Another Day, Another Hope

Semesta berbaik hati dan mengabulkan keinginan saya soal pekerjaan baru. Besok, saya akan menjadi bagian dari salah satu televisi lokal di kota Sampit. Sebagai kru kreatif dalam penyusunan program televisi. Sebab semesta berbaik hati, saya -setidaknya saat ini- merasa nyaman dengan kondisi saya. Menghasilkan uang dengan pekerjaan yang tidak terlalu jauh dari kepinginan saya. Untuk terus menulis, dalam media apapun.
Lalu di titik ini, keluh atas apapun adalah wujud kurang syukur dan upaya pembelaan diri untuk amarah amarah tanpa tuan. Saya hanya ingin dimampukan untuk berkompromi dan menyelaraskan antara ingin dan kewajiban dan menegaskan batas toleransi. 
Sebab hidup adalah apa yang berjalan saat ini, bukan kelak di masa mendatang saat saya sudah di New York, atau saat saya menjadi penulis dan novel Senja Merah diterbitkan. Hidup dan kehidupan saya adalah saat bangun pagi, membuka mata, pergi siaran, pulang dan bergerak selama 24 jam perputaran hari. Identitas saya adalah Nani yang sekarang ini, yang belum menjadi penulis, yang belum pergi dan berkehidupan di New York. Maka sebisa mungkin, saya ingin menghidupi kehidupan saat ini. Sekedar bertahan, lebih lebih menjadi berguna bagi orang lain.
Valentine 2013, masih jomblo
Tapi udah bukan pengangguran.
Advertisements