Featured: Harian Radar Sampit Edisi Minggu 23 Sept 2012

Oh well..
Advertisements

Objektivitas

the Illusion of Neutrality, Robert A. Divine
Seberapa sering kita dituntut, merasa harus, atau bahkan mengklaim diri telah bersikap netral? melakukan penilaian yang sepenuhnya objektif -berdasar atas variabel variabel non konjungtif terhadap standar standar penilaian- tanpa sedikitpun unsur keberpihakan.
Atau seberapa sering keputusan diambil tanpa memandang latar belakang kedekatan atau bahasa Orbanya, tanpa nepotisme?
Kita memiliki kesadaran. Fungsi limbik di dalam otak hanya mempengaruhi sedikit dari sistem logika. Sistem logika merupakan akumulasi gerakan dan paham yang diserap manusia sedari kanak kanak.
Sebabnya bisa muncul berbagai penyakit psikis, seperti schizophrenic, yang memposisikan seseorang di ambang realita dan khayal hingga tidak bisa membedakan keduanya, atau bersikap sesuai keduanya, tanpa memiliki sistem logika yang merunut kejadian berdasar sebab-akibat dan kronologi. Seseorang seharusnya concern dan memeriksakan dirinya jika memiliki sindrom seperti ini alih alih update status facebook dan mengubah nama belakangnya menjadi schizophrenia.
Itu atau mungkin dia penggemar barisan depan untuk band melancholic core itu sik
Dengan posisi manusia yang dibesarkan dengan sistem runut dan logika sebab-akibat, mustahil untuk berdiri di garis tengah, paling tengah antara dua kubu pandangan berbeda. Sumber bacaan, kawan bergaul, orangtua, lingkungan, tontonan, menjadi pembangun karakter dan sistem logika. Kalau saja netralitas adalah hal yang absolut, maka teori relativitas tak akan dilirik lebih lebih diakui sebagai sebuah teori.
Sebuah teori yang mungkin benar adalah benar sampai teori itu dipatahkan dan muncul teori mengenai kemungkinan benar yang baru. Begitu seterusnya. Kebenaran di hari ini bisa menjadi kesalahan di masa mendatang, Pun hal yang dinilai salah di saat ini, bisa saja merupakan kebenaran di masa lalu.
Bagaimana sebenarnya proses penilaian berlangsung? kalau saya sih begini; Ketika saya dihadapkan dengan satu hal -ambilah contoh soal yang menurut saya agak mbingungi, Syiah- dan saya diminta untuk mengambil sikap setuju-tidak setuju mereka harus dimigrasikan ke pulau lain. Saya akan menyebut tidak setuju sebab penilaian saya berdasar atas apa yang saya pahami, yakini, dan berpihaki selama ini; Asas kemanusiaan yang melarang seseorang mengambil hak orang lain, dalam hal ini hak untuk tetap tinggal di tanah milik sendiri, kampung halaman sendiri.
Buku buku yang saya baca, obrolan kawan kawan saya, didikan orangtua yang tidak radikal terhadap islam dan lain sebagainya mengambil posisi dalam penilaian tersebut. Akan lebih sahih lagi jika misalnya ada seorang keluarga saya tinggal di Sampang dan menganut Syiah. Apakah penilaian saya netral? rasanya tidak. Sebab netral adalah kondisi tidak berpihak dan tidak ada yang dirugikan. Tidak memilihpun bisa jadi bukan pilihan netral sebab alasan ketidakpilihan saya adalah untuk kenyamanan pribadi. Saya melihat, (mencoba) memahami, mengambil kesimpulan, memihak lalu kemudian mengutarakan pendapat.
Nan, kepuntel puntel Nan.
Lantas bagaimana caranya mencapai atau sekurang kurangnya mendekati titik netral? Kita diberi solusi berupa pengadilan, pemerintah, pihak pihak ketiga yang diharap bisa mengambil keputusan yang memenangkan semua pihak lebih lebih menyenangkan hati setiap ummat. Pihak ketiga adalah yang dianggap tidak memiliki kedekatan emosional dengan pihak pihak yang butuh peleraian.
Kesadaran akan memaksa kita untuk berpihak. Dalam batas batas imaji soal netralitas dan tanpa nepotisme.

Featured: Paper Zine Edisi Ketujuh

Kalau bisa memilih, saya pengen tinggal di Bandung. Kalau bisa memilih juga, saya pengen punya pacar. #krik
Sebab rupanya di sana selain batagornya enak, udaranyah sejuk dan semua orang terlihat ga mengenal konsep marah, 14 Juli yang lalu Bandung menggelar Zine Fest. Festival Zine. Ichan dalam blognya menulis soal ini. 
Kali ini Paper Zine bersedia memberi ruang untuk tulisan ala kadarnya saya. Tentang Nilai Nilai ideal. Sebab seberapa sering saya melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri tentang “mau jadi apa” dan “apa rencana ke depannya”
Akibatnya, saya sibuk ke dalam upaya upaya merancang rencana ke depan dan menentukan apa yang saya mau hingga lupa untuk menikmati hal hal kecil yang bisa dilakukan sekarang bukan di masa depan. Lupa untuk bersenang senang.
Eniwei, PaperZine dirilis dalam bentuk fisik dan dibagikan secara gratis (gratis kan ya?) di beberapa distro kota Bandung. Sukseslah untuk semuanya, dan terimakasih, Ilham dan Ichan!

 (click to enlarge)