Resolusi 20

taken from here
Kali ini saya tidak memikirkan resolusi spesifik-lenjeh-dramatik seperti biasanya. Baik untuk tahun baru dan ulang tahun ke 20, sepuluh hari lagi. Bukan menjadi pesimis atas kemungkingan tidak terwujudnya resolusi itu, tapi lebih kepada saya sudah sangat cukup puas dengan apa yang saya punya sekarang. 
Tapi tentu saja, pada dasarnya saya adalah Nani yang selalu berpengharapan sangat tinggi. Dan semoga berkekuatan cukup untuk mengejar harapan itu lebih giat lagi. Menghadapi usia 20, menuju kepala dua, menjadi ketakutan tersendiri buat saya. Saya yang belum mampu merendahkan suara dan tidak terlalu bersemangat saat menguntai cerita, belum mampu mengimbangi percakapan orang orang sekitar saya, belum menjadi apa apa…
Sisi baiknya, saya berusia 20 tahun dan sekarang sudah di Jakarta. Memiliki pekerjaan yang (sepertinya) bisa menghidupi saya. Terlepas dari kausal terakhir, hey, saya di Jakarta! imajinasi terjauh sudah direngkuh, saya tidak punya banyak alasan untuk mengeluh terhadap hidup. 
Seperti resolusi resolusi sebelumnya, saya menutup postingan kali ini dengan sederet harap. Semoga saya bisa bekerja dengan lebih baik, menahan kangen terhadap rumah dengan lebih baik lagi, semoga dapet pacar #eaaaaa, semoga 9gag engga menjarah jiwa saya lebih jauh lagi…
semoga semuanya berjalan dengan baik baik saja, dan lebih baik lagi


Advertisements

Politik

Ayahku tahanan politik. Usianya 39 tahun kala namanya muncul di media nasional. Di ulang tahunnya yang ke 40, ayahku dihukum mati. Kalimat terakhirnya yang kurekam adalah “Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu” 

Ibu merupakan orang yang paling terpukul atas kematian ayah. Ia mengutuk politik yang telah menjadikannya janda. Politik adalah hal terbusuk yang pernah ada, ia menggerogoti setiap jiwa lalu membunuhnya dengan semena mena. Di mata ibu, politik berwujud serupa monster, mungkin zombie. Sebab zombie membunuh, memakan dan menggerogoti.

Aku beranjak dewasa, keingintahuanku atas politik semakin besar. Bukan sebagai tataran zombie versi ibu, bukan pula dalam konteks pembunuh ayah. Aku ingin tahu mengapa poliyik begitu membius, hingga seorang pria tinggi besar dan berpendirian kuat seperti ayahku, terhasut.

Di suatu senja, ibu berteriak senyaringnya “Jangan sakiti ibumu seperti ini. Cukup ayah yang dibawa pergi.” tangisnya membanjir. Tapi aku tetap pergi, belajar politik di benua seberang. Lama sekali, bertahun tahun aku tidak pulang. Pun memberi kabar. Sekali suratku terpulangkan, ibu tak sudi membaca rentetan kata pemberi kabar dari seorang anak pembangkang.

Tapi hasratku tak bisa dibendung, rasa ingin tahuku meninggi. Selama belajar aku mengalami kekaguman luar biasa. Politik adalah tempat di mana aku bisa didengar, memiliki ideologi sendiri dan bahkan, menularkan pandangan itu kepada orang lain. Kawanku bertambah banyak, dan semuanya sepaham denganku. Sungguh, politik menjadi semacam surga.

Kepulanganku tanpa hadir ibu. Tetangga bilang beliau sudah berpindah, ke tempat yang jauh, tidak jelas di mana. Aku kehilangan fokus mencari ibu saat seorang di pemerintahan mengajakku bergabung. Akupun berpolitik. Bermain politik, menjadi politik. Beberapa tahun seusainya, aku berhasil menemukan ibu berkat kawan kawan intelku.

