Senja Merah. 161-165

Keberlaluan

Ada tahun yang berlalu, ada udara yang mengalir pergi. Kini di sudut ruangan, ada seorang wanita tengah duduk di kursi malas. Kacamata baca masih menempel di wajahnya, matanya setengah terpejam, buku buku berserak di meja yang menganggur diam di sampingnya.

Wanita itu setengah tertidur tapi kepalanya masih terus mengenang. Ada dua interval lima tahunan yang membuat jantungnya hampir meledak lantaran menunggu hasil pemilu. Hatinya kemudian mencelos lepas dari rongganya ketika tahu, presiden itu terpilih lagi. Untuk yang keempat, kelima, dan entah berapa kali lagi.

161 | S e n j a M e r a h

Wajahnya kini dihiasi satu dua kerutan, matanya tak lagi awas. Usianya 42 tahun hari itu. Baginya, ulang tahun terasa seperti kokang senjata milik berseragam. Ia diingatkan, bahwa bertambah lagi satu tahun tanpa Sloan. Ia diperingatkan bahwa dirinya kian tua, pun dengan Sloan, pria yang terus ditunggunya sejak usia 19 tahun. Ada puluhan tahun yang ia lewatkan untuk menanti pria itu, dengan perasaan yang tak pernah berubah. Dengan rindu yang kian hari kian membuncah.

Wanita itu Wenggini. Waktu yang berlalu membuat dirinya kini sendirian. Ia tak pernah menikah meski ada empat pria melamarnya hingga usianya 35 tahun. Bibirnya selalu berkata bahwa ia menunggu Sloan. Pria yang terlanjur dirinduinya setiap hari. Banyak yang tak menyerah dan terus mencecar, Wenggini tak pernah takluk. Ia tempeleng laki laki yang menyebut Sloan sudah mati di penjara dan dirinya tak perlu menunggu.

162 | S e n j a M e r a h

Wenggini masih terpejam, kembali mengingat waktu yang berlalu.

Ada pamannya, delapan tahun lalu, yang mati lantaran sakit. Wajar, usianya renta dan lama tinggal di pembuangan. Pamannya tak pernah memberitau Wenggini tentang isi amplop Sloan yang satunya. Laki laki itu benar benar bungkam hingga akhir hidupnya.

Kini delapan tahun lewat, Wengini tak bisa lakukan apa apa untuk bebaskan Sloan. Ia hanya bisa menunggu, menunggu kapan pemerintahan presiden hitam putih berlalu.

Perempuan itu tersenyum sinis mendengar pikirannya menyentil presiden hitam putih. Ia pernah menulis cerita pendek, yang kemudian diterbitkan pada majalah mingguan skala nasional. Penerbit majalah adalah orang merdeka, meski tak tergabung dalam partai Sloan, ia mengagumi kemerdekaan. Diterbitkannya tulisan Wenggini dengan nama samaran. Beberapa bulan setelahnya, majalah mingguan tak lagi terbit. Konon, pemerintah membredelnya.
163 | S e n j a M e r a h

“Pemerintah negara ini adalah individu takut, mereka memiliki obsesi berlebih terhadap kekuasaan hingga menjadi sangat paranoid pada kemungkinan lengsernya mereka. Mereka ketakutan, pada fiksi sekalipun”

Kalimat pamannya kini menggema di kepala perempuan itu. Wenggini tak tertangkap, iapun enggan menulis lagi, nyawanya terlalu berharga hanya untuk mati di tangan orang orang paranoia.

Ada tahun tahun berlalu, setelah kematian pamannya. Suatu sore Wenggini berjalan kaki, menuju pasar. Dekat pembuangan sampah, ada mayat laki laki, bertatto. Siluet harimau menyala di tengah tumpukkan kubis busuk. Kepalanya berlubang.

Dia Bejo.
164 | S e n j a M e r a h

Wenggini tak terkejut, meski enam tahun ia mengenal pria itu di prostitusi. Ia melangkah, berlalu.

Tahun ke tahun, mayat mayat bertatto menjadi buah bibir. Di mana mana dipergujingkan, ada yang setuju, lantaran jumlah preman dan angka kejahatan berhasil ditekan. Wenggini mendengus dan ngedumel dalam hati.

“Ketika manusia berperilaku seperti hewan untuk menghentikan perilaku orang lain yang mirip binatang, apa lagi yang layak mereka sombongkan?”

Ditatapnya mobil jeep yang berlalu lepas melempar satu lagi mayat bertatto di pembuangan sampah pasar. Seakan memperingatkan, siapa saja yang bertatto akan berakhir menjadi seperti itu.

Wenggini kini menengadah, matanya terbuka sepenuhnya. Kembali mengingat tahun tahun yang berlalu, sejauh ingatannya, ada banyak pembantaian yang terjadi. Ada rumah rumah tuhan yang di bakar, ada pelabuhan yang dipenuhi mayat berlubang peluru. Ada buruh pabrik yang mati mengenaskan lantaran menuntut kenaikan gaji.

165 | S e n j a M e r a h

Sejauh ingatannya mengorek ruang ruang kenangan di kepala, yang Wenggini ingat hanya darah, mayat, dan bisik ketakutan atas letidakkuasaan. Dari kejauhan, Wenggini mendengar suara trumpet menyeru nyaring, diiringi tabuhan marching band dan riuh tepuk tangan.

Hari itu ulang tahunnya, juga ulang tahun negara itu.
Dalam sekali hela nafas yang berakhir lemah, bisiknya tertangkap udara

“Selamat ulang tahun, yang belum juga merdeka..,”

2 thoughts on “Senja Merah. 161-165

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s