Kilasan Bandung Berisik 6

Lima sore di 18 Mei saya dan Alfi menuju Bandung. Berwanti wanti akan tertinggal banyak penampil di Bandung Berisik 6 yang sudah open gate sejak pukul satu siang. Benar saja, kami tiba di leuwipanjang pukul delapan malam dan harus berkutat dengan macet sepanjang kopo, menuju lanud sulaiman, tempat acara digelar. Ratusan orang sudah mengantri keluar venue. Untuk hari pertama acara hanya sampai pukul sepuluh malam.
Setengah sepuluh malam kami tiba di venue. Tertahan di depan lantaran tiket belum di tangan. Melewatkan Burgerkill, the Sigit dan beberapa band yang tampil di hari pertama. Kami terlupa bahwa di hari kedua libur panjang 17-20 Mei, Jakarta-Bandung akan dibanjiri kendaraan dengan volume berkali lipat dari hari biasa. Sebagai konsekuensi, di bandung berisik hari pertama saya harus terpuaskan dengan merekam Jasad, Besok Bubar dan Raja Singa dalam ingatan.ย 
Berlumpur
Saya mendapat kabar bahwa bandung tengah sering hujan hingga H-2 bandung berisik diadakan. Sudah terbayang seperti apa bentuk venue yang notabene adalah lapangan rumput setelah diguyur hujan dan dijadikan arena moshing-pogo di hari pertama. Sebagai antisipasi, sempat terpikir untuk berbekal jas hujan dan boots. Tapi kemudian batal, anak metal kok takut ujan ๐Ÿ˜›
Tong, sabaraha dapet lelenya tong?
Tidak saya maupun Alfi mengira kondisi depan stage bakal seperti di atas. Kami baru memutuskan untuk merapat ke stage saat Beside menggeber panggung jam lima sore. Kondisi lapangan sangat, sangat berlumpur bekas guyuran hujan di hari pertama. Tanah yang liat membuat pergerakan menjadi susah sehingga tak heran jika ada yang berkomentar begini di laman resmi facebook Bandung Berisik.
Selain boots dan jas hujan, kita mungkin perlu berbekal cangkul…
Pengamanan ketat yang terkesan diketat ketatkan membuat banyak kawan berkomentar tentang betapa tidak nyamannya proses masuk ke dalam venue. Namun terlepas dari segala kendala teknis, Bandung Berisik hari kedua berhasil memenuhi espektasi tertinggi saya dari pagelaran ini. Secara personal tentu saja ini adalah kali pertama saya ke Bandung dan menonton event yang sejak lama ingin dihadiri ini. Lebih dari itu, tiga panggung (Apocalypse, Inferno dan Holocaust) menggeber tanpa jeda dan membuat semua hasrat akan musik keras, terpuaskan!
Sing a long Aku Adalah Tuhan, Beside. Tepat setelah mereka mengumumkan bubarnya mereka adalah hoax



Catatan Personal
Pergi dan melihat langsung pagelaran Bandung Berisik adalah keinginan yang saya simpan sejak lama. Tepatnya setelah membaca buku Myself Scumbang di tahun 2007. Namun kondisi serba tidak memungkinkan. Saya berada di tengah kalimantan, tidak memiliki rekan berpetualang dan sebagainya dan sebagainya. Dan ketika ini akhirnya terpenuhi, banyak momen emosional yang mungkin terdengar berlebihan, saya rasakan sepanjang Bandung Berisik 6, Maximum Aggression.
ย 
Untuk pertama kalinya, saya berada di tengah puluhan ribu metalhead, menyanyikan lagu yang sama, menyukai musik yang sama. Saya tersenyum kecil saat mengingat kelompok metal kami di Sampit yang tak sampai sepuluh orang jumlahnya. Bukan lantas merasa rendah diri atau gimana, lebih kepada terharu, seandainya saya bisa membawakan semua kesenangan itu dan membaginya kepada kawan kawan. Karenanya, tulisan ini dibuat.
Bandung Berisik 6 menjawab semua keinginan saya terkait pagelaran metal. Sound yang kenceng, crowd yang bersemangat (dan berlumpur), tata panggung dan konsep acara yang luar biasa. Bandung Berisik menegaskan posisinya sebagai yang akan selalu menjadi wadah bertemunya sahabat lama, kawan kawan baru dan tempat membagi cerita yang tak habis habis mengenai metal.
Sebelum masuk stage di hari kedua, saya dan Alfi banyak berbicara mengenai komunitas metal Bandung-Jakarta, kultur dan berbagai analisa yang kami telisik sendiri. Tepat sebelum akhirnya membeli tiket on the stage, saya melontarkan pernyataan: “Sampai saat ini gue masih mencari jawaban apa yang membuat mereka (menunjuk antrian panjang di gerbang masuk) mau berjauh jauh, berpanas panas, tanpa permudahan akses kaya kita, berkorban tidak hanya materi tapi juga fisik selama dua hari penuh.”
Lalu malamnya, saya menemui diri saya sendiri berada di depan stage Inferno, terbenam lumpur hingga di atas mata kaki. Tersenyum lebar sepanjang Karinding Attack menghajar panggung dengan lagu lagu berbahasa sunda yang tidak sepenuhnya saya mengerti ๐Ÿ™‚
Kalau Hyde L’Arc en Ciel melempar marshmallow dan coklat, Man Jasad melempar gehu ke penonton. oh well.

