Sejauh Mana Kau Inginkan Sunyi?

PMS memang selalu menjadi periode paling kontemplatif. Dalam upaya memperbanyak posting blog agar tidak terlalu tertinggal dibanding tahun sebelumnya.
Privasi menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Aturan aturan soal pelanggarannyapun disusun sedemikian ruwetnya hingga tanpa sadar pelakunya sudah menjalani standar ganda. “Kamu ga boleh nanya nanya soal urusan dapur saya,” ujar penjunjung privasi yang sepuluh menit kemudian memunculkan deretan foto dirinya tengah mengunyah makanan kesukaan di restoran kesayangan dengan caption berisikan ia tengah maka apa dengan siapa di mana jam berapa dalam akun jejaring sosialnya.
Tentu, tidak ada yang lebih menyebalkan dari tetangga yang menyetel keras keras mini komponya di pagi buta, saat saya tengah sakit gigi. Atau berisiknya pedagang panci yang kalau berjualan harus menggunakan megaphone diiringi lagu dangdut yang noraknya minta ampun. Atau seorang asing yang ujug ujug nanya kapan saya nikah.
Dinding dinding tinggi ditegakkan. Suara suara diredam dalam bilik bilik berlapis serat kaca. Demi menghindari gaung di tanah lapang ujung desa yang menyajikan wayang disusul campursari hingga larut malam minggu. Tentu setelah layangan protes diindahkan sang pemilik hajat yang mengantongi kertas legalisir lungsuran dari aparat.
Sambil menonton wayang penduduk desa sibuk dengan ceritanya masing masing. Bapak Budi naik haji, sawah mulai kekeringan hingga harga sembako yang lagi melambung tinggi. Lalu tertawa, atas wayang, atas hidup yang tidak kunjung beruntung, sambil sesekali meraih kacang rebus dan kopi hangat. Sementara dalam bilik serat kaca, suara tetap membahana. Melalui televisi dan deretan gadget mutakhir dengan kesibukan serupa, berbagi cerita, berita, gosip, lebih lebih pertukaran rayu.
 Kesunyian adalah kawan yang baik. Ia memberikan ruang dalam perputaran riuh dan membuatmu mengenal diri sendiri melebihi apapun. Namun sunyi seperti apa yang dibutuhkan hingga semua kanal pertemuan ditutup? Sejauh mana sunyi yang akan didapatkan dengan menolak berinteraksi hanya karena sekitar tidak sejalan dengan apa yang kamu mau?
Maka cukupkan kegiatan yang kamu sebut sebagai periode kontemplasi. Kesunyian terluas ada di luar sana, bersembunyi di balik riuh rendah suara jalan raya. Di sela sela ranum buku baru dengan ideologi baru. Terselip di antara decit ban mobil mobil angkutan yang mengantarkanmu ke sebuah pagelaran musik.
Hidup adalah proses menemukan, sebabnya sejarah mengajarkan kita untuk terus melakukan perjalanan. Dan paradoks terbesar akan ditemukan, satu dua masa di mana sunyi begitu mendekap sementara sekeliling dipenuhi histeria massa.
Nani, mulai jenuh dengan jejaring sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s