“Saya kangen ibu,” Ibu mendelik, beliau sulit percaya sebab wajahku terlalu sumringah untuk seseorang yang tengah merindu. Wajahku memang aneh belakangan ini, mungkin lantaran senyumku selalu berlebihan. Senyum itu berharga banyak, untuk menunjukkan keramahan pada calon pemilih, petinggi, penguasa.. atau mungkin aku terlalu sering melihat senyumku sendiri di papan papan besar pinggir jalan.

Tapi ibu tetap memelukku. Sebenci apapun beliau terhadap politik yang sudah menjadikannya janda, aku tetaplah anaknya. Bertahun tahun kemudian ibu selalu hadir dalam kepentingan politikku. Ia berdiri di belakangku saat pidato, saat aku menjadi ketua partai. 

Ia juga hadir, tersenyum, saat aku menjadi presiden.

Tahun berlalu dan hubunganku dengan ibu baik baik saja. Aku bahkan sudah menarik kesimpulan bahwa kebenciannya terhadap politik sudah sirna. Aku memang tak mampu menghapus status jandanya, tapi setidaknya aku memberinya rumah besar dengan banyak pelayan untuk diajak bicara. Sehingga ia tidak benar benar kesepian. Yang aku tidak tau, sediam apapun ibu atas ulahku, ia tak pernah setuju aku berkawan dengan politik.

Di suatu sore, aku ditawan. Dalam sebuah bangsal di pulau buangan aku diinterogasi. Tentang keinginan terselubungku mengubah haluan negara. Mengkiblatkan ideologi ke muka benua asing tempatku bersekolah dulu. Aku tak mampu melawan, sebab itu ada benarnya walau tak sepenuhnya benar. Lagipula, dengan semua ikatan dan siksaan itu, tak sanggup rasanya aku melawan. Bersuarapun tidak, lidahku telah diiris oleh catut dan bayonet..

Usiaku menjelang 35 saat media nasional mendengungkan namaku berminggu minggu. Enam bulan setelahnya, puluhan bersenjata berbaris di depanku tepat sebelum kantong berwarna hitam membungkus kepalaku. Aku tau aku akan mati. Presiden termuda akan dieksekusi mati. Entah insting apa. aku seperti melihat ibu di atas genting. Walau kutau, sungguh, itu mustahil adanya.

Semua prejudis ibu akan politik menguar. Namun aku tetap anaknya yang bandel. Aku tersenyum dan menggumam gumam..

“Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu”

Dan rupanya, itu kalimat terakhir yang direkam anak lelakiku.

Jakarta, 29 Desember 2011.

