Kedip Lampu Temaram Berkedok Bintang

Hidup semakin membelitkan misteri alih alih memperjelas satu-dua hal seiring pertambahan usia. Iya, soal nani bertambah tua sudah menjadi sama menjemukannya dengan berita banjir di televisi. Tapi sungguh, saya terlalu galau untuk peduli.

Pagi tak ubahnya menjadi ritme kacau berupa jeritan alarm diikuti ketergesa gesaan mandi-mengenakan pakaian-makan demi mengejar pekerjaan yang sama kacaunya dengan peta jodoh saya. Siang berupa lenguhan panjang mengantuk yang berujung pada ketergesa gesaan serupa saat jam istirahat usai. Begitu seterusnya sampai.. kapan?

Saya sempat menulis soal ini, tentang kehidupan yang menitipkan tuntutan tuntutan kepada manusia hingga akhirnya ia menuntut dirinya sendiri untuk begini dan begitu. Agar pas dalam porsinya sebagai manusia di muka bumi.

Untuk mencari dan mencari hingga menemukan rasa cukup. Settle. Namun kehidupan sesungguhnya berjalan berdasarkan pencarian itu.

Maka jelas sudah. Rasa cukup hanya bisa dicapai ketika mati. Dan yang mengklaim dirinya telah cukup sebenarnya masih mencari kematian itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s