Politik

Ayahku tahanan politik. Usianya 39 tahun kala namanya muncul di media nasional. Di ulang tahunnya yang ke 40, ayahku dihukum mati. Kalimat terakhirnya yang kurekam adalah “Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu” 

Ibu merupakan orang yang paling terpukul atas kematian ayah. Ia mengutuk politik yang telah menjadikannya janda. Politik adalah hal terbusuk yang pernah ada, ia menggerogoti setiap jiwa lalu membunuhnya dengan semena mena. Di mata ibu, politik berwujud serupa monster, mungkin zombie. Sebab zombie membunuh, memakan dan menggerogoti.

Aku beranjak dewasa, keingintahuanku atas politik semakin besar. Bukan sebagai tataran zombie versi ibu, bukan pula dalam konteks pembunuh ayah. Aku ingin tahu mengapa poliyik begitu membius, hingga seorang pria tinggi besar dan berpendirian kuat seperti ayahku, terhasut.

Di suatu senja, ibu berteriak senyaringnya “Jangan sakiti ibumu seperti ini. Cukup ayah yang dibawa pergi.” tangisnya membanjir. Tapi aku tetap pergi, belajar politik di benua seberang. Lama sekali, bertahun tahun aku tidak pulang. Pun memberi kabar. Sekali suratku terpulangkan, ibu tak sudi membaca rentetan kata pemberi kabar dari seorang anak pembangkang.

Tapi hasratku tak bisa dibendung, rasa ingin tahuku meninggi. Selama belajar aku mengalami kekaguman luar biasa. Politik adalah tempat di mana aku bisa didengar, memiliki ideologi sendiri dan bahkan, menularkan pandangan itu kepada orang lain. Kawanku bertambah banyak, dan semuanya sepaham denganku. Sungguh, politik menjadi semacam surga.

Kepulanganku tanpa hadir ibu. Tetangga bilang beliau sudah berpindah, ke tempat yang jauh, tidak jelas di mana. Aku kehilangan fokus mencari ibu saat seorang di pemerintahan mengajakku bergabung. Akupun berpolitik. Bermain politik, menjadi politik. Beberapa tahun seusainya, aku berhasil menemukan ibu berkat kawan kawan intelku.

“Saya kangen ibu,” Ibu mendelik, beliau sulit percaya sebab wajahku terlalu sumringah untuk seseorang yang tengah merindu. Wajahku memang aneh belakangan ini, mungkin lantaran senyumku selalu berlebihan. Senyum itu berharga banyak, untuk menunjukkan keramahan pada calon pemilih, petinggi, penguasa.. atau mungkin aku terlalu sering melihat senyumku sendiri di papan papan besar pinggir jalan.

Tapi ibu tetap memelukku. Sebenci apapun beliau terhadap politik yang sudah menjadikannya janda, aku tetaplah anaknya. Bertahun tahun kemudian ibu selalu hadir dalam kepentingan politikku. Ia berdiri di belakangku saat pidato, saat aku menjadi ketua partai. 

Ia juga hadir, tersenyum, saat aku menjadi presiden.

Tahun berlalu dan hubunganku dengan ibu baik baik saja. Aku bahkan sudah menarik kesimpulan bahwa kebenciannya terhadap politik sudah sirna. Aku memang tak mampu menghapus status jandanya, tapi setidaknya aku memberinya rumah besar dengan banyak pelayan untuk diajak bicara. Sehingga ia tidak benar benar kesepian. Yang aku tidak tau, sediam apapun ibu atas ulahku, ia tak pernah setuju aku berkawan dengan politik.

Di suatu sore, aku ditawan. Dalam sebuah bangsal di pulau buangan aku diinterogasi. Tentang keinginan terselubungku mengubah haluan negara. Mengkiblatkan ideologi ke muka benua asing tempatku bersekolah dulu. Aku tak mampu melawan, sebab itu ada benarnya walau tak sepenuhnya benar. Lagipula, dengan semua ikatan dan siksaan itu, tak sanggup rasanya aku melawan. Bersuarapun tidak, lidahku telah diiris oleh catut dan bayonet..

Usiaku menjelang 35 saat media nasional mendengungkan namaku berminggu minggu. Enam bulan setelahnya, puluhan bersenjata berbaris di depanku tepat sebelum kantong berwarna hitam membungkus kepalaku. Aku tau aku akan mati. Presiden termuda akan dieksekusi mati. Entah insting apa. aku seperti melihat ibu di atas genting. Walau kutau, sungguh, itu mustahil adanya.

Semua prejudis ibu akan politik menguar. Namun aku tetap anaknya yang bandel. Aku tersenyum dan menggumam gumam..

“Aku mati bukan karena politik, aku hanya kurang restu”

Dan rupanya, itu kalimat terakhir yang direkam anak lelakiku.

Jakarta, 29 Desember 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s