Mereka Tidak Lagi Membaca Koran

“Kulihat di koran, orang orang saling membunuh” ujarnya, suatu pagi saat sepucuk koran kupungut dari halaman depan selepas dilempar dengan penuh emosi oleh pengantar koran yang sepertinya hari ini lagi lagi anaknya terancam tak makan.
“Oh ya?” kubalas dengan tatapan biasa seperti biasa seperti pagi pagi biasa yang kami lewati dengan biasa di teras biasa tempat kami berbincang biasa sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berkemas dan berangkat bekerja. Seperti biasa.
Ia menepis tangannya sendiri, merebut koran dari genggamanku. Dibentangnya halaman pertama, aku berdesis, jijik.
Dari dalam koran keluar darah, menetes netes merah kehitaman. Darah terus mengalir hingga menggenang di ubin teras kami yang berwarna abu abu. “Apa ini?!” Pekikku nyaring saat tangannya terus membolak balik halaman koran yang sempat kukepit itu. Darahnya terus mengalir, warnanya kian pekat, teras kami banjir darah. Aku menjerit naik ke atas kursi. Kupukul pukul lengannya yang duduk sambil membuka buka koran di sampingku. Wajahnya datar, darah menggenang semata kaki.
“Ini darah” Jawabnya singkat, kini diremas remasnya koran hingga membentuk bulatan, lantas melemparkannya menembus pagar rumah kami. Tangannya berlumuran darah, tapi tak diindahkannya, ia malah menjumput kue kering yang kubawakan untuknya. “Koran itu darah” lanjutnya sambil mengunyah.
Aku bisa melihat darah yang menggenang semata kaki di teras kami. Menggenang begitu tenang, tanpa riak. Ia menyeruput teh yang kuseduh, kakinya berkecipak, memainkan genangan darah. Matanya menerawang jauh, menembus pagar dan menuju gumpalan koran yang ia lempar .
“Atas nama apa saja, manusia bisa membunuh sesamanya..” ia mendesah kali ini. Aku menatap jemari kakiku sendiri yang terlipat di ujung kursi, masih jijik dengan genangan darah di teras kami. “Apa maksudmu?”
“Aku melihatnya, kemarin sepulang bekerja, senja menggantung dan seorang perempuan terjun dari jembatan penyeberangan,” ia menyeruput kopinya, menghela nafas. Begitu kuat hingga menimbulkan riak pada genangan darah di mata kakinya.
Dalam helaan lain ia menguntai kalimat “Dari atas jembatan aku melihat darah yang mengalir dari hidung, telinga, mulutnya tak berapa lama setelah ia menghantam aspal. Lalu dua mobil menggilasnya hingga jalanan benar benar terkejut dan berhenti berlari,”
“Dia mati, tentu saja.” telunjuknya mengarah jauh “Dan itu, merekamnya. Merekam tubuh wanita muda yang terjun dari jembatan penyebrangan dengan rentetan kalimat dan foto tanpa sensor etika”
Aku tiba tiba menggigil. Setengah bergidik. Betapa lembaran kertas itu sudah merekam banyak nyawa..

Perpindahan

Saya tidak pernah benar benar mengerti tentang konsep transformasi. Apa yang sesungguhnya telah berubah, atau diubah, atau setidaknya, yang dicoba untuk dirubah. Saya juga kesulitan memahami apakah saya benar benar telah mengalami fase perubahan. Setidaknya dangan banyak sekali resolusi dan harapan harapan untuk berubah, saya -seharusnya- sudah menjadi sesuatu yang lain. Tidak sepenuhnya menjadi asing. Tapi.. berubah.     
Tapi jauh di dalam sana, saya merasa sama. Saya tetap menjadi individu yang tidak suka menjadi disukai. Menjadi orang yang tidak pandai berbicara. Saya tetap saya, hanya dalam wujud -ah ga juga, saya tetap sama seperti dulu. secara harfiah maupun analogi- dan sedikit gaya bicara.     
Yang berubah hanyalah titik. Layaknya hukum fisika yang merangkum tentang teori teori perpindahan, maka saya mengalami itu. Saya berpindah. Dari titik A ke titik B. 

Sesederhana itu.

Resensi Film: 3 Hati dua dunia, satu cinta


taken from here
“Dia cakep banget Cid, anaknya sopan lagi. Umi demen, tapi lu harus tau, dia beda sama kita…”

Perbedaan menjadi tema besar dalam film garapan Benni Setiawan (Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku) berjudul 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta ini. Seakan menegaskan tema tersebut, film ini merangkum begitu banyak perbedaan sepanjang 98 menit. Mulai dari status sosial, agama, suku, hingga kesenjangan pendidikan membuat Rosid (Reza Rahardian) dan Delia (Laura Basuki) harus berjuang sekuatnya untuk memenangi hati orangtua masing masing. Mampukah?


Meski memiliki tema yang cukup sensitif, film ini disajikan dengan ringan. Hadirnya lelucon segar yang disampaikan oleh beberapa cameo menggiring penonton untuk tidak mengerutkan kening untuk memahami drama yang dibangun.


