mana Adele dilahirkan.
Yang pasti, simpulan saya, Goro Goro milik Putu Wijaya adalah kumpulan cerpen (?) dengan tokoh utama tunggal yang menarik. Satu satunya kritik adalah jumlah halaman yang terlalu banyak. Untuk pemalas seperti saya, membaca 485 halaman yang isinya huruf semua adalah pekerjaan besar untuk dilakukan.
Entah lantaran membaca halaman tentang transmigrasi di Goro Goro atau pengaruh hal lain, saya jadi semakin memikirkan tentang pergi dari kota ini. Tentang kawan yang telah menginjakkan kakinya di kota asing, negara asing. Sayapun ingin, sekedar duduk diam dan mengamati laju waktu di suatu sudut kota lain. Keinginan ini makin kuat, semoga akhir tahun saya bisa pergi.
Sepertinya tulisan ini harus saya akhiri sebelum isi kepala saya tertumpah semuanya. Harus kembali tidur, matahari mulai terbit dan corong masjid mulai meredakan suaranya.
Sampai jumpa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s