Nasionalisme Itu Aku

Nasional. is. Me
Meminjam istilah @pandji (enternainer dan penggiat sosial media) yang digaungkan saat tengah ramai sengketa Reog Ponorogo antara Indonesia dan Malaysia, Nasional.Is.Me. Penggalan kata dari nasionalisme. Istilah ini, sedikit banyak mampu menjabarkan makna sesungguhnya dari nasionalisme.
Menurut mbah wikipedia,  Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Nah loh, ternyata makna nasionalisme segede gede gambreng begini. Lebih dari penempatan tiga titik dalam struktur kata Nasionalisme.
Oke deh, kembali kepada Nasional is Me tadi. Mengapa nasionalisme berkaitan erat dengan term “me” atau “Aku”? Sebab kita adalah penyelenggara negara dengan porsi kekuatan paling besar. Setiap individu yang berstatus warga negara Indonesia adalah yang paling berperan dalam keberlangsungan negara. Kumpulan ini individu ini adalah rakyat, dan dalam negara yang menganut paham demokrasi, vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Wuih… berat bener Nan!
Beklah, kita tahan dulu soal demokrasi dan suara Tuhannya. Mengapa aku, kita, kamu dan aku berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan sebuah negara sudah terjawab. Terus, caranya gimana? ramai ramai masuk ABRI dan menjadi lini terdepan untuk menjaga perbatasan negara? atau ramai ramai ke gedung DPR dan KPK untuk berorasi agar masalah masalah pelik negara segera tuntas? Boleh aja sih, tapi ga semua kita (termasuk saya) memiliki akses cukup berupa kemampuan, kemauan, dan niat kuat untuk melakukan hal tersebut.

Yang paling sederhana dilakukan adalah dengan tetap menanamkan kepada diri sendiri untuk bangga menjadi Indonesia. Tidak terjebak dalam pemujaan barat dan mencintai ploduk ploduk dalam negeri 😀 pelan pelan, apa yang kita lakukan akan menyebar secara masif dan menggerakkan banyak orang. Seperti istilah Nasional.Is.Me-nya Pandji atau #jalinanmerapi, #saveRendangIndonesia dan lainnya.
Terus media untuk menggiatkan nasionalisme ini, di mana Nan? Sebagai generasi muda yang pandai memaksimalkan jejaring sosial untuk galau setiap malam, rasa rasanya pertanyaan ini menjadi retorik. Ditambah dengan terbuka luasnya media media lokal maupun nasional yang menyediakan ruang untuk kita menyuarakan semangat Bangga Menjadi Indonesia.
Para Peserta Kongres Pemuda II
Foto di samping adalah foto peserta Kongres Pemuda II,  28 Oktober 1928. Kongres Pemuda II melahirkan apa yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Bayangkan! Pemuda di tahun 1928 aja udah concern terhadap kemaslahatan bangsa dan negara. Zaman itu, masih belum ada internet, facebook apalagi twitter. Para pemuda itu bahkan (aku yakin) belum pernah makan rainbow cake dan gowes saban sore. #krik
Pemuda 82 tahun lalu ga bisa bikin grup “10.000 Dukung Pengesahan Sumpah Pemuda” di Facebook lebih lebih bikin tagline #SumpahPemuda di twitter. Dan yang menarik adalah, mereka, pemuda yang tergabung dalam kongres pemuda II, begitu peduli terhadap bangsa. Poernomowoelan, Sugondo Djojopuspito, Sarmidi Mangoensarkoro, Poernomowoelan, Moehammad Yamin dan Sunario kemudian dijadikan proklamator Sumpah Pemuda.
Lalu apa yang pemuda lakukan pada saat ini untuk menyayangi negaranya? jangankan memikirkan tentang kemerdekaan, aku (selaku representasi pemuda gahul pemilik akun twitter dan pembanjir timeline dengan keluh kesah galau) hanya sibuk berorientasi pada masalah pribadi. Egosentrikal yang mengerikan ini kemudian terterap secara global.
Aku sibuk dengan pertanyaan pertanyaan; “Hari ini nongkrong dimana ya?” atau “Kayaknya nembak dia asik nih,” atau “Kapan ya Coldplay main ke Sampit?”
Apa tindakan paling heroik yang pernah kita lakukan buat negara ini? Tindakan paling heroik yang pernah aku lakukan adalah menyelamatkan anak kucing yang nyaris kelindes mobil. Selebihnya, NGGAK ADA! tindakan paling heroik yang pernah kita lakukan paling banter juga demo di depan istana negara, atau bergabung dengan FPI dan ngerazia lokalisasi.
Sementara, back to 1928, pemuda itu berfikir bagaimana caranya agar Indonesia merdeka. Kongres Pemuda II, dalam rapat keduanya membahas mengenai pola pendidikan di Indonesia, dan di sanalah tercetus ide “Wajib Belajar”.
Negara ini di bangun oleh sejarah. Sejarah Indonesia, merupakan untaian kompleks dari satu kejadian ke kejadian lain. Dan, strangely, barisan sejarah Indonesia dipenuhi nama nama pemuda.

Berikan Aku 10 Pemuda, Maka Akan Kuguncang Dunia

(Bung Karno)
Berikan Aku 10 Pemudi, Maka Akan Kuguncang Guncang Mereka
(Orang Bejat)
Kita tiba pada kesimpulan
Bahwa kita seharusnya malu ketika Sumpah Pemuda tak terlaksana dengan baik, tidak berbuat lebih baik dari pemuda pemuda puluhan tahun lalu. Kita telah mengecap merdeka maka perjuangan melawan penjajah tidaklah diperluka. Kita tidak perlu bersimbah darah meregang nyawa demi menikmati kebebasan. Sebab kita mampu mengguncang dunia, kita hanya perlu melanjutkan perjuangan melawan diri sendiri.

Bangga Menjadi Indonesia, karena Nasionalisme itu, AKU!

3 thoughts on “Nasionalisme Itu Aku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s