Langgam Maya

Sudah keburu 2013 untuk mengkritisi soal bagaimana internet sudah mengubah generasi sekarang dan bagaimana generasi sebelumnya memaknai perubahan tersebut melalui hashtag #generasi90 yang disebarkan melalu internet jua. Saya sendiri tidak tau berada di generasi mana. Terlalu tua untuk menjadi generasi maya dan terusir dari generasi 90 tadi. Yang pasti, internet telah menjadi bagian dari sekurangnya 24 jam perputaran hidup. Informasi yang sedemikian mudahnya diakses membuat saya menjadi pelupa. Soal mana yang lebih penting dan apa yang sebelumnya saya pikirkan hingga berakhir pada situs situs absurd atau lepas ratusan gambar di 9gag.
Sekarang bulan puasa dan saya bekerja di media. Kesibukan justru menemui puncaknya, setiap hari berkutat soal acara acara yang mengkhutbahkan diri sebagai spesial ramadhan namun toh ujung ujungnya profit dan share penonton. Keluh? saya rasa bukan, sejak dulu saya memang seorang yang pahit dan saya sadar betul soal itu. Karenanya tidak banyak yang bisa saya lakukan setelah marathon bikin konsep-eksekusi episode perdana siaran langsung jelang berbuka- berbuka puasa di kantor- lanjut siaran hingga sepuluh malam seperti sekarang kecuali menulis.
Menulis untuk menuntaskan keluh, sebelum saya menumpahkannya kepada ketidakseimbangan satu dua hal di rumah. Keinginan untuk segera keluar dari rumah semakin membesar, agar jika saya saat ini tengah memasrahkan diri dalam lingkaran nyaman pekerjaan, sekurangnya saya tidak turut menyamankan diri dengan kehangatan rumah. Saya hanya sebisa mungkin menjadi ‘kuat’ atau apalah istilahnya.
Kenapa zona nyaman begitu berbahaya? sebab konon definisi ‘nyaman’ adalah kematian. Saat tidak ada yang dikuatirkan, tidak ada yang dikejar dan tidak banyak pengharapan diuntai. Jadi yang berada di zona nyaman adalah orang orang yang sudah mati. Saya belum mau mati sebab kehidupan belum mempertemukan saya dengan definisi hidup. Saat ini, perjalanan masih terus ditegakkan.
Kenapa keluar dari rumah menjadi begitu penting? Saya sadar posisi saya sebagai perempuan yang hanya akan keluar rumah saat seseorang mengajak saya memasuki rumahnya. Saya tidak akan pernah punya tempat sendiri untuk disebut rumah dan menjalankan hal hal sepele seperti : benar benar menghidupi diri sendiri.
Ini memang terdengar merepotkan, namun menikah masih belum menjadi tujuan saya saat ini, di usia 21. Saya tidak tau apa yang besok akan bawa tapi niat untuk terus melakukan perjalanan untuk menemukan hidup masih sedemikian besarnya. Untuk menemukan sebuah momen, ruang dan waktu yang membuat saya berkata “Sudah cukup”
“You are not the child of the people you call mother and father, but their fellow-adventurer on a bright journey to understand the things that are.” Richard Bach

A Rainy Day in Queens in 1913. taken from here 
Advertisements

Let It Rain – Stereofolk #3rd Mixtape

Generasi sekarang akan semakin jauh dengan sensasi perasaan saat menerima sepucuk surat dari pak pos. Atau menunggu nunggu postcard saat lebaran tiba. Stereofolk.blogspot.com tau hal itu dan dengan effort (yang saya yakini tak sedikit) ia mengemas mixtape ketiganya dalam wujud fisik dan dibagikan GRATIS. Jadi jika tidak mampu mengapresiasi dengan resensi panjang lebar soal pemilihan lagu dan keterkaitan tema, maka saya lantunkan terimakasih virtual dalam posting ini. 
Let it Rain adalah satu jam duapuluh satu menit yang menyenangkan untuk didengar di siang hari dengan hujan gerimis malas, perut setengah terisi dan kantuk yang menjadi selimut sempurna. Kencangkan headset dan tidur -atau galau- 🙂 dan selepas for folk’s sake yang hingga saat ini masih kerap saya putarkan di radio kala malas bicara, Let it Rain adalah sekuel, atau chapter baru yang menarik dari blog ini.
Segera menuju stereofolk.blogspot.com untuk mixtape ini, my favorite part : penempatan musikalisasi puisi Sapardi Djoko oleh Ari Reda (?) pada lini terakhir



Sampit, duabelas siang, gerimis musim penghujan.

Tempus Fugit

Selang semester dalam pekerjaan baru, saya belum (syukurnya) menemui jenuh. Pekerjaan kali ini menawarkan lebih banyak variasi dalam rutin, lebih ‘longgar’ dan memungkinkan saya untuk melakukan banyak hal. Ditambah dengan gaji yang lumayan sih :p
Masih berkutat dengan delapan jam siaran radio per minggu dan empat shift malam sepanjang bulan puasa tentu akan membawa konsekuensi semacam : saya tidak punya banyak waktu luang. Pada titik ini, mencuri curi waktu untuk sekedar menulis posting blog sampitculinary.blogspot.com dan twitteran adalah berkah. Jadi maafkan jika saya tidak punya cukup waktu (dan energi) untuk bersenang senang layaknya anak mudah zaman sekarang yang tengah dilanda gelombang cinta.
Maklumi atau berlalu. Saya sudah cukup bersenang senang dengan ide untuk membangun kios kecil untuk usaha kakak dan mendukung ponakan agar menjadi anak berbakti dan berguna untuk nusa bangsa. I might be an outcast, anak kurang gaul yang menyandarkan sembahnya pada New York. Kehidupan toh akan terus berjalan dan waktu akan berlalu. Saya hanya ingin kelak di saat meregang nyawa, saya sempat berbisik pada diri sendiri : “Setidaknya kamu sudah mencoba menghidupi mimpi”