21 Mei siang saya meneruskan perjalanan sepulang dari Bandung menuju Sampit. Saat tengah mengantri di A&W bandara Soetta, seorang pemuda tanggung dengan sepatu yang masih berbercak lumpur mengangkat tangannya ke udara, menatap saya. Saya tersenyum lebar dan turut mengangkat tangan, kita sama sama mengenakan gelang merah bertuliskan Bandung Berisik. Gelang yang hingga saat ini terus saya pakai tanpa jeda.

***
Penulis yang mejeng di tengah lanud. Sok Kece.
Advertisements

Kereta Berhenti Terlalu Lama

Stasiun dipenuhi gemuruh penumpang yang kian menyemut di muara lintasan. Kereta sudah terlambat dua setengah jam. Lelaki perempuan mencoba membunuh waktu dengan pikirannya masing masing. Ada yang melirik arloji berkali kali, ada yang mengeraskan volume pemutar musik yang digenggamnya sedari tadi.

Petugas stasiun terbata menenangkan segerombol pekerja yang menanyakan kapan kereta akan tiba. Senja sudah menggantung, langit sebentar lagi menjadi malam. Satu dua pekerja tak henti menggedor kaca kubikal penjual karcis. Kereta tak pernah terlambat selama ini.

โ€œAneh ya mbak, pas lebaran aja keretanya ndak sampai begini.โ€

Gemuruh suara penumpang yang terlambat keretanya makin menguar nyaring.

Puluhan orang menyesak di belakang garis polisi. Beberapa dari mereka menyalakan senter demi bisa melihat apa yang sedang terjadi. Penduduk sekitar lintasan kereta dikejutkan dengan suara lengking perempuan senja tadi. Suara lengking itu meningkahi deru kereta yang menjadi rutin bagi mereka.

Seorang polisi sibuk menyisir semak dan puing puin sampah, tangan kirinya memegang mangkuk dan tangan kanannya terselip sumpit. Tubuh pemilik lengking itu terhantam laju kereta hingga hancur. Serpihannya berserak di sekitar lintasan kereta.

Petugas polisi lain sibuk mengambil foto, bola mata yang terselip di sela rerumputan.

“Kita tidak mengenal konsep seperti itu Ratri!”

Pria itu menggegas langkahnya


“Ratri!”


Jakarta

Menginjak semester kedua di Jakarta, dalam kegamangan kegamangan tak bertuan.
Saya terus merasa memerlukan penghiburan. Atas hidup, atas rutin, atas segalanya. Semakin ke sini, saya seperti terlepas dan melesak terlampau jauh dari titik saya berasal. Tidak menuju ke titik terbaik, saya justru kehilangan arah dan akhirnya, tidak lagi memiliki alasan kuat untuk tetap berada di Jakarta.
Berinteraksi dan berproses dengan makhluk hidup itu ternyata sulit. Saya kesulitan menyampaikan maksud, terbentur keterbatasan keterbatasan yang tidak bisa saya ungkapkan. Atas nama harga diri dan etika dalam bekerja. Saya seharusnya tidak asing dengan keadaan ini. Di beberapa tempat sebelum ini, sayapun mengalami kondisi serupa. Hanya saja, saya keburu berhenti, keluar dan pergi tanpa belajar tentang cara mengatasinya.
Maka sebutlah saya tidak cukup bekal untuk menghadapi keterkejutan keterkejutan ini. Perubahan yang rasa rasanya terlampau besar untuk saya peluk. Paradoks terbesar adalah jakarta berisi 10 juta manusia dan saya merasa benar benar sendirian di sini.

Tapi, bukankah tinggal dan hidup di Jakarta telah menjadi mimpi besar saya sejak, sebutlah, 5 tahun belakangan? bukankah saya menghabiskan waktu untuk menakar nakar probabilitas hidup di kota ini nyaris setiap malam? bukankah keinginan untuk keluar dari kota kecil yang tidak menawarkan apa apa kecuali kebosanan tak berujung begitu menggebu selama bertahun tahun?
Lalu apa yang membuat saya seperti kehilangan semangat, dan seperti disebutkan di atas, kehilangan alasan kuat untuk tetap berada di Jakarta?

Temporarily emotion? rasa rasanya bukan, kejenuhan ini terjadi nyaris setiap malam sebulan setelah saya berada di sini. Dan tak kunjung hilang. Tak kunjung merasa nyaman. Selama itu pula saya berusaha mencari tau dan mengentaskannya. Dengan bepergian, dengan mengunjungi kawan kawan, bertemu orang orang baru, dan menghamburkan uang :p
Hasilnya sama saja, saya tidak lagi memiliki pendar ketakjuban anak kampung yang membayangkan kehidupan di kota besar seperti pertama mendapat kesempatan ke Jakarta. Tidak lagi ada keinginan untuk hidup di tengah kemajuan teknologi dan keserbaadaan ibukota. Saya justru terus membayangkan kemungkinan kemungkinan yang bisa saya gali di Sampit.
Membuka kembali dan memperluas percetakan alifa, membangun counter pulsa untuk kakak dan mengembangkan bisnis laundry untuk emak. Semua itu bisa saya lakukan jika kala itu pikiran saya tidak berkutat perihal tinggal di Jakarta dan menjadi besar di sini. Naif, Nani adalah anak 19 taun yang naif pada saat itu.
Simpulan terdekat saya adalah selama ini saya membentuk set pikiran berupa “Saya terlalu besar untuk Sampit.” dan resultnya sekarang “Jakarta terlalu besar untuk saya” ๐Ÿ˜€ย 
photo was taken here
so, yea, I’m going back home..