Cerpen: Taksi

Pria itu menyimpan dendam. Pekerjaan sebagai supir taksi di Jakarta membuatnya merasa perlu untuk menumpuk dendam. Sekian tahun ia bekerja dan daftar dendamnya kian panjang.

Ia sepenuhnya tau, tidak ada yang salah dengan pekerjaannya. Tidak dengan jalan yang macet berjam jam. Tidak dengan penumpang penuh keluh yang membuat kupingnya jenuh berjam jam. Ia hanya kesal, dengan dirinya sendiri.

Pria itu menaruh dendam pada dirinya sendiri. Tentang ia yang tak kunjung mengunjungi anak istrinya di kampung. Tentang ia yang tak mampu memberi alasan jelas mengapa kontrakannya tak kunjung dibayar.


Hari itu matahari terbit lebih awal. Orang orang terbangun dan memulai rutinitas pagi, seperti biasa. Pria itu menguap panjang dan mengumpat kepada matahari. Kelambu berbau tembakau disingkapnya. Jalan jalan sempit, rumah rumah petak, anak anak kumuh. bau sampah menguar..

Ia mengeluh lebih banyak hari itu. Mengeluh atas matahari yang menyala terlalu panas. Mengeluh terhadap jalanan pagi yang lebih macet dari biasanya. Mengeluh pada pengamen yang bersepakat untuk memulai paduan sumbang lebih nyaring dari hari hari sebelumnya. Pria itu terlalu banyak mengeluh hingga ia mengeluh karena terlalu banyak mengeluh.

Pria itu tau betul bahwa pekerjaannya tidaklah terlampau pelik. Ia hanya datang di pagi hari, mengendarai mobil dari satu titik ke titik lain dalam rentang jarak yang tak terlampau jauh. Ia duduk di kursi nyaman dengan embusan AC, menepi sesekali jika merasa penat. Kota itu terlampau kaya hingga pria itu nyaris tak pernah kuatir atas tenggat setoran. Pun ia terus mengeluh atas gajinya yang terlampau sedikit untuk menghidupi dirinya sendiri.

Istrinya di kampung tak pernah meminta materi. Pria itu tidak menemui sekalipun masa di mana istrinya meminta kiriman uang. Wanita yang dinikahinya tak berapa lama itu hanya meminta kehadirannya dalam ujud fisik. Itupun sulit dipenuhinya, dua hari libur dalam sebulan bukan waktu yang cukup untuk pulang ke tempat terpencil serupa kampung halamannya.


Pria itu terus menggerutu hingga siang datang. Ia mulai merasa ada yang aneh. Tak satupun orang di sepanjang jalan yang melambai ke arahnya. 


#eaaaaa #NaniAnakYangKeabisanIdediTengahCerita #DilanjutinNantiYaa


Advertisements

Menepati Janji

Dua tahun lalu, akhir desember tahun 2009, saya bangun tidur dengan sebuah ide.
“Kayaknya kalau bisa punya novel sendiri, seru nih”
Dan sebulan setelahnya, awal Pebruari 2009, Senja Merah lahir. Ia mengalami pergantian judul berkali kali. Atas pertimbangan kelabilan saya, tentu saja 😀 Senja Merah sempat berjudul Jejak Darah, Kisah Sejarah, dan beberapa judul gajelas lain yang sayapun ga ngerti apa maksudnya.
Naskah novel itu tersimpan selama dua tahun dalam sebuah folder di komputer rumah. Dalam perjalannya, meski sempat diedit satu-dua kali, Senja Merah nyaris tak tersentuh. Hingga pada suatu malam di tahun 2011, seorang kawan mengenalkan saya dengan mbak Nita, ia adalah editor di Kurnia Esa Writers Management. Senja Merah mendapatkan atensi penuh dari saya, diedit dan perbaiki hingga menurut saya, sempurna.

Tapi ia tak pernah terbit, ia tak pernah disentuh pemilik mata yang kerap disebut pembaca. Sebagai seseorang yang telah melahirkan naskah itu dalam perjuangan (well, ini overrated) selama sebulan, saya semacam merasa bertanggung jawab untuk memberi penghargaan kepadanya. Untuk menemui dunia luas, atau setidaknya, dunia maya.
Dan inilah naskah penuh Senja Merah yang saya janjikan untuk dibagikan gratis jika selepas 2011 ia tak tertuang dalam wujud nyata. Selamat menikmati 🙂
Sinopsis

Wenggini adalah gadis remaja yang lahir dan tumbuh pada sebuah desa kecil di kaki gunung. Ia hidup sebagai pribadi takut yang dirongrong teror dari negara. Hingga sebuah kejadian mengubah hidupnya. Ia bertemu Sloan, pria yang mengajari Wenggini untuk menjadi berani. 

Kehidupan berputar dan keduanya harus melalui banyak hal. Perjuangan, Perubahan, dan tentu saja, Cinta…

Download di sini

Terimakasih untuk yang mengunduh dan mengapresiasi Senja Merah. Namun perlu diingat ini merupakan sebuah karya yang memakan banyak korban (mostly kepala saya yang pening dan jemari yang mengkaku) sehingga diminta untuk tidak mengubah dan menyadur isi dalam tulisan tersebut tanpa seizin saya selaku penulis 🙂