Sosok Abah dalam film ini akan mencuri banyak perhatian. Karakter yang begitu polos sekaligus tegas (walau pada akhirnya, luluh juga) berhasil mengingatkan penonton pada perjuangan seorang ayah untuk memastikan anaknya bahagia (dalam film ini, standar “bahagia” Rosid adalah hasil reka sang Abah)


Sayang, upaya untuk menampilkan perbedaan sebagai pembalut film terkesan berlebihan. Rosid seakan hadir sebagai pembaharu ajaran islam yang begitu dibenci (adegan penyerangan ormas islam ke hunian Mahdi) namun sekaligus dianggap biasa saja (reaksi masyarakat selepas penyerangan)


Secara keseluruhan, film ini mampu mengangkat isu yang tengah ramai di negara kita ­–agama- dalam sebuah sajian romantis berbalut puisi puisi W.S Rendra. Sebuah tontonan yang menghibur dan memberikan pesan baik untuk mempertahankan ingin dan terus memperjuangkannya. (*)

Moving

Saya akan pindah ke Jakarta. Bekerja sebagai publicist di sebuah production house.
Yea, surprise!
Sabtu siang saya tiba di Jakarta, bertemu dengan orang orang baik yang membuat saya batal berburuk sangka tentang ibukota. Kawan kawan lama yang hanya saya kenal di dunia maya. Saya yakin setiap makhluk hidup memiliki instingnya sendiri. Saya, berpendapat bahwa walaupun mereka belum pernah saya temui dalam absensi fisik, mereka orang orang baik.
Dan selama di Jakarta, saya menemui simpulan bahwa pertemanan bukanlah soal intensitas hadir dan berbicara 😀
Eniwei, Minggu sore saya bertemu dengan pemilik production house dan kami berbicara banyak. Long story short, saya diterima dan mulai bekerja Senin depan. Di Jakarta.
Hidup di Jakarta sudah masuk dalam bucket list saya sejak beberapa tahun lalu. Berbulan bulan belakangan saya semakin intens memikirkan probabilitas untuk hidup di Jakarta atau Bandung. Apapun, asal keluar dari kota kecil ini. Tidak ada yang salah dengan Sampit, tempat yang menghidupi saya sejak lulus SMA. Saya hanya berespektasi lebih tinggi. Tentang mimpi
dan keharusannya untuk dipenuhi. Saya ingin hidup dari apa yang saya sukai.

Jadi, mari menyilangkan jari dan doakan saya akan baik baik saja!

