Mengunjungi Area Brengsel (lagi)

Tiga tahun lalu adalah kali terakhir saya datang ke areal Brengsel (NV Bruynzeel Dayak Houtbedrijven). Kala itu tujuan saya untuk meliput kenangan atas kilang penggergajian kayu tercanggih / dan terbesar se-Asia Tenggara itu. (bisa dibaca di sini dan di sini)
Hari ini saya datang kembali untuk mengambil foto. Menyusul kabar akan dibangunnya Citywalk di area ini, rasanya sayang saja kalau saya tak sempat mengabadikan beberapa foto jika kelak tempat ini akan diratakan dengan tanah. Brengsel adalah bagian dari sejarah Kotim yang umurnya baru 60 tahun itu. Kilang penggergajian ini sempat menjadi sentra kehidupan masyarakat Sampit mengingat pekerjanya saja mencapai 2.000 orang.
Mama kerap bercerita tentang taman kota Sampit dulunya merupakan lapangan sepak bola, gereja Maranatha dan Don Bosco, area pekuburan Kristen dan Mentaya Theater serta area bilyard yang semuanya berada di sekitar area brengsel. Juga jalan Gatot Subroto yang merupakan perumahan pekerja kelas menengah, kamar dua puluh dan jalan rel yang menjadi pemukiman para buruh brengsel. Sampai sekarang masih ada satu – dua rumah bernuansa khas (saya kurang tau ini arsitektural belanda atau memang rumah2 zaman dulu begitu) yang berjajar di sepanjang jalan Gatot Subroto.
Beliau juga bercerita tentang kependudukan Jepang dan istilah Gadis Pantai yang merujuk pada kegiatan prostitusi yang berbasis di area tersebut kala itu. Tapi namanya ingatan orang tua, saya tidak bisa menggali lebih jauh soal waktu dan rentetan kejadian secara presisi.
Karenanya oral history harus diteruskan dalam tulisan. Tujuan saya agak ‘rajin’ mengumpulkan informasi seputar sejarah kota Sampit hanyalah agar kelak jika anak cucu saya berkunjung ke rumah saat saya sudah tua, saya bisa memperlihatkan kepada mereka apa yang terjadi di masa lalu. Bangunan apa yang berdiri sebelum citywalk tempat mereka ngegaul itu ada.
Pagi itu saya bertemu dengan bapak bertopi merah (saya sebut demikian lantaran lupa kenalan) yang kemudian saya todong untuk menemani saya berkeliling area brengsel. Bukan apa apa, saat ini brengsel sudah sedemikian terbengkalai hingga secara bercanda bapak bertopi merah menyebut jika saat ini ‘penjaga’ brengsel adalah dua ekor kucing dan satu ekor anjing. Ditambah seorang yang mengalami gangguan mental dan berkemah di tempat itu.
Tungku pembakaran

Sepanjang berkeliling area beliau bercerita banyak soal brengsel. Saya tidak menyebutkan latar dan bahkan nama saya (lantaran lupa) hingga saya biarkan beliau berasumsi bahwa saya adalah anak kuliah yang sedang menyusun skripsi soal brengsel.

