Euforia Atas Apa?

Setelah Hari Perempuan Sedunia mencapai titik nisbi di mana manusia kelas intelektualis secara masif menyebutnya sebagai sexism, saya kehilangan semangat untuk menuliskan satu dua paragraf kalimat di blog ini. Kalimat kalimat pemberi kabar meski tak satupun audiens peduli soal itu.

Sosial media ini memang ajaib. Setiap pengguna diajak tenggelam dalam ranah surealis soal segala hal tentang saya adalah penting dan harus dibagikan kepada orang lain lalu pengunjung maya menjadi layaknya penghuni bangsal penyakit jiwa. Tertawa, menangis dan beremosi atas benda mati.

Ini akan menjadi posting blog yang merembet ke hal hal yang awam saya ketahui namun setengah mati dipoles dengan gaya bahasa biar terlihat keren. Intinya saya hanya ingin berkabar. Jika bukan pada audiens hidup maka sekurangnya kepada benda mati agar saya dapat menghirup candu berusia ribuan tahun bernama “ilusi didengarkan”

Saya tengah dalam euforia. Perayaan atas terwujudnya satu-dua ingin, atas status sosial yang nyaring saya nyatakan benci atasnya toh dikejar juga dan untungnya, memberi rasa nyaman setidaknya untuk saat ini. Perayaan perasaan sebab saya tengah jatuh cinta, perayaan kebebasan sebab saya tinggal selangkah lagi sebelum keluar dari rumah. Dan euforia ini, saya tau pasti, akan berakhir dengan saya yang kelelahan atas semua hal lalu merasa gamang berkepanjangan.

Dan semuanya dimulai lagi dari awal. Sampai mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s