Makanya, Minta.

Minta, kamu bakal dikasih.
Ini kata temen saya yang jago filsafat. Iya, terlepas dari konteks kanon sekalipun, meminta adalah kata kerja yang termasuk dalam kategori berkomunikasi. Kita manusia ini tidak pandai membaca gelagat pikiran orang -walaupun sebagian ada yang mengaku bisa membaca isi kepala orang melalui gesture dan pembacaan sikap- sehingga komunikasi menjadi kebutuhan penting. Mediumnya banyak, melalui tulisan, orasi, ceramah, lukisan, kode morse, apapun. Intinya adalah bagaimana menyampaikan isi kepada kepada manusia lain.
Formatnya ada dalam banyak kata kerja. Menggugat, mengiba, memarahi, mencintai, atau ini, meminta. Objeknya bisa apa saja, barang atau jasa. Namun yang ingin saya tulis kali ini adalah wujud komunikasi interhuman bernama ‘harapan’. Komunikasi interhuman? istilah ini tidak ada di rujukan manapun soalnya saya ngarang hahaha. Gimana manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri gitulah.
Tuhan ada di kedalaman akal, kata kawan saya yang selain jago filsafat juga mendalami ilmu agama itu. Ia selalu menulis bahwa Tuhan bersemayam dalam setiap manusia, mewujud dalam istilah inner peace. Dalam satu titik bernama transenden kita bisa ‘mengakses’ Tuhan dan berkomunikasi serta mungkin, akan mendapat mukjizat seperti yang dijanjikan kitab kitab kanon.
Apa yang saya punya masih sangat sangat jauh untuk ke sana. Komunikasi intrahuman yang saya singgung di atas tak lebih dari upaya saya untuk bicara sendiri dan meyakinkan bahwa Nani adalah seorang yang baik, yang sabar, pekerja keras dan tidak ingin menyakiti siapapun ke manapun ia melangkah. Setiap pagi sebelum bekerja dan malam sebelum tidur.
Lalu, soal minta meminta. Saya belum mengerti konsep sugesti, kekuatan pikiran, ilmu hypnotheraphy dll yang sering dikonsumsi motivator motivator MLM itu. Namun saya percaya bahwa saya adalah produk dari repetisi komunikasi. Apa yang dilakukan dan suara yang ingin disampaikan melalui banyak medium komunikasi itu adalah siapa saya. Sesuatu yang saya tinggalkan kelak ketika perjalanan ini menemui transisi.

2013 akan tamat dan tidak terulang. Banyak sekali kalimat seharusnya tertinggal di tahun ini. Seharusnya saya berupaya lebih keras untuk menjadi copy editor di koran,  seharusnya  saya tidak melamar pekerjaan di televisi,  seharusnya  saya mengemas semua barang dan kembali hijrah ke luar kota,  seharusnya  saya lebih berusaha untuk membuatnya jatuh cinta ^^
Penghujung 2013 tentu tidak ingin saya habiskan dengan kalimat bagaimana jika, seharusnya, dan kalau saja. Tahun ini adalah satu lagi tahun menyenangkan untuk dihabiskan. Saya memulai pekerjaan di televisi dan banyak belajar hal baru, pendapatan bertambah dan kesehatan mama jauh membaik. Saya jatuh cinta dan punya beberapa kawan dekat, mencoba beberapa hal baru dan semuanya membuat saya banyak berbahagia.
Soal komunikasi intrahuman tadi, saya sempat berkomunikasi melalui medium tulisan soal ini: Projek 2013, Weight Loss, semacam setting my own goal gitulaahh. Ditulis sebelum kepikiran buat masuk tipi dan sampai Oktober niatan untuk diet dan olahraga itu tidak kunjung terlaksana. Saya selalu berlindung pada alasan “Butuh alasan kuat untuk melakukan hal hal yang saya anggap tidak terlalu mengganggu kalau tidak diubah” seperti perkara gendut ini. Ketika masuk tipi dan bos menginstruksikan saya buat menjadi presenter, rekan kerja dan bos sendiri tidak mempersoalkan bentukan saya yang mirip dispenser bermicrophone itu. Sayapun tidak menganggapnya sebagai masalah selama saya masih bergerak (ajaibnya, dengan cukup gesit) dan sehat sehat aja.

Minta, kamu bakal dikasih.
Saya meminta pada diri sendiri untuk mengurangi berat badan kala itu. Berjanji malah, untuk banyak berolahraga dan mengurangi camilan tengah malam demi kesehatan. Mungkin lantaran alasan kesehatan masih belum cukup kuat untuk membuat saya memasukkannya ke dalam kanal ingatan lebih lebih sugesti (bok, tau pernah nulis begituan aja barusan pas ngecek posting2 lama hahaha) jadinya saya dikasih faktor pembuat kurus paling ampuh sejak zaman Aphrodite masih pacaran sama Zeus: Jatuh Tjinta.
Saya punya hubungan khusus dengan makanan enak, sungguh. Otak saya kadung terbiasa melepaskan endorphin kala palet lidah bertemu dengan padanan rasa manis-gurih dan lembutnya nasi putih. Jabaran saya soal makanan makanan yang saya suka terangkum dalam www.sampitculinary.blogspot.com karena memang sebesar itulah kemampuan makanan dalam membuat saya bahagia. Hingga Oktober tahun ini belum saya temukan hal hal yang cukup menarik untuk mengalihkan perhatian saya pada makanan enak. Sampai dikasih itu, jatuh cinta.
Pertama kalinya saya gapunya minat terhadap makan siang di rumah makan favorit dan lebih memilih pulang untuk sekadar berbalas pesan. Mungkin, pertama kalinya juga otak saya mengalihkan kebiasaan melepas endorphinnya dari stimulasi indra pengecap ke sistem limbik bernama mengingat wajah-suara seseorang. Bhahahaha ini jadi jijik gini naninya masaaaa.
Intinya saya dikasih apa yang saya minta di tahun ini. Kurusan -belum kurus- setelah dua bulan terakhir tidak menaruh minat berlebih terhadap makanan. Menganggapnya hanya sekedar kebutuhan biologis untuk menjaga fungsi organ tetap berjalan. Hasilnya, 83 kilo ke 68. Mayan, ukuran XL udah longgar kalo dipake B’)))
Noo. I’m not gonna put my before-after picture here simply because its just too herbalife-fey for me 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s