Sebelum memasuki kilang penggergajian yang cerobongnya terlihat dari sungai Mentaya itu, beliau mewanti wanti jika tempat tersebut sangat angker dan jika saya berubah pikiran, lebih baik dilakukan sekarang. Ia juga menceritakan soal pekerja rodi yang meninggal di area tersebut dan seseorang yang bunuh diri di kantor administrasi yang terjadi di era brengsel.
Merk yang menempel pada tungku pembakaran
Di dalam kilang penggergajian kita bisa melihat tiga tungku pembakaran yang berfungsi sebagai penggerak mesin sawmill. Ketiga tungku ini diproduksi oleh pabrik lokomotif kereta Arnhemsche di Belanda. Masih terlihat tahun produksi / instalasi (?) di tahun 1948.
Saat ini sawmill sawmill tersebut sudah tidak ada lantaran banyak yang menjarah untuk dijual. Tersisa tiga tungku pembakaran, satu cerobong uap dan beberapa komponen pabrik lainnya. Perjalanan saya teruskan ke area kantor administrasi. Kantor ini masih digunakan hingga 2011 untuk mencatat keluar masuk produksi hutan seperti rotan yang dititipkan oleh warga.
Yang menarik perhatian saya adalah lantai yang kayu kayunya sudah dijarah dan sebuah spanduk yang terlihat sangat tua bertuliskan slogan Utamakan Kepentingan Perusahaan.
Perjalanan berakhir ke area storage yang berada di bagian depan. Tiga warehouse yang dulunya digunakan untuk penyimpanan kayu kayu yang telah dikeringkan untuk diolah kembali masih berdiri meski dinding dan atapnya banyak berlubang.
Area storage ini, sayangnya, kerap digunakan untuk wadah ngegaul anak anak muda Sampit (heran, ngegaul kok di tempat beginian) sehingga banyak coretan mural memenuhi dinding bangunan yang sudah berusia 65 tahun ini.
Semoga rencana pembangunan citywalk tersebut dapat berkesinambungan dengan kepentingan pencagaran sejarah tempat ini. Seperti yang bapak bertopi merah harapkan agar kilang tersebut dimusiumkan dan dipugar oleh pemerintah daerah.
Scripta manent verba volant.
#SaveSampitHeritage
Beberapa foto yang saya ambil:
Sampit, 25 September 2013

When We Connect, We Connected

Era modern adalah era yang serba cepat. Mulai dari industri, pemungutan suara hingga makanan makanan siap saji. Akibatnya perspeksi terhadap waktu turut mengalami perubahan. Betapa 24 jam era sekarang sudah tidak terasa selama dulu, kala internet, peranti smartphone dan televisi yang menawarkan ratusan channel belum ditemukan. Saya lahir dan menjadi remaja tanpa internet, kala itu 24 jam sama dengan berjam jam bermain petak umpet dan berpuluh puluh buku komik. Tak heran jika saya kecil selalu merasa keberhasilan berpuasa sehari penuh adalah sesuatu yang wajib dirayakan dengan rengekan rengekan baju baru di hari raya.
Kini saya selalu bersinggungan dengan internet dan peranti komunikasi. Kebutuhannya menjadi semakin besar sebab kini saya bekerja di televisi. Saya tak segan ‘menagih’ informasi dari orang lain melalui kedua media itu kapanpun di manapun. Pun sebaliknya, rekan kerja, klien dan siapapun menjadi berhak untuk menuntut informasi tersebut melalui kanal telepon, sms, email, BBM, apapun.
Semua yang serba cepat ini membuat saya menyayangkan lantaran saya tidak sempat berada di sebuah masa di mana saya bisa berkata “Mohon ditunggu hingga Senin saat kantor kami kembali beroperasi” atau “Balasan surat akan saya kirimkan melalui pos besok hari” kala kebutuhan atas informasi itu dipertanyakan. Kini kealpaan dari sebuah radar telekomunikasi adalah sebuah kesalahan. Tidak ada lagi alasan yang cukup untuk menutup keterlambatan sebuah informasi.
Era modern tidak lagi menawarkan ruang untuk menyendiri. Untuk menjadi benar benar sendiri. Kini mustahil untuk menghilang dari kanal kanal telekomunikasi, untuk menarik diri dari bising informasi. Saya hanya tersenyum kecil saat menemui diri saya sendiri yang kerepotan mengetik e-mail balasan pada suatu Minggu pagi, di tengah tengah pasar tradisional, dan sejurus kemudian mengingat ingat kapan saya benar benar terputus dari dunia luar.
Because when we connect, we connected.
https://i0.wp.com/farm5.staticflickr.com/4001/4616675243_48c0eb31da_z.jpg
taken from here