Mereka Tidak Lagi Membaca Koran

“Kulihat di koran, orang orang saling membunuh” ujarnya, suatu pagi saat sepucuk koran kupungut dari halaman depan selepas dilempar dengan penuh emosi oleh pengantar koran yang sepertinya hari ini lagi lagi anaknya terancam tak makan.
“Oh ya?” kubalas dengan tatapan biasa seperti biasa seperti pagi pagi biasa yang kami lewati dengan biasa di teras biasa tempat kami berbincang biasa sebelum akhirnya kami memutuskan untuk berkemas dan berangkat bekerja. Seperti biasa.
Ia menepis tangannya sendiri, merebut koran dari genggamanku. Dibentangnya halaman pertama, aku berdesis, jijik.
Dari dalam koran keluar darah, menetes netes merah kehitaman. Darah terus mengalir hingga menggenang di ubin teras kami yang berwarna abu abu. “Apa ini?!” Pekikku nyaring saat tangannya terus membolak balik halaman koran yang sempat kukepit itu. Darahnya terus mengalir, warnanya kian pekat, teras kami banjir darah. Aku menjerit naik ke atas kursi. Kupukul pukul lengannya yang duduk sambil membuka buka koran di sampingku. Wajahnya datar, darah menggenang semata kaki.
“Ini darah” Jawabnya singkat, kini diremas remasnya koran hingga membentuk bulatan, lantas melemparkannya menembus pagar rumah kami. Tangannya berlumuran darah, tapi tak diindahkannya, ia malah menjumput kue kering yang kubawakan untuknya. “Koran itu darah” lanjutnya sambil mengunyah.
Aku bisa melihat darah yang menggenang semata kaki di teras kami. Menggenang begitu tenang, tanpa riak. Ia menyeruput teh yang kuseduh, kakinya berkecipak, memainkan genangan darah. Matanya menerawang jauh, menembus pagar dan menuju gumpalan koran yang ia lempar .
“Atas nama apa saja, manusia bisa membunuh sesamanya..” ia mendesah kali ini. Aku menatap jemari kakiku sendiri yang terlipat di ujung kursi, masih jijik dengan genangan darah di teras kami. “Apa maksudmu?”
“Aku melihatnya, kemarin sepulang bekerja, senja menggantung dan seorang perempuan terjun dari jembatan penyeberangan,” ia menyeruput kopinya, menghela nafas. Begitu kuat hingga menimbulkan riak pada genangan darah di mata kakinya.
Dalam helaan lain ia menguntai kalimat “Dari atas jembatan aku melihat darah yang mengalir dari hidung, telinga, mulutnya tak berapa lama setelah ia menghantam aspal. Lalu dua mobil menggilasnya hingga jalanan benar benar terkejut dan berhenti berlari,”
“Dia mati, tentu saja.” telunjuknya mengarah jauh “Dan itu, merekamnya. Merekam tubuh wanita muda yang terjun dari jembatan penyebrangan dengan rentetan kalimat dan foto tanpa sensor etika”
Aku tiba tiba menggigil. Setengah bergidik. Betapa lembaran kertas itu sudah merekam banyak nyawa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s