Kepala Sang Demonstran

Rumah sakit itu tiba tiba terkenal. Seorang dokternya berhasil menemukan cara untuk melihat isi pikiran manusia. Dokter itu hanya perlu memenggal kepala orang yang sudah mati (atau yang masih hidup pun tak apa, kalau dia memang benar benar ingin dilihat isi pikirannya). Dokter itu kemudian menjadi sangat terkenal. Banyak kasus pembunuhan berantai dan perampokkan yang memakan nyawa bisa diselesaikan berkat tampilan gambar dari kepala korban.
Apa yang dilakukan si dokter sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Banyak dukun dan jejampi kampung yang bisa melakukan hal serupa. membaca isi kepala orang. Tapi si dokter menjadi fenomena. Tentu saja, lantaran gelar dokternya, dan betapa mudahnya teori si dokter dicerna logika.
Di negara itu, orang orang menjadi sangat paranoid dan ketakutan hingga tak mudah percaya pada apapun yang tak berbukti nyata.
Ketenaran si dokter dengan cepat menyebar kemana mana. Si dokter kemudian dipekerjakan oleh negara untuk membantu polisi. Si dokter awalnya menolak, ia mengatakan bahwa dirinya bukan detektif yang bisa digunakan untuk mengungkap kejahatan. Tapi tolakan itu berubah menjadi anggukan mesum dan mata berbinar kala menatap tumpukkan uang di atas meja.
Resmi sudah, si dokter bekerja untuk negara. Polisi kerap datang ke rumah sakit. Para berseragam itu biasanya sudah memenggal kepala mayat untuk dibaca oleh si dokter. “Biar bapak tak usah repot,” ujar seorang polisi seraya menyerahkan kantong kresek berisi dua buah penggalan kepala.
Rupanya sore tadi ada pengeboman di kantor pemerintahan. Lima orang tewas di tempat. Tiga orang di antaranya terkena paparan langsung bom sehingga tubuhnya berubah menjadi serpihan. Hanya dua potong kepala milik satpam gedung yang tersisa. Ada sekompi polisi yang datang, juga datang jendral serta Kepala Polisi. Semua penasaran, siapa pelaku pengeboman.
Polisi polisi itu lantas menunggu di luar ruangan si dokter. Sementara pimpinan mereka, ikut masuk ke dalam dan menyaksikan sendiri potongan ingatan kepala mayat itu kala menjelang ajalnya. Sore itu, seorang teroris kelas dunia tertangkap dalam pelariannya menuju negara seberang.
Berita menyebar cepat. Tentang si dokter yang berhasil mengungkap pelaku terorisme. Semua orang, terlebih wartawan, menunggu nunggu, kapan lagi si dokter melakukan aksinya. Polisi cenderung jarang membeberkan kapan ada mayat yang akan dipenggal kepalanya dan dibongkar ingatannya oleh si dokter.
Sore itu, ada mayat yang datang ke rumah sakit. Mayat itu merangkak rangkak dari kejauhan, ia berangkat sendiri. Di belakang mayat yang merangkak sendiri itu, ada puluhan wartawan yang sibuk mengambil gambar dan berteriak teriak “Ini saatnya!” kepada rekan wartawannya.
Mayat yang merangkak sendirian itu masuk ke pelataran rumah sakit. Tak ada yang mengindahkan, toh ia sudah mati, rumah sakit tempat orang berobat. Kalau mati pergi ke kuburan. Mayat itu akhirnya merangkak menuju ruangan dokter.
“Apa ini?” si dokter kebingungan. Ia tak pernah mendapati mayat datang sendiri dan minta dibaca seperti itu.
“Tidak ada polisi, ya?” si dokter bertanya lagi. Mayat yang merangkak sendirian itu mengeram ngeram, tak bisa bicara.
Si dokter, mangkel dalam hati. Ia sudah berjanji pada pemerintah untuk hanya membaca isi kepala mayat yang berasal dari kepolisian. Ia hanya menerima penggalan kepala dalam kresek yang dibawakan para polisi.
Wartawan mulai berdengung, sibuk memfoto mayat yang merangkak sendiri. Juga memfoto dokter yang beberapa kali menggaruk kepalanya yang landai. Si dokter dilema, reputasinya bisa buruk jika menolak mayat yang merangkak sendirian itu.
Presiden kebetulan menonton televisi dari dalam mobilnya. Tak pernah ia melihat langsung dokter fenomenal itu. Selama ini hanya anak buah dan bawahannya yang membuat laporan mengenai si dokter. “Berbeloklah, ayo ke rumah sakit itu,” seru presiden pada sopirnya. Mobil berbalik arah, menuju rumah sakit.
Si dokter masih juga dilema. Akhirnya setelah si mayat berhenti mengeram, ia akhirnya bersuara
“Bawa mayatnya ke ruangan saya,” ujarnya seraya mengenakan sarung tangan latex dan mencucinya dengan cairan disinfektan. Si dokter tak memperbolehkan satu wartawanpun untuk masuk.
