Cerpen: Terminal

Ia duduk cukup lama di kursi panjang, menunggu. Sesekali pandangannya beredar, melihat yang berlalu. Yang datang, yang pergi..
Jakarta pengap. Sudah lama orang meninggalkan istilah ‘panas’ atau ‘dingin’ sebagai definisi cuaca kota itu. Siang itu, panas tidak dingin tidak, Jakarta sedang pengap. Pria bersepeda tua melintas di tikungan pasar, beberapa pedagang mengumbar serapah, pedagang lain sibuk bergosip.
Pria bersepeda tua limbung kayuhnya, nyaris menabrak perempuan yang tengah terengah menyeret koper besar. Ia akhirnya terjungkal, perempuan dan pedagang pasar tak peduli, meneruskan apa yang semestinya mereka lanjutkan. mengumbar serapah, menggunjing dan menyeret koper besar sepanjang jalan.
Belasan taksi menawarkan jasanya kepada perempuan yang kini nafasnya hampir putus itu. Berpuluh angkutan lain menyorakkan seru agar dirinya segera melompat naik. Namun ia tak peduli, langkahnya terus diseret, seiring roda besar kopor besarnya. Sepanjang jalan, sepanjang siang.
Terminal lengang, hari itu bukan hari besar. Ditambah tempat yang ia tuju bukan rute favorit petualang ibukota. Ada satu-dua petugas sibuk mengatur gambar gambar, peringatan peringatan di dinding dalam terminal. Petugas loket menguap panjang, pengap Jakarta memenangi perputaran kipas angin ringkih dalam kubikalnya.
Di satu kursi panjang di sudut terminal, koper besar perempuan itu disandarkan. Ia menenggak air mineral botol yang digenggamnya sedari tadi. Nafasnya kini teratur, tak lagi terengah. Kini ia sibuk mengatur rambutnya yang lepek bermandi keringat. Semilir angin muncul entah dari mana. Wajah perempuan itu terlihat damai saat angin menyentuh anak rambutnya.
Bising menguar di udara. Deru deru dan debu debu menari dalam lantunan pengap Jakarta. Lalu suara itu perlahan berlalu, meninggalkan bau asap dan debu debu yang harus kembali mengecup bumi Sesekali suara gesek sapu dan lantai semen beradu, perempuan paruh baya terbungkuk memungut bekas permen karet yang menempel mesra di sandalnya.
Terminal masih sepi, perempuan itu bersandar pada koper besarnya, kakinya diselonjorkan. Telapak kakinya berdebu, air dalam botol yang digenggamnya sedari tadi dipercikkan ke sepotong tissu. Perempuan paruh baya yang menyerah atas kemesraan bekas permen karet dan sandalnya berdehem keras saat tissu kecoklatan itu menyentuh semen.
Dari dalam koper diambilnya sebuah tas kecil. Earphone menempel di kupingnya sejurus kemudian. Lantunan suara Sara Bareilles memenuhi rongga dengarnya, beriringan dengan rasa nyaman yang seketika memeluk. Sepotong tiket ia genggam tanpa dibaca. Semalaman dipelototinya kertas itu, menghapal nomor terminal, jam keberangkatan sampai seri kendaraan yang akan ditumpanginya.
“Dua jam lagi..” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s