Tempus Fugit

Selang semester dalam pekerjaan baru, saya belum (syukurnya) menemui jenuh. Pekerjaan kali ini menawarkan lebih banyak variasi dalam rutin, lebih ‘longgar’ dan memungkinkan saya untuk melakukan banyak hal. Ditambah dengan gaji yang lumayan sih :p
Masih berkutat dengan delapan jam siaran radio per minggu dan empat shift malam sepanjang bulan puasa tentu akan membawa konsekuensi semacam : saya tidak punya banyak waktu luang. Pada titik ini, mencuri curi waktu untuk sekedar menulis posting blog sampitculinary.blogspot.com dan twitteran adalah berkah. Jadi maafkan jika saya tidak punya cukup waktu (dan energi) untuk bersenang senang layaknya anak mudah zaman sekarang yang tengah dilanda gelombang cinta.
Maklumi atau berlalu. Saya sudah cukup bersenang senang dengan ide untuk membangun kios kecil untuk usaha kakak dan mendukung ponakan agar menjadi anak berbakti dan berguna untuk nusa bangsa. I might be an outcast, anak kurang gaul yang menyandarkan sembahnya pada New York. Kehidupan toh akan terus berjalan dan waktu akan berlalu. Saya hanya ingin kelak di saat meregang nyawa, saya sempat berbisik pada diri sendiri : “Setidaknya kamu sudah mencoba menghidupi mimpi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s