“Nanti filmnya rusak kalau terkena blitz kamera anda,” Cukup ampuh, para wartawan berhenti merangsek masuk. Si dokter berjanji akan memperlihatkan video dari isi pikiran mayat yang merangkak sendiri itu. Presiden akhirnya datang, si dokter sudah membredel pintu. Presiden duduk di luar ruangan seraya meladeni pertanyaan wartawan.
“Ya.. saya ke sini lantaran penasaran dengan kinerja si dokter, Kepala Polisi sibuk memujinya sejak seminggu lalu,” presiden tersenyum pada kamera. Kepala Polisi yang tengah dibicarakan juga datang. Ia tampak berkeringat, seperti lepas berlari. Ia tersenyum gugup pada presiden, mengangguk sepintas dan menuju ruangan si dokter.
“Eee.. ada pak Kepala Polisi, mari sini pak, kita berfoto. Biar si dokter bekerja sendirian di dalam, nanti juga kita di kasih tau apa isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu,” Kepala Polisi tak berkutik, presiden memergokinya ingin mendobrak masuk ke ruangan dokter. Kepala Polisi lantas mengambil duduk di samping presiden dengan wajah cemas. Wartawan mengabadikan Kepala Polisi dengan wajah seperti hendak buang air besar.
Si dokter tak tau mengenai keributan di luar. Profesionalitasnya memaksa si Dokter untuk benar benar melihat isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu padahal ia bisa saja berbohong.
“Aku bisa saja memenggal kepala mayat ini, membawanya keluar dan mengatakan kalau ia mati gara gara narkoba.” Gumamnya. Si dokter lantas melihat tubuh mayat yang merangkak sendirian itu sambil menerka nerka kehidupan macam apa yang ia miliki semasa hidup. Badannya tegap, berisi. Mayat yang merangkak sendirian itu berdarah di sekujur tubuhnya. Kacamatanya remuk, tapi masih melekat di wajahnya. Ada lubang merah kehitaman tepat di tengah jidatnya.
Ia penasaran sendiri. Ia lantas memenggal kepala si mayat, memasangkan banyak selang dan kabel. Dari lubang telinga kanan penggalan kepala itu, dikorek korek hingga seutas kabel dengan ujung berlubang keluar. Ia hubungkan kabel yang keluar dari kepala mayat yang merangkak sendirian itu ke proyektor.
Di layar besar, si dokter melihat kuburan, dan spanduk spanduk. Si dokter sibuk mempercepat, memperbesar dan kadang kadang menghentikan video isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Spanduk diperbesar, si dokter mencoba membaca. Viva.. ah, gambarnya tiba tiba buram. Mayat yang merangkak sendirian itu rupanya terkena hantaman benda tumpul di kepala belakang. Si dokter sibuk mencatat,
“Ini dia sebab kematiannya,” gumamnya.
Gambar di video terlihat horizontal. Mayat yang merangkak sendirian itu pasti sudah tumbang ke tanah.
“Tunggu, kalau dia sudah tumbang, kenapa videonya masih hidup?” si dokter mengguncang guncang penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.
“Ah.. ia hanya sekarat! Belum mati,” si dokter menyadari kesalahannya dan tertawa kecil.
Dari gambar horizontal itu si dokter melihat mayat bertumbangan. Satu satu seperti terpukul mundur dan kemudian tumbang. Dikeraskannya suara video dari penggalan kepala mayat yang merangkak sendirian itu.
Suaranya seperti letusan tembakan.
Senjata mesin, terdengar seperti rentetan.
Tubuh tubuh bertumbangan. Tiba tiba gambar video menghadap langit. Sebuah wajah terlihat menodongkan senjata.
Dor.
Mayat yang merangkak sendirian akhirnya mati.
Si dokter menganga.
Tercenung.
Wajah itu adalah wajah Kepala Polisi, dalam versi setidaknya lebih muda 20 tahun.
Dokter segera keluar dari ruangannya. Ia kembali terkejut, ada ratusan wartawan, presiden, dan Kepala Polisi dalam versi 20 tahun lebih tua dari isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu. Semuanya berdiri, menunggu nunggu jawaban.
Si dokter menarik nafas panjang, mulai merangkai kata sebagai konferensi pers
“Demi kepentingan privasi dan arsip rumah sakit, saya tidak bisa memperlihatkan rekaman isi kepala mayat yang merangkak sendirian itu..”
Si dokter lagi lagi menarik nafas panjang
“..Mayat yang merangkak sendirian itu, nampaknya tewas karena terlalu banyak menonton film film sadis..”
Kepala Polisi tersenyum lega. Senyum itu menjanjikan sesuatu pada si dokter.
Mereka berdua kini punya rahasia.
Si dokter dan Kepala Polisi tahu,
Mayat yang merangkak sendirian itu datang dari masa lalu.