Belajar Dari Adik

Yang menyenangkan dari Ramadhan tahun ini adalah saya diberi kesempatan untuk mengalami masa rentang dari keluarga. Berkat itu, saya setidaknya sedikit lebih menghargai nilai keluarga. Sebagai tempat pulang, sebagai wadah menunjukkan kelemahan. Kabar baikpun sedikit demi sedikit berdatangan dari masing masing anggota keluarga.
Usaha ayah yang membaik, mama yang kini kesehatannya sudah pulih dan kakak yang telah settle dengan status dan pekerjaannya. Yang terakhir adalah kabar paling menggembirakan. Adik saya naik kelas :’D adik saya kini kelas enam SD di usianya yang beranjak 15. Kaget?
Adik saya lahir dengan sedikit kendala, ia tidak menangis hingga beberapa jam setelah kelahirannya. Diduga sempat tertelan air ketuban atau apalah. Ia baru bisa menyelesaikan satu kata di usia 5 tahun (tidak cadel). Daya tangkap yang rendah dan cenderung pemarah. Ini tentu saja menyusahkannya ketika masuk sekolah dasar. Tahun tahun awal, mama adalah yang paling keras membujuknya untuk sekolah. Puncaknya, di kelas 3 ia tidak naik kelas selama dua tahun dan di kelas 4 ia tidak naik selama setahun.
Seperti apa keadaan saat itu? rumah dipenuhi kemarahan. Ayah yang marah lantaran anak lelaki satu satunya tidak secemerlang kedua kakak perempuannya, mama yang terus menyalahkan saya dan kakak yang tidak peduli kepada adik dan tidak mengajarinya apapun. Serta adik yang marah kepada ayah dan mama yang memaksanya untuk terus sekolah sementara jelas jelas ia tidak mampu. Saya dan kakak berhenti mengejeknya saat kenaikan kelas dan ia gagal untuk kedua kalinya. 
I was said: “Ihh… masa ga naik lagi sih?”
And he’s silently crying and lowering his voice : “harusnya aku dimasukin SLB aja..”
Then it hits me, and started to accept his flaws.
Saya tidak tau pasti kapan kemarahan kemarahan terkait adik di keluarga kami berhenti. Yang pasti, setelah enam bulan saya meninggalkan rumah dan pulang sebulan lalu, adik menunjukkan rapornya dan membanggakan kenaikannya ke kelas enam. Juga nilai nilainya yang baik baik saja (walaupun, sekali lagi, belum secemerlang nilai saya dan kakak semasa SD dulu :P)
Kini adik sudah menjadi semacam anak tertua di sekolah and nobody’s mocked him. Ketidaknaikannya justru menjadikan sosoknya dikagumi, semacam bad boy atau apalah, gatau kenapa dengan anak anak SD zaman sekarang –“
Di usianya yang begitu muda, adik sudah belajar untuk menghadapi masalah dan menjalani konsekuensi atas sesuatu yang bahkan bukan merupakan kesalahannya. Dia mampu menerima kekurangannya dan tidak menyerah atas itu. Tentu mama menjadi faktor terpenting dalam menyemangati dan memaksanya untuk tetap berjalan. Tapi bukannya kehidupan memang seperti ini? Saya saja masih memilih kembali ke dalam cangkang saat bertemu masalah di dunia luar.

Yang adik tidak tau, dia sudah mengalahkan saya sejak umurnya sepuluh tahun. Ia memang tidak menjadi juara satu enam tahun berturut turut, tapi kemampuannya menerima dan menghadapi masalah membuatnya akan baik baik saja di luar sana kelak. Amin.

🙂 selamat Ramadhan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s